Kreator Konten Kini Lebih Mudah Membuat Video Iklan di Tiktok

Tiktok dan Getty Images bekerja sama meluncurkan layanan teknologi berbasis kecerdasan buatan untuk memudahkan kreator berkreasi membuat iklan yang memikat.

15 Nov 2024 17:50 WIB · Internasional

Oleh Helena Fransisca Nababan

Sejak kecerdasan buatan generatif mencuri perhatian dunia melalui peluncuran ChatGPT oleh OpenAI pada akhir 2022, peralatan (tools) berbasis AI yang berpotensi menghasilkan uang terus dikembangkan. Sebab, teknologi ini dapat menghasilkan video, gambar, atau karya tulis dengan cepat berdasarkan permintaan yang diungkapkan dalam bahasa sehari-hari.

Teknologi ini salah satunya dimanfaatkan oleh Tiktok, media sosial yang berbasis video. Video menarik nan kreatif terkait produk dibuat sebagai cara untuk menarik minat lebih banyak konsumen.

Namun, sering kali pembuatan video yang menarik membutuhkan waktu lama. Belum lagi, kreator video mesti mencari ide-ide orisinal atau gagasan cemerlang demi memikat konsumen. Proses mendapatkan ide juga memerlukan waktu.

Penyedia teknologi Tiktok rupanya menangkap persoalan tersebut. Untuk memudahkan kreator, Tiktok mulai Kamis (14/11/2024) menyediakan teknologi berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligent (AI).

Tiktok bekerja sama dengan Getty Images Inc, perusahaan penyedia foto dan video terbesar yang berbasis di Seattle, AS, untuk menyediakan layanan tersebut. Getty Images menjadi penyedia foto dan video untuk mendukung alat pembuat video bertenaga AI yang dikembangkan Tiktok. Teknologi itu disebut Symphony Creative Studio.

Menurut Tiktok, integrasi Getty Images dengan aplikasi asal China itu bagian dari perluasan perusahaan penyedia teknologi Tiktok bagi para pengiklan dan pembuat konten. ”Kami bertujuan memberdayakan pengiklan dan membantu mereka terhubung dengan komunitas melalui kekuatan AI generatif,” kata Kepala Monetisasi Produk Kreatif Tiktok Andy Yang dalam keterangan resmi bersama.

Melalui bekerja sama dengan Getty Images, Tiktok menyatakan para kreator dapat menggunakan gambar dan video berlisensi untuk membuat iklan yang dibuat dengan AI. Ini termasuk pesan pemasaran yang menampilkan karakter yang menyerupai orang sungguhan. Sayangnya, Getty Images dan Tiktok tidak mengungkapkan ketentuan keuangan dari kesepakatan tersebut.

Dari laman resmi Tiktok, Symphony Creative Studio disebut sebagai solusi pembuatan video Tiktok dengan dukungan AI. Symphony Creative Studio didesain untuk mengefisienkan proses pembuatan materi iklan.

(FILES) This photo illustration taken on September 14, 2020 shows the logo of the social network application TikTok (top) and a US flag (bottom) shown on the screens of two laptops in Beijing. The US House of Representatives overwhelmingly approved a bill on March 13, 2024 that would force Tiktok to divest from its Chinese owner or get banned from the United States. (Photo by NICOLAS ASFOURI / AFP)

Solusi ini membantu pembuat konten atau kreator membuat video untuk Tiktok dengan cepat. Bahkan, kreator yang tergolong pemula akan mudah membuat video.

Kreator bisa memanfaatkan kreativitas yang didukung AI. Teknologi tersebut memanfaatkan AI untuk membuat pratinjau video, skrip yang dioptimalkan, dan kalimat untuk menjelaskan gambar atau foto.

Dengan menggunakan teknologi Symphony Creative Studio, kreator bisa mendapatkan inspirasi atau ide yang sesuai dengan tren. Alhasil pembuatan video dengan teknologi itu bisa lebih efisien. Dengan mengotomatiskan langkah-langkah produksi video, kreator bisa fokus pada kreativitas, strategi, dan pengoptimalan kinerja.

Sebelum Tiktok meluncurkan layanan tersebut, raksasa teknologi seperti Google dan induk perusahaan Facebook, Meta, sudah lebih dulu berekspansi. Mereka meluncurkan alat-alat yang memanfaatkan AI untuk membantu pembuatan iklan pada platform mereka.

”Dengan melonjaknya permintaan akan penceritaan otentik dalam periklanan, kebutuhan akan konten yang memikat dan berkualitas tinggi untuk menyampaikan cerita-cerita secara efektif kepada khalayak tidak pernah sebesar ini,” kata Wakil Presiden Senior Kemitraan Strategis Global Getty Images Peter Orlowsky, dalam keterangan resmi bersama Tiktok.

An employee of South Korean company Hyodol holds puppets meant to help elderly people during the Mobile World Congress (MWC), the telecom industry's biggest annual gathering, in Barcelona on February 26, 2024. The world's biggest mobile phone fair throws open its doors in Barcelona with the sector looking to artificial intelligence to try and reverse declining sales. (Photo by Josep LAGO / AFP)

Semakin berkembangnya penggunaan AI generatif yang dilatih pada gambar, artikel, dan data lain memang membuat sejumlah pengguna gembira. Namun, di saat yang sama penggunaan AI generatif menimbulkan kemarahan para penulis, seniman, dan pihak lain yang percaya bahwa kreasi mereka diserap tanpa diminta atau diberi kompensasi.

Sebutlah perusahaan penerbitan media The New York Times. Perusahaan tersebut mengajukan tuntutan hukum untuk mempertahankan konten mereka, sementara beberapa organisasi berita memilih untuk membuat kesepakatan lisensi.

Belajar dari kasus The New York Times, tidak dapat dipungkiri, dalam dunia kreatif dan dunia kerja, keterampilan unik manusia, seperti kreativitas, tetap merupakan hal penting. Forbes pada 14 September 2024 melaporkan hasil survei terbaru Canva bahwa 75 persen manajer perekrutan mengatakan, kreativitas dipandang penting saat membuat keputusan merekrut.

Mayoritas dari 917 manajer (57 persen) menempatkan kreativitas di antara tiga keterampilan yang paling dicari oleh pemberi pekerjaan, di samping pemecahan masalah (58 persen) dan komunikasi (55 persen).

Meski begitu, para manajer tetap tidak menghilangkan begitu saja kehadiran AI. Mereka meyakini teknologi dan AI akan berperan sebagai katalisator kreativitas, bukan pengganti kreativitas.

”Kreativitas adalah salah satu keterampilan manusia yang tidak dapat benar-benar dikuasai oleh AI,” kata Danny Wu, Kepala Produk AI Canva.

”Mereka yang belajar menguasai perangkat AI tidak hanya akan memiliki keunggulan kompetitif, tetapi juga jauh lebih unggul daripada mereka yang tidak menguasainya,” kata Wu menambahkan.

AI mungkin tidak menggantikan keterampilan kreatif, tetapi AI muncul sebagai alat untuk meningkatkan kreativitas manusia. ”AI bertindak sebagai pengganda (kreativitas) yang kuat di samping upaya manusia. Potensi sebenarnya dapat terwujud saat digunakan bersamaan dengan kemampuan manusia,” tutur Adrian McKnight, Kepala Petugas Digital WNS, perusahaan layanan dan transformasi bisnis berbasis digital.

AI, menurut McKnight, juga dapat membantu sistematisasi proses apa pun, termasuk proses inovasi. AI dapat menjadi alat yang ampuh untuk menganalisis jalur inovasi dengan cepat guna menemukan peluang. Algoritmanya dapat mengumpulkan dan menghubungkan data yang relevan tentang inovasi, menemukan pola dampak inovasi, dan bahkan dapat dilatih dengan pandangan ke depan secara otomatis untuk mengungkap hal-hal yang tidak diketahui.

”Pada akhirnya, nilai dan keberhasilan AI yang sesungguhnya dapat dicapai melalui jabat tangan antara manusia dan AI. AI dapat menjadi sekutu yang kuat dalam meningkatkan kemampuan manusia untuk berinovasi,” ujar McKnight. (AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Helena Fransisca Nababan
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra