Terdorong sentimen pascapenundaan tarif Trump, IHSG dalam perdagangan Kamis ini diprediksi mampu ”rebound” dengan kisaran ”support” 5.843-5.719.
10 Apr 2025 09:47 WIB · Ekonomi
JAKARTA, KOMPAS — Pada pembukaan bursa Kamis (10/4/2025), Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG menghijau dengan tumbuh 5 persen ke level 6.270. Hal ini sesuai prediksi analis yang mencatat kenaikan harga di pasar saham bursa Amerika Serikat dan negara lain setelah Donald Trump mengumumkan penundaan sebagian tarif bea masuk impor.
Dilansir RTI Business, IHSG tumbuh positif dari level 5.967,99 pada penutupan perdagangan Rabu (9/4/2025), didorong kenaikan harga pada 386 saham. Ini membalikkan koreksi pada 307 saham pada akhir perdagangan kemarin setelah investor asing membukukan penjualan bersih senilai Rp 1,05 triliun.
Beberapa saham ternama yang pada Kamis pagi ini mencatatkan kenaikan persentase harga saham signifikan antara lain saham PT Bank Central Asia Tbk sebesar 5 persen ke harga Rp 8.300, serta saham PT Bank Rakyat Indonesia Persero Tbk yang terdongkrak 5 persen ke harga Rp 3.830.
Selain itu, ada pula saham PT Aneka Tambang Tbk yang naik sekitar 8 persen ke harga Rp 1.605, PT Mitra Adi Perkasa Tbk yang naik 15 persen ke harga Rp 1.270, dan PT Semen Indonesia Tbk yang tumbuh 8,6 persen menjadi Rp 2.270.
Kenaikan harga saham ini seirama dengan menghijaunya pasar saham di Amerika Serikat (AS) pada Rabu waktu setempat. Kemarin, bursa AS ditutup menguat, seperti indeks Dow Jones yang tumbuh 7,87 persen, S&P 500 9,52 persen, dan Nasdaq 12,16 persen. Kenaikan saham ikut mendorong imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun ke 2,83 persen.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/10/3eb639807b560c21e2432e7410e7aaca-WhatsApp_Image_2025_04_10_at_09.31.36_1db6dd58.jpg)
Saat berita ini ditulis, pergerakan saham di bursa negara lain juga cenderung menguat. Bursa Nikkei 225 Jepang, misalnya, sedang tumbuh lebih dari 8 persen, Indeks Komposit Shanghai naik 1,49 persen, dan Indeks Australia ASX200 juga naik 4 persen lebih.
Analisis CGS International Sekuritas Indonesia pagi ini melaporkan, menguatnya mayoritas indeks, khususnya di AS, terjadi seiring pengumuman Presiden AS Donald Trump untuk menunda penerapan tarif impor resiprokal AS ke beberapa negara selama 90 hari.
IHSG dalam perdagangan hari ini diprediksi mampu ’rebound’ dengan kisaran ’support’ 5.843-5.719.
Pengumuman itu disampaikan Trump melalui akun X resminya pada Rabu siang waktu Washington DC atau Kamis dini hari WIB. Penundaan itu dilakukan Trump dalam waktu kurang dari 24 jam sejak tarif resiprokal resmi diberlakukan ke puluhan negara.
Dengan penundaan sementara itu, tarif bea masuk untuk puluhan negara, kecuali China, diturunkan menjadi 10 persen selama tiga bulan, selagi proses negosiasi dilakukan AS dengan negara-negara terkait. Tarif 32 persen yang diterapkan kepada Indonesia juga turut ditunda. Sementara itu, tarif bea masuk untuk China justru meroket sampai 125 persen.
Selain faktor penundaan tarif Trump, menghijaunya pasar saham juga didorong oleh penguatan beberapa harga komoditas utama, seperti minyak mentah, emas, dan gas alam.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/18/5267d1d3d9bdb8ef6e743049d0533583-20250318PRI8HR.jpg)
Harga minyak mentah Brent, misalnya, naik 4,2 persen ke harga 65 dollar AS per barrel setelah terjerembab ke harga terendah dalam empat tahun terakhir. Harga emas dunia juga naik 3,3 persen menjadi 3.083 dollar AS per troy ons.
Dikutip Reuters, kenaikan harga komoditas itu terjadi karena Trump meningkatkan tensi perang dagang dengan China dengan meningkatkan tarif bea masuk untuk produk-produk China dari 104 persen ke 125 persen, sementara ia menunda penerapan tarif untuk banyak negara lainnya.
Dengan kondisi ini, IHSG dalam perdagangan hari ini diprediksi mampu rebound dengan kisaran support 5.843-5.719 dan resisten di level 6.091-6.215.
”Ada juga potensi rupiah dapat kembali menguat terhadap dollar AS, yang akan menjadi peluang katalis positif untuk perdagangan hari ini,” kata CGS International Sekuritas.
Penulis:
Erika KurniaEditor:
Agnes TheodoraPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra