Timnas sepak bola putri Indonesia kalah 0-2 dari Pakistan di kualifikasi Piala Asia 2026. Mereka tampak kehilangan arah saat bermain, terutama ketika menyerang.
02 Jul 2025 22:47 WIB · Olahraga
TANGERANG, KOMPAS — Unggul segala-galanya tidak berarti bisa pulang dengan membawa segalanya yang diinginkan. Itulah yang dialami timnas sepak bola putri Indonesia yang justru mengalami disorientasi dan akhirnya ditaklukkan Pakistan. Jalan terjal pun menanti ”Garuda Pertiwi” yang bermimpi tampil di Piala Asia lagi.
Timnas sepak bola putri Indonesia datang dengan banyak keunggulan atas Pakistan dalam laga kedua Grup D kualifikasi Piala Asia 2026, Rabu (2/7/2025). Tim asuhan Pelatih Satoru Mochizuki ini berbekal kemenangan pada laga perdana, unggul secara peringkat dunia (posisi ke-95), dan tampil di hadapan publik sendiri.
Bandingkan dengan Pakistan yang datang ke Stadion Indomilk Arena, Kabupaten Tangerang, Banten, dengan hasil memilukan pada laga sebelumnya: kekalahan telak 0-8 dari Taiwan. Belum lagi, mereka merupakan tim paling inferior di grup dengan peringkat dunia ke-157. Mereka tidak aktif tahun ini dan tidak pernah menang saat berlaga tahun lalu.
Namun, Pakistan mengubah seluruh keunggulan Indonesia itu hanya sebatas di atas kertas. Di lapangan, merekalah yang bisa keluar sebagai pemenang. Indonesia pun takluk 0-2 lewat gol Nadia pada menit ke-8 dan gol penalti Suha Hirani pada menit ke-18.
”Kami tentu inginnya menang, sangat disesalkan kami kalah. Namun, kami tidak mau pulang dengan menunduk. Kami ingin bangkit untuk laga selanjutnya dan ajang selanjutnya,” kata Mochizuki selepas pertandingan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/02/7e013191b6e4a268ef939c6f06f79317-20250702YGA15.jpg)
Indonesia sebenarnya tidak kekurangan peluang. ”Garuda Pertiwi” bahkan menunjukkan dominasinya itu di lapangan.
Jika dibandingkan dengan Pakistan, jumlah peluang Indonesia bak bumi dan langit. Namun, Pakistan mampu bermain efektif dengan memaksimalkan setiap peluang mereka.
Terhitung hanya tiga kans anak-anak asuhan Adeel Mirza Rizki pada paruh pertama, dua di antaranya berbuah gol.
Adapun Indonesia mencatatkan sedikitnya 11 peluang, terutama lewat tendangan langsung di luar kotak penalti.
Namun, hanya beberapa yang tepat sasaran, salah satunya tendangan Zahra Muzdalifah pada menit ke-39 yang membentur tiang dan tendangan Claudia Scheunemann pada menit ke-37 yang mampu ditangkap kiper lawan.
Indonesia mengalami disorientasi. Mereka seolah kehilangan arah, baik saat mengumpan, menerima, maupun menendang bola, saat menyerang ataupun bertahan.
Mochizuki selepas laga kontra Kirgistan pernah mengatakan, pentingnya pemain menguasai kemampuan mendasar, yakni mengumpan, mengontrol, dan menendang bola. Kemampuan dasar itu pula yang memang kurang dikuasai pemain Indonesia.
Ketika kehilangan arah itu, pemain-pemain Indonesia akhirnya memanfaatkan tendangan-tendangan langsung dari luar kotak penalti. Namun, tidak semua tendangan itu tepat sasaran.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/02/e55082734e4db649b2cf29bccfe777d6-20250702YGA17.jpg)
”Banyak kesalahan di lapangan yang membuat kami kehilangan bola, baik salah umpan maupun kontrol bola. Kami sulit mendikte alur pertandingan karena kesalahan mendasar itu,” ucap Mochizuki.
Saat pertandingan baru berjalan dua menit, Indonesia sebenarnya sudah mendapatkan peluang pertama melalui tendangan bebas Felicia De Zeeuw. Namun, bola yang mengenai kepala pemain bertahan lawan bisa ditangkap kiper diaspora Pakistan, Zeeyana Jivraj.
Pakistan, seperti yang diwaspadai oleh Pelatih Satoru Mochizuki sebelumnya, berbahaya ketika serangan balik. Terbukti, mereka bisa menciptakan peluang pertama dari skema itu. Peluang pertama tersebut bahkan mampu langsung berbuah gol lewat aksi penyerang Nadia pada menit ke-8.
Nadia, yang bergerak dari sisi kanan untuk menerima umpam terobosan, tak terkejar oleh pemain bertahan Indonesia. Dari sisi kanan serangan di dalam kotak penalti itu pula Nadia menendang bola yang sempat mengenai bek Indonesia, Gea Yumanda, dan tak bisa ditangkap oleh kiper Indonesia yang baru dinaturalisasi, Iris De Rouw.
Hal serupa kembali terjadi pada menit ke-15 ketika umpan terobosan ke sisi kanan serangan Pakistan mampu dijangkau Mariam Mahmood. Bek Indonesia, Emily Nahon, gagal mengawal Mahmood dan akhirnya menjatuhkannya di dalam kotak penalti.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/02/ac9c8bf10bc98e5b7dc14e985cd8d5eb-20250702YGA16.jpg)
Wasit Kanematsu Haruna menunjuk titik putih. Suha Hirani, yang ditunjuk sebagai eksekutor penalti, menambah keunggulan Pakistan pada menit ke-18 setelah tendangannya tak mampu diantisipasi Iris.
Pada babak kedua, Mochizuki mencoba mempertajam serangan dengan memasukkan Isa Warps untuk menggantikan Claudia Scheunemann. Pelatih asal Jepang ini juga memasukkan Marsela Awi dan Rosdilah Siti. Namun, upaya itu tidak membuahkan hasil.
Dengan hasil ini, Indonesia turun ke peringkat ketiga dalam klasemen sementara Grup D. Meski sama-sama mengoleksi tiga poin, Indonesia kalah head to head dengan Pakistan.
AFC menerapkan sistem head to head apabila ada dua tim yang memiliki poin sama. Aturan itu berlaku apabila kedua tim telah berhadapan.
Jalan terjal pun menanti Indonesia yang bermimpi jadi juara grup demi bisa lolos. Apalagi, Taiwan kian koloh di puncak klasemen dengan torehan 6 poin berkat kemenangan 3-0 atas Kirgistan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/02/2755352c680d3473b399301ad237d5a1-20250702YGA14.jpg)
Indonesia wajib menang dalam pertandingan terakhir melawan Taiwan jika ingin tetap menjaga peluang ke Asia. Itu pun masih akan bergantung pada skor dan hasil pertandingan lain antara Kirgistan dan Pakistan.
Adapun dengan kemenangan atas Indonesia, Pakistan sukses bangkit setelah kekalahan telak 0-8 dari Taiwan. Mereka kini membuka peluang untuk lolos ke Piala Asia.
”Sebagai pemain, kami punya opsi, yakni terus merasa sedih karena kekalahan sebelumnya atau bereaksi positif dengan bangkit. Kami berupaya untuk hanya memiliki ingatan jangka pendek, melupakan laga kemarin dan fokus laga ke depan. Itu yang kami lakukan. Menunjukkan karakter dan resiliensi kami,” tutur kapten Pakistan, Maria Khan.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
Didik Durianto