Trump memperingatkan Netanyahu bahwa Israel akan berperang sendirian jika kembali menyerang Iran. Dalam sepekan, Netanyahu telah dua kali mengabaikan Trump.
WASHINGTON, SELASA — Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahwa Israel akan berperang sendirian jika kembali menyerang Iran. Israel dan Iran menghentikan serangan setelah baku serang menyasar sistem pertahanan udara, pabrik petrokimia, dan fasilitas militer.
Trump mengatakan, ia berbicara melalui telepon dengan Netanyahu pada Senin (8/6/2026). Percakapan berlangsung setelah Israel menyerang Iran.
”Saya bilang, ’Bibi, sebaiknya kamu berhati-hati, atau kamu akan segera sendirian’,” kata Trump dalam wawancara dengan media Axios yang diterbitkan Senin waktu setempat atau Selasa (9/6/2026) waktu Indonesia
Trump mengatakan, Israel dan Iran sama-sama menginginkan gencatan senjata segera. Ia meminta kedua pihak berhenti menembak. ”Perundingan akhir tentang ’Perdamaian’ sedang berlangsung selama ketidaktahuan atau kebodohan tidak menghalanginya,” tulis Trump di media sosial Truth Social.
Sebelum Israel menyerang Iran pada Senin, Trump telah meminta Netanyahu untuk tak membalas serangan Iran yang diluncurkan ke Israel pada Minggu malam. Namun, Israel tetap meluncurkan serangan udara ke Iran.
Duta Besar Israel untuk AS Yechiel Leiter menyebut percakapan kedua pemimpin berlangsung kooperatif. Ia menyangkal laporan bahwa Trump menekan Netanyahu.
”Mereka memiliki persahabatan mendalam yang telah berlangsung sekitar 40 tahun, dan terkadang orang yang saling mencintai bertengkar, serta terkadang ketegangan di dalam ruangan dan dalam percakapan bisa menjadi sedikit memanas,” katanya dikutip dari Fox News.
Saya bilang, ’Bibi, sebaiknya kamu berhati-hati, atau kamu akan segera sendirian’.
Netanyahu kemudian mengonfirmasi Israel menghentikan serangan terhadap Iran, untuk sementara ini. Namun, ia menolak tuntutan Teheran agar Israel menghentikan operasi terhadap Hizbullah di Lebanon.
”Saat ini, tembakan di front ini telah dihentikan. Jika Iran kembali menyerang Israel, kami akan membalas dengan kekuatan,” kata Netanyahu dalam pernyataan video, Senin malam.
Ia mengakui memerintahkan serangan ke Iran setelah Iran menyerang Israel. Menurut Netanyahu, Iran menyerang Israel untuk mendukung Hizbullah. Israel melancarkan serangan balasan terhadap kelompok itu di Beirut.
Netanyahu menyatakan, Israel tetap berhak membalas setiap serangan. Ia telah menyampaikan sikapnya kepada Trump.
Iran juga menyatakan menghentikan serangan terhadap Israel. Namun, Teheran memperingatkan akan kembali melancarkan serangan jika Israel terus menggempur Hizbullah di Lebanon. Israel masih terus menyerang Hizbullah.
Eskalasi terbaru di Timur Tengah kembali berdampak pada pasar global. Harga minyak Brent dan West Texas Intermediate (WTI) sempat melonjak lebih dari 5 persen dalam perdagangan Asia karena kekhawatiran perang kembali meluas. Harga turun 1,3 persen untuk Brent dan 0,8 persen untuk WTI setelah baku serang berhenti.
Nilai tukar dolar AS juga turun dari posisi tertinggi dalam hampir dua bulan setelah militer Iran menyatakan gelombang pertama serangannya terhadap Israel berakhir.
Abaikan Trump
Baku serang Israel-Iran memperumit upaya Trump mengakhiri perang yang dilancarkan AS-Israel pada 28 Februari 2026. Gencatan senjata yang diumumkan pada 8 April menghentikan sementara perang terbuka. Namun, kedua pihak masih berulang kali melancarkan serangan.
Netanyahu telah dua kali tercatat mengabaikan Trump dalam waktu kurang dari sepekan. Pertama, Israel menyerang Beirut pada 7 Juni 2026. Padahal, sebelumnya, ia menyepakati penghentian serangan ke kawasan selatan ibu kota Lebanon itu setelah mendapat tekanan dari Trump.
Kedua, Trump meminta Netanyahu tidak membalas serangan rudal Iran dan memberi waktu bagi diplomasi. Netanyahu tetap memberi tahu Gedung Putih bahwa Israel akan menyerang sejumlah sasaran militer dan ekonomi di Iran.
Julian Borger, koresponden senior internasional The Guardian, menilai kepentingan Trump dan Netanyahu semakin berlawanan. Dampak ekonomi serangan AS dan Israel ke Iran menjadi ancaman politik bagi Trump.
Di dalam negeri, tekanan agar Trump mengakhiri perang Iran semakin besar. DPR AS meloloskan resolusi kewenangan perang dengan dukungan empat anggota Partai Republik, partai pendukung Trump.
Dalam analisis yang diterbitkan The Guardian, Senin (8/6/2026), Borger menilai, Partai Demokrat berpeluang merebut sedikitnya satu kamar Kongres dalam pemilu sela November 2026. Kemenangan itu dapat melemahkan kekuasaan Trump. Ia berkepentingan segera mengakhiri perang.
Sementara itu, Netanyahu menghadapi tekanan berbeda. Koalisi pemerintahannya berisiko kehilangan kekuasaan dalam pemilu yang harus digelar paling lambat 27 Oktober 2026 jika tak memperoleh hasil dari perang kali ini.
Setelah hampir tiga tahun perang, Netanyahu belum dapat mengklaim telah memenuhi janjinya untuk melumpuhkan Iran, Hizbullah, ataupun Hamas.
Borger menilai tekanan politik itu mendorong Netanyahu melanjutkan serangan demi memperoleh terobosan besar, termasuk kemungkinan runtuhnya pemerintahan di Teheran. ”Konflik yang berlanjut dapat memberinya peluang mempertahankan kekuasaan,” tulisnya.
Menurut Borger, kegagalan perundingan damai AS-Iran dan kembalinya Washington ke dalam perang menjadi peluang terbaik bagi kelangsungan politik Netanyahu. Sebaliknya, perang yang berlanjut memperbesar ancaman politik bagi Trump. Harga minyak dapat kembali melonjak dan gangguan ekonomi semakin meluas.
Namun, Netanyahu tidak dapat mengambil risiko merusak hubungan dengan Washington. AS tetap menjadi penjamin utama keamanan Israel. Borger menilai Timur Tengah akan terus menanggung akibatnya selama pertentangan kepentingan kedua pemimpin belum terselesaikan.
Lebanon berlanjut
Kondisi di dalam Iran dan Israel dilaporkan tenang setelah baku serang berhenti. Namun, kekerasan masih terus berlanjut di Lebanon selatan. Kementerian Kesehatan Lebanon menyatakan serangan Israel menewaskan sedikitnya 14 orang.
Hizbullah juga terus melancarkan serangan balasan. Militer Israel mendeteksi sejumlah proyektil yang ditembakkan ke arah pasukannya di Lebanon selatan. Sebagian proyektil berhasil dicegat. Satu proyektil jatuh di dekat pasukan Israel tanpa menimbulkan korban.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menegaskan, operasi militer di Lebanon akan tetap dilanjutkan. Menurut Israel, perang di Lebanon harus diperlakukan secara terpisah dari gencatan senjata AS dan Iran.
Teheran sejak lama menyatakan, kesepakatan damai dengan AS turut bergantung pada penghentian perang di Lebanon. Duta Besar AS untuk Lebanon Michel Issa mengatakan, perundingan Lebanon dan Israel dijadwalkan kembali berlangsung di Washington.
Mediasi
Baku serang Iran dan Israel terjadi ketika Pakistan berusaha menengahi konflik. Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi mengunjungi Teheran untuk menyerahkan surat khusus kepada Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan, Teheran masih terlibat dalam proses diplomasi. ”Kami masih berada di meja perundingan,” tulis Pezeshkian di X.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengatakan, Teheran masih bertukar pesan dengan Washington, tetapi dalam suasana kecurigaan ekstrem. Menurut dia, serangan Israel ke Iran dapat memengaruhi perundingan.
Menyusul serangan Israel ke Iran, Houthi yang bersekutu dengan Iran menyatakan akan menghentikan pelayaran Israel di Laut Merah. Mereka mengaku telah menembakkan rudal ke Israel. Militer Israel mencegat sasaran udara mencurigakan dari Yaman. Tidak ada korban dalam peristiwa itu.
Ancaman Houthi akan meningkatkan dampak ekonomi. Kelompok itu menguasai wilayah di pintu masuk Laut Merah. Jalur tersebut semakin penting sebagai rute alternatif bagi Selat Hormuz.
Iran masih menerapkan pembatasan pada sebagian besar pengiriman minyak dan gas dari kawasan Teluk melalui Selat Hormuz. Washington pun masih memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran.
Militer AS menyerang dan melumpuhkan sebuah kapal tanker kosong pada Senin. Kapal itu dituduh melanggar blokade terhadap pelabuhan Iran. (Reuters/AFP/AP)
WASHINGTON, SELASA — Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahwa Israel akan berperang sendirian jika kembali menyerang Iran. Israel dan Iran menghentikan serangan setelah baku serang menyasar sistem pertahanan udara, pabrik petrokimia, dan fasilitas militer.
Trump mengatakan, ia berbicara melalui telepon dengan Netanyahu pada Senin (8/6/2026). Percakapan berlangsung setelah Israel menyerang Iran.
Serial Artikel
Israel Serang Iran, Trump Tak Lagi Dihiraukan
Trump dinilai semakin tak bisa mengendalikan Israel setelah Netanyahu tetap menyerang Iran meski diminta menahan diri. Perang Iran kembali melebar ke Laut Merah.
”Saya bilang, ’Bibi, sebaiknya kamu berhati-hati, atau kamu akan segera sendirian’,” kata Trump dalam wawancara dengan media Axios yang diterbitkan Senin waktu setempat atau Selasa (9/6/2026) waktu Indonesia
Trump mengatakan, Israel dan Iran sama-sama menginginkan gencatan senjata segera. Ia meminta kedua pihak berhenti menembak. ”Perundingan akhir tentang ’Perdamaian’ sedang berlangsung selama ketidaktahuan atau kebodohan tidak menghalanginya,” tulis Trump di media sosial Truth Social.
Sebelum Israel menyerang Iran pada Senin, Trump telah meminta Netanyahu untuk tak membalas serangan Iran yang diluncurkan ke Israel pada Minggu malam. Namun, Israel tetap meluncurkan serangan udara ke Iran.
Duta Besar Israel untuk AS Yechiel Leiter menyebut percakapan kedua pemimpin berlangsung kooperatif. Ia menyangkal laporan bahwa Trump menekan Netanyahu.
”Mereka memiliki persahabatan mendalam yang telah berlangsung sekitar 40 tahun, dan terkadang orang yang saling mencintai bertengkar, serta terkadang ketegangan di dalam ruangan dan dalam percakapan bisa menjadi sedikit memanas,” katanya dikutip dari Fox News.
Saya bilang, ’Bibi, sebaiknya kamu berhati-hati, atau kamu akan segera sendirian’.
Netanyahu kemudian mengonfirmasi Israel menghentikan serangan terhadap Iran, untuk sementara ini. Namun, ia menolak tuntutan Teheran agar Israel menghentikan operasi terhadap Hizbullah di Lebanon.
”Saat ini, tembakan di front ini telah dihentikan. Jika Iran kembali menyerang Israel, kami akan membalas dengan kekuatan,” kata Netanyahu dalam pernyataan video, Senin malam.
Ia mengakui memerintahkan serangan ke Iran setelah Iran menyerang Israel. Menurut Netanyahu, Iran menyerang Israel untuk mendukung Hizbullah. Israel melancarkan serangan balasan terhadap kelompok itu di Beirut.
Netanyahu menyatakan, Israel tetap berhak membalas setiap serangan. Ia telah menyampaikan sikapnya kepada Trump.
Iran juga menyatakan menghentikan serangan terhadap Israel. Namun, Teheran memperingatkan akan kembali melancarkan serangan jika Israel terus menggempur Hizbullah di Lebanon. Israel masih terus menyerang Hizbullah.
Eskalasi terbaru di Timur Tengah kembali berdampak pada pasar global. Harga minyak Brent dan West Texas Intermediate (WTI) sempat melonjak lebih dari 5 persen dalam perdagangan Asia karena kekhawatiran perang kembali meluas. Harga turun 1,3 persen untuk Brent dan 0,8 persen untuk WTI setelah baku serang berhenti.
Nilai tukar dolar AS juga turun dari posisi tertinggi dalam hampir dua bulan setelah militer Iran menyatakan gelombang pertama serangannya terhadap Israel berakhir.
Abaikan Trump
Baku serang Israel-Iran memperumit upaya Trump mengakhiri perang yang dilancarkan AS-Israel pada 28 Februari 2026. Gencatan senjata yang diumumkan pada 8 April menghentikan sementara perang terbuka. Namun, kedua pihak masih berulang kali melancarkan serangan.
Netanyahu telah dua kali tercatat mengabaikan Trump dalam waktu kurang dari sepekan. Pertama, Israel menyerang Beirut pada 7 Juni 2026. Padahal, sebelumnya, ia menyepakati penghentian serangan ke kawasan selatan ibu kota Lebanon itu setelah mendapat tekanan dari Trump.
Kedua, Trump meminta Netanyahu tidak membalas serangan rudal Iran dan memberi waktu bagi diplomasi. Netanyahu tetap memberi tahu Gedung Putih bahwa Israel akan menyerang sejumlah sasaran militer dan ekonomi di Iran.
Julian Borger, koresponden senior internasional The Guardian, menilai kepentingan Trump dan Netanyahu semakin berlawanan. Dampak ekonomi serangan AS dan Israel ke Iran menjadi ancaman politik bagi Trump.
Di dalam negeri, tekanan agar Trump mengakhiri perang Iran semakin besar. DPR AS meloloskan resolusi kewenangan perang dengan dukungan empat anggota Partai Republik, partai pendukung Trump.
Dalam analisis yang diterbitkan The Guardian, Senin (8/6/2026), Borger menilai, Partai Demokrat berpeluang merebut sedikitnya satu kamar Kongres dalam pemilu sela November 2026. Kemenangan itu dapat melemahkan kekuasaan Trump. Ia berkepentingan segera mengakhiri perang.
Sementara itu, Netanyahu menghadapi tekanan berbeda. Koalisi pemerintahannya berisiko kehilangan kekuasaan dalam pemilu yang harus digelar paling lambat 27 Oktober 2026 jika tak memperoleh hasil dari perang kali ini.
Setelah hampir tiga tahun perang, Netanyahu belum dapat mengklaim telah memenuhi janjinya untuk melumpuhkan Iran, Hizbullah, ataupun Hamas.
Borger menilai tekanan politik itu mendorong Netanyahu melanjutkan serangan demi memperoleh terobosan besar, termasuk kemungkinan runtuhnya pemerintahan di Teheran. ”Konflik yang berlanjut dapat memberinya peluang mempertahankan kekuasaan,” tulisnya.
Menurut Borger, kegagalan perundingan damai AS-Iran dan kembalinya Washington ke dalam perang menjadi peluang terbaik bagi kelangsungan politik Netanyahu. Sebaliknya, perang yang berlanjut memperbesar ancaman politik bagi Trump. Harga minyak dapat kembali melonjak dan gangguan ekonomi semakin meluas.
Namun, Netanyahu tidak dapat mengambil risiko merusak hubungan dengan Washington. AS tetap menjadi penjamin utama keamanan Israel. Borger menilai Timur Tengah akan terus menanggung akibatnya selama pertentangan kepentingan kedua pemimpin belum terselesaikan.
Serial Artikel
Apakah Trump dan Netanyahu Selalu Sejalan?
Serangan Israel ke ladang gas South Pars dilakukan atas inisiatif Tel Aviv. Operasi itu menimbulkan pertanyaan tentang sikap AS dan Israel terhadap perang di Iran.
Kondisi di dalam Iran dan Israel dilaporkan tenang setelah baku serang berhenti. Namun, kekerasan masih terus berlanjut di Lebanon selatan. Kementerian Kesehatan Lebanon menyatakan serangan Israel menewaskan sedikitnya 14 orang.
Hizbullah juga terus melancarkan serangan balasan. Militer Israel mendeteksi sejumlah proyektil yang ditembakkan ke arah pasukannya di Lebanon selatan. Sebagian proyektil berhasil dicegat. Satu proyektil jatuh di dekat pasukan Israel tanpa menimbulkan korban.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menegaskan, operasi militer di Lebanon akan tetap dilanjutkan. Menurut Israel, perang di Lebanon harus diperlakukan secara terpisah dari gencatan senjata AS dan Iran.
Teheran sejak lama menyatakan, kesepakatan damai dengan AS turut bergantung pada penghentian perang di Lebanon. Duta Besar AS untuk Lebanon Michel Issa mengatakan, perundingan Lebanon dan Israel dijadwalkan kembali berlangsung di Washington.
Mediasi
Baku serang Iran dan Israel terjadi ketika Pakistan berusaha menengahi konflik. Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi mengunjungi Teheran untuk menyerahkan surat khusus kepada Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan, Teheran masih terlibat dalam proses diplomasi. ”Kami masih berada di meja perundingan,” tulis Pezeshkian di X.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengatakan, Teheran masih bertukar pesan dengan Washington, tetapi dalam suasana kecurigaan ekstrem. Menurut dia, serangan Israel ke Iran dapat memengaruhi perundingan.
Menyusul serangan Israel ke Iran, Houthi yang bersekutu dengan Iran menyatakan akan menghentikan pelayaran Israel di Laut Merah. Mereka mengaku telah menembakkan rudal ke Israel. Militer Israel mencegat sasaran udara mencurigakan dari Yaman. Tidak ada korban dalam peristiwa itu.
Serial Artikel
Serangan Israel ke Lebanon Terus Ganjal Kesepakatan AS-Iran
Isu Lebanon dan sanksi Iran jadi ganjalan penuntasan perundingan AS-Iran. Isu nuklir akan dibahas di putaran terpisah.
Ancaman Houthi akan meningkatkan dampak ekonomi. Kelompok itu menguasai wilayah di pintu masuk Laut Merah. Jalur tersebut semakin penting sebagai rute alternatif bagi Selat Hormuz.
Iran masih menerapkan pembatasan pada sebagian besar pengiriman minyak dan gas dari kawasan Teluk melalui Selat Hormuz. Washington pun masih memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran.
Militer AS menyerang dan melumpuhkan sebuah kapal tanker kosong pada Senin. Kapal itu dituduh melanggar blokade terhadap pelabuhan Iran. (Reuters/AFP/AP)