Trump senantiasa memberi janji-janji ”AS akan lebih baik”. Namun, rakyat AS mulai ragu dan makin tak percaya kepadanya karena hidup makin sulit.
18 Des 2025 10:00 WIB · Internasional
AFP/Frederic J. BROWN
WASHINGTON, KAMIS — Presiden Amerika Serikat Donald Trump memaparkan rencana menjadikan AS yang lebih kuat. Trump berfokus pada capaian-capaian yang dianggapnya sebagai kemenangan besar. Sementara Partai Republik justru sedang khawatir karena dukungan terhadap Trump menurun, bahkan dukungan dari kalangan pemilih Republikan.
Sumber kemarahan rakyat AS berpusat pada kondisi perekonomian yang tak baik-baik saja sehingga membuat biaya hidup rakyat kian tinggi. Partai Republik khawatir para pemilih yang marah akan ”menghukum” mereka dalam pemilihan paruh waktu yang akan digelar pada November 2026.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/10/eaff4a2e-e02d-46f2-a468-a568677132c1_jpg.jpg)
Trump memaparkan keberhasilan dan rencana-rencananya selama tiga tahun ke depan dalam pidato kenegaraan yang disiarkan televisi, Rabu (17/12/2025) malam waktu setempat atau Kamis pagi waktu Indonesia. Pidato kenegaraan Trump diadakan di Ruang Resepsi Diplomatik Gedung Putih, bukan di Ruang Oval seperti pidato-pidato presiden sebelumnya.
”Ini tahun yang hebat bagi negara kita dan yang terbaik akan segera tiba!” tulis Trump di media sosialnya.
”Pesan malam ini adalah kita mewarisi kekacauan dan kita sudah melakukan pekerjaan yang hebat dan akan terus melakukannya. Negara kita akan lebih kuat dari sebelumnya,” kata Trump di Pangkalan Gabungan Andrews, Rabu pagi.
Trump kerap mengeluh ia tak mendapatkan pengakuan atas prestasi-prestasinya. Ia dinilai memuji sendiri hasil kerja pemerintahannya dalam berbagai isu, mulai dari membatasi imigran hingga menurunkan harga beberapa barang.
Sebelumnya, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan, pidato Trump akan membicarakan capaian Trump, termasuk mengatasi inflasi yang, menurut Trump, disebabkan pendahulunya, Joe Biden. Trump senantiasa membanggakan ”zaman keemasan” baru AS. Padahal, dalam beberapa jajak pendapat, realitanya tak demikian.
Pemilih AS semakin marah dengan harga tinggi untuk segala kebutuhan hidup, mulai dari bensin sampai bahan makanan. Para ahli menilai ini sebagian gara-gara tarif yang dikenakan Trump kepada mitra-mitra dagangnya.
Menurut jajak pendapat PBS News/NPR/Marist, Rabu, tingkat dukungan untuk Trump mencapai yang terburuk sepanjang masa. Ini akibat kebijakan ekonominya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/01/21/20210120-H01-DMS-Trump-Biden-ekonomi-mumed_1611163147_gif.gif)
Sebanyak 57 persen responden mengatakan khawatir dengan biaya hidup yang kian mahal. Jajak pendapat YouGov, Selasa, juga menunjukkan, 52 persen responden menilai perekonomian justru semakin buruk di bawah pemerintahan Trump. Sementara jajak pendapat Reuters/Ipsos menunjukkan hanya 33 persen orang dewasa AS yang setuju dengan cara Trump menangani perekonomian.
Trump bahkan dikritik para pendukungnya sendiri di gerakan Make America Great Again (MAGA). Alasannya, Trump terlalu fokus mengurusi perdamaian di Ukraina dan Gaza serta mencari ribut dengan Venezuela alih-alih menangani masalah dalam negeri.
Menyadari hal ini, Trump sekarang lebih banyak berkunjung ke negara-negara bagian untuk mendorong pesan ekonominya. Di Pennsylvania, pekan lalu, ia berjanji membuat Amerika kembali terjangkau.
Para pengamat menilai Trump tidak bisa lagi bersembunyi di balik ”semua gara-gara Biden”. Pasalnya, kebijakan tarif Trump tahun ini justru menciptakan ketidakpastian dan menaikkan harga apa saja.
Menurut Roger Chester (48), warga Illinois yang memilih Trump, filosofi pemerintahan Trump paling tepat digambarkan sebagai angin yang berubah-ubah. Trump dianggapnya bukan konservatif, bukan pula liberal. Ia hanya mengikuti arah angin sesuai keinginan basis pendukungnya. Ia menganggap Trump sekarang ”boneka populis”.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2020/10/13/73f9ad44-b5e6-45f6-bc58-d0a737c95671_jpg.jpg)
Meski harga barang makin tinggi, Chester tidak sepenuhnya menyalahkan Trump karena ia berusaha menepati janjinya. Untuk bertahan hidup dan menghidupi keluarga, Chester bekerja tujuh hari seminggu. Ia masih percaya AS akan melewati masa-masa sulit untuk mencapai ekonomi lebih baik.
”Saya rela menderita. Saya tidak akan pernah pensiun. Saya berharap kondisi akan lebih baik,” ujarnya.
Namun, Sherry Kamphaus (61), pendukung yang kecewa, menilai Trump seharusnya membantu menurunkan harga makanan. ”Itu alasan saya memilihnya. Tetapi, ia gagal memenuhi harapan karena harga makanan malah naik terus,” ujarnya.
Dalam setahun terakhir ini, Trump sudah mengubah norma-norma nasional dan internasional, menghukum lawan-lawan yang menentangnya, serta menyerang perguruan tinggi, firma hukum, dan media. Ia bahkan memberlakukan tarif kwpada sekutu AS, mencampuri urusan seni dan budaya pop dengan mengambil alih Kennedy Center, dan mengeluarkan aneka ragam komentar di media sosial.
Gaya kepemimpinan Trump, meski disukai MAGA, ternyata membuat sebagian orang justru menjauh. Dari hasil jajak pendapat Reuters/Ipsos terlihat dukungan pada Trump turun menjadi 39 persen. Ini mendekati titik terendah tahun ini, turun dari 41 persen pada awal Desember.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/10/99dcc55d-ef80-4778-a508-f443a25f31ff_jpg.jpg)
Tingkat dukungan presiden dapat menjadi indikator bagi prospek pemilihan. Republikan berupaya mempertahankan kendali atas DPR dan Senat dalam pemilihan pada November tahun depan. Sementara Partai Demokrat berniat merebut kekuasaan. Mereka menyoroti masalah keterjangkauan biaya dan perbedaan kebijakan perawatan kesehatan.
Bagi rakyat AS, biaya perawatan kesehatan tetap menjadi kekhawatiran serius. Sebab, subsidi yang ditingkatkan untuk layanan kesehatan Affordable Care Act hampir pasti akan berakhir pada akhir tahun ini. Premi bulanan rata-rata warga kemungkinan berlipat ganda. Jutaan warga AS diperkirakan berhenti menggunakan asuransi kesehatan sama sekali.
Lebih dari setengah warga AS khawatir tidak akan mampu membayar layanan perawatan kesehatan yang dibutuhkan tahun depan. Jajak pendapat PBS News/NPR/Marist juga menyebutkan, setengah dari warga AS berpikir ekonomi AS saat ini sedang mengalami resesi. Bagi banyak warga AS, efek kumulatif dari semua tekanan ekonomi yang bergejolak terlalu sulit untuk diatasi. (REUTERS/AFP)
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari