Trump Tak Menepis Kemungkinan AS Akan Resesi

Bagi Trump, keresahan pasar sekadar masa transisi untuk mengembalikan kejayaan industri AS.

10 Mar 2025 10:49 WIB · Internasional

Oleh Laraswati Ariadne Anwar

WASHINGTON DC, SENIN — Wilayah Amerika Utara masih dibayang-bayangi ketidakpastian akibat kebijakan tarif Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Meski demikian, Trump tidak menepis kemungkinan bahwa kebijakan tarif yang dikenakannya kepada China, Kanada, dan Meksiko akan berujung membawa AS ke dalam resesi.

Dalam wawancara pada acara Sunday Morning Futures di Fox News yang ditayangkan Minggu (9/3/2025) waktu setempat atau Senin (10/3/2025) waktu Indonesia, Trump menyampaikan adanya penangguhan penerapan tarif impor 25 persen atas Kanada dan Meksiko hingga 2 April 2025.

Trump beralasan ingin membantu produsen otomotif AS. Lewat 2 April, tarif bersifat saling berbalas di antara Kanada dan Meksiko dengan AS. Sejatinya, Trump menerapkan tarif pekan lalu, tetapi menangguhkan begitu Kanada menetapkan tarif balasan. Meksiko belum mengumumkan tarif balasan, tetapi mereka mengatakan sudah menyiapkan daftar.

Perusahaan-perusahaan otomotif AS, antara lain Stellantis, General Motors, dan Ford, meminta kepada Trump untuk memberi mereka waktu. Kanada dan Meksiko adalah tempat pabrik-pabrik otomotif jenama AS berada.

Gara-gara tindakan Trump menerapkan lalu menangguhkan tarif, bursa saham menjadi tidak stabil. Perusahaan-perusahaan terdaftar di S&P 500 mengalami penurunan nilai saham hingga 2 persen. Meskipun begitu, Trump menolak mengatakan AS memasuki masa resesi.

”Saya tidak suka memperkirakan hal-hal demikian. Kita ini sedang memasuki masa transisi. Kita akan mengembalikan kejayaan AS,” ucap Trump.

A woman walks next to fruits and vegetables for sale in a supermarket in Mexico City on March 4, 2025. US President Donald Trump could announce a compromise tariff arrangement with Canada and Mexico on March 5, 2025, his commerce secretary said in an interview, shortly after sweeping 25-percent levies went into effect. (Photo by Yuri CORTEZ / AFP)

Trump juga tidak mau menjawab keresahan perusahaan-perusahaan AS yang meminta kejelasan peta ekonomi. Menurut dia, para pelaku bisnis dan industri bisa beradaptasi dan akan baik-baik saja.

Trump menyalahkan Kanada dan Meksiko atas masuknya narkoba jenis fentanil ke AS. Kanada membantah soal itu karena hanya 0,1 persen fentanil yang beredar di AS diselundupkan dari Kanada. Sebagai itikad baik, Kanada menunjuk utusan khusus urusan keamanan perbatasan dan menambah biaya pemantauan perbatasan sebesar 1,3 miliar dollar Kanada.

Terlepas dari itu, Trump tetap mengumumkan tarif tambahan atas Kanada. Tarif 25 persen atas baja dan aluminium akan diterapkan per Rabu (12/3/2025) dan tarif atas kayu gelondongan aktif per 2 April.

Sementara itu, saat diwawancara oleh NBC, Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick mengatakan warga AS tidak perlu khawatir akan terjadi resesi. ”Begitu penyelundupan fentanil diatasi oleh Meksiko dan Kanada, tarif juga akan diselesaikan,” ujarnya.

Pada intinya, bagi pemerintahan Trump, tarif ini merupakan alat yang dipakai bukan untuk perang dagang, melainkan perang narkoba. Jika Meksiko dan Kanada bisa menghentikan penyelundupan narkoba, tarif bisa dirundingkan kembali.

Meksiko berunding

Di Mexico City, Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum mengumumkan bahwa dirinya sudah menelepon Trump guna membicarakan soal tarif. Tanpa mengungkapkan isi pembicaraannya, Sheinbaum mengatakan bahwa diplomasi bisa mengatasi semua.

”Memang, sejarah Meksiko-AS diwarnai konflik, tetapi lebih banyak diwarnai oleh persahabatan dan kerja sama,” ujarnya.

Walaupun begitu, Sheinbaum mengatakan Meksiko tidak akan menggadaikan kedaulatan mereka. Meksiko tetap menyiapkan daftar barang-barang yang dikenai tarif balasan kalau-kalau perundingan dengan Trump memberi hasil negatif.

A cargo ship full of  containers docks at the Port of Los Angeles on March 5, 2025, in San Pedro, California, one day after US President Donald Trump initiated sweeping tariffs on Canada, Mexico and China. Consumer items ranging from avocados and strawberries to electronics and gasoline look poised for price hikes in the wake of President Donald Trump's tariffs on Mexico, Canada and China. "The consumer will likely see some price increases over the next couple of days," Target Chief Executive Brian Cornell said this week. (Photo by Frederic J. BROWN / AFP)

Di Kanada, PM Justin Trudeau juga bersiap memberikan tarif balasan. Selain itu, juga ada tindakan balasan nontarif, salah satunya dengan tidak menjual produk-produk AS di pasar Kanada. Minuman beralkohol, makanan dalam kemasan, dan mainan anak ditarik dari pusat-pusat perbelanjaan.

”Kami tak mau melakukannya, tetapi AS telah bertindak tidak sebagai tetangga yang baik,” kata Trudeau.

Melukai pasar

Tarik ulur tarif oleh Trump dikritik banyak pihak. Senator Adam Schiff dari California berbicara kepada ABC, petani dan pekerja di pabrik otomotif sangat rentan terluka dengan perilaku bagaikan yoyo. Pasar tanpa kepastian membuat dunia usaha merugi.

Ekonom Moody’s, Mark Zandi, kepada CNN mengatakan, ini pertama kali pasar tidak stabil dan semua orang gugup. ”Jika tingkat kepercayaan turun dalam tiga bulan ke depan dan konsumen menolak berbelanja, habislah semua,” ujarnya.

Di situs Council of Foreign Relations edisi 11 Februari 2025, mantan deputi wakil perdagangan AS, John Veroneau, menjelaskan bahwa Trump salah strategi ataupun sasaran. Tarif bukan solusi dari menurunnya industri di AS.

Industri AS stagnan, bahkan surut, karena kebijakan perekonomian yang salah dalam pengadaan bahan baku. Selain itu, juga perlu reformasi di dalam pengembangan dan penyaduran teknologi praktis. Tarif bukan solusi dari persoalan pencurian dan pembajakan hak cipta.

”Defisit perdagangan AS juga tidak langsung bisa diatasi dengan tarif. Fiskal kita yang harus dibenahi,” tulis Veroneau. (AP/REUTERS)

Catatan Redaksi: Artikel ini diubah judulnya agar lebih sesuai konten.


Kerabat Kerja

Penulis:

Laraswati Ariadne Anwar
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji