Penyaluran bantuan dan perbaikan infrastruktur umum terus dipercepat. Kebutuhan pengungsi dipastikan pemenuhannya.
04 Des 2025 11:22 WIB · Politik & Hukum
DOKUMENTASI SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN
JAKARTA, KOMPAS — Wakil Presiden Gibran Rakabuming menjanjikan percepatan pemulihan atas bencana banjir di Sumatera. Ia memastikan penyaluran bantuan berjalan optimal sembari mendorong perbaikan infrastruktur. Pemerintah menjamin benar-benar hadir untuk warganya di daerah bencana.
Wapres Gibran berangkat menuju Sumatera didampingi Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Aria dari Pangkalan TNI Angkatan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Kamis (4/12/2025). Begitu mendarat di Bandara Minangkabau, Padang Pariaman, Sumatera Barat, Gibran disambut anggota DPR dari Partai Gerindra, Andre Rosiade. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan bersama rombongan menggunakan helikopter menuju Kabupaten Agam.
Setiba di Kabupaten Agam, Wapres langsung menuju lokasi pengungsian dengan membonceng sepeda motor yang dikendarai anggota Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres). Jalan yang dilalui masih dipenuhi lumpur sehingga sepeda motor lebih dipilih guna mengakses lokasi pengungsian agar tidak mengganggu aktivitas warga setempat.
”Dari Bapak Presiden Prabowo, ini saya haturkan dukacita mendalam kepada seluruh korban. Saya mohon maaf sebelumnya. Bapak, Ibu, tidak sendiri. Warga Sumatera tidak sendiri. Kami diperintah Bapak Presiden untuk melakukan percepatan pemulihan pascabencana ini,” kata Wapres saat menyapa para pengungsi.
Hari ini kami mengunjungi tiga provinsi. Tujuannya untuk mempercepat pemulihan. Jadi, bapak dan ibu warga Sumatera tidak sendiri. Kami nanti akan terus turun ke lapangan, dan ini segera kami laporkan ke Pak Presiden.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/04/41b2dc01b89320ebec5542b62e3967e6-IMG_20251204_WA0051.jpg)
Sebagai bentuk percepatan itu, Wapres menyebut, distribusi logistik guna pemenuhan kebutuhan pengungsi akan dipercepat melalui berbagai jalur, baik darat, udara, maupun laut. Pada waktu bersamaan, akses komunikasi dan infrastruktur umum, seperti puskesmas, sekolah, jalan, dan jembatan, juga diperbaiki.
”Perbaikan ini (terutama jalan dan jembatan) akan dipercepat agar arus bantuan logistik, BBM (bahan bakar minyak), bisa lancar kembali,” kata Wapres.
Wapres berpesan kepada kepala daerah, Badan Nasional Penanggulangan Bencana, TNI, dan Polri untuk memperhatikan pemenuhan kebutuhan pengungsi. Kelayakan tenda dan kecukupan makan ditekankannya supaya betul-betul terpenuhi.
Secara spesifik, ia juga menyinggung agar kelompok rentan diprioritaskan. Lebih-lebih apabila pengungsian itu dihuni ibu hamil, anak-anak, hingga warga lansia.
Dalam peninjauan itu, Wapres menyatakan akan melaporkan semua temuannya, termasuk segala masukan yang diterima dari warga, kepada Presiden. Peninjauan juga tidak akan berhenti di Kabupaten Agam. Wapres bakal meneruskan perjalanan menuju lokasi terdampak bencana di dua provinsi lain, yakni Sumatera Utara dan Aceh.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/02/2b4e843be72fa4e8ee14a1f18e077d37-DSC05205.JPG)
”Hari ini kami mengunjungi tiga provinsi. Tujuannya untuk mempercepat pemulihan. Jadi, bapak dan ibu warga Sumatera tidak sendiri. Kami nanti akan terus turun ke lapangan, dan ini segera kami laporkan ke Pak Presiden,” ujar Wapres.
Saat menemui Wapres, Bupati Agam Benni Warlis melaporkan, wilayahnya merupakan salah satu lokasi paling parah terdampak bencana. Bahkan, ia menyebut, jumlah korban dari daerahnya termasuk paling banyak. Ia pun mengucapkan terima kasih atas perhatian Wapres yang bersedia berkunjung langsung.
”Di samping korban luka, sampai hari ini 169 orang sudah ditemukan. Masih ada yang hilang sekitar 84 orang. Tetapi, tidak tertutup kemungkinan yang belum dilaporkan juga masih ada. Kami perkirakan mungkin ada 100 orang,” kata Benni.
Selain itu, Benni menyebutkan, sekitar 15.000 warganya sampai sekarang juga masih tinggal di pengungsian. Jumlah warga yang terisolasi lebih besar, yakni sekitar 20.000 orang. Kendati demikian, penyaluran bantuan terus berlanjut baik dari jalur darat maupun udara, termasuk ke wilayah-wilayah terisolasi yang hanya bisa dilalui sepeda motor.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/02/93fc09dfc130f07d7fc091d375fbc31c-DSC05469_1.JPG)
Ihwal bangunan dan infrastruktur terdampak, Benni menuturkan, jenisnya terentang dari rumah warga, jalan, hingga jembatan. Sawah-sawah tertimbun beserta rumah-rumah penggilingan padi. Akan tetapi, sekarang fokus utama penanganan masih pada pencarian korban dan pembukaan akses jalan.
”Kami membutuhkan alat berat yang banyak untuk bagaimana kita melakukan pencarian. Karena, masih ada yang harus mencari (korban). Khususnya untuk jalan-jalan yang masih longsor. Tetapi, banjir itu sudah selesai, Pak (Wapres),” katanya.
Menurut dia, kehadiran Wapres akan memotivasi segenap warga dan pemerintah daerah yang terdampak bencana itu. Pihaknya juga berharap kelak bantuan pemulihan bencana benar-benar diturunkan. Tak lupa ia mengucap terima kasih atas bantuan pemerintah pusat yang masih terus diterjunkan sampai sekarang, termasuk dari daerah-daerah lain yang tidak terdampak bencana.
”Kabupaten Agam tidak akan mampu menangani ini semua, juga Sumatera Barat. Tenda-tenda penuh. Tentu, kami sangat berharap bantuan dari pemerintah pusat untuk pemulihan ini. Kami sekali lagi mengucapkan terima kasih dan sangat optimistis,” kata Benni.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/03/0e87dc2fd6ceaefab84de013b82bfff0-IMG_6144.jpeg)
Sebelumnya, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya saat jumpa pers di Posko Nasional Penanggulangan Bencana Sumatera di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, Rabu (3/12/2025), menyampaikan, terkait kondisi di Kabupaten Aceh Tamiang, jalur darat yang sebelumnya terputus sudah mulai tersambung. Semua truk bantuan dari Medan sudah bisa menuju Aceh Tamiang.
Teddy melanjutkan, evakuasi dan penanganan korban menjadi fokus utama pemerintah. Seiring dengan itu, pemerintah juga menaruh perhatian terhadap penyebab banjir.
”Selain faktor cuaca yang memang ekstrem, tentunya ada faktor kerusakan lingkungan yang bisa memperparah bencana alam. Dan ini terus ditelusuri secara serius. Pemerintah melakukan evaluasi dan investigasi secara menyeluruh terkait bencana ini,” ujarnya.
Penulis:
Nino Citra AnugrahantoEditor:
Cyprianus Anto SaptowalyonoPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti