Pemerintah AS berpotensi melanggar dua kesepakatan tuan rumah jika tidak menjamin kehadiran Iran di Piala Dunia 2026. FIFA pun mencoreng prinsip ”fair play”.
13 Mar 2026 08:14 WIB · Olahraga
AP/JACQUELYN MARTIN
Presiden Amerika Serikat Donald Trump tidak menjamin keselamatan tim nasional sepak bola Iran jika tetap tampil di Piala Dunia 2026. Merujuk pernyataan Trump itu, FIFA—otoritas sepak bola tertinggi di dunia—seharusnya mempertimbangkan ulang menggelar pesta sepak bola tahun ini di ”Negeri Paman Sam”. Indonesia pernah merasakan hal itu pada 2023.
”Tim sepak bola Iran disambut di Piala Dunia, tetapi saya benar-benar tidak percaya bahwa mereka hadir di sana, demi kehidupan dan keselamatan mereka,” kata Trump dalam pernyataan di akun pribadi Truth Social, Kamis (12/3/2026) waktu setempat atau Jumat (13/3/2026) tengah malam WIB.
Pernyataan Trump itu mempertegas pernyataan yang lebih dulu disampaikan sahabatnya, Presiden FIFA Gianni Infantino, Kamis. Trump melakukan pertemuan khusus dengan Infantino untuk fokus membahas nasib Iran di Piala Dunia 2026.
”Presiden Trump menegaskan kembali bahwa Iran, tentu saja, dipersilakan berkompetisi di turnamen di Amerika Serikat,” ucap Infantino.
Namun, pernyataan Infantino itu bertolak belakang dengan nihilnya usaha FIFA untuk memberikan kesetaraan kepada Iran serupa dengan 41 tim lain yang sudah memastikan tempat di turnamen musim panas nanti.
Tidak ada dorongan FIFA kepada Pemerintah AS untuk meluluskan permohonan visa enam anggota delegasi Iran, termasuk Presiden Federasi Sepak Bola Iran (FFIRI) Mehdi Taj, untuk hadir pada upacara undian babak penyisihan, Desember 2025, di Washington DC.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/28/c687f214fb10b907dd3166aa888806ab-cropped_image.jpg)
FIFA juga tidak memfasilitasi delegasi FFIRI untuk hadir pada pertemuan praturnamen di Atlanta, AS, pekan lalu. Padahal, pertemuan itu adalah ajang FIFA mengumumkan sejumlah kebijakan dan regulasi Piala Dunia 2026, baik terkait sisi teknis maupun nonteknis pertandingan.
Padahal, merujuk persiapan, Iran sudah menyiapkan segalanya dengan maksimal. Mereka telah memutuskan untuk menggunakan Kompleks Olahraga Kino di Tucson, Arizona, sebagai lokasi markas tim selama turnamen itu.
Lokasi markas itu ditentukan dengan mempertimbangkan dua lokasi pertandingan Iran pada tiga duel Grup G. Iran akan menghadapi Selandia Baru (15 Juni) dan Belgia (21 Juni) di Stadion SoFi, Inglewood, California. Kemudian, laga pamungkas babak penyisihan kontra Mesir bakal digelar di Stadion Lumen Field, Seattle, Washington.
Terlepas dari tensi tinggi AS dengan Iran akibat perang sejak 28 Februari 2026, Iran tetap memiliki hak untuk berpartisipasi. Apalagi ”Tim Melli”, julukan Iran, adalah satu dari dua tim bersama Jepang yang lolos paling cepat dari babak kualifikasi. Mereka sudah memastikan tempat di Piala Dunia sejak Maret 2025.
Ketuk palu takdir Iran di Piala Dunia 2026 berada sepenuhnya di tangan Dewan FIFA yang dipimpin Infantino.
Iran sudah membalas pernyataan Trump itu melalui sejumlah kanal media sosial mereka. Menurut Iran, FIFA adalah pemilik kewenangan penuh pada Piala Dunia.
”Piala Dunia adalah turnamen bersejarah dan internasional yang digelar FIFA, bukan milik individu sebuah negara. Tim nasional Iran dengan kekuatan dan sejumlah kemenangan yang diraih oleh putra-putra berani Iran adalah salah satu tim yang pertama lolos ke turnamen mayor ini,” ungkap pernyataan timnas Iran seperti dilansir Al Jazeera.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/17/fdc700a500de997495b875c8b6df30d6-20260117_GKT_Piala_Dunia_dan_Konflik_mumed.png)
Iran melalui Menteri Olahraga Ahmad Donyamali memang sudah mengirimkan sinyal untuk menarik diri dari Piala Dunia 2026 serta membatalkan partisipasi kedelapan mereka di turnamen sepak bola terakbar.
Namun, ketuk palu takdir Iran di Piala Dunia 2026 berada sepenuhnya di tangan Dewan FIFA yang dipimpin Infantino. Adapun Dewan FIFA berisi 37 anggota yang terdiri dari seorang presiden, delapan wakil presiden, dan 28 anggota biasa.
Tanpa keputusan resmi FIFA, maka negara mana pun, termasuk trio tuan rumah edisi 2026—AS, Kanada, dan Meksiko—sepatutnya tidak memiliki kewenangan untuk menentukan tim yang berlaga di turnamen. Apalagi, tuan rumah hanya berstatus penyelenggara turnamen. Otoritas Piala Dunia seluruhnya berada di benak FIFA.
Atas dasar itu, pernyataan Trump yang mengancam kehadiran Iran di Piala Dunia 2026 bisa menjadi awal pertimbangan FIFA untuk memberikan peringatan. Alasannya, Trump di ambang melanggar dua aturan FIFA.
Pertama, hak Iran untuk berlaga di Piala Dunia 2026 dilindungi dalam Pasal 3.2.5 Aturan Gambaran Umum Persyaratan Piala Dunia 2026 terkait dengan Keselamatan dan Keamanan. Dalam aturan itu tercantum klausul bahwa setiap individu—mulai dari anggota tim hingga pendukung—dijamin keamanannya di seluruh lokasi turnamen, mulai dari stadion, lapangan latihan, pusat media, hingga pintu masuk negara/kota.
”Pemerintah harus bertanggung jawab penuh atas keamanan dan keselamatan kompetisi dan agenda yang berkaitan dengan kompetisi,” bunyi aturan itu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/12/9732c98e7fa54dab400e32a9e4ba2d35-cropped_image.jpg)
Kedua, FIFA juga sudah mewajibkan tiga pemerintah negara peserta dan 16 pemerintah kota penyelenggara untuk menandatangani Perjanjian Tuan Rumah. Perjanjian itu salah satunya mencantumkan Pasal 8.9.1 tentang Keselamatan dan Keamanan.
”Dengan segala hormat, kota penyelenggara bertanggung jawab penuh meliputi, antara lain, keamanan, keselamatan, dan proteksi untuk semua individu dan entitas yang hadir atau terlibat dalam kompetisi di seluruh ruang publik,” sebut aturan itu.
Tiga tahun lalu, dua aturan itulah yang menjadi dasar FIFA mencoret Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 2023. Tempat Indonesia digantikan oleh Argentina. Musababnya, Indonesia enggan menerima kehadiran Israel pada turnamen itu.
Piala Dunia U-20 2023 adalah momen pertama FIFA membatalkan status sebuah negara sebagai tuan rumah turnamen resmi mereka akibat menolak kehadiran salah satu tim peserta.
Pada Piala Dunia 1986, Meksiko mendapat kepercayaan sebagai tuan rumah akibat Kolombia mundur. Namun, kala itu, Kolombia mengajukan pembatalan status penyelenggara karena terhadang krisis politik-ekonomi dalam negeri.
Maka, AS wajib memberikan keamanan bagi Iran seandainya mereka tetap tampil di Piala Dunia 2026. Jika tidak, hal itu akan menjadi ujian martabat FIFA dan Infantino di hadapan komunitas sepak bola dunia.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/22/d57806d6a940ba22a5bbf2c60f22e527-cropped_image.jpg)
Membiarkan Iran gagal berlaga di Piala Dunia akibat tekanan Trump tentu akan mencoreng citra FIFA yang selalu menggaungkan fair play. Iran sudah memenangi tempat mereka di Piala Dunia 2026 melalui jalur yang sah di atas lapangan. Perjuangan itu seharusnya mendapat jaminan dari FIFA.
Namun, kebijakan yang paling kemungkinan tercipta—merujuk situasi hubungan erat Infantino dengan Trump—adalah FIFA mengorbankan Iran demi hubungan baik terjaga dengan AS.
Perlu diingat, trofi asli Piala Dunia saat ini sudah terpajang di ruang kerja pribadi Trump di Gedung Putih. Untuk pertama kalinya, FIFA menyimpan trofi paling prestisius mereka di ruangan pribadi pemimpin pemerintahan sebuah negara.
Tidak hanya trofi Piala Dunia, Trump juga menyimpan trofi asli Piala Dunia Antarklub yang seharusnya dibawa pulang Chelsea selaku kampiun edisi perdana, musim panas 2025, ke London, Inggris.
Selain hubungan politik, AS juga amat sulit tersingkir dari tuan rumah akibat roda perekonomian Piala Dunia 2026 dikendalikan oleh mereka. Dari 16 kota penyelenggara, sebanyak 11 kota berada di AS.
Dengan sepak mula turnamen yang kurang dari tiga bulan, FIFA tidak ingin berjudi dengan status tuan rumah milik AS yang bisa memupus ambisi mereka meraup miliaran dolar AS.
Jadi, nasib Iran sepenuhnya ada di tangan FIFA.
(Reuters/AFP)
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Nur Adji