Tiga Pekan Pascabencana, 28 Daerah Masih Tanggap Darurat

Jumlah korban tewas akibat bencana Sumatera sudah mencapai 1.030 jiwa dan 206 orang masih hilang. Ribuan korban luka-luka.

15 Des 2025 19:56 WIB · Lingkungan

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

Oleh Vina Oktavia

BANDAR LAMPUNG, KOMPAS — Tiga pekan setelah bencana banjir bandang dan longsor di Sumatera, sebanyak 28 kabupaten/kota masih berstatus tanggap darurat. Pencarian korban hilang, distribusi logistik, dan pembukaan jalur yang terputus masih dalam upaya.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muhari mengatakan, hingga Senin (15/12/2025), jumlah korban meninggal akibat bencana tercatat sebanyak 1.030 orang dan 206 orang lainnya masih hilang.

Dari jumlah itu, korban tewas di Aceh tercatat 431 orang, di Sumatera Utara sebanyak 355 orang, dan di Sumatera Barat 244 orang.

Adapun korban hilang terbanyak berada di Sumbar, yakni mencapai 90 orang, Sumut 84 orang, dan Aceh 32 orang. Adapun jumlah pengungsi mencapai 608.980 jiwa, dengan jumlah terbanyak ada di Aceh, yakni 572.862 jiwa.

Abdul mengatakan, upaya pencarian, distribusi logistik, dan pembukaan jalur yang terputus masih menjadi prioritas penanganan bencana selama perpanjangan masa tanggap darurat. ”Saat ini ada 28 kabupaten/kota yang masih pada status tanggap darurat perpanjangan,” kata Abdul dalam konferensi pers penanganan bencana Sumatera secara daring, Senin sore.

Dari jumlah itu, kata Abdul, ada 12 kabupaten/kota di Aceh masih berstatus tanggap darurat, yakni Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Tamiang, Bener Meriah, Bireuen, Pidie Jaya, Aceh Tengah, Gayo Lues, Lhoksumawe, Nagan Raya, dan Pidie.

Sementara di Sumut ada 8 kabupaten/kota yang masih berstatus tanggap darurat, yakni Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Sibolga, Medan, Langkat, Humbang Hasundutan, dan Nias Selatan. Adapun di Sumbar juga ada 8 kabupaten/kota yang masih berstatus tanggap darurat, yaitu Agam, Padang Pariaman, Pasaman Barat, Padang, Lima Puluh Kota, Tanah Datar, Pesisir Selatan, dan Kota Pariaman.

Dia menambahkan, upaya distribusi logistik ke daerah yang terdampak bencana masih terus dilakukan melalui jalur darat ataupun jalur udara. Pada Senin, tim gabungan menyalurkan 46,3 ton logistik di Aceh menggunakan helikopter, pesawat, dan truk. Bantuan serupa juga disitribusikan ke wilayah Sumut dan Sumbar, khususnya menuju lokasi pengungsian di masing-masing kabupaten/kota.

Kondisi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Muda Sedia Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, porak-poranda dilanda bencana ekologis sehingga dibuka RSUD Darurat di Ruang IGD RSUD Muda Sedia, Jumat (12/12/2025). RSUD Darurat itu dikoordinir oleh Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (Iluni FKUI). Sejumlah peralatan medis untuk kebutuhan kedaruratan didukung oleh RSUD Adam Malik Kota Medan, Sumatera Utara.

Selain itu, pemerintah juga terus mengupayakan perbaikan jalur yang masih terputus. Di Aceh, jembatan bailey yang menghubungkan Kabupaten Bireuen dan Bener Meriah sudah bisa dilalui dengan sistem buka tutup jalur. Akses jembatan yang menghubungkan Kabupaten Aceh Utara dengan Bener Meriah juga sudah bisa dilalui kendaraan roda empat secara terbatas.

Di Sumut, perbaikan jembatan bailey di Kabupaten Tapanuli Tengah sepanjang 33 meter juga sudah selesai. Pembukaan jalan lintas dari Tapanuli Selatan menuju Tapanuli Utara juga terus dilakukan.

Sementara di Sumbar, akses jalan yang menghubungkan Kota Padang dengan Bukittinggi sudah bisa dilalui. Adapun jalan provinsi yang menghubungkan Kabupaten Agam dan Padang Pariaman diperkirakan bisa selesai dalam dua-tiga hari ke depan.

Pekerja mengikat karung yang berisi bantuan di Wisma Taman Iskandar Muda, Jakarta, Jumat (12/12/2025). Pakaian, beras, terpal, mi instan, hingga selimut disalurkan untuk korban bencana di Sumatera.

Fase awal pemulihan

Menurut Abdul, pemerintah masih terus melakukan upaya percepatan tanggap darurat agar daerah-daerah tersebut bisa menuju fase pemulihan awal. Modifikasi cuaca terus dilakukan agar pencarian korban, distribusi logistik, dan perbaikan jembatan tidak terganggu oleh cuaca buruk.

Hingga saat ini, tiga kabupaten di Aceh yang memasuki fase awal pemulihan, yaitu Aceh Besar, Aceh Tenggara, dan Subulussalam. Di Sumut, daerah yang masuk fase awal pemulihan ada Kota Padang Sidempuan.

Rencana pembangunan hunian sementara untuk korban bencana juga masih dimatangkan. Di Sumut, sudah ada tiga kabupaten yang mengajukan kebutuhan huntara, yaitu di Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Humbang  Hasundutan. Di Aceh, tiga kabupaten juga sudah membuat perencanaan untuk huntara, yaitu Aceh Tengah, Pidie, dan Gayo Lues.

Anak-anak menunggu giliran mengaji di dekat jendela agar mendapatkan cahaya dari luar rumah di Rusip Antara, Aceh Tengah, Aceh, Jumat (12/12/2025).
Sendi Nova (34), warga Rusip Antara, Aceh Tengah, menangis saat melakukan panggilan video dengan keluarganya di Takengon, Aceh Tengah, Aceh, Jumat (12/12/2025).
Warga melewati jalanan berlumpur di Kecamatan Rusip Antara, Aceh Tengah, Kamis (11/12/2025). Infrastruktur yang rusak membuat warga harus menempuh medan yang ekstrem untuk memenuhi berbagai kebutuhan.
Seorang anak duduk di samping tiang listrik yang roboh dan jembatan yang terputus di Kecamatan Rusip Antara, Aceh Tengah, Kamis (11/12/2025). Warga harus melewati jalanan berlumpur untuk mencari berbagai kebutuhan.

Sementara itu, Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Aceh Taufik mengatakan, upaya pemulihan listrik dan bahan bakar di Aceh masih terus dilakukan. Dia mengakui, saat ini sejumlah daerah di Aceh masih mengalami pemadaman listrik karena beberapa menara dan jaringan listrik yang rusak akibat bencana masih dalam masa perbaikan.

Sementara untuk bahan bakar, Taufik menyebut, kondisi ketersediaan bahan bakar di 19 kabaupaten/kota di Aceh sudah relatif normal. Adapun empat kabupaten lainnya masih pemulihan, yaitu Aceh Tamiang, Aceh Tengah, Gayo Lues, dan Bener Meriah.


Kerabat Kerja

Penulis:

Vina Oktavia
 | 

Editor:

Irma Tambunan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra