Sebelum layanan beroperasi, Pemprov Jakarta melakukan uji coba rute dengan memperhatikan beberapa aspek, seperti estimasi waktu tempuh, tipe armada, dan tarif.
15 Apr 2025 17:44 WIB · Metro
JAKARTA, KOMPAS — Pemerintah Provinsi Jakarta menargetkan rute Transjabodetabek Blok M-Alam Sutera mulai beroperasi pada akhir April 2025 untuk melayani warga Tangerang, Banten, yang beraktivitas di Jakarta, khususnya di kawasan Sudirman dan Thamrin. Sebelum layanan resmi beroperasi, Pemprov Jakarta menggelar uji coba rute tersebut pada Selasa (15/4/2025) untuk mempertimbangkan beberapa aspek penting, seperti estimasi waktu tempuh, tipe armada, dan tarif.
Kepala Dinas Perhubungan Jakarta Syafrin Liputo mengatakan, target pengoperasian rute Transjabodetabek Blok M-Alam Sutera pada akhir April 2025 merupakan hasil pembahasan antara Gubernur Jakarta Pramono Anung dan Gubernur Banten Andra Soni terkait implementasi layanan transportasi masyarakat.
Untuk itu, sebelum beroperasi, pihaknya melakukan uji coba untuk rute tersebut pada Selasa (15/4/2025). Armada yang digunakan dalam uji coba ini adalah bus Transjakarta series high deck berkapasitas maksimal sekitar 60 orang, terdiri dari 32 kursi dan 28 tempat berdiri. Selain itu, bus low deck Metrotrans berwarna jingga juga turut serta dalam uji coba.
Uji coba ini memperhatikan beberapa aspek penting, seperti estimasi waktu tempuh, tipe armada, dan tarif. Hasil uji coba ini akan menjadi pertimbangan dalam menentukan jam operasional dan tarif layanan sebelum rute ini resmi beroperasi pada akhir April 2025.
”Kami juga menguji apakah layanan ini akan beroperasi selama 24 jam, 16 jam, atau hanya pada jam-jam sibuk tertentu,” ujar Syafrin, Selasa (15/4/2025).
Uji coba juga mencakup pengujian jenis armada, apakah menggunakan tipe lantai tinggi (high deck) untuk jalur BRT atau tipe lantai rendah (lower deck) untuk jalur non-BRT, yang disesuaikan dengan platform halte yang dilalui.
Selain itu, survei ini juga bertujuan untuk menentukan jumlah halte atau titik pemberhentian yang strategis di kawasan Alam Sutera. Mengenai tarif, Syafrin menyebutkan bahwa ada dua opsi yang dipertimbangkan, yaitu tarif layanan BRT sekitar Rp 3.500 atau tarif layanan Royaltrans yang berkisar Rp 20.000 hingga Rp 35.000.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/05/02/003c264b-fec5-47d4-9fdf-fe36f72dc825_jpg.jpg)
”Nantinya, jumlah halte untuk Transjabodetabek rute Blok M-Alam Sutera akan disesuaikan pada titik yang potensial berdasarkan hasil survei. Sementara di kawasan Alam Sutera ada sekitar 17 titik yang nantinya akan jadi titik pemberhentian. Kemungkinan bisa bertambah, bisa berkurang,” tutur Syafrin.
Untuk estimasi waktu tempuh, Syafrin mengatakan bahwa perjalanan rute Transjabodetabek Blok M-Alam Sutera membutuhkan waktu 85 menit.
Adapun saat uji coba, bus berangkat dari Terminal Blok M dan melakukan pemberhentian di halte-halte Bus Raya Terpadu (BRT). Pemberhentian halte BRT tersebut antara lain Halte CSW, Masjid Agung, Bundaran Senayan, dan Senayan Bank DKI yang berada di Jalan Jenderal Sudirman.
Direktur Operasional dan Keselamatan Transjakarta Daud Joseph menjelaskan bahwa dalam uji coba ini, pihak Dinas Perhubungan Jakarta dan Transjakarta sedang mempertimbangkan opsi terbaik untuk rute perjalanan. Salah satunya adalah apakah bus akan langsung masuk ke tol setelah melewati Halte Slipi Petamburan atau tetap mengikuti jalur BRT yang melewati Slipi Petamburan, Slipi Kemanggisan, dan Harapan Kita.
”Kami juga menguji apakah sebaiknya bus langsung masuk tol menuju Tol Merak atau terus menyusuri jalur BRT yang sudah ada,” ujar Daud.
Kemudian, setibanya di Alam Sutera, bus diproyeksikan berhenti di beberapa titik, seperti Premium Outlet, Mal Alam Sutra, atau kawasan IKEA, yang akhirnya menuju Halte Alam Sutera yang menjadi pemberhentian terakhir. Keputusan ini diambil untuk mengakomodasi penumpang yang mungkin ingin mengunjungi pusat perbelanjaan di sekitar kawasan tersebut.
Transjabodetabek rute Blok M-Alam Sutera merupakan salah satu dari enam rute baru yang digagas oleh Pemerintah Provinsi Jakarta. Meskipun demikian, Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) baru menyetujui penambahan lima rute, yakni PIK 2-Pluit, PIK 2-Jembatan Baru, Kota Wisata-Cawang via Jatiasih, Alam Sutera-Blok M, dan Binong-Grogol.
Sementara itu, satu rute lainnya, yaitu Jatijajar-Kampung Rambutan, belum disetujui karena jalur tersebut sudah dilayani oleh operator yang ada.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/06/3731185d-4ea9-4a7c-bfad-beb19350f6ef_jpg.jpg)
Bagi banyak warga Tangerang, uji coba rute Transjabodetabek Blok M-Alam Sutera ini memberikan harapan baru dalam hal kemudahan transportasi. Salah satunya adalah Leni Zakaria (30), seorang pekerja kantoran yang setiap hari menempuh perjalanan dari Alam Sutera ke Jakarta Pusat.
Menurut Leni, kehadiran transportasi massal yang langsung menghubungkan kawasan Tangerang dengan Jakarta dapat mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi, yang selama ini menjadi salah satu penyebab kemacetan di kedua kota tersebut.
”Jika bus yang digunakan nyaman dan memiliki fasilitas yang memadai, seperti kursi yang cukup, ruang untuk berdiri yang tidak terlalu sesak, dan pendingin udara yang baik, serta tarifnya terjangkau, pasti banyak orang akan beralih menggunakan bus ini,” katanya.
Namun, ia juga menyampaikan harapan agar ada pengawasan dan keamanan di sepanjang rute Transjabodetabek Blok M-Alam Sutera. Selain itu, juga kecepatan dan efisiensi perjalanan.
Leni pun berharap agar Transjabodetabek Blok M-Alam Sutera dapat memanfaatkan jalur tol untuk mempersingkat waktu tempuh.
”Kecepatan perjalanan tentu menjadi hal yang penting. Rute ini harus bisa menghindari kemacetan dan tepat waktu agar penumpang tidak kecewa,” ujar Leni.
Salah satu hal yang juga menjadi perhatian utama masyarakat adalah tarif layanan bus Transjabodetabek Blok M-Alam Sutera. Rute ini menghubungkan dua kota besar dengan jarak yang cukup jauh sehingga banyak warga yang berharap tarifnya tetap terjangkau, terutama bagi mereka yang setiap hari menggunakan transportasi umum.
Kehadiran transportasi massal yang langsung menghubungkan kawasan Tangerang dengan Jakarta dapat mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi, yang selama ini menjadi salah satu penyebab kemacetan di kedua kota tersebut.
”Tarif menjadi salah satu hal yang perlu dipertimbangkan. Jika tarifnya terlalu tinggi, bisa jadi masyarakat lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi atau transportasi lain yang lebih murah,” kata Nanda (26), warga Tangerang lainnya.
Ia berharap agar pemerintah dapat menetapkan tarif yang wajar mengingat rute ini melayani perjalanan jauh dan bisa menjadi alternatif yang lebih terjangkau daripada menggunakan kendaraan pribadi atau ojek online. Untuk itu, Nanda lebih memilih tarif layanan BRT untuk rute ini atau dengan tarif Rp 3.500.
”Tarif BRT yang lebih murah akan membuat transportasi publik lebih inklusif. Sebab, tidak semua orang mampu membayar tarif yang tinggi,” ujarnya.
Penulis:
Atiek Ishlahiyah Al-HamasyEditor:
Rini KustiasihPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto