Memasuki hari ke-15 perang, Iran masih bertahan dan melancarkan pembalasan. Sistem kepemimpinan berbasis ulama menjadi kunci daya tahan Iran.
14 Mar 2026 18:29 WIB · Internasional
AFP
Pada Sabtu (14/3/2026), perang Amerika Serikat-Israel dengan Iran memasuki hari ke-15. Saling balas serangan terus terjadi, pertanda perang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Sejauh ini, ditekan oleh dua kekuatan militer dunia, Iran masih sanggup bertahan, bahkan mampu melakukan serangan balasan serta memaksa Washington dan Tel Aviv bekerja keras.
Padahal, sejak awal pertarungan, Iran telah kehilangan pemimpin tertingginya, Ayatollah Ali Khamenei, serta sejumlah pemimpin teras Korps Garda Revolusi Iran. Sejumlah pihak, terutama AS, merasa yakin dengan gugurnya Khamenei, Iran akan ”runtuh”.
Asisten profesor tamu di Fletcher School, Universitas Tufts, dan peneliti tamu di Middle East Centre, London School of Economics, Arash Reisinezhad, dalam artikelnya di Foreign Policy pada Selasa (10/3/2026) menulis strategi di balik serangan itu tampak sederhana. Strategi tersebut yaitu ”Singkirkan kepala Republik Islam, dan negara itu akan runtuh.”
Asumsinya, Republik Islam Iran yang dibangun dan dikelola dengan struktur kepemimpinan terpusat dan sangat terkait dengan otoritas Khamenei, diperkirakan akan ambruk, terutama setelah komando tertingginya meninggal. Banyak pihak di Washington dan Jerusalem meyakini perang mungkin akan berakhir sebelum benar-benar dimulai.
Hanya saja, strategi itu tampaknya tidak berjalan sesuai harapan. Meskipun kehilangan pemimpin tertingginya dan beberapa pejabat militer senior, mesin perang Iran belum runtuh. Bahkan, ketika AS dan Israel terus melakukan pelemahan pada kekuatan militer Iran.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/04/f128610fe75867c1e04565ef3ef0095b-20260304_H01_DMS_Rudal_Iran_mumed.png)
Pasukan Iran terus meluncurkan rudal ke target Israel dan menyerang pangkalan militer AS di seluruh wilayah. Tempo peluncuran rudal Iran mungkin mulai menurun, tetapi serangan belum berhenti. Arsenal pencegat yang ditempatkan Israel dan AS di kawasan Teluk terus terkuras demi mencegah serangan Iran.
Apa yang membuat Iran tetap memiliki kemampuan bertahan? Thomas Juneau, profesor pada Universitas Ottawa, mengatakan kepada AFP, ketahanan itu terbentuk berkat sistem berbasis ulama Iran yang telah berusia hampir setengah abad. Sistem tersebut begitu kokoh.
Sistem yang dipimpin Ayatollah Ali Khamenei tersebut, menurut Juneau, berbasis pada Islam Syiah dan permusuhan terhadap Barat. Sistem itu dikenal tangguh dan mampu menerapkan rencana darurat yang dikembangkan dengan baik.
Kemungkinan besar, sistem itu akan diadaptasi oleh putra sekaligus penerus Ayatollah Ali Khamenei, Mojtaba Khamenei. Hal itu akan membuat Garda Revolusi, sayap ideologis militer yang dibentuk untuk memastikan kelangsungan sistem dan yang pengaruhnya dirasakan di seluruh Iran, termasuk dalam perekonomian, sekaligus memiliki pengaruh yang lebih besar.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/13/b97377e3-c5fd-4497-9fea-b51a88921f82.jpg)
”Kontinuitas telah tertanam dalam sistem dan lembaga-lembaganya. Sejauh ini, tidak ada indikasi bahwa keruntuhan republik Islam akan segera terjadi,” ucap Juneau.
Sebagai tambahan, ujar Juneau, pemilihan Mojtaba sebagai penerus ayahnya merupakan indikasi bahwa kepemimpinan Iran bermaksud untuk tetap menentang ”musuh” serta tidak berniat mengompromikan nilai-nilai dasar dan kepentingan Iran.
Barbara Slavin, peneliti pada Stimson Center yang berbasis di AS, mengatakan, kepemimpinan Mojtaba Khamenei akan ”sangat bergantung pada dukungan berkelanjutan dari Garda Revolusi yang pengaruh politik dan ekonominya telah berkembang secara dramatis selama dua dekade terakhir”.
”Tidak mungkin Mojtaba akan bersedia memberikan konsesi apa pun kepada AS dan Israel, mengingat tanggung jawab mereka atas pembunuhan warga Iran dan penghancuran infrastruktur Iran,” ujar Slavin.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/13/584339d6-cda0-4df3-b868-5baad1bb6c60.jpg)
Dengan fakta perang yang ada saat ini, Torbjorn Soltvedt selaku Direktur Asosiasi pada perusahaan analisis risiko Verisk Maplecroft mengatakan, ”Konflik AS-Israel dengan Iran terjebak dalam pola berbahaya yang kemungkinan tidak akan berubah dalam waktu dekat.” Iran membalas serangan dengan caranya sendiri di wilayah tersebut. Serangan itu menyebabkan harga energi melonjak.
”Saat ini, tidak ada jalan keluar yang jelas. Meskipun terjadi serangan udara intensif dari AS dan Israel, Iran mampu menargetkan kapal dan infrastruktur energi penting dengan keteraturan yang mengkhawatirkan,” kata Soltvedt kepada AFP.
Hal itu, menurut Soltvedt, membuktikan ketangguhan rezim Iran. ”Hal ini mencerminkan kendali dan pengaruh luas yang dipegang oleh kantor pemimpin tertinggi dan faksi garis keras dalam politik dan angkatan bersenjata,” ucap Soltvedt.
Seperti diulas dalam Foreign Policy, serangan Iran pada kapal dan infrastruktur energi menunjukkan perspektif Iran terkait ketahanan dalam perang. Di saat AS dan Israel terus melakukan pelemahan pada kekuatan militer Iran, Iran justru mengelola ketahanan sebagai senjata strategis.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/03/1d1ed523-a5c6-4dde-a006-6686cd6ff9c5.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/11/623e1474-ac0c-40c8-9402-a4322b56c6a2.jpg)
Dari aspek kekuatan militer, AS dan Israel punya kekuatan militer yang mendominasi. Bagi Iran, ketahanan tidak terletak pada persaingan kekuatan militer. Teheran mengartikulasikan ketahanan dalam konflik pada cara untuk memperpanjang konflik. Tujuannya jelas, untuk membentuk kembali lingkungan strategis yang lebih luas di sekitar perang dan untuk menghasilkan tekanan di berbagai bidang, seperti pasar energi, logistik maritim, aliansi regional, dan politik domestik di AS dan para mitranya.
Dengan kata lain, strategi Iran dirancang untuk mengubah perang dari konfrontasi medan perang menjadi guncangan geopolitik-ekonomi multidimensi. Dengan begitu, secara bertahap Iran mendapatkan pengaruh meski memiliki kelemahan militer.
Situasi geografis Iran mendukung hal itu. Iran memiliki posisi strategis di sepanjang garis pantai utara Teluk Persia. Posisi Iran memberikan kedekatan dengan Selat Hormuz, perairan penting untuk aliran energi global.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/11/49e37a0ac7c985c1671fd2376daf423b-20260311_GKT_AFP_Hormuz_Oil.png)
Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati jalur air sempit ini, menjadikannya salah satu titik kritis terpenting dalam sistem energi global. Iran tidak perlu menutup Selat Hormuz secara permanen untuk memicu konsekuensi global.
Cukup dengan membuat gangguan sementara, implikasi pada perairan itu bersifat strategis, bukan sekadar ekonomi. Dampaknya bukan hanya pada kenaikan biaya asuransi, melainkan juga pada rantai pasok global.
Realitas geografis inilah yang memberi Iran keuntungan struktural dalam dinamika ketahanan konflik. Dengan begitu jelas, jika Teheran mampu mempertahankan kemampuan operasional yang cukup untuk terus menimbulkan kerugian dari waktu ke waktu, kampanye militer AS-Israel kemungkinan besar tidak akan mencapai tujuan strategisnya.
Dalam konflik semacam itu, ”senjata” yang menentukan jarang berupa sistem militer tercanggih. Keunggulan itu adalah kemampuan untuk bertahan, kemampuan untuk menahan tekanan ekonomi, politik, dan strategis dari waktu ke waktu. (AFP)
Penulis:
Helena Fransisca NababanEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Retma Wati