Desak Made Rita meraih emas dan Veddriq Leonardo perunggu. Bersama dua pemanjat lain, mereka pastikan Indonesia raih kuota penuh ”speed” di Asian Games 2026.
09 Apr 2026 21:19 WIB · Olahraga
WORLD CLIMBING
MEISHAN, KAMIS — Tim panjat tebing Indonesia disiplin speed membuktikan diri mampu menunggangi ”badai” kasus dugaan kekerasan seksual dan fisik yang menerpa mereka, alih-alih hancur karenanya. Pembuktian itu lewat kuota penuh ke Asian Games Aichi-Nagoya 2026 yang dilengkapi raihan medali emas dan pemecahan rekor Asia dari Desak Made Rita Kusuma Dewi serta medali perunggu dari Veddriq Leonardo.
Pada sektor putri, Desak Made Rita akan ditemani Berthdigna Devi Surya Kusuma untuk berlaga di Asian Games. Adapun pada kategori putra, Veddriq Leonardo ditemani Aditya Tri Syahria. Mereka memastikan Indonesia memaksimalkan kuota dua atlet per jender tiap negara lewat Kejuaraan Asia 2026 yang jadi ajang kualifikasi di Meishan International Climbing Center, Meishan, China, Kamis (9/4/2026).
Baik di putra maupun di putri, Indonesia sebenarnya sudah memastikan akan meraih kuota penuh setelah tiga atlet putra dan putri lolos ke babak perempat final. Kejuaraan Asia menyediakan delapan tiket ke Asian Games yang minimal bisa diraih atlet ketika menembus perempat final. Pertarungan pun hanya untuk mengetahui siapa dua pemanjat terbaik Indonesia yang mewakili ”Merah Putih” di Asian Games.
Desak menjadi pemanjat speed pertama yang memastikan diri lolos ke Asian Games setelah mengalahkan rekan setim sendiri, Berthdigna Devi Surya Kusuma, pada perempat final. Keberhasilannya diikuti Veddriq yang juga mengalahkan pemanjat Indonesia lain, yakni Aditya Tri Syahria, pada babak yang sama.
Meski sama-sama terhenti di perempat final, Devi berhak meraih tiket Asian Games karena unggul catatan waktu (6,73 detik) dibandingkan Rajiah Sallsabillah (7,83 detik). Begitu pula dengan Aditya (5,61 detik) yang unggul atas Antasyafi Robby yang melakukan false start.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/04/09/2fa403c2-a665-4bdd-be08-d2ba112f2065.jpg)
”Kualifikasi ini targetnya lolos dulu, mengeluarkan yang terbaik untuk diri sendiri. Kalau ditanya ingin podium atau enggak, pasti ingin. Lolos, podium, dan rekor,” kata Desak sepekan sebelum kompetisi.
Kendati sempat mengatakan bahwa keinginannya mungkin akan terlihat terlalu muluk, Desak membuktikan mampu meraih seluruhnya. Desak tak cuma lolos ke Asian Games, tetapi juga meraih medali emas dan memecahkan rekor Asia sebanyak dua kali.
Prestasi ini diraih Desak hanya dua bulan setelah kasus dugaan kekerasan seksual dan fisik di lingkungan pemusatan latihan (pelatnas) panjat tebing mencuat. Terduga pelaku ialah kepala pelatih yang telah dipecat, Hendra Basir, dan korban adalah para atlet. Lima di antaranya adalah atlet putri yang telah melapor ke polisi.
Kasus itu bagai ”badai” yang menerpa panjat tebing Indonesia, cabang olahraga yang tengah naik daun selepas berkali-kali memecahkan rekor dunia dan akhirnya mempersembahkan medali emas di Olimpiade Paris 2024. Para atlet terguncang. Mereka sempat dipulangkan karena terjadi kekosongan pelatih dan ketidakjelasan program latihan sebelum tim kepelatihan baru terbentuk.
Desak sendiri sempat merasakan perasaan campur aduk dengan kasus dugaan kekerasan. Peraih medali emas seri Piala Dunia 2025 di Krakow, Polandia, ini juga mengaku kerap terpikir kasus itu.
Namun, Desak akhirnya mampu mengatasi cobaan tersebut dengan menjadi satu-satunya pemanjat putri Indonesia yang melaju jauh hingga babak puncak. Sementara Rajiah Sallsabillah dan Devi tersingkir di perempat final, Kadek Adi Asih langsung tersingkir pada babak 16 besar. Pada partai final, Desak mengalahkan wakil tuan rumah, Yafei Zhou, dengan finis dalam waktu 6,07 detik.
Desak tak hanya lebih cepat 0,47 detik dari catatan waktu lawannya, ia juga kembali mencatatkan namanya sebagai pemegang rekor Asia. Desak awalnya memecahkan rekor pada babak semifinal dengan waktu 6,15 detik, lebih cepat dari rekor yang diukir Deng Lijuan (China) di Olimpiade Paris 2024 dengan 6,18 detik.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/04/09/d13d639c-be57-4fcd-a648-e6d36114b54b.jpg)
Pemanjat asal Buleleng, Bali, ini lalu menajamkan rekornya pada final. Sebelumnya, peraih medali emas Asian Games Hangzhou 2022 ini juga pernah memegang rekor Asia dengan catatan waktu 6,36 detik.
Adapun Veddriq menjadi pemanjat putra yang melaju paling jauh meski gagal menembus final. Veddriq membayarnya dengan memenangi perebutan medali perunggu saat berhadapan dengan wakil China, Ling Yongzhi.
Seperti Desak, Veddriq juga membuktikan diri mampu ”menunggangi” badai yang menerpa tim panjat tebing Indonesia. Tak hanya itu, Veddriq, yang kesulitan mencatatkan waktu di bawah 5 detik selama kompetisi, membuktikan kualitas mentalnya sebagai peraih medali emas Olimpiade Paris 2024.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/04/09/0e17f5f5-91d4-4af8-9d87-91df5c7dd7d9.jpg)
Di atas kertas, jika melihat hasil kualifikasi, Aditya harusnya bisa lebih unggul dari Veddriq saat keduanya bertemu di perempat final. Pemanjat asal Pontianak, Kalimantan Barat, ini mampu membuktikan bahwa perlombaan itu bukan hanya di atas kertas.
Sementara itu, Kiromal Katibin gagal menandai penampilan keduanya di Asian Games karena kalah cepat dari rekan setim sekaligus yuniornya, Robby, saat mereka langsung berhadapan pada babak 16 besar. Nasibnya sama seperti Raharjati Nursamsa yang juga terhenti pada babak tersebut meski penampilannya gemilang pada babak kualifikasi.
Indonesia juga meraih tiket dari boulder putra lewat Raviandi Ramadhan. Kendati tidak lolos final yang ditujukan untuk delapan pemanjat terbaik, Raviandi yang menempati peringkat ke-11 tetap berhak meraih tiket ke Asian Games karena kebijakan setiap negara yang hanya punya kuota dua atlet per jender.
Alhasil, posisi Raviandi naik menggeser atlet-atlet dari Jepang, Korea, dan China yang menempatkan dua atau lebih atlet di peringkat enam besar sebagai syarat lolos Asian Games serta sebelumnya telah meloloskan atlet pada ajang kualifikasi lain. Raviandi menyusul kembarannya, Ravianto Ramadhan, yang lolos lebih dulu di Kejuaraan Dunia 2025 di Seoul, Korea Selatan, bersama Putra Tri Ramadhani untuk lead putra dan Sukma Lintang Cahyani untuk lead putri.
Setelah disiplin speed dan boulder, Indonesia masih akan berjuang pada lead yang baru memulai perlombaan pada Sabtu (11/4/2026). Dengan dua tiket telah diraih Putra dan Lintang, tim lead akan berjuang untuk masing-masing satu tiket putra dan putri yang tersisa.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto