Pasar saham dan valas global kembali bereaksi menyusul pengumuman penundaan tarif impor yang akan dikenakan oleh AS. Akankah ini bertahan atau hanya sementara?
10 Apr 2025 14:08 WIB · Ekonomi
JAKARTA, KOMPAS — Keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menunda sementara pengenaan sebagian tarif impor telah mengubah arah dinamika pasar keuangan global. Pasar saham dan kurs beberapa negara yang sebelumnya sempat tertekan kini berbalik menguat, termasuk rupiah. Ke depan, volatilitas pasar diperkirakan akan tinggi.
Melansir kantor berita Reuters, Trump mengumumkan pengenaan sebagian tarif bea masuk impor ditunda selama 90 hari ke depan pada Rabu (9/4/2025) siang waktu Washington DC atau Kamis dini hari WIB. Kendati demikian, Pemerintah AS tetap akan mengenakan tarif kepada China, bahkan menaikkannya dari 104 persen menjadi 125 persen.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menegaskan, kebijakan tarif sejak semula diterapkan untuk membawa negara-negara ke meja perundingan. Namun, Trump melihat reaksi pasar yang cenderung panik sehingga mempertimbangkan kembali keputusannya dan menunda tarif.
Sebelumnya, tarif Trump telah memicu aksi jual selama berhari-hari di pasar saham global, menekan obligasi Pemerintah AS (US Treasury), serta dollar AS. Namun, perubahan pada menit-menit terakhir berlakunya kebijakan tersebut telah membuat pasar saham global berbalik menguat.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/07/80492fd0-4bb5-4c81-9990-2d9ac528e124_png.png)
Indeks saham AS melonjak, antara lain Indeks acuan S&P 500 ditutup menguat 9,52 persen dan Nasdaq menguat 12,16 persen. Pasar saham Asia pun turut dibuka menguat, seperti indeks Nikkei 225 Jepang yang melonjak hampir 9 persen dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menguat 5 persen.
Analis mengatakan, lonjakan harga saham yang tiba-tiba mungkin tidak akan mengembalikan ke keadaan sebelumnya. Survei Reuters dan Ipsos menemukan, tiga dari empat orang AS memperkirakan harga akan naik dalam beberapa bulan mendatang.
Gejolak pasar keuangan sudah pasti. Pasar keuangan sensitif ketika ada ketidakpastian dan pasti terjadi gejolak di pasar keuangan.
Di sisi lain, Goldman Sachs memangkas kemungkinan terjadinya resesi, dari 65 persen menjadi 45 persen, setelah pengumuman penundaan tarif oleh Trump. Namun, kebijakan tarif yang tetap berlaku kemungkinan besar masih akan menyebabkan peningkatan 15 persen dalam tingkat tarif secara keseluruhan.
Melansir kantor berita AP, Direktur Jenderal Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) Ngozi Okonjo-Iweala memperingatkan, ketegangan yang meningkat dapat mengurangi perdagangan barang AS-China hingga 80 persen dan memperburuk prospek ekonomi global.
”Yang menjadi perhatian khusus adalah potensi fragmentasi perdagangan global berdasarkan garis geopolitik. Ekonomi global yang terbagi menjadi dua blok dapat menyebabkan penurunan jangka panjang dalam PDB (produk domestik bruto) riil global hingga hampir 7 persen,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/15/9c410a7e-20f5-4cc3-ac49-3aed74653271_jpg.jpg)
Indeks dollar AS terhadap mata uang utama global (DXY) masih berada dalam kisaran level 102 atau melemah 5,38 persen secara tahun kalender berjalan. Alhasil, beberapa kurs negara berkembang menguat, antara lain peso Filipina, won Korea, baht Thailand, ringgit Malaysia, dan rupiah.
Mengutip data Bloomberg, setelah penundaan tarif Trump, nilai tukar rupiah pada perdagangan 10 April 2025 pun dibuka di level Rp 16.832 per dollar AS atau menguat 0,23 persen dibandingkan dengan penutupan pasar sebelumnya. Adapun rupiah sempat bergerak hingga menyentuh Rp 16.735 per dollar AS.
Ketidakpastian ini akan terus ada selama Trump berkuasa dan sepertinya menjadi ’game’-nya Trump.
Guru Besar Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Indonesia Telisa Aulia Falianty berpendapat, kebijakan AS memang membuat pasar tertekan sekaligus kembali membuat pasar bergairah. Artinya, Trump telah menciptakan kondisi yang paling tidak disukai oleh para pelaku usaha, dengan ”permainan” ketidakpastian.
”Gejolak pasar keuangan sudah pasti. Pasar keuangan sensitif ketika ada ketidakpastian dan pasti terjadi gejolak di pasar keuangan. Naik turunnya pasar keuangan, seperti saham, nilai tukar, obligasi, semua bergantung dari kepastian atau ketidakpastian ekonomi global, politik, geopolitik,” katanya saat dihubungi dari Jakarta.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/08/b16f8d27-a8ba-4cf3-944b-d0621838a467_png.png)
Dengan pengumuman penundaan tarif oleh Trump, ia menilai, para pelaku pasar kemungkinan besar melihat ada harapan bagi perekonomian Indonesia. Begitu pula sebaliknya, apabila nanti kebijakan tarif tetap diberlakukan, pasar akan kembali bereaksi negatif.
Kendati demikian, perlu dicermati pula seberapa besar respons pemangku kepentingan terhadap volatilitas pasar dibandingkan negara lain. Meski semua negara mengalami kondisi serupa, pasar keuangan domestik cenderung mengalami tekanan yang cukup dalam.
Menurut Telisa, volatilitas pasar merupakan sebuah keniscayaan bagi berbagai negara. Hanya saja, tinggal bagaimana volatilitas itu direspons oleh pemerintah ataupun otoritas keuangan agar setidaknya guncangan yang dirasakan masyarakat tidak terlalu besar alias bisa diredam.
”Ketidakpastian ini akan terus ada selama Trump berkuasa dan sepertinya menjadi game-nya Trump. Memang menciptakan ketidakpastian untuk mendapatkan keuntungan. Maka, penguatan fundamental moneter fiskal dan sektor keuangan kita perlu diperkuat,” ujarnya.
Penulis:
Agustinus Yoga PrimantoroEditor:
Agnes TheodoraPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra