Gen Z Lelah FOMO

Gempuran tren datang silih berganti dengan cepat membuat orang mulai lelah, terutama gen Z. Lelah mental juga lelah di kantong. Menghindar pun tak kuasa.

14 Mar 2025 15:00 WIB · Internasional

Oleh Luki Aulia

Baru hari pertama sekolah, Neena Atkins (16), siswi SMA di Dobbs Ferry, New York, Amerika Serikat, melihat banyak temannya mengenakan ikat rambut bermotif macan tutul di pergelangan tangan. Ia lalu mencari ikat rambut yang sama di Tiktok.

Selama berhari-hari kemudian, lusinan video ikat rambut yang dipakai sebagai gelang itu lalu lalang di akun Tiktoknya. Video ikat rambut yang berulang-ulang muncul itu meresap ke dalam ingatan. Ia lalu membeli 30 bungkus ikat rambut bermotif macan tutul di Amazon.

Tak lama kemudian, muncul lagi tren berbeda. Video-video di Tiktok menunjukkan obsesi anak-anak perempuan dengan sesuatu yang lain. Siklusnya berulang kembali.

”Dulu motif macan tutul ada di mana-mana. Sekarang, ketika saya buka Tiktok, orang-orang berkomentar ’Motif macan tutul sudah ketinggalan zaman’,” kata Neena kepada harian The New York Times, 9 Maret 2025.

Motif macan tutul itu hanya bertahan sebulan. Padahal ia sudah telanjur beli 30 bungkus ikat rambut motif macan tutul. Itu baru ikat rambut.

Lina (15), siswa SMA di Fort Wayne, Indiana, AS, melihat teman sekelasnya membeli botol minum Stanley seharga 35 dollar AS. Belum dipakai lama sudah ingin beli botol air berwarna pastel jenama lain. ”Itu kan pemborosan. Buang-buang uang saja,” ujarnya.

Bukan hanya secara daring, demi mengikuti tren, banyak orang rela berdiri mengantre berjam-jam. Tak peduli hujan panas.

Bahkan, banyak orang rela menginap di trotoar depan toko hanya demi kesempatan beli produk yang baru diluncurkan. Tren dan mode menyebar cepat seperti api berkat media sosial.

Mengikuti tren mode dan mengadopsi perilaku umum dapat menjadi hal yang menggoda. Sebab, tren dan perilaku tersebut memberikan rasa kebersamaan, penerimaan sosial, dan kesempatan untuk mengikuti perkembangan zaman. Namun, ada konsekuensi dan jebakan di balik mengejar mode dan meniru.

Quote

Banyak orang yang terus-menerus beli baju hanya supaya tidak ketinggalan tren. Pasti itu melelahkan. Melihatnya saja sudah lelah

Menurut James Oakley (19), mahasiswa di Oregon, anak-anak muda dari kelompok usianya sudah sampai di titik jenuh. Banyaknya tren yang bertubi-tubi datang dengan cepat membuat anak muda semakin sulit mengikuti. Neena merasa terus-menerus dibombardir oleh rekomendasi produk.

Infografik Perilaku Finansial Gen Z dan Milenial Urban Terkait Gaya Hidup

FOMO dan algoritma

Algoritma TikTok dirancang untuk menunjukkan kepada pemirsa lebih banyak hal yang sudah mereka sukai. Bahkan satu iklan yang sama bisa lewat ratusan kali dalam sehari.

Iklan-iklan itu bisa sangat meyakinkan. Apalagi jika itu dikombinasikan dengan keinginan anak muda untuk menyesuaikan diri dengan sekitarnya atau tak mau ketinggalan tren (fear of missing out/FOMO).

FOMO alias efek ikut-ikutan ini fenomena psikologis ketika orang mengadopsi perilaku, gaya, atau sikap hanya karena orang lain melakukannya. FOMO dapat menyebabkan seseorang membuat keputusan impulsif, terutama ketika tren mendominasi percakapan.

Semakin tren memenuhi sekitar, semakin takut seseorang tertinggal. Ketika tren selaras dengan keyakinan seseorang, maka akan segera diterima tanpa digali lebih dalam.

Karena itu, kesan pertama menjadi penting. Walakin, ketika keriuhan itu memudar, seseorang biasanya baru sadar atau menyesal. Dalam keinginan untuk menyesuaikan diri, seseorang terkadang mengikuti tren yang sama sekali tidak cocok dengan dirinya.

Vero (28), karyawan swasta di Jakarta Barat, sedang mengantre kuliner Serabi Notosuman di salah satu pusat perbelanjaan di Kabupaten Tangerang, Banten, Sabtu, 8/3/2025. Setelah melihat hasil ulasan penutur kuliner di media social, Vero merasa tak ingin ketinggalan dan penasaran ingin mencoba makanan tersebut. Rasa penasaran Vero akan rasa makanan semakin tinggi, saat melihat antrian orang di video hasil unggahan food blogger

Majalah Forbes, 3 Maret 2025, menyebutkan persepsi dan pilihan seseorang sangat dipengaruhi lingkungan sosial, termasuk mode dan tren. Kebutuhan untuk diterima secara sosial semakin tinggi. Masyarakat dikelilingi hiruk-pikuk ”suara” dari media sosial, pemengaruh, dan aliran informasi terus-menerus sehingga mudah terhanyut dalam keriuhan tren.

Mengejar tren bukan hanya terjadi pada anak muda zaman sekarang. Setiap generasi selalu mengejar tren. Hanya bedanya dulu dengan sekarang ada pada daya tahan objeknya.

Sekarang, trennya terlalu cepat berubah sehingga membuat anak muda gen Z kelelahan dengan gemburan tren dan tak mampu lagi—secara mental atau finansial—untuk mencoba mengikutinya. Setiap kali membuka ponsel, ada saja mode pakaian terbaru atau frasa baru yang muncul. Kalau diikuti terus, bisa membuat kebanyakan orang—bukan hanya gen Z—bangkrut.

Terjebak

Banyak anak muda yang merasa terjebak dalam siklus mengejar, membeli, dan membuang barang agar bisa bertahan. Akan tetapi, ada juga yang berusaha untuk keluar dari jeratan itu.

Ada juga yang berjanji tak lagi berganti-ganti pakaian. Bahkan, ada yang menghapus aplikasi media sosial dari ponselnya.

Selama berbulan-bulan harian The New York Times berbicara dengan banyak anak muda. Hasilnya, anak muda menyadari bahwa mereka dimanfaatkan untuk keuntungan orang lain. Akan tetapi, tetap saja sulit menghindar.

Pedagang memperlihatkan kaos anak bergambar karakter fiksi Labubu yang tengah tren di salah satu kios di Blok A Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (28/10/2024). Pedagang mengandalkan langganan para pembeli yang merupakan pedagang dari daerah di tengah kondisi daya beli masyarakat yang lesu.

Setidaknya itu yang coba dilakukan Abner Gordan (21), mahasiswa di Manhattan, AS. Sebelum membeli sesuatu, ia selalu bertanya dulu kepada dirinya sendiri: apakah ia ingin beli itu karena menarik dan cocok dengan selera gayanya atau ia ingin beli hanya karena meniru apa yang dilihatnya di media sosial?

Selama ini orang cenderung menganggap tren sebagai cara untuk menunjukkan bahwa seseorang tahu apa yang keren dan baru. Atau sebagai cara untuk mengambil bagian dalam ”momen” kolektif yang lebih besar. Akan tetapi, akhir-akhir ini, tren terasa lebih membebani.

Anak muda menggambarkan tren daring seperti banjir bandang, tren yang sekaligus rapuh dan menjadi sumber stres. Anak muda merasa tidak aman saat tidak punya barang yang sedang tren. Ini bertambah parah saat ada barang baru lagi yang sedang tren setiap minggu.

Quentin Bell dalam buku On Human Finery (1978) menyebutkan ”laju mode menjadi nyata, begitu nyata sehingga mode masa muda seorang laki-laki bisa terlihat kuno saat ia berusia setengah baya”. Hampir setengah abad kemudian, wartawan Kyle Chayka dalam bukunya Filterworld menyebutkan, ”tren mikro” kini naik dan turun dalam hitungan minggu.

Dalam upayanya mempertahankan perhatian orang, media sosial telah meningkatkan kuantitas dan intensitas dari apa yang dulu disebut mode: ”Di bawah umpan algoritmik, yang populer menjadi lebih populer, dan yang tidak dikenal menjadi semakin tidak terlihat,” tulis Chayka.

Seorang pria memegang ponsel pintar yang menampilkan logo platform media sosial Tiktok di sebuah kantor di Paris, Perancis, pada 19 April 2024

Begitulah yang dirasakan Francesca Oliva (18), mahasiswa di New York. Ketika masih menjadi siswa SMA, ia merasakan tekanan untuk punya ikat rambut warna pastel dan botol air hydro flask. Ketika punya kedua barang itu, ia merasa seperti sedang pakai kostum.

Namun, ketika melihat tren yang semakin banyak datang dan pergi, ia pun mundur karena tak punya uang yang cukup dan energi mental untuk mengikutinya. ”Banyak orang yang terus-menerus beli baju hanya supaya tidak ketinggalan tren. Pasti itu melelahkan. Melihatnya saja sudah lelah,” ujarnya.

Hapus media sosial

Beragam hal yang mempercepat siklus tren. Tiktok butuh sesuatu yang baru untuk menarik perhatian pemirsa dan mereka punya algoritma yang ampuh untuk mengangkat sesuatu yang tidak dikenal menjadi hal yang viral dalam hitungan hari. Pasar mode cepat mampu memenuhi permintaan dengan cepat.

Di media sosial pun tersedia fungsi flik untuk membeli seperti Tiktok Shop. Media sosial lebih terasa seperti mal. ”Setiap kali membuka Instagram, rasanya seperti ada sesuatu yang dijual kepada saya,” kata Sequoya (22) yang tinggal di Salt Lake City.

Pedagang menawarkan celana kepada pengguna media sosial Tiktok saat siaran langsung di kios Blok B Tanah Abang, Jakarta, Selasa (13/6/2023). Penjualan secara daring menjadi salah satu strategi para pedagang untuk menjangkau konsumen yang lebih luas. Salah seorang pedagang mengatakan, 40-50 persen pendapatannya berasal dari penjualan secara daring. Dalam sebulan ia bisa mendapatkan omzet sekitar Rp 50 juta. Berdasarkan data internal Tiktok, satu dari tiga pengguna Tiktok pernah membeli produk di Tiktok Shop. Fitur live shopping menjadi fitur favorit karena memungkinkan pengguna berinteraksi langsung dengan pedagang. Fakhri Fadlurrohman (Z19) 13-06-2023

W David Marx dalam bukunya Status and Culture menyebut, orang menginginkan apa yang dimiliki orang lain agar bisa diterima. Ada status yang dikejar.

Namun, pada akhirnya orang akan meninggalkan barang-barang itu begitu melihat barang itu terlalu mudah diakses oleh orang banyak. Dalam dunia mode, hasilnya adalah banyak pakaian berkualitas rendah yang tidak bisa dipakai dalam waktu lama.

Bukan hanya pakaian. Tren gim begitu juga. David Peraza (21), mahasiswa di Yucatán, Meksiko, kewalahan mengikuti judul-judul baru gim di pasar gim daring Steam. Ia tak sanggup beli lagi. Baru saja awal tahun ini semua orang memainkan ”Helldivers 2”. Tetapi sekarang main ”The Legend of Zelda”.

Tren lama-lama terasa lebih seperti fatamorgana. Tren yang cepat berlalu itu menyebabkan kecemasan bagi anak muda yang merasa tertekan untuk memenuhi apa yang dilihat secara daring.

Mencegah agar tak stres karena tekanan tren, Hana Tilksew (19), mahasiswa di California, memutuskan menghapus Tiktok. Tilksew berhenti membeli barang-barang yang sedang tren.

Sebab, ia menyadari lemarinya sudah penuh dengan tas dan rok mini Brandy Melville yang tidak juga membuatnya lebih bahagia. Ia lalu memberikan barang-barang miliknya kepada adik perempuannya yang berusia 13 tahun.

Tilksew tak sendiri. Semakin banyak anak muda pengguna Tiktok yang menunjukkan kelelahan mereka. Sejak tahun lalu, banyak video yang menunjukkan anak muda mengungkapkan rasa frustrasinya pada tren dan dorongan beli-beli di Tiktok.

Warga berburu kacamata dengan harga miring di pusat perbelanjaan Senen Jaya I dan II, Jakarta Pusat, Minggu (29/12/2024). Puluhan kios menawarkan paket rangka dan lensa dengan harga mulai Rp 150.000. Toko optik di kawasan tersebut menjadi ramai dan terkenal di media sosial TIkTok dan Instagram karena harga yang murah dan model yang beragam. KOMPAS/AGUS SUSANTO 29-12-2024

Banyak juga yang mendorong orang lain memamerkan pakaian mereka yang tidak lagi mengikuti tren tetapi masih bisa dipakai. Ada juga yang berbagi tips dan trik untuk mengurangi belanja.

Bisa saja gen Z keluar dari jebakan tren. Akan tetapi, kata Casey Lewis (37), penulis buletin tren gen Z After School, tidak yakin kegilaan akan tren daring ini akan bisa hilang. Sebab, setelah gen Z, sudah muncul gen alpha dan akan diikuti generasi-generasi muda selanjutnya.

Karena mereka sudah menggunakan ponsel dan terpapar media sosial, Lewis pun yakin mereka pun bisa menjadi penggila tren. Dan, jangan lupa, manusia adalah makhluk sosial yang punya kebutuhan untuk diterima oleh teman sebaya sehingga merasa harus mengadopsi perilaku populer dan mengikuti tren.

Mengikuti tren dapat menumbuhkan rasa kebersamaan dan persahabatan di antara orang yang memiliki minat atau preferensi yang sama. Dalam perspektif ini, menjadi peniru dianggap sebagai cara untuk mengidentifikasi diri dengan kelompok atau budaya tertentu.

Mengetahui bahwa seseorang mengikuti standar dan harapan masyarakat memberi seseorang rasa nyaman. Namun, kebutuhan untuk menyesuaikan diri ini terkadang mengorbankan keunikan dan ekspresi diri.


Kerabat Kerja

Penulis:

Luki Aulia
 | 

Editor:

Kris Mada
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari