Total beban sebesar Rp 12,2 triliun pada triwulan I-2026. Nilai ini 13,1 persen lebih tinggi dibandingkan triwulan I-2025.
05 Mei 2026 21:07 WIB · Ekonomi & Bisnis
KOMPAS
JAKARTA, KOMPAS — Kinerja keuangan PT Indosat Tbk pada triwulan I-2026 menunjukkan kenaikan laba, seiring pertumbuhan pendapatan. Namun, di balik tren positif tersebut, perusahaan menghadapi tekanan dari tingginya beban, seperti beban infrastruktur, sehingga mengikis ruang ekspansi profit.
Berdasarkan laporan keuangan PT Indosat Tbk (Indosat Ooredoo Hutchison atau IOH) triwulan I-2026 yang dirilis akhir April 2026, perusahaan membukukan pendapatan Rp 15,22 triliun atau tumbuh sekitar 12 persen dari periode yang sama tahun 2025, yaitu Rp 13,58 triliun.
Total beban sebesar Rp 12,2 triliun pada triwulan I-2026. Nilai ini 13,1 persen lebih tinggi dibandingkan triwulan I-2025. Beberapa komponen beban Indosat terbesar pada triwulan I-2026 adalah beban operasional jaringan Rp 4,79 triliun (setahun sebelumnya Rp 4,5 triliun), dan beban penyusutan dan amortisasi Rp 4,11 triliun (setahun sebelumnya Rp 3,9 triliun).
Ada pula beban karyawan Rp 1,23 triliun (setahun sebelumnya Rp 808 miliar), serta beban bunga dan keuangan Rp 1,16 triliun (setahun sebelumnya Rp 1,08 triliun). Dengan kata lain, total beban yang besar dipengaruhi oleh beban biaya infrastruktur dan depresiasi aset.
Sementara EBITDA atau laba operasional perusahaan sebelum dikurangi bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi meningkat 13 persen secara tahunan menjadi Rp 7,2 triliun.
Laba sebelum pajak yang dibukukan oleh Indosat mencapai Rp 1,9 triliun, masih naik meski tidak signifikan dibandingkan setahun sebelumnya, yaitu Rp 1,75 triliun. Sementara laba bersih yang dicatatkan adalah Rp 1,52 triliun pada triwulan I-2026, tumbuh dibandingkan periode yang sama pada 2025, yaitu Rp 1,41 triliun.
Dari sisi konsumen, Indosat selama triwulan I-2026 membukukan 94 juta pelanggan. Jumlah ini lebih rendah dibandingkan capaian total pelanggan pada periode triwulan I-2025, yaitu 95 juta pelanggan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/05/eac4f99bad66803af659e6d90cd78b44-WhatsApp_Image_2026_05_05_at_7.41.27_PM.jpeg)
Presiden Direktur dan CEO IOH Vikram Sinha, dalam sesi paparan publik di Jakarta, Selasa (5/5/2026), mengatakan, pihaknya akan terus meninjau pertumbuhan bisnis dan berupaya terus berkinerja baik. Indosat optimistis hingga akhir 2026 masih mampu membukukan kenaikan pendapatan hingga double digit.
Menurut dia, manajemen tidak melihat pertumbuhan bisnis yang sangat kuat sepanjang 2025 dibandingkan pada 2024. Kondisi itu diklaim bukan karena perusahaan kurang berinvestasi, melainkan karena dipengaruhi situasi pasar layanan telekomunikasi. Vikram tidak mengelaborasi lebih jauh situasi pasar apa yang ia maksud.
”Saya tidak hanya berbicara tentang IOH sendiri, tetapi untuk industri telekomunikasi secara keseluruhan. Menjelang (akhir) paruh kedua 2025 membaik dan situasi ini berlanjut sampai triwulan I-2026, di mana kami saja membukukan kenaikan 12 persen untuk pendapatan,” tutur Vikram.
Terkait dinamika basis pelanggan, dia menjelaskan penurunan jumlah pelanggan tidak dilihat sebagai sesuatu yang negatif. Sebaliknya, kondisi ini dianggap sebagai bagian dari proses konsolidasi pelanggan. Pelanggan dengan pemakaian rendah atau tidak produktif mulai berkurang.
Indosat juga beralih dari sekadar mengejar kuantitas ke kualitas pelanggan yang bisa memberikan nilai ekonomi tinggi kepada perusahaan. ”Nilai rerata belanja per pelanggan atau ARPU kami naik dari Rp 39.200 pada triwulan I-2025 menjadi Rp 45.200,” ucapnya.
Strategi perusahaan pada jangka panjang, Vikram melanjutkan, juga mencakup pengembangan bisnis baru dan memanfaatkan peluang dari perkembangan teknologi kecerdasan buatan. Untuk strategi ini, Indosat bakal aktif berkolaborasi dengan mitra.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/02/25/30f552bf-1d68-47be-a646-c3e74d7c144c.jpg)
Direktur dan Chief Financial Officer IOH Lee Chi Hung, yang hadir pada acara sama, mengklaim, kenaikan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tidak terlalu berdampak ke keuangan perusahaan. Utang perusahaan memakai rupiah sehingga risiko fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bisa diminimalkan.
Pada 2026, dia menyebutkan bahwa Indosat menetapkan anggaran belanja modal sekitar Rp 13 triliun. Namun, angka ini masih bersifat awal karena belum memperhitungkan potensi ekspansi jaringan 5G. Jika perusahaan memutuskan untuk memperluas jaringan 5G secara signifikan, belanja modal bisa meningkat.
”Investasi jaringan bersifat menyeluruh dan tidak bisa dipisahkan secara spesifik per layanan atau wilayah. Kami memastikan setiap investasi jaringan untuk meningkatkan pengalaman pelanggan dan menghasilkan keuntungan bagi perusahaan dengan melihat berbagai metrik,” ucap Lee.
Emiten telekomunikasi lainnya, yaitu Telkomsel yang menginduk pada Telkom dan XLSmart, belum merilis laporan kinerja keuangan triwulan I-2026. Keduanya dikabarkan bakal mengumumkan pada Mei 2026.
Telkom, khususnya, sudah menyampaikan dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia pada 30 April 2026. Isinya, Telkom mengestimasikan penyampaian laporan keuangan tahunan, laporan tahunan dan laporan keberlanjutan untuk tahun buku 2025 akan disampaikan selambat-lambatnya pada 15 Mei 2026. Sementara untuk laporan keuangan triwulan I-2026 akan disampaikan selambatnya-lambatnya pada 31 Mei 2026.
Sepanjang Januari -September 2026, kinerja emiten telekomunikasi umumnya tertekan, termasuk Indosat dan Telkom. Pendapatan dan laba keduanya menurun lantaran terdampak pelemahan daya beli konsumen, depresiasi rupiah, serta tekanan persaingan dari perusahaan aplikasi digital.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/26/4287a768a720b7a8a093da3008a1da60-20260122TOK26.jpg)
Sebelumnya, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan, sejak beberapa tahun lalu, bisnis telekomunikasi seluler telah menghadapi tekanan atas keberadaan raksasa aplikasi internet (over-the-top/OTT). Belakangan, daya beli masyarakat merosot, terutama kalangan menengah ke bawah.
”Hal ini (daya beli) bisa dilihat dari semakin lama durasi warga mengganti gawai. Depresiasi rupiah berpengaruh dan memberi tekanan pada biaya modal kerja. Akibatnya, margin profit yang bisa dibukukan menipis,” ucapnya.
Selain faktor tersebut, Bhima menduga bisnis telekomunikasi seluler jenuh karena penetrasi pengguna ponsel sudah melebihi populasi penduduk. Ditambah lagi, ada tren persaingan ketat penggelaran sambungan kabel optik telekomunikasi ke rumah tangga dan kemunculan layanan internet dari satelit orbit rendah (Kompas.id, 4/11/2025).
Penulis:
Caecilia MedianaEditor:
FX Laksana Agung SaputraPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra