TAJUK RENCANA

Trump, ”Berkah” untuk China

Berbeda dari Presiden Trump yang semakin menuntut, Presiden Xi selalu mengemukakan perhatian pada isu stabilitas serta sikap saling menghormati dan saling percaya.

31 Jan 2026 07:00 WIB · Tajuk Rencana

AFP/ANDREW CABALLERO-REYNOLDS

Oleh Redaksi

Ketika teman berulah, sesekali perlu berjarak dengannya. Tidak untuk menjauhinya, tetapi menegaskan, perundungan tidak memiliki tempat di antaranya.

Setidaknya, dalam dua bulan terakhir, sikap tersebut kuat ditunjukkan oleh mitra-mitra dekat Amerika Serikat terhadap Washington. Arogansi dan tekanan Presiden AS Donald Trump terhadap mitra-mitra tradisional AS membuat mereka ”berpaling” ke China.

Sejak Desember 2025, berturut-turut Presiden Perancis Emmanuel Macron, Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung, Perdana Menteri Kanada Mark Carney, dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengunjungi Beijing. Mereka bertemu dengan Presiden China Xi Jinping.

China's President Xi Jinping (L) and France's President Emmanuel Macron greet children waving Chinese flags and holding up flowers during a welcome ceremony at the Great Hall of the People in Beijing on December 4, 2025. (Photo by Sarah Meyssonnier / POOL / AFP)
China's President Xi Jinping (R) and Britain's Prime Minister Keir Starmer shake hands before their meeting at the Great Hall of the People in Beijing on January 29, 2026. China's President Xi Jinping told Britain's Prime Minister Keir Starmer their countries must "strengthen" ties to counter geopolitical headwinds, as the leaders met in Beijing on January 29. (Photo by Carl Court / POOL / AFP)

Setidaknya ada tiga hal yang menjadi garis merah yang mendorong pertemuan itu terjadi. Pertama, situasi ketidakpastian. Kedua, tekanan perdagangan akibat kebijakan tarif Trump. Ketiga, tanggung jawab politik untuk meningkatkan pertumbuhan domestik. Bukan perkara mudah menavigasi ketiga perkara itu ketika situasi global kian tak terprediksi.

Sebagai kekuatan ekonomi kedua terbesar di dunia, China adalah tempat untuk berpaling. Sebagai kompetitor AS sekaligus mendapat tekanan serupa terkait tarif, China menjadi pilihan pragmatis yang relatif paling lentur.

Berbeda dari Trump yang semakin menuntut, kepada Macron, Carney, Starmer, dan Lee, Presiden Xi selalu mengemukakan perhatian pada isu stabilitas serta sikap saling menghormati dan saling percaya. Wujud konkret pada kesepahaman atas perkara itu adalah tercapainya kesepakatan dagang dan kerja sama berkelanjutan.

Britain's Prime Minister Keir Starmer (L) and Chinese Premier Li Qiang (2nd-R) applaud during a signing ceremony held at the Great Hall of the People in Beijing on January 29, 2026. Chinese President Xi Jinping told Starmer their countries must "strengthen" ties to counter geopolitical headwinds, as the leaders met in Beijing on January 29. (Photo by Kin Cheung / POOL / AFP)

Terkait hal itu, Starmer mengatakan, sudah saatnya membangun hubungan yang ”dewasa” dengan China. Bagi London, praksis dari sikap itu adalah memulihkan hubungan dagang kedua negara sekaligus memperdalam kerja sama ekonomi.

Bagaimanapun, Inggris tidak akan mengabaikan besarnya nilai perdagangan kedua negara yang pada 2025 tercatat mencapai 103,7 miliar dolar AS. Bagi Starmer, China saat ini adalah pemain vital di panggung global. Kemampuan dan kapasitas negeri itu penting bagi Inggris.

Sebagaimana disebutkan, di tengah situasi global yang dibayangi ketidakpastian dan kian tidak terprediksi, Inggris membutuhkan kemitraan yang lebih terjaga, konsisten, komprehensif, dan setara. Kerja sama perdagangan dan ekonomi menjadi pilihan lantaran lebih menguntungkan bagi para pihak dan ”tidak mengancam”.

Greenland: Area Kunci Arktik

Meski demikian, Inggris tidak melepaskan begitu saja hubungan baik mereka dengan AS. Bagaimanapun, London dan Washington adalah mitra dekat. Kepentingan global mereka, terutama geopolitik, pertahanan, dan keamanan, belum dapat digantikan oleh platform lain.

Dalam isu Ukraina-Rusia, di mana Beijing tidak mengecam invasi Moskwa atas Kyiv, negara-negara Eropa tetap menjaga relasi dengan AS dalam Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Demikian pula dalam isu Greenland. Meskipun Eropa gerah dengan polah tingkah Trump, mereka tidak ingin kerja sama pertahanan itu runtuh. Demikian pula di Asia. AS, Jepang, dan Korea Selatan tetap memelihara, bahkan memperkuat, kerja sama pertahanan mereka.

Dalam konteks ini, Eropa dan Kanada mencoba membangun keseimbangan sekaligus membuat ”tekanan” balik kepada AS. Kemarahan Trump dan kritiknya pada langkah Inggris, terutama Kanada, memperlihatkan bahwa ia tersentil. Tentu tidak semudah membalik telapak tangan jika berharap Trump segera mengubah kebijakannya. Namun, penting untuk menyatakan, perundungan tidak boleh dibiarkan terjadi.

President Donald Trump, right, meets with NATO Secretary General Mark Rutte during a meeting on the sidelines of the Annual Meeting of the World Economic Forum in Davos, Switzerland, Wednesday, Jan. 21, 2026. (AP Photo/Evan Vucci)


Kerabat Kerja

Penulis:

Redaksi
 | 

Editor:

Andreas Maryoto, Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

FX Sukoto