Indonesia perlu menegaskan sikap, bahwa menghadirkan perdamaian perlu dimulai dengan tertib mematuhi hukum dan norma-norma internasional, tidak sebaliknya.
01 Apr 2026 08:48 WIB · Tajuk Rencana
PUSAT PENERANGAN TNI
Dalam dua insiden terpisah di Lebanon, tiga prajurit TNI gugur. Kehilangan ini bukan semata-mata duka bagi Indonesia, melainkan juga bagi perdamaian dunia.
Insiden pertama terjadi pada Minggu (29/3/2026) saat serangan artileri menghantam pos Komando Pasukan Penjaga Perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon (UNIFIL) di Adshit al-Qusayr, Lebanon selatan. Pos itu merupakan pos kontingen TNI yang tergabung dalam UNIFIL. Ledakan peluru artileri menewaskan Praka Farizal Rhomadhon.
Insiden kedua terjadi hanya berselang sekitar 24 jam setelah serangan di Adshit al-Qusayr. Sebuah kendaraan UNIFIL meledak saat konvoi mereka melintas di Bani Hayyan, Lebanon selatan. Dalam insiden itu, dua prajurit TNI, yaitu Kapten (Inf) Zulmi Aditya Iskandar dan Sersan Satu Muhammad Nur Ichwan, gugur. Sementara Lettu (Inf) Sulthan Wirdean Maulana dan Praka Deni Rianto cedera.
Saat itu, konvoi kendaraan yang mereka tumpangi bergerak untuk misi pengiriman logistik dan evakuasi. Namun, di tengah perjalanan, salah satu kendaraan dalam konvoi tersebut tiba-tiba meledak, diduga akibat bom.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/30/b4c64f196a9f6315e775cd6b03e8c18a-20260330_H01_ADI_TNI_mumed.png)
Baik UNIFIL, PBB, maupun Kementerian Luar Negeri Indonesia mengecam keras serangan terhadap pasukan perdamaian. Dalam pernyataannya, UNIFIL menegaskan, serangan yang disengaja terhadap pasukan penjaga perdamaian merupakan pelanggaran terhadap hukum humaniter internasional. UNIFIL menegaskan, tindakan yang juga melanggar Resolusi 1701 Dewan Keamanan PBB itu sebagai kejahatan perang.
Desakan penyelidikan menyeluruh dan transparan pun menggema kuat, mulai dari pemerintah, PBB, hingga komunitas internasional. Dalam pernyataan bersama, Menteri Pertahanan Italia Guido Crosetto dan Menteri Angkatan Bersenjata Perancis Catherine Vautrin mengatakan, insiden berulang atas pasukan PBB memperlihatkan memburuknya kerangka keamanan di Lebanon dan memperlihatkan meningkatnya risiko yang dihadapi personel UNIFIL.
Dari perspektif Kementerian Luar Negeri, insiden ini bukanlah peristiwa yang dapat dipisahkan dari memburuknya situasi Lebanon. Buruknya situasi keamanan di Lebanon merupakan akibat serangan bertubi-tubi Israel. Seiring serangan ke Iran, Israel menekan Hizbullah di Lebanon.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/01/e80afc315c1eff38e1de1be028a19f21-Lebanon_Israel_Iran_War_137153155.jpg)
Tak hanya dari udara, dengan mengerahkan tank-tank berat, Israel melakukan serbuan darat dengan niat merebut wilayah di Lebanon selatan. Terkait hal itu, Indonesia menyerukan agar semua pihak menghormati kedaulatan Lebanon, menghentikan serangan, dan kembali ke meja diplomasi.
Di sisi lain, mengacu pada insiden yang menyebabkan tiga prajurit TNI gugur, sejumlah elemen publik mendesak pemerintah untuk mengkaji kembali keterlibatan dalam Dewan Perdamaian (BoP) dan pengiriman pasukan ke Gaza.
Bahkan, dengan melihat tindakan berulang Israel yang tidak mengindahkan desakan internasional untuk mengakhiri serangan, ada baiknya Indonesia undur diri dari BoP, yang di dalamnya Israel juga terlibat. Indonesia perlu menegaskan sikap, bahwa menghadirkan perdamaian perlu dimulai dengan tertib mematuhi hukum dan norma-norma internasional, tidak sebaliknya.
Penulis:
RedaksiEditor:
Andreas Maryoto, Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Nur Adji