Peningkatan aksesibilitas ini diharapkan dapat menarik lebih banyak wisatawan ke Bogor dan mendorong pertumbuhan ekonomi serta aktivitas bisnis di sekitar Blok M.
05 Jun 2025 13:09 WIB · Metro
JAKARTA, KOMPAS — Peluncuran layanan Transjabodetabek rute Blok M-Bogor semakin memperkuat konektivitas antara Jakarta dan Bogor sekaligus menjadikan Blok M Hub sebagai pusat transportasi utama yang menghubungkan kota-kota penyangga. Peningkatan aksesibilitas ini diharapkan dapat menarik lebih banyak wisatawan untuk mengunjungi Bogor serta mendorong pertumbuhan ekonomi dan aktivitas bisnis di sekitar Blok M.
Pada Kamis (5/6/2025), Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung secara resmi meluncurkan layanan Transjabodetabek rute P11 Blok M–Baranangsiang Bogor, bersama dengan perpanjangan koridor Transjakarta 13, di Terminal Blok M, Jakarta Selatan. Dengan layanan ini, masyarakat diharapkan dapat menikmati akses transportasi yang lebih efisien dan terintegrasi.
Rute P11 yang mencakup jarak 113,3 kilometer ini menawarkan estimasi waktu tempuh 90-110 menit, tergantung pada kondisi lalu lintas. Layanan ini dilayani oleh 16 bus dengan jarak kedatangan antarbus 15 menit.
Rute P11 beroperasi setiap hari, dimulai dari pukul 05.00 hingga 22.00 WIB. Tarif perjalanan ditetapkan Rp 2.000 pada pukul 05.00 hingga 07.00 WIB, dan Rp 3.500 pada jam sibuk pukul 07.00 hingga 22.00 WIB.
Menurut Pramono, trayek ini sangat dinanti masyarakat karena menghubungkan dua wilayah padat mobilitas, yakni Jakarta dan Bogor. Layanan baru ini akan mempermudah mobilitas penduduk Bogor menuju pusat Jakarta dengan jalur yang melintasi sejumlah area strategis, seperti Sentul, Cibubur, dan koridor utama Jakarta.
Rute Bogor-Blok M memiliki 12 lokasi pemberhentian, antara lain Cidangiang (Penaikan), Mal Bellanova Sentul, Simpang Sentul, Pintu Tol Citeureup 1, dan Cibubur Junction. Selain itu, terdapat pemberhentian lain di Pancoran arah barat, jalur layang Tegal Mampang, Rawa Barat, Pasar Santa, Kejaksaan Agung, dan Blok M jalur 5.
Sementara itu, untuk rute sebaliknya (Blok M-Bogor), layanan ini memiliki 10 lokasi pemberhentian, yakni Blok M jalur 5, Pasar Santa, Rawa Barat, Pancoran arah timur, Pancoran Tugu, Buperta Cibubur, Pintu Tol Citeureup 2, Monumen Pancakarsa, Mal Bellanova Sentul, dan Terminal Baranangsiang.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/05/617ddc91afe4162c9c711d1ed5375e59-WhatsApp_Image_2025_06_05_at_12.41.42.jpeg)
Pramono menjelaskan alasan pemilihan kawasan Blok M sebagai lokasi pembangunan transit hub. Menurut dia, Blok M dipilih karena lokasinya yang strategis dan mudah dijangkau dari berbagai penjuru Jakarta.
”Kenapa kami memilih Blok M sebagai hub? Karena Blok M kami siapkan sebagai pusat integrasi transportasi yang sangat mudah dijangkau dari berbagai arah di Jakarta,” ujar Pramono.
Blok M Transit Hub dirancang sebagai pusat integrasi berbagai moda transportasi yang memudahkan masyarakat untuk berpindah antarmoda dengan praktis. Kawasan ini terhubung dengan sejumlah jaringan transportasi utama, seperti Transjakarta, Jaklingko, dan MRT, yang melayani sejumlah rute di Jakarta.
Saat ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah mengoperasikan lima rute Transjabodetabek, yaitu PIK 2-Blok M, Vida Bekasi-Cawang, Alam Sutera-Blok M, Sawangan-Lebak Bulus, dan Bogor-Blok M. Dari lima rute tersebut, tiga rute berangkat dari Blok M.
Antusiasme masyarakat terhadap layanan Transjabodetabek juga terus meningkat. Sebagai contoh, rute PIK 2–Blok M mencatatkan 5.799 penumpang pada 29 Mei, jauh melampaui target awal yang hanya 2.500 penumpang.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/01/e8d34eb980c2226b423c097ab8f77a38-WhatsApp_Image_2025_06_01_at_15.05.01.jpeg)
Rute lain, seperti Alam Sutera–Blok M, juga mengalami lonjakan dengan 4.000 penumpang pada akhir pekan, sementara rute Vida Bekasi–Cawang melayani hingga 2.463 penumpang.
”Ini menunjukkan dukungan luar biasa dari masyarakat terhadap konektivitas antarkota,” ujar Pramono.
Selain itu, perpanjangan rute Transjakarta Koridor 13 juga diresmikan pada Kamis (5/6/2025). Dengan beroperasinya Halte CBD Ciledug, maka lintasan rute Transjakarta di Koridor 13 yang semula dari Puri Beta-Tegal Mampang diperpanjang menjadi dari Ciledug hingga Tegal Mampang.
Lintasan ini memiliki 14 lokasi pemberhentian dan 22 bus. Perpanjangan rute ini diharapkan dapat memperkuat jaringan transportasi di sisi barat Ibu Kota.
Sebagai bagian dari pengembangan jangka panjang, Pramono juga menargetkan pengadaan 2.000 bus listrik Transjakarta hingga 2029. Tahun ini, 200 unit akan mulai beroperasi sebagai langkah awal transisi menuju transportasi ramah lingkungan.
”Intinya, kami ingin menjadikan Jakarta sebagai kota yang terhubung, nyaman, dan berkelanjutan,” kata Pramono.
Dengan terus berkembangnya jaringan Transjabodetabek, Pemprov DKI menunjukkan komitmen serius dalam membangun transportasi publik yang andal bagi kawasan metropolitan. Langkah ini tidak hanya mempermudah mobilitas warga, tetapi juga menjadi strategi penting mengurai kemacetan dan menekan emisi dari kendaraan pribadi.
Dalam peluncuran tersebut, hadir pula Wali Kota Bogor Dedie A Rachim yang menyambut baik pengoperasian rute baru ini. Ia menilai layanan ini menjadi solusi nyata untuk mengurangi kepadatan di Tol Jagorawi dan mendorong masyarakat beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi publik.
”Sudah hampir satu dekade kami menunggu ini. Rute baru ini menjawab kebutuhan dan akan memberi dampak besar,” kata Dedie.
Pada kesempatan ini, ia juga meminta bantuan dari Pemprov DKI untuk memperbaiki fasilitas dan sarana-prasarana transportasi di wilayah Kota/Kabupaten Bogor.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/01/edea57fb8fd978ae7973c53151ea51c6-WhatsApp_Image_2025_06_01_at_15.05.07.jpeg)
Peluncuran rute baru Transjabodetabek yang menghubungkan Bogor dan Blok M membawa harapan besar bagi kedua kota yang kini lebih terintegrasi. Warga Blok M dan Bogor sama-sama menantikan dampak positif dari layanan transportasi yang semakin memudahkan mobilitas ini.
Di Blok M, antusiasme warga sangat terasa. Andri (35), warga kawasan Blok M, mengungkapkan kegembiraannya terhadap kemudahan yang ditawarkan oleh rute baru ini.
”Sangat senang, perjalanan ke Bogor yang dulu memakan waktu dan melelahkan kini bisa lebih cepat dan nyaman,” ujar Andri.
Menurut dia, konektivitas yang lebih baik ini dapat meningkatkan arus penumpang, yang pada gilirannya akan mendorong pertumbuhan sektor ekonomi, seperti okupansi hotel dan aktivitas bisnis di sekitar Blok M. Begitu pula di Bogor yang terkenal akan banyak wisatanya.
Andri juga berharap bahwa Blok M, yang kini menjadi pusat penghubung utama, bisa lebih dari sekadar kawasan transit. Ia menginginkan kawasan ini berkembang menjadi pusat ekonomi yang mendukung kegiatan bisnis dan pariwisata.
Dengan adanya akses transportasi yang lebih mudah, kawasan Blok M yang sudah terkenal dengan pusat perbelanjaan dan tempat hiburannya diprediksi akan semakin ramai. Ia meyakini, Blok M akan menjadi lebih hidup, menarik lebih banyak orang untuk berbelanja, menikmati hiburan, dan beraktivitas.
Berkembangnya Blok M sebagai hub transportasi juga diharapkan dapat memperluas eksposur kawasan ini dan menjadikannya lebih dikenal di kalangan wisatawan dan pelancong.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/05/15d6b6f67358ba8bb6c6148cc75892ba-WhatsApp_Image_2025_06_05_at_12.41.42.jpeg)
Di sisi lain, warga Bogor juga menyambut positif peluncuran layanan Transjabodetabek ini. Warga percaya bahwa jalur baru ini akan memberikan dampak yang baik bagi kota mereka. Amara (29), warga Cibubur, mengungkapkan harapannya agar transportasi baru ini dapat mengurangi kemacetan dan memberikan alternatif perjalanan yang lebih efisien.
Dengan semakin mudahnya akses ke Jakarta, Amara berharap semakin banyak orang yang beralih ke transportasi umum, yang tentu saja akan mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi. Hal ini diharapkan dapat membantu mengurangi kemacetan di jalan-jalan utama yang kerap padat.
”Saya juga berharap pemerintah terus mengembangkan fasilitas transportasi publik agar semakin banyak orang yang memilih angkutan umum,” ujarnya.
Kehadiran rute baru Transjabodetabek ini membawa harapan besar bagi kedua kota, baik dari segi ekonomi, pariwisata, maupun mobilitas. Tak hanya mengurangi waktu tempuh, tetapi juga mempererat konektivitas yang akhirnya memberi dampak positif bagi kehidupan sehari-hari warga.
Penulis:
Atiek Ishlahiyah Al HamasyEditor:
Rini KustiasihPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti