PERANG timur tengah

Trump Akan Pakai Aset Iran untuk Ganti Rugi Kapal

Aset-aset Iran yang selama ini dibekukan sebagai bagian dari sanksi Pemerintah AS, kini akan dialihkan untuk menutup seluruh kerugian akibat konflik.

24 Jul 2026 12:30 WIB · Internasional

AFP/HANDOUT/ROYAL THAI NAVY

Oleh Luki Aulia

WASHINGTON, JUMAT — Amerika Serikat akan menggunakan aset Iran yang dibekukan untuk membayar segala kerusakan kapal dan kargo akibat serangan di kawasan Teluk dan Laut Merah. Saat ini AS yang memegang kendali atas aset Iran itu.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan keputusan itu di media sosial Truth Social, Kamis (24/7/2026) atau Jumat waktu Indonesia, di tengah meningkatnya konflik setelah kelompok Houthi di Yaman menyerang kapal-kapal tanker Arab Saudi.

Trump tidak menjelaskan besaran aset yang akan digunakan. Selama puluhan tahun, AS membekukan sebagian aset Iran sebagai bagian dari sanksi yang diberlakukan sejak Revolusi 1979. Sanksi kemudian diperluas terkait program nuklir serta dugaan dukungan Iran terhadap kelompok-kelompok bersenjata di Timur Tengah.

Menurut Congressional Research Service (CRS) dan Council on Foreign Relations (CFR), nilai aset Iran yang masih dibekukan di berbagai negara diperkirakan mencapai 100 miliar dolar AS. Namun, hanya sebagian aset yang berada langsung di bawah yurisdiksi atau kendali AS. Sisanya berupa pendapatan ekspor minyak yang tertahan di sejumlah negara akibat sanksi.

Pengumuman itu sekaligus menandai perubahan fungsi aset Iran. Selama ini aset yang dibekukan lebih banyak menjadi instrumen tekanan diplomatik ataupun bahan negosiasi antara AS dan Iran, termasuk dalam pembicaraan mengenai program nuklir dan pelonggaran sanksi.

Beberapa jam sebelum mengumumkan kebijakan itu, Trump memperingatkan, AS akan meminta pertanggungjawaban Iran atas aksi Houthi di Laut Merah. Ia juga menegaskan, Iran dan kelompok sekutunya akan menerima ”hukuman militer yang berat” apabila serangan terhadap pelayaran internasional terus berlanjut.

Cuplikan layar dari video yang dirilis Komando Tengah Amerika Serikat (CENTCOM), Sabtu (18/7/2026), memperlihatkan pasukan AS melancarkan serangan presisi terhadap sasaran militer Iran untuk malam kedelapan berturut-turut. Serangan AS dan Iran terus berlanjut hingga Minggu (19/7/2026). Progres negosiasi damai AS-Iran belum ada hasil.

Ancaman itu muncul setelah Houthi mengumumkan blokade terhadap pelabuhan Arab Saudi. Mereka juga mengklaim telah meluncurkan serangan rudal serta pesawat nirawak terhadap dua kapal tanker Saudi, yakni Encelia dan Layla, di Laut Merah.

Arab Saudi mengonfirmasi kapal tanker Encelia menjadi sasaran serangan. Badan pemantau keamanan maritim Inggris (UKMTO) melaporkan, sebuah kapal tanker terkena proyektil tak dikenal sekitar 70 mil laut di dekat Al Shuqaiq sehingga memicu kebakaran.

Serangan itu memperluas ancaman terhadap jalur distribusi energi dunia. Setelah Selat Hormuz terganggu akibat konflik AS-Iran, jalur alternatif ekspor minyak Arab Saudi melalui Laut Merah kini juga menghadapi risiko keamanan.

Pada saat yang sama, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim menghentikan tiga kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz. Penghentian itu seiring dengan persaingan pasukan Iran dan Angkatan Laut AS untuk menguasai jalur strategis yang selama ini dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.

Guncangan energi

Kekhawatiran terhadap pasokan energi langsung mengguncang pasar. Harga minyak mentah Brent melonjak sekitar 7 persen hingga menembus 100 dolar AS per barel, Kamis, pertama kali sejak Mei.

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres memperingatkan, situasi telah berada di titik yang sangat berbahaya.

”Situasinya semakin tidak terkendali. Situasinya berada di ambang sesuatu yang tidak dapat dibayangkan. Satu krisis akan memicu krisis lainnya, satu eskalasi akan memicu eskalasi berikutnya,” kata Guterres dalam sidang Dewan Keamanan PBB di New York, AS.

Seorang marinir Amerika Serikat melakukan pemeriksaan di atas kapal tanker M/T Wen Yao di Teluk Oman, Kamis (16/7/2026). Militer AS menyatakan pemeriksaan dilakukan untuk memastikan kapal mematuhi blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran yang kembali diberlakukan di tengah meningkatnya konflik dengan Teheran.

Presiden Bank Sentral Eropa Christine Lagarde mengatakan, guncangan harga energi berpotensi memperkuat tekanan inflasi dan meningkatkan kemungkinan kenaikan suku bunga di zona euro pada September.

Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius memperingatkan, konflik di kawasan Teluk dapat membawa konsekuensi serius bagi negara-negara pengimpor minyak. Sebab, belum ada tanda-tanda konflik menuju gencatan senjata ataupun perdamaian.

Komando Tengah AS (Centcom) menyatakan, mereka melancarkan serangan pada malam ke-12 berturut-turut. Tujuannya melemahkan kemampuan Iran untuk mengancam pelayaran sipil dan kapal dagang di kawasan. Media-media Pemerintah Iran melaporkan, dua orang tewas dalam serangan AS di Shalamcheh, dekat perbatasan Iran-Irak.

Dua rudal AS juga dilaporkan menghantam Bushehr, lokasi satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir sipil Iran. Kantor berita Iran, Tasnim, menyebutkan, terjadi serangan rudal di Pulau Qeshm yang berada di Selat Hormuz. Juru bicara militer Iran, Mohammad Akraminia, menegaskan, Iran akan terus membalas selama operasi militer AS terhadap wilayah Iran masih berlangsung.

Konflik kian meluas ke negara-negara lain di kawasan. Kuwait melaporkan serangan pesawat nirawak terhadap salah satu pos perbatasannya dengan Irak. Tidak ada korban jiwa. Sementara Uni Emirat Arab berhasil mencegat rudal dan pesawat nirawak Iran.

Di sela-sela Pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN (AMM) di Manila, Filipina, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan, Houthi ”terjebak” dalam konflik dengan menyerang kapal-kapal Arab Saudi. Di sisi lain, Oman menyatakan terus berupaya menghidupkan kembali perundingan antara Houthi dan Arab Saudi di tengah meningkatnya ketegangan di Laut Merah. (REUTERS/AFP/AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Luki Aulia
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase