Sebagai ejekan kepada Pemerintah Amerika Serikat, warganet ramai-ramai mengunduh aplikasi buatan China juga. Red Note dan Lemon8 siap menggantikan.
15 Jan 2025 16:36 WIB · Internasional
WASHINGTON, RABU — Pelantar aplikasi media sosial asal China, Tiktok, bersiap tutup di Amerika Serikat per Minggu (19/1/2025). Meskipun begitu, keputusan Pemerintah AS mencekal aplikasi itu dengan alasan keamanan bagaikan bumerang. Pasalnya, warga AS beramai-ramai bermigrasi ke Red Note dan Lemon8, aplikasi sejenis buatan China.
Pencekalan Tiktok adalah imbas dari perintah Kongres AS pada awal 2024. Ketika itu, Washington memerintahkan Tiktok agar melepaskan diri dari perusahaan induknya, Byte Dance. Alasannya, Byte Dance dituduh mencuri berbagai data pribadi warga AS dan menyerahkannya ke Pemerintah China. Hal ini bertentangan dengan Undang-Undang Perlindungan Warga AS dari Aplikasi yang Dikendalikan oleh Pesaing Asing.
Tiktok diberi waktu satu tahun untuk mencari orang, perusahaan, ataupun lembaga yang mau membeli seluruh saham mereka dari Byte Dance. Melansir Bloomberg edisi 14 Maret 2024, miliarder asal Kanada, Kevin O’Leary, sempat menawarkan diri untuk membeli Tiktok dengan alasan banyak usaha mikro, kecil, dan menengah yang bergantung pada aplikasi tersebut. Namun, ia mundur karena harga saham Tiktok terus menurun.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/15/5f85b46a-b1ff-41e4-861b-8ea8c8d42f13_jpg.jpg)
Meskipun begitu, kepada kanal Fox Business, Senin (13/1/2025), O’Leary mengungkapkan minatnya membeli Tiktok belum surut. Pengusaha yang terkenal lewat acara realitas Dragon’s Den Canada dan Shark Tank ini bermitra dengan pengusaha Frank McCourt. ”Misinya ialah membangun kembali Tiktok setelah lepas dari Byte Dance dengan memprioritaskan perlindungan data untuk 170 juta penggunanya di AS saja,” kata O’Leary.
Menurut dia, kuncinya ialah mencopot algoritma yang bisa disalahgunakan untuk memata-matai pengguna. Namun, belum ada keterangan lebih lanjut mengenai proses tawar-menawar O’Leary dan McCourt dengan Tiktok. Pasalnya, hitung mundur menuju pencekalan dan pencabutan aplikasi Tiktok dari semua pelantar pengunduhan aplikasi di AS terus berjalan.
Para pengguna Tiktok di AS mulai hijrah. Aplikasi yang mereka pilih ternyata bukan buatan dalam negeri, melainkan masih buatan China, yaitu Red Note (Xiaohongshu) dan Lemon8. Bahkan, Lemon8 sama-sama aplikasi yang dikembangkan oleh Byte Dance.
Di dalam penjelasannya, Red Note menjabarkan diri menyerupai aplikasi Instagram milik Meta. Perbedaannya, di Red Note ada fitur untuk melakukan kegiatan niaga. Fitur ini bermanfaat bagi warganet yang berwiraswasta secara daring. Adapun Lemon8 oleh pengembangnya dikatakan menyerupai aplikasi Pinterest. Berhubung keduanya juga buatan China, ada risiko menghadapi pencekalan dari Washington DC.
”Permasalahannya ada di Byte Dance. Jika Lemon8 tidak melepaskan diri dari Byte Dance, nasibnya akan sama dengan Tiktok,” kata Christopher Krepich, juru bicara Komite Energi dan Perdagangan DPR AS, kepada majalah Forbes, 2 Januari 2025.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/15/7f0eace1-2945-4d55-98c0-0ea8ae5683a9_jpg.jpg)
Sejauh ini, belum ada keterangan apakah Red Note juga dianggap ancaman oleh AS, serupa dengan aplikasi buatan Byte Dance. Menurut Krepich, ada pengecualian aplikasi buatan China dari UU Ancaman Aplikasi Buatan Negara Pesaing. Ini aplikasi maupun situs yang mengulas mengenai perjalanan wisata serta kualitas layanan barang dan jasa. Oleh sebab itu, aplikasi Shein dan Temu yang juga buatan China tidak dianggap sebagai ancaman keamanan bagi AS.
Muncul pula pertanyaan soal alasan warganet AS mengunduh Red Note dan Lemon8 jika ujung-ujungnya akan dipermasalahkan kembali oleh pemerintah. Perilaku ini membuat perkiraan para pakar di AS meleset. Awalnya, mereka menduga warganet AS beralih ke media sosial buatan dalam negeri, antara lain Youtube Reel dan Instagram.
Jawabannya, karena warganet memang ingin membuat kesal Pemerintah AS. Hal ini diutarakan oleh pembuat konten di Tiktok, Jenna Hamilton, yang dikutip oleh CNET. ”Ini memang protes untuk pemerintah. Kalian tidak mau China mengakses data sensitif kami? Ini jawaban dari kami: kami tidak peduli,” tuturnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/15/cbcc346c-e3d1-4495-a88c-1a1678fb9e73_jpg.jpg)
Pakar kajian generasi Z dan pendiri firma investasi Gen Z VCS, Meagan Loyst, menjelaskan kepada Business Insider bahwa trolling atau mengejek adalah ciri khas generasi Z. Setiap generasi memiliki cara tersendiri mengutarakan protes dan ketidaksukaan. Generasi langgas atau milenial memiliki sikap lebih dingin, yaitu memilih apatis terhadap peraturan yang menurut mereka tidak masuk akal. Ciri khas kedua generasi langgas ialah membuat berbagai petisi daring untuk mengubah suatu keadaan.
”Sebaliknya, generasi Z lebih cerewet. Mereka sengaja secara terbuka mengejek peraturan tersebut. Pemerintah akan menjadi bulan-bulanan warganet,” kata Loyst.
Pertanyaan berikutnya adalah mengenai nasib karyawan Tiktok. Ada 7.000 orang yang bekerja di kantor cabang Tiktok di AS. Di dalam pengumuman perusahaan dikatakan agar karyawan tidak perlu khawatir. Terlepas dari keputusan pemerintah pada Minggu (19/1/2025), kantor Tiktok di AS tetap buka. Subyek permasalahan oleh pemerintah ialah perlindungan data pengguna, bukan operasional perusahaan.
Kelanjutan sepak terjang Tiktok di AS kini berada di tangan Mahkamah Agung. Hanya lembaga ini yang bisa mengintervensi untuk mencegah pencekalan aplikasi. Direktur Utama Tiktok Shou Zi Chew dikabarkan telah menemui presiden terpilih Donald Trump di kediaman pribadinya di Mar-A-Lago, Florida.
Para pengamat politik menyimpulkan, Trump menggunakan Tiktok sebagai kartu truf untuk menekan China. Lobi-lobi politik untuk meyelamatkan media sosial ini terus berjalan. (AFP/REUTERS)
Penulis:
Laraswati Ariadne AnwarEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan