PERANG TIMUR TENGAH

Trump Bingung Akhiri Perang, Iran Janjikan Perang Habis-habisan

Trump mengatakan, perang bisa segera diakhiri. Namun, ia juga memberi sinyal bakal menggempur Iran lebih keras. Sementara Iran bertekad tak akan menyerah.

10 Mar 2026 10:30 WIB · Internasional

AP/Mark Schiefelbein

Oleh Luki Aulia

WASHINGTON, SENIN — Operasi militer Amerika Serikat di Iran sebenarnya bisa saja segera berakhir karena AS sudah menang banyak. Setidaknya itu keyakinan Presiden AS Donald Trump. Akan tetapi, AS akan tetap lanjut perang sampai Iran benar-benar kehilangan kemampuan untuk melawan dan bangkit.

Tidak jelas apa indikator kemenangan AS itu karena Iran terus gencar melawan seusai terpilihnya pemimpin tertinggi yang baru, Mojtaba Khamenei. Bahkan, Iran menjanjikan tidak akan mundur karena sudah siap berperang dengan AS dalam waktu lama.

Pernyataan Trump yang tidak jelas dan sering berubah membuat pasar bergejolak. Harga minyak melonjak dan pasar saham anjlok, lalu naik lagi. ”Ini akan selesai dengan cukup cepat. Kita sudah menang dalam banyak hal, tetapi belum cukup menang,” kata Trump, Senin (9/3/2026).

Trump juga mengatakan, AS akan menyerang Iran lebih dahsyat lagi jika Iran memblokir pasokan minyak ke pasar global. ”Saya tidak akan membiarkan rezim teroris menyandera dunia dan mencoba menghentikan pasokan minyak dunia. Jika Iran melawan lagi, mereka akan dihantam lebih keras lagi,” ujarnya.

Sampai sejauh ini, AS mengklaim sudah menyerang sedikitnya 5.000 target selama 10 hari. Di antara target tersebut terdapat lebih dari 50 kapal Iran. Target lainnya termasuk sistem pertahanan udara, lokasi rudal balistik, manufaktur rudal dan pesawat nirawak, serta komunikasi militer.

Api berkobar di sebuah depot minyak di ibu kota Iran Teheran. Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari, memicu pembalasan cepat oleh republik Islam yang menanggapi dengan serangan rudal di seluruh wilayah.

Tak takut dengan ancaman Trump, Garda Revolusi Iran berbalik mengancam AS dengan mengatakan, bukan AS yang menentukan kapan perang akan berakhir, melainkan Iran. Penasihat Kebijakan Luar Negeri untuk Kantor Pemimpin Tertinggi Iran Kamal Kharazi saat diwawancarai CNN juga menegaskan, Iran sudah siap perang dalam waktu lama dengan AS. Untuk saat ini, Iran menolak upaya diplomasi.

Perang hanya akan berakhir melalui penderitaan ekonomi. Iran akan terus menyerang AS dan fasilitas AS di Timur Tengah sampai mereka akhirnya campur tangan untuk menjamin AS menghentikan serangannya ke Iran. ”Perang ini sudah berdampak pada tekanan ekonomi negara lain, seperti inflasi dan kekurangan energi. Jika tekanan meningkat, negara lain mau tak mau harus ikut campur tangan,” ujarnya.

Guru besar sejarah Iran di Universitas St Andrews di Skotlandia, Ali Ansari, mengingatkan, Mojtaba Khamenei adalah tokoh garis keras yang selama ini sudah terlibat dalam semua bentuk penindasan di Iran yang terjadi selama 15-16 tahun terakhir.

Ali Vaez dari lembaga kajian International Crisis Group juga mengatakan, Iran sengaja memilihnya untuk mengirim pesan menantang ke Trump bahwa sikap dan tindakan Iran terhadap AS tidak akan pernah berubah.

Serangan Iran telah mengeksploitasi kerapuhan perdagangan energi global, termasuk infrastruktur dan jalur transit. Lalu lintas maritim melalui Selat Hormuz hampir runtuh, dengan harga minyak mentah melonjak melewati 100 dolar AS per barel.

Menurut data historis dari Rapidan Energy Group, diperkirakan 20 persen pasokan minyak dunia telah terganggu oleh perang di Timur Tengah, kira-kira dua kali lipat dari rekor selama Krisis Suez pada 1956-1957.

Perang ini tidak hanya mengganggu aliran minyak keluar dari wilayah tersebut, tetapi juga menghapus ”kapasitas cadangan” yang biasanya berfungsi sebagai peredam guncangan di pasar energi. Kapasitas cadangan mengukur seberapa banyak produksi minyak yang dapat dengan cepat diaktifkan kembali jika diperlukan.

Perang habis-habian

Iran bertaruh bisa bertahan lebih lama daripada AS-Israel dengan mengubah perang menjadi konteks ketahanan yang brutal. Strategi Iran jelas: melepaskan pesawat nirawak dan rudal, memutus jalur energi penting, dan mengguncang pasar global cukup keras untuk memaksa AS menyerah duluan. Terlepas dari serangan AS-Israel dan kehilangan tokoh-tokoh penting, Iran tetap masih kuat melawan.

Iraqis hold a portrait of the Ayatollah Mojtaba Khamenei to support his selection as the new Iran's Supreme Leader in Baghdad, Iraq, Monday, March 9, 2026. (AP Photo/Hadi Mizban)

”Bagi Iran, mereka sedang berperang untuk mempertahankan eksistensi. Merasa merasa kelangsungan hidup mereka sendiri dipertaruhkan. Ini perang habis-habisan dan mereka bersedia menghancurkan segalanya,” kata Fawaz Gerges dari London School of Economics.

Peneliti di Middle East Institute dan ahli politik Iran, Alex Vatanka, menambahkan, Iran seperti binatang yang sedang terluka dan berdarah hebat dan itu yang membuatnya jauh lebih berbahaya dari sebelumnya. Pola pikir ”perang habis-habisan” itulah yang membuat Iran gencar menyerang aset AS di seluruh Teluk dan menyasar pusat-pusat energi mulai dari Qatar sampai Arab Saudi.

Pola serangan itu memaksimalkan gangguan ekonomi. Iran juga percaya diri siap perang panjang dengan AS meski, kata AS, mayoritas persenjataan Iran sudah dihancurkan. Iran diduga masih punya banyak persenjataan dan masih bisa meluncurkan rudal selama beberapa minggu lagi.

Sumber-sumber di dalam Iran mengaku, situasi di dalam negeri juga tidak bergejolak seperti harapan AS-Israel. Belum ada tanda-tanda protes, pembelotan elite, atau keretakan dalam pemerintahan. Kehidupan terus berjalan seperti biasa. Pertokoan dan bank tetap buka, pasokan kebutuhan hidup masih tersedia, dan mayoritas penduduk belum meninggalkan Teheran.

Warga dan pekerja penyelamat mencari korban setelah pengeboman di sebuah bangunan di Lapangan Enghelab Teheran pada Rabu (4/3/2026).

Bagi para ahli strategi di kedua pihak, perang ini semakin didefinisikan oleh dua ujian ketahanan paralel, yakni apakah Iran dapat terus menembakkan rudal dan apakah AS-Israel dapat menanggung biaya ekonomi, militer, dan politik untuk menghentikannya.

Pertanyaan besarnya adalah, siapa yang akan menyerah lebih dulu dalam perang habis-habisan ini, Trump atau Iran? Di bawah tekanan seperti ini, Trump pada akhirnya dapat mencari jalan keluar dengan menyatakan kemenangan dengan alasan Ali Khamenei sudah terbunuh, sedangkan kemampuan rudal dan nuklir serta infrastruktur militer Iran sudah dihancurkan.

Namun, bagi Teheran, bertahan hidup saja sudah cukup. Sekalipun sebagian besar infrastruktur strategisnya hancur, kepemimpinan Iran dapat mengklaim kemenangan dan kelangsungan hidup melawan salah satu armada militer terbesar dalam sejarah. Dalam kondisi terluka dan berdarah, Iran mungkin saja jadi lebih sulit diprediksi dan jauh lebih berbahaya dibandingkan rezim mendiang Ali Khamenei. (REUTERS/AFP/AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Luki Aulia
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti