Myanmar Bangkit Setelah Gempa Berlalu

Melihat Myanmar memperbaiki kerusakan akibat gempa bumi beberapa waktu lalu.

05 Sep 2025 13:13 WIB · Internasional

Oleh Ignatius Danu Kusworo

Gempa dahsyat berkekuatan 7,7 skala Richter yang menggucang Myanmar, Jumat (28/3/25) lalu menghancurkan bangunan-bangunan dan infrastruktur umum. Gempa juga menewaskan lebih dari 3.800 warga dan ribuan lain menderita luka-luka. 

Situasi konflik pemerintah dan pemberontak, serta hancurnya infrastruktur, seperti jalan dan jembatan telah menambah kesulitan menyalurkan bantuan ke daerah-daerah yang paling terdampak. Rumah sakit, sekolah, tempat ibadah, dan bangunan masyarakat lainnya telah rusak atau hancur sehingga hanya menyisakan sedikit tempat bagi warga untuk berlindung atau mendapatkan bantuan dan perawatan saat itu.

Jurnalis Associated Press mendapat kesempatan dari pemerintah junta militer yang berkuasa di Myanmar untuk mengunjungi dan melaporkan kerusakan dan perkembangan pembangunan akibat gempa tersebut, baru-baru ini. Kunjungan ke dua kota terbesar, Naypytaw dan Mandalay, didampingi perwakilan resmi junta yang berkuasa. 

Retakan terlihat di jalan di Naypyidaw pada Jumat (28/3/2025), setelah gempa bumi di Myanmar bagian tengah. Gempa bumi dahsyat mengguncang Myanmar bagian tengah membuat jalan-jalan di ibu kota Naypyidaw tertekuk dan merusak bangunan.
Pagoda yang rusak setelah gempa bumi, Jumat (28/3/2025), di Naypyidaw, Myanmar.
Pengemudi memunguti potongan jalan yang rusak di Naypyidaw pada Jumat (28/3/2025), setelah gempa bumi di Myanmar bagian tengah.
Warga melihat bangunan yang runtuh di Mandalay pada 28 Maret 2025 akibat gempa bumi di Myanmar.
Petugas penyelamat berusaha mengeluarkan orang-orang dari bangunan yang runtuh di Naypyidaw pada 28 Maret 2025
Warga berjalan melewati rumah-rumah yang rusak di Mandalay, Myanmar, Minggu (30/3/2025), dua hari setelah gempa bumi magnitudo 7,7 melanda Myanmar bagian tengah.
Warga mengendarai sepeda melewati bangunan yang rusak seusai gempa bumi, di Naypyidaw, Myanmar, Minggu, 30 Maret 2025.
Seorang biksu Buddha berjalan di dekat pagoda yang runtuh setelah gempa bumi di Mandalay, Myanmar tengah, Minggu, 30 Maret 2025.
Tim penyelamat melakukan pencarian dan penyelamatan di sebuah bangunan yang runtuh setelah gempa bumi di Mandalay, Myanmar, Minggu, 30 Maret 2025.

Thae Mama Swe berdiri di atas tumpukan puing gempa di tengah hujan saat ia menyaksikan ekskavator menghancurkan beton dan tulangan besi. Buldoser yang lain menyapu puing-puing dan mengumpulkannya di sudut bangunan. Ritual ini telah dijalani penjahit berusia 47 tahun ini selama lima bulan. Tepatnya sejak gempa merobohkan sebuah kondominium dan gedung perkantoran 10 lantai.

Sebanyak 200 jenazah telah ditemukan dari lokasi kejadian, termasuk tujuh jenazah dalam seminggu terakhir, tetapi belum termasuk jenazah putranya. ”Jika saja bisa, aku akan menukar hidupku dengan nyawanya,” katanya. Kacamatanya basah karena hujan dan matanya bengkak karena air mata.

Para buruh bekerja di dalam gedung parlemen yang rusak akibat gempa bumi 28 Maret 2025 di Naypyitaw, Myanmar, Kamis, (28/8/2025).

Kerusakan akibat gempa masih terlihat

Di sepanjang jalan raya utama dari kota terbesar di negara itu, Yangon ke Mandalay, kuil-kuil yang roboh dan bagian-bagian trotoar yang melengkung menjadi pengingat abadi akan kekuatan destruktif gempa. Insinyur militer telah membangun jembatan sementara untuk memungkinkan lalu lintas melintasi sungai-sungai yang bentangnya telah hancur. 

Jembatan-jembatan rusak yang masih berdiri sedang diperbaiki. Di seluruh wilayah Mandalay, hampir 29.000 rumah, 5.000 pagoda Buddha, dan 43 jembatan hancur seluruhnya atau sebagian.

Di kompleks parlemen di Naypyitaw, 500 orang bekerja siang dan malam, tujuh hari seminggu, di lima gedung terpenting yang rusak. Para pekerja memperbaiki langit-langit dan dinding yang runtuh serta memperkuat fondasi agar dapat digunakan tepat waktu untuk pemilihan umum yang dijadwalkan akhir Desember. 

Buruh bekerja di sebuah bangunan di kompleks Universitas Mandalay yang rusak akibat gempa bumi 28 Maret 2025, Mandalay, Myanmar, Rabu, (27/9/2025).
Para buruh bekerja di dalam gedung parlemen yang rusak akibat gempa bumi pada 28 Maret 2025 di Naypyidaw, Myanmar, Kamis (28/8/2025).
Seorang anggota keluarga menyaksikan upaya pemulihan di lokasi kondominium 10 lantai yang runtuh selama gempa bumi pada 28 Maret 2025, di Mandalay, Myanmar (27/8/2025).
Sebuah backhoe membersihkan area dekat gedung parlemen yang rusak akibat gempa bumi 28 Maret 2025 di Naypyidaw, Myanmar, Kamis (28/8/2025).
Pekerja memperbaiki jalan yang rusak akibat gempa bumi 28 Maret 2025 di Naypyidaw, Myanmar, Selasa, (26/8/2025).
Alat berat dikerahkan dilokasi bekas kondominium 10 lantai yang runtuh selama gempa bumi 28 Maret 2025, di Mandalay, Myanmar, (27/8/2025).

Di tempat lain di ibu kota, sebuah tim yang terdiri dari sekitar 40 pekerja, sebagian besar perempuan, bekerja memperbaiki jalan di banyak lokasi. Para pekerja membawa keranjang berisi batu-batu besar di kepala dan bahu mereka, lalu menumpuknya untuk membentuk fondasi, diikuti dengan tumpukan kerikil yang dilapisi aspal.

Seiring berjalannya rekonstruksi, para pejabat mengatakan Myanmar membutuhkan bantuan dari negara lain yang berpengalaman membangun bangunan tahan gempa. Di lokasi salah satu rumah sakit terbesar di ibu kota, yang tersisa hanyalah besi beton berkarat, pipa plastik, dan beton yang telah dihancurkan.

Tempat tidur dan perabotan rumah sakit ditumpuk di bawah naungan agar dapat digunakan kembali, tetapi insinyur yang bertanggung jawab atas proyek tersebut, Thin Thin Swe, mengatakan belum jelas apakah Rumah Sakit Ottara Thiri akan dibangun kembali.

Thae Mama Swe berdiri di lokasi Sky Villa, sebuah kondominium 10 lantai yang runtuh saat gempa bumi 28 Maret 2025, di Mandalay, Myanmar, Rabu (27/8/2025).
Seorang wanita berjalan melewati ladang kosong yang dulunya merupakan pasar lokal yang hancur dalam gempa bumi 28 Maret di Naypyidaw, Myanmar, Selasa (26/8/2025).
Buruh bekerja di sebuah bangunan di kompleks Universitas Mandalay yang rusak akibat gempa bumi 28 Maret 2025, di Mandalay, Myanmar, Rabu (27/8/2025).
Anggota keluarga berdiri di atas puing-puing di lokasi kondominium 10 lantai yang runtuh selama gempa bumi 28 Maret 2025 di Mandalay, Myanmar (27/8/2025).
Buruh bekerja di sebuah bangunan di kompleks Universitas Mandalay yang rusak akibat gempa bumi pada 28 Maret 2025 di Mandalay, Myanmar, Rabu, (27/8/2025).
Puruh bekerja di dalam gedung parlemen yang rusak akibat gempa bumi pada 28 Maret 2025 di Naypyidaw, Myanmar, Kamis, (28/8/2025).

Banyak orang masih belum menemukan anggota keluarganya yang hilang sejak gempa melanda. Thin Thin Swe kehilangan dua temannya, seorang akuntan rumah sakit dan apotekernya, ketika lobi utama rumah sakit itu ambruk. ”Saya masih berdoa untuk mereka setiap hari,” katanya. (AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Ignatius Danu Kusworo
 | 

Editor:

Yuniadhi Agung
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra