Tiket pesawat dari Banjarmasin ke berbagai daerah terbang sangat tinggi. Kapal laut menjadi pilihan rasional.
25 Mar 2025 08:25 WIB · Nusantara
Mudik Lebaran dengan kapal laut menjadi pilihan saat harga tiket pesawat dari Banjarmasin ke Surabaya terbang tinggi. Selain harganya tidak terjangkau, tiket pesawat itu bahkan sudah tidak tersedia lagi. Sejak H-10 Lebaran, para perantau dari Pulau Jawa memadati Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, karena mereka rindu pulang.
Sejumlah orang menunggu di Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, pada H-7 Lebaran, Senin (24/3/2025). Di tengah hiruk-pikuk pelabuhan siang itu, ada yang berbaring dengan berbantalkan tas bawaannya, duduk berkelompok sambil mengobrol, hingga menyendiri berteman gawai.
Di antara puluhan penumpang yang menunggu di Pelabuhan Trisakti siang itu, terdapat Sunaryo (50), calon penumpang kapal tujuan Surabaya. Ia bersama temannya datang dari luar kota dan tiba di pelabuhan dini hari.
”Saya dari Muara Teweh (Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah). Tadi, saya minta sopir travel langsung mengantar ke pelabuhan karena saya belum pernah naik kapal dari Banjarmasin,” ujarnya.
Pada mudik Lebaran kali ini, Sunaryo mencoba menggunakan kapal laut dari Banjarmasin ke Surabaya karena sudah tidak kebagian tiket pesawat. Selama bekerja di Muara Teweh dari 2007, ia selalu mudik Lebaran menggunakan pesawat.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/24/63f4420a-73dd-46df-a735-45358eb9c52a_jpg.jpg)
”Mulai dari 22 Maret sampai hari H (Lebaran), tiket pesawat Banjarmasin-Surabaya kosong. Adanya yang transit di Denpasar atau Jakarta. Tetapi, harganya bisa tiga kali lipat,” ungkap pria yang hendak mudik ke Madiun, Jawa Timur, itu.
Berdasarkan penelusuran di Tiket.com, tiket pesawat dari Banjarmasin ke Surabaya sudah tidak tersedia pada 24-30 Maret 2025. Namun, tiket pesawat masih tersedia pada 31 Maret 2025 untuk penerbangan transit Jakarta dengan harga mulai dari Rp 2,7 jutaan per orang.
Sementara itu, berdasarkan penelusuran di Traveloka, tiket pesawat dari Banjarmasin ke Surabaya sudah tidak tersedia pada 24-28 Maret.
Namun, tiket tersedia pada 29 Maret untuk penerbangan transit Jakarta dengan maskapai Garuda Indonesia kelas bisnis. Harga tiketnya mencapai Rp 14 jutaan. Kemudian, tiket tersedia lagi pada 31 Maret dengan harga mulai dari Rp 2,8 jutaan.
Harga tiket pesawat tersebut sudah jauh di atas harga normal. Sebagai perbandingan, pada hari-hari biasa, harga tiket pesawat dari Banjarmasin ke Surabaya untuk penerbangan langsung mulai dari Rp 700.000-an.
Sunaryo mengatakan, ia mendapatkan tiket kapal untuk mudik Lebaran kali ini seharga Rp 540.000 untuk kelas ekonomi. ”Saya enggak tahu juga berapa harga tiket kapal biasanya. Tetapi, harga segitu sudah jauh lebih murah dibandingkan tiket pesawat,” katanya.
Perjalanan dengan kapal laut dari Banjarmasin ke Surabaya memakan waktu setidaknya 18-20 jam. Waktu tempuh itu jauh lebih panjang dibandingkan dengan waktu penerbangan dengan pesawat yang hanya lebih kurang 1 jam.
”Karena inginnya tetap mudik, ya, saya harus cari alternatif lain. Enggak apa-apa lama naik kapal, yang penting sampai tujuan,” kata Sunaryo sambil tertawa.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/24/f259400a-2481-48ed-9d18-7c10c3a03ea6_jpg.jpg)
Arif (42), perantau lainnya, yang hendak mudik ke Tulungagung, Jawa Timur, juga memilih mudik Lebaran lewat laut karena tiket kapal masih relatif mudah didapatkan dan harganya juga lebih terjangkau.
”Untuk tiket kapal ke Surabaya hari ini, baru kemarin saya beli di agen. Tiketnya masih tersedia dan tidak terlalu mahal juga,” ujar perantau yang bekerja di Palangkaraya, Kalteng, itu.
Arif membeli tiket kapal seharga Rp 900.000 karena ia membawa sepeda motor. Dengan sepeda motor, ia bisa mengirit biaya perjalanannya dari Palangkaraya ke Banjarmasin, kemudian dari Surabaya ke Tulungagung.
”Setiap tahun saya pasti mudik. Tahun ini rasanya lebih lancar. Dua tahun lalu, saya pernah tiga hari tidur di Pelabuhan Trisakti karena tidak dapat tiket kapal,” ujarnya.
Arif mengatakan, Lebaran adalah waktunya berkumpul bersama keluarga di Tulungagung. Ia pun berencana mudik selama dua minggu.
”Hampir setiap tahun saya mudik karena semua keluarga di Jawa. Saya di Kalimantan cuma merantau,” katanya.
Menurut Anwar (47), perantau yang hendak mudik ke Kediri, Jawa Timur, Lebaran bersama keluarga besarnya di Jawa terasa lebih seru dibandingkan dengan Lebaran di daerah perantauan. Karena itu, sebisa mungkin, ia selalu mudik setiap kali Lebaran.
”Kalau sudah mudik Lebaran, minimal 10 hari. Karena kalau di Jawa, suasana Lebaran itu terasa selama satu bulan Syawal. Kalau di sini berasanya cuma 2-3 hari, setelah itu sepi,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/24/464490ea-6ae7-4a30-9d9e-97c5350f6a2d_jpg.jpg)
Subaryanto, Koordinator Harian Posko Terpadu Angkutan Laut Lebaran 2025 Pelabuhan Trisakti Banjarmasin, mengatakan, lonjakan penumpang kapal laut dari Banjarmasin ke Surabaya mulai terjadi pada H-10 Lebaran.
”Tahun ini, prediksi kami ada kenaikan jumlah penumpang lebih kurang 14 persen dibandingkan dengan tahun lalu. Setiap hari ada dua kapal yang berangkat dari Banjarmasin ke Surabaya,” ujarnya.
Untuk melayani angkutan Lebaran 2025, ada empat kapal yang beroperasi di Pelabuhan Trisakti, yakni dua kapal dioperasikan PT Dharma Lautan Utama (KM Dharma Rucitra I dan KM Dharma Kartika II) dan dua kapal dioperasikan PT Timur Mila Utama (KM Hai Da dan KM Mila Utama).
Berdasarkan data Posko Terpadu Angkutan Laut Lebaran 2025 Pelabuhan Trisakti Banjarmasin, dari H-10 hingga H-8 Lebaran, sebanyak 4.594 orang telah naik ataupun turun di Pelabuhan Trisakti. Lebih dari 81 persen di antaranya adalah orang-orang yang naik kapal dari Banjarmasin ke Surabaya.
”Sejauh ini tidak ada penambahan armada kapal untuk angkutan Lebaran. Pihak operator menjamin para calon penumpang kapal bisa terangkut semua dengan armada yang beroperasi saat ini,” kata Subaryanto.
Penulis:
Jumarto YulianusEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .