Trump Akui Kelaparan Parah Terjadi di Gaza

Berkebalikan dengan pernyataan petinggi Israel, Presiden AS Donald Trump menyebut kelaparan akut terjadi di Gaza.  Lembaga HAM Israel malah sebut ada genosida.

29 Jul 2025 10:41 WIB · Internasional

Oleh Elsa Emiria Leba

GLASGOW, SELASA — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengakui kelaparan parah terjadi di Jalur Gaza. Sejumlah pihak di Israel sepakat Israel melakukan genosida di Gaza.

Pernyataan Trump serta pakar Israel menyangkal pernyataan berbagai petinggi dan banyak warga Israel. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan banyak orang Israel, pejabat, hingga warga menyangkal ada kelaparan apalagi genosida di Gaza.

”Tidak ada kebijakan tentang kelaparan di Gaza dan tak ada yang kelaparan di Gaza. Kami mengizinkan bantuan kemanusiaan memasuki sepanjang perang. Kalau tidak, tidak ada orang Gaza,” kata Netanyahu.

Netanyahu dan orang sepemikiran dengan dia menuding isu kelaparan dan genosida hanya propaganda Hamas. Mereka tidak hirau pada hasil verifikasi independen dari berbagai pihak terpisah, termasuk dari Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Trump tidak sepakat dengan pernyataan Netanyahu dan para penyokongnya. Ia menyebut ada kelaparan di Gaza.

”Mereka benar-benar kelaparan. Kita harus memberi makan anak-anak itu,” kata Trump dalam konferensi pers bersama Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, Senin (28/7/2025) malam waktu Glasgow atau Selasa (29/7/2025) dini hari WIB.

AS, Inggris, dan Uni Eropa akan membantu mendirikan pusat-pusat makanan dan sanitasi baru yang lebih mudah diakses. Pusat-pusat itu tidak akan dipagari. Warga Palestina yang berjumlah 2 juta lebih orang akan dapat mengakses dengan leluasa.

Quote

Pola operasi Israel yaitu menghancurkan Gaza secara sistematis. Israel menghancurkan semuanya.

Trump turut mengatakan, Israel memiliki tanggung jawab besar atas aliran bantuan untuk menyelamatkan banyak orang. ”Banyak orang kelaparan,” ujarnya.

Sejak akhir Mei 2025, AS dan Israel mendistribusikan bantuan lewat Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF). Israel melarang pihak lain, termasuk badan-badan PBB, mengirim bantuan ke Gaza.

Namun, operasional GHF telah berulang kali banjir kritikan. PBB menyoroti, hampir 1.000 warga Palestina terbunuh oleh pasukan Israel dan tentara bayaran GHF ketika mencoba mengambil bantuan di lokasi-lokasi distribusi GHF.

FILE - An Israeli soldier stands beside humanitarian aid packages awaiting pickup on the Palestinian side of the Kerem Shalom crossing in the Gaza Strip, Thursday, July 24, 2025, during a media tour organized by the Israeli army. (AP Photo/Ohad Zwigenberg, file)

Setelah sikap Trump, Netanyahu mulai berubah. Ia menyebut situasi di Gaza sulit. ”Israel akan terus bekerja sama dengan badan-badan internasional serta AS dan negara-negara Eropa untuk memastikan bantuan kemanusiaan dalam jumlah besar mengalir ke Jalur Gaza,” kata Netanyahu.

Pekan lalu, tekanan dunia telah membuat Israel mengumumkan jeda pertempuran untuk distribusi bantuan kemanusiaan harian di tiga wilayah Gaza, koridor aman baru untuk konvoi bantuan, dan bantuan udara. Pengumuman ini keluar menyusul kegagalan perundingan gencatan senjata dengan Hamas pada 25 Juli 2025.

Jumlah korban tewas di Gaza akibat perang mendekati 60.000 jiwa. Seiring itu, semakin banyak orang mati akibat kelaparan dan malanutrisi. Kementerian Kesehatan Gaza menyatakan, Senin, 14 orang tewas dalam 24 jam terakhir. Dengan demikian, jumlah korban tewas akibat kelaparan menjadi 147 orang, termasuk 88 anak-anak, dalam beberapa minggu ini.

Badan-badan PBB menyatakan, pasokan bantuan jangka panjang yang stabil dibutuhkan. Hampir 470.000 orang di Gaza mengalami kelaparan dengan 90.000 perempuan dan anak-anak membutuhkan perawatan gizi khusus.

Badan PBB untuk Pekerjaan dan Pemulihan Pengungsi Palestina di Timur Jauh (UNRWA) memperingatkan, Gaza membutuhkan setidaknya 500-600 truk berisi makanan pokok, obat-obatan, dan perlengkapan kebersihan setiap hari. ”Membuka semua penyeberangan adalah satu-satunya cara untuk mencegah kelaparan yang semakin parah,” kata UNRWA.

Program Pangan Dunia (WFP) telah mengirim 60 truk bantuan, kurang dari target. WFP memiliki 170.000 metrik ton makanan di luar Gaza yang akan cukup untuk memberi makan seluruh penduduk selama tiga bulan ke depan jika mendapat izin masuk.

”Target kami saat ini, setiap hari mengirimkan 100 truk ke Gaza,” ujar Direktur Regional WFP untuk Timur Tengah, Afrika Utara, dan Eropa Timur Samer Abdel-Jaber.

Sebuah pesawat angkut militer menjatuhkan bantuan kemanusiaan di atas Al-Zawayda, Jalur Gaza tengah, Senin (28/7/2025)

Jordania dan Uni Emirat Arab telah mulai mengirimkan paket bantuan melalui udara. Adapun Mesir telah mengirimkan truk melalui perbatasan Rafah ke sebuah pos Israel di dalam Gaza.

Jerman akan bekerja sama dengan Jordania untuk mengangkut bantuan melalui udara ke Gaza. Jerman juga berencana berkoordinasi dengan Perancis dan Inggris.

Badan Urusan Sipil Kementerian Pertahanan Israel (COGAT) mengatakan, PBB dan organisasi-organisasi bantuan telah berhasil mengambil 120 truk bantuan dan mendistribusikannya di Gaza, Minggu (27/7/2025). Bantuan tambahan lain akan tiba Senin.

Bukti genosida

Lembaga dan pakar dari Israel mulai menyatakan Israel melakukan genosida, termasuk B’Tselem dan Physicians for Human Rights. Sikap itu menjadi pertama yang terjadi bagi organisasi Israel.

B’Tselem Juli 2025 merilis laporan tentang genosida oleh Israel di Gaza sejak perang pecah pada Oktober 2023. Laporan itu mendefinisikan genosida sebagai penghancuran yang disengaja dan disertai kekerasan terhadap suatu kelompok etnis, bangsa, agama, atau ras.

Niat genosida telah terlihat dari pernyataan militer, media, dan tokoh budaya Israel. Selain pembunuhan, Israel melakukan genosida lewat kematian tidak langsung, yakni luka, penyakit menular, malanutrisi, kematian ibu dan bayi, serta komplikasi penyakit kronis yang tidak diobati.

”Semua itu adalah hasil langsung dari penghancuran kondisi kehidupan di Gaza, pembatasan Israel terhadap bantuan kemanusiaan, dan serangan Israel terhadap sistem kesehatan. Jika serangan Israel berlanjut seiring kelaparan menimpa warga Gaza, jumlah kematian tidak langsung akan bertambah,” bunyi laporan B’Tselem.

Dua anak laki-laki Palestina membawa barang-barang saat berjalan di daerah Mawasi, Rafah, Jalur Gaza selatan, Senin (28/7/2025)

Omer Bartov, pakar studi Holocaust dan genosida di Brown University, sepakat Israel melakukan genosida. Bartov adalah seorang zionis berkewarganegaraan Amerika-Israel yang sebelumnya ragu menggunakan istilah genosida untuk Gaza.

”Pola operasi Israel yaitu menghancurkan Gaza secara sistematis. Israel menghancurkan semuanya, sekolah, universitas, museum, rumah sakit, instalasi air, instalasi energi. Dengan cara itu, Gaza tidak layak huni bagi penduduk. Mustahil bagi mereka untuk membangun kembali identitasnya,” kata Bartov pada 17 Juli 2025 kepada NPR.

Dalam opini di The New York Times pada 15 Juli 2025, Bartov menilai pengalaman Holocaust membuat Israel merasa punya ”lisensi” untuk melenyapkan pihak yang dianggap musuh, termasuk Hamas dan warga Gaza. Israel merasa terancam, bahkan dari bayi yang baru lahir.

Bartov mengatakan, generasi baru Israel tidak akan bisa lagi berlindung di bawah alasan Holocaust karena menanggung noda genosida di Gaza. ”Israel harus belajar untuk hidup tanpa kembali pada alasan Holocaust sebagai pembenaran atas ketidakmanusiawian,” tuturnya.

Selain Bartov, pakar genosida lain dari sejumlah negara turut menyuarakan hal senada. Mereka antara lain Presiden International Association of Genocide Scholars Melanie O’Brien; akademisi dari Inggris, Martin Shaw; akademisi City College of New York, A Dirk Moses; dan profesor Institut NIOD untuk Studi Perang, Holocaust, dan Genosida, Ümit Üngör. (AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba
 | 

Editor:

Kris Mada
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan