Tinju Gadis-gadis Gaza

Sekumpulan gadis di Gaza berlatih tinju untuk mengobati luka perang.

12 Feb 2026 10:10 WIB · Internasional

AFP

Oleh Ignatius Danu Kusworo

Sekelompok gadis Gaza tampak antusias saat berkumpul di sebidang tanah lapang, di antara tenda-tenda pengungsi di Khan Younis, Gaza Selatan, Palestina, Senin (9/2/2026). Mereka saling bantu satu dengan yang lain saat memakai sarung tangan.

Beberapa dari mereka yang sudah selesai memakai sarung tangan melakukan pemanasan ringan sambil menunggu instruksi pelatih, Osama Ayoub. Keterbatasan jumlah peralatan, terutama sarung tinju, membuat sebagian yang lain menonton sambil menunggu giliran.

Seorang wanita muda Palestina berlatih tinju di antara tenda-tenda pengungsian di Khan Yunis, di Jalur Gaza selatan, pada Senin (9/2/2026).

Perempuan-perempuan muda ini kembali berlatih tinju setelah jeda cukup lama akibat perang antara Israel dan Hamas. Genjatan senjata yang disepakati kedua pihak sejak Oktober 2025 membawa angin segar. Tim tinju perempuan ini bisa kembali berlatih. Meski demikian, mereka menyadari bahwa gencatan senjata ini tidak sepenuhnya membuat damai. Militer Israel masih sering melancarkan serangan ke Gaza.

Sebanyak 45 gadis muda Palestina, berusia antara 8-19 tahun, pagi itu terlihat mulai berlatih. Sebuah karung tinju atau samsak juga telah terpasang di gantungan yang terbuat dari besi sederhana.

Gadis-gadis Palestina memasang sarung tinju mereka selama sesi latihan di antara tenda-tenda di Khan Younis, di Jalur Gaza selatan, Senin (9/2/2026).
Seorang gadis muda Palestina mengenakan sarung tinjunya saat sesi pelatihan di Khan Younis, di Jalur Gaza selatan, Senin (9/1/2026).
Potret seorang gadis Palestina berpose dengan sarung tinjunya selama sesi latihan di Khan Younis, di Jalur Gaza selatan, pada Senin (9/2/2026).
Gadis-gadis Palestina menghadiri sesi latihan tinju di Khan Younis, di Jalur Gaza selatan, Senin (9/1/2026). Setelah jeda lama dari latihan, tim tinju yang terdiri dari 45 perempuan berusia antara 8 dan 19 tahun itu kembali berlatih di bawah bimbingan Osama Ayoub.

Sang pelatih, Osama Ayoub, pernah mengelola klub tinju di Kota Gaza, di bagian utara wilayah Palestina. Suatu hari, klub tersebut hancur dalam serangan militer Israel. Serangan tersebut juga menghancurkan rumahnya.

Setelah menemukan tempat berlindung di Kota Khan Younis di selatan, ia memilih menggunakan keterampilan olahraganya untuk membantu warga Gaza yang mengungsi. ”Kami menawarkan bantuan psikologis kepada para gadis agar terbebas dari tekanan perang, dengan berlatih tinju,” kata Ayoub.

Dua gadis Palestina berlatih tinju di antara tenda-tenda pengungsi di Khan Yunis, di Jalur Gaza selatan, Senin (9/2/2026). Setelah jeda lama dari latihan, tim tinju wanita yang terdiri dari 45 petinju berusia antara 8 dan 19 tahun kembali berlatih di bawah bimbingan pelatih Osama Ayoub.

Menurut dia, banyak gadis di Gaza yang terdampak akibat perang selama bertahun-tahun. Ini menimbulkan trauma psikologis bagi mereka. Banyak di antara mereka yang kehilangan keluarga atau orang yang mereka cintai. ”Mereka merasakan sakit dan ingin melepaskannya, sampai akhirnya mereka menemukan tinju sebagai cara untuk mengekspresikan emosi mereka,” tutur Ayoub.

Ia kini menjalankan sesi pelatihan gratis untuk 45 petinju. Mereka diajak berlatih tiga kali seminggu. Kegiatan ini mendapatkan sambutan positif dari masyarakat. Salah satu anak muda tersebut, Ghazal Radwan (14), berharap bisa menjadi juara dan mewakili negaranya.

”Saya berlatih tinju untuk mengembangkan karakter saya, melepaskan energi yang terpendam. Selain itu saya juga ingin menjadi juara di masa depan serta berkompetisi melawan juara dunia di negara lain,” kata Radwan.

Radwan juga bercita-cita mengibarkan bendera Palestina di seluruh dunia dengan kemampuan tinjunya. 

Seorang bocah Palestina mengepalkan tinjunya ke wajahnya selama sesi pelatihan di Khan Younis, di Jalur Gaza selatan, Senin (9/2026).
Teman dan keluarga memberi semangat kepada dua gadis Palestina saat berlatih tinju di antara tenda-tenda di Khan Younis, di Jalur Gaza selatan, Senin (9/2/2026).
Gadis-gadis dan perempuan muda Palestina memperhatikan pelatihan tinju di bawah bimbingan Osama Ayoub di Khan Younis, di Jalur Gaza selatan, Senin (9/2/2026).

Tinju yang menyembuhkan luka perang

Di dalam ring tinju darurat yang dibuat di atas pasir di Gaza selatan, selusin gadis muda melakukan pemanasan sebelum melayangkan pukulan keras atas perintah pelatih mereka. Satu demi satu berlatih berganti-ganti pukulan dari kanan ke kiri, mulai dari jab, hook, hingga uppercut sesuai perintah pelatih.

Di Gaza yang hancur akibat perang, di mana bahan bangunan sangat langka, Ayub harus berimprovisasi untuk membangun fasilitas pelatihan kecilnya. ”Kami membawa kayu dan membangun ring tinju berbentuk persegi, tetapi tidak ada matras atau langkah-langkah pengamanan,” katanya.

Ia menyerukan kepada komunitas internasional untuk mendukung para petinju dan membantu mereka melakukan perjalanan ke luar negeri. Selain untuk berlatih, hal itu untuk memperkuat kepercayaan diri mereka dan menawarkan dukungan psikologis kepada mereka, kata Ayoub.

Gadis-gadis Palestina menghadiri sesi latihan tinju di Khan Yunis, di Jalur Gaza selatan, Senin (9/1/2026).  Setelah jeda lama dari latihan, tim tinju wanita  yang terdiri dari 45 petinju berusia antara 8 dan 19 tahun kembali berlatih di bawah bimbingan pelatih  Osama Ayoub.

Blokade ketat yang diberlakukan Israel terhadap Jalur Gaza membuat pembangunan kembali fasilitas olahraga menjadi sangat rumit karena bahan bangunan ditolak oleh pejabat Israel. Kantor berita resmi Palestina, Wafa, melaporkan pada Januari 2026 bahwa pengiriman rumput sintetis yang disumbangkan oleh China kepada dewan pemuda dan olahraga Gaza tidak diizinkan masuk oleh Israel.

Dengan kelangkaan obat-obatan, makanan, dan bahan bakar, peralatan olahraga berada di urutan paling bawah dalam daftar barang yang masuk ke wilayah Palestina. (AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Ignatius Danu Kusworo
 | 

Editor:

Heru Sri Kumoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra