Bisa Bangun Kapal Selam Bertenaga Nuklir, Pertahanan Korsel ”Naik Kelas”

AS memberikan lampu hijau bagi Korsel untuk membangun kapal selam bertenaga nuklir. Izin diberikan setelah Korsel menanamkan modal di AS hingga 500 miliar dollar AS.

30 Okt 2025 09:55 WIB · Internasional

AP /U.S. NAVY/MASS COMMUNICATION SPECIAL

Oleh Iwan Santosa

GYEONGJU, KAMIS — Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan izin bagi Korea Selatan untuk membangun kapal selam bertenaga nuklir. Langkah dramatis ini membuat Korsel masuk ke ”klub kecil” negara-negara yang memiliki kapal semacam ini.

Trump mengumumkan lampu hijau bagi Seoul pada Kamis (30/10/2025) setelah AS-Korsel mencapai kesepakatan dagang besar. ”Saya telah memberikan izin untuk membangun sebuah kapal selam bertenaga nuklir daripada kapal selam bertenaga diesel yang mereka miliki saat ini,” tulis Trump melalui Truth Social.

Para pendahulu Presiden Korsel Lee Jae Myung ingin membangun kapal selam bertenaga nuklir, tetapi AS menentang gagasan ini selama beberapa dekade. Kapal selam bertenaga nuklir itu nantinya akan dilengkapi senjata konvensional yang secara signifikan akan mengurangi beban militer AS.

”Kami tidak mengusulkan pembangunan kapal selam dengan senjata nuklir, tetapi kapal selam bertenaga diesel kami kalah kemampuan untuk menjejak kapal selam Korea Utara ataupun China,” kata Lee kepada Trump.

Kesepakatan AS-Korsel soal kapal selam dicapai dalam pertemuan tingkat tinggi Trump dengan Lee di Gyeongju, Korsel, Rabu (29/10/2025). Selain pembuatan kapal selam bertenaga nuklir, Trump mengatakan, Seoul setuju membeli minyak dan gas AS dalam jumlah besar.

Lee juga meminta izin AS agar Korsel dapat memproses ulang bahan bakar nuklir. Seoul dilarang memproses ulang bahan bakar nuklir tanpa persetujuan AS, berdasarkan perjanjian nuklir kedua negara, meskipun Korsel memiliki reaktor nuklir untuk menghasilkan listrik.

President Donald Trump shakes hands with South Korean President Lee Jae Myung as he receives a gift of a gold crown and an award of the Grand Order of Mugunghwa, not seen, during a high honor ceremony at the Gyeongju National Museum in Gyeongju, South Korea, Wednesday, Oct. 29, 2025. (AP Photo/Mark Schiefelbein)

Kementerian Perindustrian Korsel mengatakan, belum ada diskusi terperinci tentang pembangunan kapal selam itu. Menurut Trump, kapal akan dibangun di galangan kapal Philly di Philadelphia, AS. Galangan kapal ini dibeli oleh galangan kapal Hanhwa Korsel pada September 2024. Tidak dijelaskan kapan proyek strategis itu dimulai dan bagaimana jadwal kerjanya.

Korsel memiliki industri pembuatan kapal yang canggih. Meski demikian, Trump tidak menjelaskan dari mana teknologi propulsi untuk kapal selam bertenaga nuklir itu berasal. Saat ini, teknologi itu hanya dimiliki segelintir negara.

Teknologi kapal selam nuklir AS dianggap salah satu yang terbaik dan sangat dirahasiakan. AS telah bekerja sama dengan Australia dan Inggris dalam kerangka AUKUS untuk sebuah proyek kapal selam bertenaga nuklir bagi Australia.

Proyek itu melibatkan transfer teknologi dari AS. AS belum pernah melakukannya selama ini. Sejauh ini, AS baru berbagi teknologi tersebut dengan Inggris pada 1950-an.

The USS Vermont (SSN-792), a US Virginia-class nuclear-powered attack submarine, arrives at HMAS Stirling naval base in Perth on October 29, 2025. The USS Vermont arrived for a Submarine Maintenance Period (SMP), marking progress under the AUKUS partnership towards establishing the Submarine Rotational Force–West. (Photo by Antony DICKSON / AFP)

Pertanyaan

Direktur Eksekutif Asosiasi Pengendalian Senjata Daryl Kimball mengatakan, keberadaan kapal selam bertenaga nuklir dalam persenjataan Korsel menimbulkan banyak pertanyaan.

”Sebagaimana kesepakatan AUKUS, (Korea Selatan) kemungkinan sedang mencari layanan propulsi nuklir yang sesuai untuk kapal selam, termasuk bahan bakarnya, dari AS,” ujarnya.

Kimball mengatakan, kapal selam semacam itu biasanya menggunakan uranium yang diperkaya tinggi. Untuk itu, diperlukan ”rezim pengamanan baru yang sangat kompleks” dari Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), yang memiliki peran kunci dalam mengimplementasikan perjanjian nonproliferasi senjata nuklir (NPT).

”Secara teknis dan militer, Korea Selatan belum perlu memperoleh teknologi untuk mengekstrak plutonium yang dapat digunakan untuk senjata dari bahan bakar bekas, atau untuk memperoleh kemampuan pengayaan uranium, yang juga dapat digunakan untuk memproduksi senjata nuklir,” kata Kimball.

”Jika Amerika Serikat ingin mencegah proliferasi senjata nuklir di seluruh dunia, pemerintahan Trump harus menolak tawaran tersebut dari sekutunya, sekuat upayanya untuk mencegah akses musuh ke teknologi dwiguna ini.”

Jenny Town, yang mengepalai 38 North, kelompok penelitian yang berfokus pada Korea di Washington, mengatakan, tidak dapat dielakkan bahwa tuntutan Korsel akan kerja sama AS dalam isu nuklir akan meningkat. Ini mengingat tuduhan baru-baru ini tentang kerja sama teknis Rusia untuk membantu Korea Utara yang bersenjata nuklir membuat kemajuan dalam memperoleh kapal selam bertenaga nuklir.

Foto ini diambil pada 30 Juni 2019 dan dirilis oleh Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) resmi Korea Utara pada 1 Juli 2019 menunjukkan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un (kiri) bersalaman dengan Presiden AS Donald Trump di Jalur Demarcation Militer yang membagi Korea Utara dan Selatan, di Wilayah Keamanan Bersama (JSA) Panmunjom di zona Demiliterisasi (DMZ).

Pakar kajian Korea Utara di Universitas Kyungnam, Kim Dong-yup, menyatakan, KTT AS-Korsel berhasil menjamin transaksi ekonomi dan keamanan untuk memperkuat daya tangkal dan persekutuan Korsel.

”Korsel menanam modal dan AS memberikan kapal selam bertenaga nuklir. Ini adalah komersialisasi perdamaian. Masalahnya adalah menjaga keseimbangan antara menguatnya kepentingan AS dan melemahnya kemandirian di Semenanjung Korea,” kata Kim.

Terkait perdamaian di Semenanjung Korea, Trump mengatakan, dia gagal mengatur pertemuan dengan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dalam kunjungan ke Korsel kali ini.

Sebelumnya beredar spekulasi Trump akan bertemu dengan Kim dalam kunjungan di Korsel.

Hidangan penutup pada jamuan makan siang Trump diberi tulisan ”Peace” atau ”Damai”. Hal itu, menurut Istana Kepresidenan Korsel, untuk mempertegas pertemuan Trump dan Kim sebagai juru damai dan menciptakan perdamaian di Semenanjung Korea.

Namun, ketegangan dengan Korea Utara yang memiliki senjata nuklir tetap terjadi. Korut memperkuat hubungan militer dan ekonomi dengan Rusia.


Kerabat Kerja

Penulis:

Iwan Santosa
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan