Serangan Israel ke ladang gas South Pars dilakukan atas inisiatif Tel Aviv. Operasi itu menimbulkan pertanyaan tentang sikap AS dan Israel terhadap perang di Iran.
20 Mar 2026 14:45 WIB · Internasional
AP / Michael Probst
JERUSALEM, JUMAT — Memasuki hari ke-20 perang di Iran, muncul perbedaan sikap antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Perbedaan itu terkait serangan ke ladang gas South Pars milik Iran pada Rabu (18/3/2026).
Trump berpandangan, serangan Israel semakin membuat harga energi meroket. Sementara Israel berpandangan, serangan itu merupakan bagian dari upaya menghancurkan Iran.
Di sisi lain, Iran mengecam keras serangan tersebut. Bagi Iran, South Pars merupakan instalasi energi vital.
Membalas serangan itu, Iran menyerang infrastruktur energi di negara-negara Teluk yang terkait dengan AS. Negara-negara Teluk pun turut mengecam Israel dan meminta Trump mengendalikan Netanyahu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/20/03830f17-4283-427f-97d7-e53ef709982b.jpg)
Dalam konferensi pers di Jerusalem, Kamis (19/3/2026), Netanyahu membela operasi militer Israel atas ladang gas Iran itu. Israel, menurut dia, terus menyerang karena ingin menghancurkan Iran.
Dalam konferensi pers selama 45 menit tersebut, Netanyahu mengakui bahwa Israel bertindak sendiri terkait serangan ke South Pars. ”Presiden Trump meminta kami untuk menunda serangan lebih lanjut,” kata Netanyahu, seperti dikutip Reuters, Jumat (20/3/2026).
Sebelumnya, seusai pertemuan dengan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi, di Ruang Oval, Trump mengatakan tidak setuju maupun menyetujui serangan Israel terhadap ladang gas terbesar di dunia itu.
Trump meminta Netanyahu tidak mengulangi serangan ke infrastruktur gas alam Iran itu. ”Saya mengatakan kepadanya, jangan lakukan itu,” kata Trump kepada wartawan.
Permintaan Trump tersebut disampaikan karena serangan Israel membuat harga energi meroket. Saat ini dunia telah terdampak penutupan Selat Hormuz yang menyebabkan aliran minyak dan gas ke pasar global terganggu. Harga minyak di bursa Brent terus merangkat di atas 100 dolar AS per barel.
Sementara upaya AS meminta bantuan sekutu NATO untuk membuka blokade Selat Hormuz juga belum ada titik terang. Akibatnya, mendung krisis energi kian gelap.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/20/d3325b9a-43e4-42bf-b9ed-60c196e70d97.jpg)
Serangan Israel membuat harga energi semakin melonjak setelah Iran menyerang Kota Industri Ras Laffan di Qatar sebagai balasan. Ras Laffan diketahui memproses sekitar seperlima gas alam cair dunia. Butuh waktu bertahun-tahun untuk diperbaiki.
Apalagi, Iran juga menyerang Pelabuhan Yanbu, salah satu pelabuhan minyak Arab Saudi di Laut Merah. Pelabuhan ini menjadi titik alternatif pengiriman minyak dan gas setelah penutupan Selat Hormuz.
Selain itu, serangan Iran memaksa Uni Emirat Arab untuk menutup fasilitas gas Habshan. Serangan Iran juga menyebabkan kebakaran di dua kilang minyak Kuwait.
Bagi Iran, serangan terhadap infrastruktur energi Iran memicu ”tahap baru dalam perang”. ”Jika serangan (terhadap fasilitas energi Iran) terjadi lagi, serangan lebih lanjut terhadap infrastruktur energi Anda dan sekutu Anda tidak akan berhenti sampai benar-benar hancur,” kata Juru Bicara Militer Iran Ebrahim Zolfaqari, menurut media pemerintah.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/11/49e37a0ac7c985c1671fd2376daf423b-20260311_GKT_AFP_Hormuz_Oil.png)
Harga minyak mentah Brent naik hampir 3 persen. Harga minyak Brent tercatat 110,35 dolar AS per barel pada Kamis pukul 17.00 GMT atau pukul 00.30 WIB pada Jumat (20/3/2026). Harga gas jangka pendek Eropa naik lebih dari 15 persen dan melonjak lebih dari 60 persen sejak perang dimulai.
Akibat tindakan sepihak Israel menyerang South Pars, Trump dan Netanyahu menghadapi pertanyaan tentang apakah mereka sepenuhnya (masih) sejalan dalam perang di Iran. Secara khusus, pengeboman Israel terhadap ladang gas South Pars di Iran, yang menurut Trump tidak diketahui AS, menunjukkan adanya kesenjangan dalam koordinasi strategi dan tujuan perang antara AS dan Israel.
AS dan Israel memulai serangan udara terhadap Iran pada 28 Februari 2026 sebagai serangan gabungan yang terkoordinasi erat. Menghadapi pertanyaan tersebut, Trump menyatakan, ”Kami akur. Itu terkoordinasi, tetapi kadang-kadang dia akan melakukan sesuatu. Dan, jika saya tidak menyukainya, kami tidak akan melakukan itu lagi.”
Beberapa jam setelah serangan Israel ke South Pars pada Rabu, Trump mengunggah pernyataan berapi-api ke media sosial sebagai tanggapan. Trump menyatakan, ”AS tidak tahu apa-apa tentang serangan itu sebelum dilakukan.”
Padahal, menurut dua sumber The Associated Press (AP) yang mengetahui masalah ini dan berbicara secara anonim, AS sudah mengetahui rencana Israel sebelum serangan tersebut. Salah seorang sumber itu bahkan mengatakan, target Israel sedang dikoordinasikan dengan AS.
Dalam konferensi pers di Jerusalem, Netanyahu menyatakan menyetujui permintaan Trump agar Israel menunda serangan lebih lanjut terhadap ladang gas raksasa Iran. Netanyahu juga berusaha untuk mengecilkan perbedaan antara dirinya dan Trump.
”Sudah disebutkan bahwa selama 40 tahun saya mengatakan Iran adalah ancaman bagi Israel dan ancaman bagi dunia. Itu benar,” kata Netanyahu. ”Tahukah Anda siapa lagi yang mengatakan itu? Presiden Trump,” lanjutnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/03/20/e0168fa3-5556-4dee-8d08-20f343f9ed30_jpg.jpg)
Netanyahu menambahkan, ”Lihat, saya rasa tidak ada dua pemimpin yang terkoordinasi sebaik Presiden Trump dan saya. Dia pemimpinnya. Saya sekutunya. Amerika adalah pemimpinnya.”
Meski demikian, perbedaan pandangan AS dan Israel dalam perang di Iran itu lantas terungkap dalam sidang dengar pendapat antara Komite Intelijen DPR AS dan Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard pada Kamis.
”Tujuan yang telah ditetapkan oleh Presiden berbeda dengan tujuan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Israel,” kata Tulsi Gabbard saat ditanya anggota Komite Intelijen DPR AS tentang posisi Gedung Putih mengenai serangan ladang gas.
Serangan udara AS di Iran berfokus pada penghancuran program rudal Iran menghantam program nuklirnya yang sudah terpuruk dan menghancurkan Angkatan Laut Iran. Tujuan utama Trump melalui perang yang sudah memasuki hari ke-20 ini ingin memastikan Iran ”tidak pernah memiliki senjata nuklir”.
Sementara Israel melakukan serangkaian pembunuhan tingkat tinggi dalam upayanya untuk menggulingkan otoritas Islam yang telah memimpin negara itu sejak 1979. Netanyahu memanfaatkan momen ini sebagai kesempatan untuk mengantarkan era baru di Timur Tengah. Era baru itu adalah era ketika pemerintahan Iran dijalankan oleh pemimpin yang lebih moderat dan tidak memusuhi Israel.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/03/20/50840d1c-7f75-4b2a-93da-8421dcd01b2c_jpg.jpg)
Trump disebutkan sudah mengurangi antusiasmenya terhadap prospek menggulingkan otoritas ulama Iran dan membuka jalan bagi pemerintahan yang lebih moderat. Ini merupakan evolusi yang signifikan bagi Trump karena sejak awal serangan ke Iran, Trump mengatakan kepada rakyat Iran bahwa mereka akan segera memiliki kesempatan untuk melepaskan diri dari pemerintahan ulama selama 47 tahun terakhir.
Joel Rubin, mantan pejabat Departemen Luar Negeri di pemerintahan Obama, berpandangan, secara garis besar, perbedaan antara Trump dan Netanyahu sejauh ini masih dangkal. PM Netanyahu ”berusaha mencari cara untuk mendapatkan dukungan Amerika selama beberapa dekade” guna mendukung upayanya melancarkan serangan yang melumpuhkan Iran. ”Trump adalah presiden pertama yang mengatakan, ’Lakukan saja!’” kata Rubin.
Meski demikian, lanjut Rubin, semakin lama perang berlangsung, semakin besar tekanan politik yang mungkin dihadapi Trump dan semakin banyak keretakan yang dapat terbentuk.
Terlepas dari perbedaan pandangan AS dan Israel, Netanyahu dalam konferensi pers menegaskan, selepas serangan ke South Pars, Teheran tidak lagi memiliki kapasitas untuk memperkaya uranium. ”Iran saat ini tidak memiliki kemampuan untuk memperkaya uranium dan tidak ada kemungkinan untuk memproduksi rudal,” ucap Netanyahu, tanpa memberikan bukti untuk kedua klaim tersebut.
Secara terpisah, Kepala Badan Energi Atom Internasional Rafael Grossi kepada CBS News pada Kamis mengatakan, ”banyak yang masih tersisa” dari kapasitas pengayaan nuklir Iran.
”Mereka memiliki kemampuan, mereka memiliki pengetahuan, mereka memiliki kemampuan industri untuk melakukan itu,” ujar Grossi.
Netanyahu tidak berkomentar tentang persediaan uranium yang diperkaya milik Teheran. Diyakini uranium itu terkubur di bawah situs nuklir Iran di Isfahan setelah serangan AS pada bulan Juni.
”Kami tidak hanya bertindak untuk menghancurkan rudal balistik yang tersisa dan apa yang tersisa dari program nuklir—sangat sedikit yang tersisa—tetapi juga untuk menghancurkan industri yang memungkinkan produksi program-program ini,” kata Netanyahu.
Tentang jalur pengiriman minyak dan gas yang terhambat akibat penutupan Selat Hormuz, Netanyahu menyarankan pembangunan jalur pipa untuk mengangkut minyak dan gas Timur Tengah. Jalur pipa itu, saran Netanyahu, harus dibangun melintasi Semenanjung Arab hingga ke pelabuhan Israel untuk menghindari ancaman Iran di Selat Hormuz dan perairan Teluk lainnya. (AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Helena Fransisca NababanEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul