Tim Khusus dari China dan Harapan Pencarian Korban Bencana Sumatera

Pemerintah perlu terbuka menerima bantuan asing dalam situasi bencana, bukan hanya soal investasi ekonomi.

09 Des 2025 06:00 WIB · Politik & Hukum

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

Oleh Yohanes Mega Hendarto

Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau Mualem mengambil keputusan cepat untuk mengundang tim khusus dari China yang memiliki pengalaman luas dalam pencarian korban bencana.

Kehadiran tim ini di Aceh mencerminkan reputasi mereka dalam penanganan situasi bencana yang kompleks. Meski terindikasi ”menabrak” prosedur, urgensitas kemanusiaan perlu jadi prioritas utama.

Kedatangan tim khusus dari China, menurut Gubernur Aceh Mualem, dibutuhkan untuk mempercepat pencarian korban di wilayah yang lumpurnya tebalnya mencapai pinggang.

Secara eksplisit, Mualem menyebutkan bahwa tim tersebut memiliki alat yang dapat mendeteksi mayat dalam lumpur sehingga mempercepat proses pemulihan bencana.

Tim dari China yang datang berjumlah lima orang dan telah tiba di Aceh pada Jumat (5/12/2025) dan langsung diturunkan ke titik-titik sulit pencarian, yaitu di wilayah pesisir timur Aceh, khususnya Aceh Timur, Aceh Utara, dan Aceh Tamiang.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi I DPR Dave Laksono menyatakan, Komisi I akan berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri agar sesuai prosedur bantuan internasional.

Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau Mualem mengecek kedatangan bantuan tanggap darurat bencana yang dibawa menggunakan pesawat Hercules di Bandara Malikussaleh, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, Minggu (30/11/2025).

Menurut Dave, Komisi I DPR menilai perlu mencermati setiap kerja sama internasional, terutama jika melibatkan kehadiran pihak asing di wilayah Indonesia. Koordinasi dengan pemerintah pusat menjadi hal krusial dalam pertimbangan keputusan.

Terlepas dari komentar Komisi I DPR, tindakan meminta bantuan asing dalam konteks bencana Sumatera adalah hal yang logis. Sebab, kondisi medan bencana saat ini tertutupi oleh lumpur yang mengandung campuran tanah liat dan batuan sehingga sulit ditembus oleh alat berat.

Beberapa titik lapangan bahkan menunjukkan tekstur lumpur yang mengeras sehingga membutuhkan teknologi pemetaan bawah permukaan yang presisi.

Di satu sisi, tim SAR lokal telah bekerja tanpa henti sejak kejadian, tetapi menghadapi hambatan yang tidak dapat diatasi dengan peralatan konvensional.

Pencarian manual menggunakan cangkul dan sekop terbukti tidak memadai untuk wilayah yang tertutup lapisan lumpur setebal puluhan sentimeter. Sementara itu, alat berat mudah terperosok dan tidak dapat bergerak bebas di tengah lumpur basah.

Di sisi lain, tim yang datang dari China terdiri atas tenaga teknis yang terbiasa menangani operasi pencarian di medan ekstrem. Tim ini telah terlibat dalam penanganan bencana besar di dalam negeri China, seperti gempa di Sichuan dan longsor di Gansu. Pengalaman panjang ini membuat mereka terbiasa menghadapi medan dengan material basah dan struktur tanah yang tidak stabil.

Teknologi pencarian korban

China memiliki sejarah panjang dalam menghadapi bencana alam dengan jumlah korban yang besar. Setidaknya ada dua bencana besar terjadi, yakni gempa Sichuan yang terjadi pada Mei 2008 dan longsor diikuti banjir bandang di Gansu pada Agustus 2010.

Setelah dua bencana besar tersebut, Pemerintah China menambah investasi pada perangkat deteksi bawah tanah dan membentuk satuan teknis yang khusus mempelajari pola pergerakan material pascabencana.

Selama lebih kurang satu dekade, tim SAR China mengembangkan peralatan pemetaan gelombang elektromagnetik untuk melacak korban yang hilang.

Mereka juga mengembangkan algoritma yang membantu mengidentifikasi pola anomali pada pantulan sinyal radar. Teknologi tersebut memungkinkan tim SAR memusatkan pencarian pada titik yang memiliki peluang tertinggi.

Pada beberapa peristiwa gempa dan longsor, tim SAR China berhasil menemukan korban pada kedalaman yang sulit dijangkau oleh alat berat. Mereka menggabungkan pemetaan bawah permukaan dengan penggalian hati-hati yang disesuaikan dengan karakter tanah. Keberhasilan ini menjadi alasan kuat bagi Pemerintah Provinsi Aceh untuk melibatkan mereka dalam operasi lokal.

Setidaknya ada dua teknologi yang digunakan, yakni radar UWB (ultra-wideband) dan GPR (ground penetrating radar). Radar UWB sangat efektif untuk mendeteksi korban yang masih hidup berdasarkan gerakan pernapasan atau detak jantung. Namun, jika fokus pencarian adalah mayat (korban yang sudah meninggal dan tidak memiliki tanda vital), radar UWB konvensional akan kurang efektif karena ia hanya mencari gerakan.

Infografik Jumlah Pengungsi Bencana Sumatera dan Bantuan Terdistribusi

Oleh sebab itu, GPR menjadi teknologi pelengkap yang memadai dalam pencarian korban di medan esktrem. Teknologi ini bekerja dengan memancarkan gelombang ke dalam tanah dan menangkap pantulan sinyal dari lapisan yang lebih dalam. Setiap jenis material memiliki respons yang berbeda sehingga operator dapat menganalisis pola pantulan dan mengenali anomali.

Dalam pencarian korban bencana, anomali yang dimaksud dapat berupa tubuh manusia yang telah tertimbun material. Struktur organik dan tulang manusia memiliki kontras tertentu terhadap material lumpur sehingga membentuk pola yang dapat dikenali. Alat ini tidak mencari tanda vital, tetapi lebih mengidentifikasi perbedaan struktur fisik.

Penggunaan radar memungkinkan proses pencarian berlangsung lebih cepat dibandingkan penggalian manual. Operator dapat memindai area yang luas dan mengurangi kemungkinan pencarian salah arah. Efisiensi inilah yang diharapkan oleh Pemprov Aceh untuk mempercepat penanganan pascabencana.

Kedua teknologi ditambah dengan kemampuan para ahli diperlukan mengingat ada dua tantangan utama dalam pencarian korban saat ini. Pertama, efektivitas radar selalu berkurang seiring dengan bertambahnya kedalaman dan kepadatan material. Kedua, semakin lama jenazah berada di bawah lumpur, dekomposisi akan mengubah komposisi dan kepadatan sehingga dapat mempersulit pendeteksian oleh radar.

Oleh karena itu, kehadiran tim China tidak menggantikan peran tim SAR lokal yang telah bekerja di lapangan sejak awal bencana, tetapi kolaborasi. Tim China memperkuat kapasitas daerah dalam membaca medan dan menentukan lokasi pencarian. Kolaborasi ini memungkinkan operasi berjalan lebih terstruktur dan efisien.

Tim lokal membawa pengetahuan mengenai akses dan kondisi sosial wilayah bencana. Informasi tersebut menjadi penting bagi tim China untuk memahami pola sebaran permukiman yang tertimbun dan memberikan dukungan teknis yang sulit disediakan oleh sumber daya daerah. Kombinasi ini diharapkan mempercepat proses pencarian yang sebelumnya berjalan lambat.

Terbuka untuk kemanusiaan

Bencana di Sumatera, salah satunya menunjukkan perlunya investasi teknologi pencarian dan penyelamatan yang lebih baik. Beberapa negara telah mengembangkan radar dan sensor berstandar tinggi untuk pencarian di bawah material padat.

China menjadi salah satu negara yang menempatkan teknologi SAR sebagai bagian dari prioritas nasional karena tumbuh dari kesadaran kerentanan bencana yang terjadi di negara mereka.

Indonesia dapat belajar bahwa penanganan bencana membutuhkan kombinasi peralatan teknis dan koordinasi yang disiplin.

Negara-negara yang sering mengalami bencana besar biasanya memiliki protokol yang teruji. Pengalaman tersebut menunjukkan pentingnya membangun kapasitas domestik yang lebih kuat.

Prajurit Batalyon Infanteri 111/Karma Bhakti mengoperasikan eksavator untuk memindahkan lautan gelondongan kayu yang telah mengisolasi Kampung Menanggini, Desa Tanjung Karang, Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, dengan daerah luar, Sabtu (6/12/2025). Gelondongan kayu tersebut terbawa banjir bandang Sungai Tamiang.

Bantuan internasional memberikan kesempatan untuk mempelajari metode pencarian yang lebih modern. Interaksi teknis yang menjadi sarana transfer pengetahuan dan pengalaman dapat menjadi modal bagi Indonesia untuk memperkuat sistem kebencanaan di masa depan.

Maka, kehadiran tim asing tidak hanya menyelesaikan urgensi saat ini, tetapi juga memberi manfaat jangka panjang.

Sampai di titik inilah, pemerintah perlu sadar bahwa keterbukaan terhadap bantuan asing dalam konteks kemanusiaan sangatlah diperlukan. Ironisnya, selama ini pintu terbuka lebar bagi asing untuk perkara investasi dan pemanfaatan sumber daya alam negara.

Keterbukaan semacam ini harus dipahami sebagai bagian dari tanggung jawab moral negara untuk memastikan keselamatan rakyatnya. (LITBANG KOMPAS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Yohanes Mega Hendarto
 | 

Editor:

Yohan Wahyu
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan