Presiden AS Donald Trump akan menelepon Presiden Rusia Vladimir Putin dan membicarakan gencatan senjata di Ukraina. Putin mengingatkan soal kepentingan Rusia.
19 Mei 2025 18:38 WIB · Internasional
WASHINGTON, SENIN — Presiden Amerika Serikat Donald Trump akan menelepon Presiden Rusia Vladimir Putin untuk menyegerakan gencatan senjata di Ukraina, Senin (19/5/2025). Trump berharap bisa menembus kebuntuan setelah perundingan di Istanbul, Turki, akhir pekan lalu, tidak menghasilkan kesepakatan untuk menghentikan perang.
Melalui media sosial, Minggu (18/5/2025), Trump mengatakan, pembicaraan dengan Putin fokus pada penghentian perang. Ia juga membuka peluang pembahasan soal ekonomi dan perdagangan.
”Hal yang dibahas dalam panggilan telepon adalah menghentikan pertumpahan darah yang menewaskan rata-rata 5.000 tentara Rusia dan Ukraina seminggu dan perdagangan,” kata Trump di Truth Social.
”Semoga ini menjadi hari yang produktif. Gencatan senjata akan terjadi dan perang yang sangat kejam ini, perang yang seharusnya tidak pernah terjadi, akan berakhir,” katanya.
Pekan lalu, seluruh dunia berharap perang Ukraina-Rusia yang telah berlangsung lebih dari tiga tahun bisa berhenti. Sempat muncul optimisme kala Putin mengutarakan keinginan Rusia untuk berunding langsung dengan Ukraina. Namun, harapan itu meredup setelah Putin tidak hadir dan memilih mengirim delegasi tingkat rendah pada perundingan di Istanbul.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy sudah hadir di Istanbul sehari sebelum delegasi Rusia tiba dan menyatakan kesiapannya untuk bertemu langsung dengan Putin. Namun, keputusan Putin untuk tidak hadir membuat Zelenskyy urung ikut serta dan memilih bertemu dengan pemimpin negara-negara anggota NATO di Albania.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/11/c6c37336-0e96-44ea-8b9c-fdd2ed30bc99_jpg.jpg)
Steve Witkoff, Utusan Khusus Trump yang turut hadir di Istanbul, mengatakan, Trump harus berbicara langsung dengan Putin untuk mengeluarkan semua pihak dari kebuntuan dialog. Dia menilai pembicaraan telepon Trump-Putin akan sukses.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengingatkan, kegagalan Putin memperlihatkan itikad baik dalam perundingan perang dengan Ukraina bisa mendorong adanya sanksi tambahan bagi Rusia.
Bessent mengungkapkan, sanksi terhadap perekonomian Rusia tidak memadai karena dinilai tidak cukup untuk menghentikan Moskwa mengumpulkan dana dari hasil penjualan minyak. Namun, dia tidak menyebutkan apakah AS akan menjatuhkan kembali sanksi ekonomi bagi Rusia atau tidak jika tidak ada itikad baik dari Rusia.
Presiden Perancis Emmanuel Macron juga mengingatkan soal itikad baik seusai bertemu Perdana Menteri Inggris Keir Starmer. ”Besok, Presiden Putin harus menunjukkan ia menginginkan perdamaian dengan menerima gencatan senjata tanpa syarat selama 30 hari yang diusulkan Presiden Trump dan didukung Ukraina serta Eropa,” kata Macron melalui X, Minggu.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/15/8f347ff7-2138-45d0-95ca-ab6005050d02_jpg.jpg)
Zelenskyy sempat bertemu Wakil Presiden AS JD Vance di Vatikan saat misa pelantikan Paus Leo XIV. Zelenskyy mendorong AS agar memberi tekanan lebih besar pada Rusia. ”Tekanan diperlukan terhadap Rusia sampai mereka ingin menghentikan perang,” tulisnya di X.
Uni Eropa telah menyusun paket sanksi baru. Paket itu menargetkan sektor keuangan Rusia dan entitas perbankan asing yang dinilai memberikan dukungan finansial dalam pembiayaan perang Rusia.
”Kami menginginkan perdamaian dan kami harus meningkatkan tekanan pada Presiden Putin hingga ia siap untuk perdamaian,” kata Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen kepada wartawan di Tirana, Albania, Jumat. ”Inilah mengapa kami menyusun paket sanksi baru.”
Finlandia bersikap proaktif. Pemerintah Finlandia memutuskan menggunakan aset Rusia yang dibekukan untuk membeli amunisi yang akan digunakan militer Ukraina. Kementerian Pertahanan Finlandia, Senin, menyebutkan, amunisi itu dibeli dari pemasok di Finlandia dan bernilai sekitar 90 juta euro.
Putin tidak berkomentar banyak soal perundingan di Istanbul. Dikutip kantor berita TASS, ia mengingatkan para pihak, termasuk AS, agar menghormati kepentingan nasional Rusia, seperti halnya Kremlin menghormati Washington.
”Orang Amerika, rakyat Amerika, dan para pemimpin Amerika, termasuk presiden, memiliki kepentingan nasional mereka sendiri dan kami menghormatinya. Kami berasumsi kami akan diperlakukan dengan cara yang sama,” kata Putin dalam wawancara dengan jurnalis Rusia, Pavel Zarubin.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/01/13/a232350b-9c81-4a6f-80e5-1e992dc5dc4f.jpg)
Putin, dikutip TASS, mengatakan, tujuan Rusia saat ini adalah untuk melenyapkan penyebab awal krisis sekaligus memastikan perdamaian yang langgeng dan berkelanjutan. Ia menambahkan, segala tindakan akan dilakukan untuk menjamin keamanan Rusia.
Putin menekankan, Rusia memiliki sumber daya manusia dan persenjataan yang cukup untuk menyelesaikan apa yang disebutnya sebagai operasi militer khusus.
Beberapa tahun silam, Putin mengingatkan agar NATO tidak memperluas keanggotaan ke Eropa timur, terutama negara-negara yang memiliki perbatasan langsung dengan Rusia. Kremlin menuntut NATO mundur dari semua negara bekas Uni Soviet.
Rusia juga menentang rencana memasukkan Ukraina sebagai bagian dari NATO. ”Ekspansi NATO ke Ukraina adalah ancaman eksistensial bagi Rusia,” kata Duta Besar Rusia untuk AS Anatoly Antonov.
Pascaperundingan di Istanbul, Rusia tidak mengurangi tekanannya terhadap Ukraina. Militer Rusia, Minggu, melancarkan serangan pesawat nirawak besar-besaran terhadap sejumlah wilayah Ukraina. Badan intelijen Ukraina meyakini militer Rusia berencana menembakkan rudal balistik antarbenua. (AP/REUTERS)
Penulis:
Mahdi MuhammadEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan