Trofi Liga Konferensi, Pelengkap Kesempurnaan Chelsea

Chelsea jadi tim pertama yang menjuarai lima turnamen mayor Eropa seusai memenangi Liga Konferensi. Prestasi yang mungkin akan sulit ditandingi tim Eropa mana pun.

29 Mei 2025 06:23 WIB · Olahraga

Oleh I Gusti Agung Bagus Angga Putra

WROCLAW, KAMIS — Investasi besar Todd Boehly di Chelsea akhirnya membuahkan hasil pada tahun ketiga. Trofi Liga Konferensi Eropa menjadi capaian pertama ”Si Biru” sejak miliarder Amerika Serikat itu mengambil alih klub. Sempat tertinggal, Chelsea mengamuk pada babak kedua hingga akhirnya menang 4-1 atas Real Betis pada final yang berlangsung di Stadion Tarczynski Arena, Kamis (29/5/2025) dini hari WIB.

Keberhasilan mengangkat trofi Liga Konferensi Eropa menjadikan Chelsea sebagai satu-satunya tim yang mampu menjuarai lima turnamen mayor Eropa hingga saat ini. Sebelumnya, Chelsea pernah menjuarai Liga Champions Eropa, Liga Europa, Piala Winners (terakhir diselenggarakan pada 1999), dan Piala Super Eropa. Oleh sebab itu, trofi Liga Konferensi, yang diraih seusai mengalahkan Betis, ibarat pelengkap dari kesempurnaan Chelsea di kancah Eropa.

”Saya sudah sering mengatakan musim ini, turnamen ini adalah sesuatu yang harus kami menangi,” kata bek kanan sekaligus kapten Chelsea, Reece James.

Sebagaimana kata James, trofi ini haruslah mereka raih meski Liga Konferensi bukanlah habitat alami Chelsea. Sebab, hanya dengan memenangi Liga Konferensi, Chelsea masih punya kesempatan untuk mengakhiri musim dengan trofi. ”Si Biru” gagal di Piala FA dan Piala Liga Inggris. Adapun di Liga Inggris, Chelsea tidak menjadi juara, tetapi mampu finis di peringkat keempat yang merupakan zona Liga Champions.

Akan tetapi, misi itu mendapat ujian berat dari Betis yang juga berhasrat menjuarai Liga Konferensi. Final ini adalah segalanya bagi Betis. Sejak Betis berdiri 118 tahun silam, mereka telah memenangi satu gelar Liga Spanyol dan tiga Piala Raja Spanyol. Trofi turnamen antarklub Eropa adalah satu-satunya hal yang belum pernah mereka menangi.

APTOPIX Poland Soccer Europa Conference League Final

Tidak heran sejak awal laga, para pemain Betis begitu bersemangat bermain agresif meladeni Chelsea yang punya materi pemain lebih baik. Upaya tim asuhan Pelatih Manuel Pellegrini itu membuahkan hasil saat laga baru berjalan sembilan menit.

Mantan gelandang Real Madrid, Isco, memperlihatkan visi bermainnya. Dikepung dua pemain Chelsea, Isco masih bisa berpikir tenang sebelum mengoper bola kepada Abde Ezzalzouli yang kemudian mencetak gol dari dalam kotak penalti.

Segala daya Chelsea untuk mencetak gol penyeimbang di babak pertama kandas. Di bawah arahan Manajer Enzo Maresca, Chelsea adalah tim yang sangat terkendali dalam proses membangun serangan. Mereka bukan tipikal tim yang cenderung mengandalkan bola-bola langsung ke depan, melainkan dengan sabar membangun serangan dari belakang.

Kecenderungan inilah yang dibaca oleh Pellegrini. Ia menginstruksikan para pemain Betis terus-menerus menekan upaya lawan membangun serangan. Enam pemain depan Betis secara serentak bergerak di seluruh lapangan dan secara aktif menghalangi jalur umpan Chelsea.

Dengan menghentikan upaya membangun serangan Chelsea secara agresif, Betis berhasil mengganggu permainan sabar mereka. Tekanan Betis memaksa para pemain Chelsea mengambil keputusan secara terburu-buru hingga melakukan kesalahan dalam mengoper.

Poland Soccer Europa Conference League Final

Statistik menunjukkan, Chelsea kalah dalam hal tembakan ke gawang pada babak pertama. Mereka hanya mencatatkan empat tendangan dengan hanya satu di antaranya yang tepat sasaran. Adapun Betis melepaskan tujuh tendangan dan ada dua yang tepat sasaran.

Pergantian cerdas

Situasi menjadi berbalik pada babak kedua. Keputusan Maresca memasukkan James terbukti jitu. Keberadaan James membuat Chelsea lebih tenang saat menguasai bola. Di sisi lain, Betis mulai mengendur secara fisik. Akibatnya, mereka tidak bisa mempertahankan intensitas menekan sebagaimana babak pertama.

Enzo Fernandez dan Cole Palmer pun mendapatkan momentum untuk mengubah hasil akhir pertandingan. Dengan ketahanan fisik serta stamina yang mulai melemah, pergerakan Palmer sulit dihentikan bek Betis. Palmer secara cerdik mengirim umpan terukur kepada Enzo yang berlari menembus pertahanan lawan lalu mencetak gol sundulan pada menit ke-65.

Gol Enzo mengguncang psikologis pemain Betis. Kepercayaan diri mereka runtuh seketika. Trofi juara yang sudah di depan mata seakan sirna. Lima menit berselang, Palmer kembali menunjukkan sihirnya saat mengirim umpan silang kepada Nicolas Jackson yang membawa Chelsea membalikkan keadaan.

Setelah dibobol dua kali dalam waktu sesingkat itu, pertahanan Betis kehilangan soliditas. Mereka kini dengan mudah ditembus Chelsea. Jadon Sancho yang masuk sebagai pemain pengganti mempertegas keunggulan Chelsea lewat golnya pada menit ke-83. Pada waktu tambahan, Moises Caicedo menambah penderitaan Betis saat mencetak gol lewat sepakan keras dari luar kotak penalti.

Poland Soccer Europa Conference League Final

”Kami bermain sangat baik di babak pertama, dan di babak kedua mereka bermain lebih baik dan mencetak gol yang membawa mereka memenangi pertandingan. Musim di mana kami lolos ke Eropa dan mencapai final adalah sebuah langkah maju, dan saya yakin para penggemar setuju,” ujar Pellegrini.

Meski kalah telak, para penggemar Betis tetap berusaha tabah dengan memberikan tepuk tangan dan dukungan kepada para pemain di lapangan setelah laga usai. Semboyan klub asal Andalusia, Spanyol, ini adalah ”Viva el Betis manquepierda” yang artinya selamanya Betis meski sepak bola tiada.

Menjadi pendukung Betis memang bukan tentang mencapai kemenangan yang gemilang, melainkan tentang memanfaatkan perjalanan kolektif serta menerima kegagalan dengan senyuman. (REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

I Gusti Agung Bagus Angga Putra
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .