Kelompok sukarelawan terbentuk saat gempa bumi.
22 Sep 2025 11:05 WIB · Internasional
Jeritan dan teriakan minta tolong terdengar dari sela-sela reruntuhan pabrik tekstil yang ambruk karena gempa bermagnitudo 8,1 di Meksiko, 19 September 1985. Tak berapa lama, jeritan serupa terdengar dari warga yang berada di luar reruntuhan. Mereka berteriak memberitahukan bahwa ada yang terjebak di dalam reruntuhan.
Peristiwa 40 tahun lalu itu masih membekas di ingatan sebagian warga yang tinggal di ibu kota Meksiko. Hari itu pukul 07.19, warga merasakan tanah berguncang kencang.
Enrique Linares yang saat itu masih seorang mahasiswa akuntansi mengenang orang-orang yang berlarian di jalanan yang dipenuhi debu tebal. Ia sadar bahwa ada peristiwa luar biasa, saat mendongak dan tidak melihat bangunan rumah sakit 12 lantai yang seharusnya ada di depannya.
Rumah sakit itu ambruk. Pencarian selama beberapa hari akhirnya membuahkan hasil. Beberapa bayi berhasil ditemukan selamat dari reruntuhan. Bayi-bayi itu dijuluki ”bayi ajaib” yang kemudian menginspirasi pembuatan serial televisi tentang kisah mereka. Sementara di lokasi pabrik tekstil, mayat-mayat dikumpulkan ke dalam truk.
Sebuah hotel mewah bernama Hotel Regis yang menjadi simbol sekaligus pusat kehidupan politik, seni, dan sosial di Meksiko juga hancur berkeping. Gedung yang dibangun di awal abad ke-20 dan terletak di pusat kota juga bernasib sama. Ambruk dan menyisakan puing yang bertumpuk. Data resmi menyebutkan korban tewas sekitar 12.000 orang, tetapi jumlah sebenarnya masih belum diketahui.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/22/77acce0c-5970-4d21-89ff-c13edece8e30_jpg.jpg)
Francisco Camacho, yang kini berusia 66 tahun, pada 1985 menjadi salah satu anak muda yang ikut mencari korban selamat dari runtuhnya gedung apartemen di Tlatelolco Plaza. ”Kami menggali dengan kaleng sarden dan tangan kami,” kenangnya.
Para perempuan mengorganisasi sekelompok sukarelawan untuk membersihkan ember-ember berisi puing. Anak-anak membawakan air. Camacho mengenang penyanyi tenor Placido Domingo yang juga membantu. Para sukarelawan membuat lubang dan merangkak masuk seperti yang biasa dilakukan tikus tanah.
Dari situlah lahirlah kelompok penyelamat sukarelawan yang dikenal sebagai ”Los Topos” (”Tikus-tikus tanah”). Organisasi ini telah berkembang dari 20-an amatir menjadi pasukan yang saat ini beranggotakan sekitar 1.200 orang.
Kini, sebagai simbol solidaritas Meksiko yang kuat, mereka telah menjelajah ke 32 negara untuk membantu berbagai bencana. Mereka terus berlatih setiap Minggu untuk mengantisipasi apa yang mungkin terjadi selanjutnya.
Camacho, yang kini menjadi Direktur Los Topos, mengatakan, kenangan tak terlupakan saat harus meletakkan banyak mayat yang membusuk di stadion bisbol pada tahun 1985. Sebuah pengalaman yang meninggalkan bau kematian, yang tidak hilang dari hidung selama berbulan-bulan.
Saat terjadi gempa di tanggal yang sama di tahun 2017, tepat 32 tahun setelah gempa tahun 1985, Los Topos menjadi tulang punggung penyelamatan para korban. Gempa dengan bermagnitudo 7,1 yang melanda Meksiko kembali memakan korban walau tak sebanyak gempa pertama. Hampir 400 orang tewas dalam gempa tahun 2017.
Terlepas dari apakah tanah berguncang atau tidak, setiap 19 September tetap mengguncang penduduk ibu kota. Hal ini karena banyak simbol gempa di seluruh kota yang belum dilupakan. (AP)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Demitrius Wisnu WidiantoroPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan