Titik Obyek di Dasar Laut Selat Bali Diduga KMP Tunu Pratama Jaya

Ditemukan sebuah obyek di dasar laut yang diduga kuat merupakan bangkai Kapal Motor Penumpang Tunu Pratama Jaya yang tenggelam di Selat Bali.

05 Jul 2025 20:47 WIB · Nasional

Oleh Defri Werdiono

BANYUWANGI, KOMPAS — Dinas Navigasi Kementerian Perhubungan mengidentifikasi sebuah obyek di dasar laut yang diduga kuat merupakan bangkai Kapal Motor Penumpang Tunu Pratama Jaya yang tenggelam di Selat Bali. Namun, temuan itu masih perlu diverifikasi.

Tentang temuan obyek tersebut disampaikan oleh Deputy Bidang Operasi Pencarian dan Pertolongan dan Kesiapsiagaan Basarnas Ribut Eko Suyanto dalam jumpa pers di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu (5/7/2025) petang.

”Pencarian bawah air oleh Dinas Navigasi Kementerian Perhubungan tadi pagi mereka bergerak ke arah titik terakhir kapal diketahui (LKP). Namun, cuaca kurang bersahabat. Selanjutnya, 1 jam kemudian bergerak lagi dan sampai di lokasi. Mereka bisa megidentifikasi adanya obyek di bawah air (dasar laut) yang patut diduga bahwa itu adalah kapal yang kami cari,” katanya.

Dari hasil identifikasi data, menurut Ribut, spesifikasi bentuk benda bawah air memiliki panjang dan lebar hampir sama dengan Kapal Motor Penumpang (KMP) Tunu Pratama Jaya (TPJ). Guna memastikan, tim perlu menjustifikasi dengan beberapa alat lagi, baik remote operated vehicle (ROV) maupun sonar yang ada di KRI Fanildo.

Lokasi titik yang dimaksud dengan posisi kapal tenggelam mencapai 1-2 nautikal mil bergeser ke arah utara dengan kedalaman 40-60 meter. Sementara korban banyak ditemukan terbawa arus ke arah selatan.

KRI Fanildo dari TNI Angkatan Laut direncanakan tiba 20.00 di lokasi pukul 20.00-20.30 malam ini. Begitu sampai di lokasi, KRI akan langsung melakukan tugas. Di dalamnya tergabung dua tim penyelam. Adapun tim ahli hidrografi akan menyusul tiba di Banyuwangi pada Sabtu pukul 19.00 ini.

Patroli kapal KPLP saat musibal tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya yang tenggelam di Selat Bali di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, Kamis (3/7/2025). Hingga hari kamis, sebanyak 31 penumpang berhasil ditemukan dalam kondisi selamat dan 5 dalam kondisi meninggal dunia sedangkan bila mengacu pada manifest kapal masih ada 29 penumpang belum diketemukan. Kompas/Bahana Patria Gupta (BAH)

Secara pararel, menurut Ribut, pihaknya tengah menyiapkan tim penyelam. Ada 22 penyelam yang telah mengikuti medical check. Namun, hanya 16 orang yang dinyatakan siap. ”Kami masih belum melihat sertifikasi dan klasifikasi penyelam itu. Dengan kondisi bawah laut ada di sekitaran 40-60 m, mengguna skuba air tidak bisa,” ujarnya.

Adapun hasil pencarian korban melalui udara, menurut Ribut, kecil kemungkinan mendapati tanda-tanda keberadaan korban di permukaan. Sejumlah properti milik korban yang ditemukan Sabtu (7/7) sudah diamankan oleh petugas. Sementara pencarian oleh unit pencarian laut (SRU) diperluas sampai 25 nautikal mil. ”Di permukaan kita belum bisa temukan apa-apa,” katanya.

Panglima Komando Armada II Laksamana Muda TNI I Gung Putu Alit Jaya mengatakan begitu tiba, KRI Fanildo langsung ke titik pertama KMP TPJ hilang kontak. Malam ini juga KRI Fanildo akan menggunakan sonarnya guna mendeteksi langsung.

”Kemudian, di sana juga dibawa magnetometer untuk menguji kekuatan kemagnetan di dasar selat. KRI juga bawa side scan sonar dan semoga cuaca dan arusnya mendukung. Malam ini juga bisa diturunkan ROV untuk bisa pastikan secara visual bahwa obyek di bawah permukaan tersebut,” katanya.

Kepala Biro Kedokteran Kepolisian Brigjen (Pol) Nyoman Eddy Purnama Wirawan mengatakan pihaknya siap mengidentifikasi korban yang ditemukan dengan metode sesuai standar internasional. Pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan fasilitas kesehatan seandainya tim Basarnas berhasil evakuasi korban.

”Dalam hal ini kami akan mengidentifikasi bahkan sampai kondisi sudah rusak. Tentu tidak akan sama saat menemukan jenazah korban 1-2 hari ini. Ada kesulitan-kesulitan sehingga metode ilmiah harus mengemuka salah satunya karena sidik jari rusak, visual tidak memungkinkan, properti terlepas, adalah DNA. Perlu support sampai di sana. Ahli forensik sudah turun, ahli DNA juga kami siapkan,” katanya.  

Tim pencarian dan pertolongan (SAR) bersiap melanjutkan pencarian korban tenggelamnya Kapal Motor Penumpang (KMP) Tunu Pratama Jaya di Selat Bali, Jumat (4/7/2025).  Pencarian akan difokuskan di perairan Jembrana, Bali.

Untuk itu, Nyoman mengimbau jika masih ada masyarakat yang kehilangan anggota keluarganya agar bisa menghubungi posko untuk pendataan antemortem. Begitu pula jika diperlukan sampel DNA dari keluarga, mereka bisa dihubungi kembali.

Sementara itu, hingga H+3 kecelakaan masih banyak anggota keluarga yang menunggu kabar tentang nasib korban. Mereka menunggu di lantai dua ruang tunggu di Pelabuhan Ketapang. Selain itu, juga ada warga yang melapor kehilangan anggota keluarganya dan menurut mereka tidak masuk dalam daftar manifes kapal.

Salah satu yang menunggu nasib keluarganya adalah Yatini (60), warga Kecamatan Genteng, Banyuwangi. Yatini datang ke Pelabuhan Ketapang untuk mencari suaminya warga Malaysia, Fauzey bin Awang (55), yang diduga menjadi salah satu korban dalam peristiwa itu.

Fauzey diketahui baru saja mengunjungi rumah Yatini dan hendak kembali ke Malaysia melalui Bali dan tidak bisa dihubungi. Saat dicek, nama Fauzey tidak ada dalam daftar nama manifes, tetapi nomor polisi kendaraan travel yang dia tumpangi terdaftar dalam manifes kapal. (Kompas.com/3/7/2025).

Nyoman mengatakan, sejauh ini ada 39 keluarga yang melapor kehilangan anggota keluarganya ke Posko Disaster Victim Identification. ”Data 39 itu sedang kami godok. Tidak tahu apakah mereka di luar manifes. Kami tidak berani pastikan. Karena nama si A, B, C bisa jadi orang satu. Jadi datanya dinamis,” ujarnya.

Seperti diketahui data manifes KMP TPJ membawa 53 penumpang, 12 orang kru, dan 22 kendaraan. Sejauh ini 30 orang ditemukan selamat, 6 orang meninggal, dan 29 lainnya belum diketahui nasibnya.

Keluarga penumpang KMP Tunu Pratama Jaya yang tenggelam di Selat Bali tengah menunggu kabar keluarga mereka di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, Jumat (4/7/2025).

”Soal keselamatan 29 orang, saya belum bisa sampaikan mereka dalam status apa pun. Tugas saya mencari, menolong, dan mengevakuasi. Pernyataan berikutnya setelah tahapan itu baru kita bisa keluarkan statement,” kata Ribut.

Sementara itu, manajemen KMP TPJ akhirnya bersuara terkait kecelakaan itu. Ulumudin, perwakilan TPJ, menyampaikan, permohonan maaf dan berduka dengan musibah yang menimbulkan korban jiwa. Pihaknya menyampaikan belasungkawa kepada seluruh keluarga korban.

Sebagai operator pelayanan kami memahami sepenuhnya bahwa keselamatan penumpang tanggung jawab kami. Untuk itu, sejak kejadian kami langsung berkoordinasi dengan Basarnas dan pihak terkait dalam proses evakuasi,” katanya.

Pihaknya juga mengaku berkoordinasi dengan pihak Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan guna memfasilitasi bantuan darurat kepada seluruh keluarga yang saat ini masih menunggu kabar. Sebagai wujud komitmen, pihaknya berikan santunan kepada keluarga korban yang meninggal dan memastikan bantuan logistik dan pendampingan di lokasi terus berjalan.

”Ke depan akan evaluasi menyeluruh terhadap aspek keselamatan, sistem operasional, kesiapan awak, dan kondisi teknis armada. Agar kejadian serupa tidak terjadi lagi,” kata Ulumuddin yang dihadirkan dalam jumpa pers.


Kerabat Kerja

Penulis:

Defri Werdiono
 | 

Editor:

Siwi Yunita Cahyaningrum
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase