Trump ”Buang” Ilmuwan, Negara dan Universitas di Seluruh Dunia Siap Menampung

AS menyia-nyiakan bakat para ilmuwan kelas dunia. Berbagai negara dan universitas di seluruh dunia berlomba-lomba merekrut dan menjanjikan kebebasan akademis.

26 Mei 2025 09:11 WIB · Internasional

Oleh Luki Aulia

Ribuan ilmuwan di Amerika Serikat kehilangan pekerjaan atau dana hibah ketika Presiden AS Donald Trump memangkas pendanaan pemerintah federal untuk penelitian ilmiah. Bagi negara dan universitas di seluruh dunia, ini peluang emas. Mereka sudah siap menampung para ilmuwan AS. Setidaknya sudah ada tiga negara yang melirik, yakni Kanada, Perancis, dan Australia.

Kantor berita Associated Press, Minggu (25/5/2025), menyebutkan, Kanada memiliki program ”Canada Leads” yang diluncurkan pada April 2025. Melalui program itu, Kanada berharap bisa membina generasi ilmuwan inovator baru dengan mendatangkan peneliti biomedis pemula.

Universitas Aix-Marseille di Perancis sudah memulai program ”Tempat Aman untuk Sains” sejak Maret lalu. Dengan program itu, Perancis membuka pintu selebar-lebarnya bagi ilmuwan AS yang merasa terancam atau terhalang dalam menjalankan penelitian mereka.

In this photo provided by the University Health Network, Ontario Premier Doug Ford, center, stands with other government and UHN officials in custom hockey jerseys during the announcement of the "Canada Leads" program in Toronto on Monday, April 7, 2025. (Jacob Cote/UHN via AP)

Australia juga punya ”Program Daya Tarik Bakat Global”, April lalu, yang menjanjikan gaji kompetitif dan program relokasi. ”Ini peluang emas bagi Australia untuk bisa menarik beberapa ilmuwan terpandai AS ke sini,” kata Kepala Akademi Ilmu Pengetahuan Australia Anna-Maria Arabia.

Pemimpin redaksi jurnal Science, Holden Thorp, mengatakan, sejak Perang Dunia II, AS telah menginvestasikan dana besar untuk penelitian ilmiah di universitas dan lembaga federal. Pendanaan itulah yang kemudian mendorong AS menjadi kekuatan ilmiah terkenal di dunia. Berkat pendanaan yang besar itu pula, AS berhasil menemukan ponsel dan internet serta cara-cara baru untuk mengobati kanker, penyakit jantung, dan stroke.

Namun, itu semua berubah setelah Trump berkuasa lagi sejak Januari lalu. Trump dan pemerintahannya menganggap anggaran pemerintah federal untuk pengembangan sains sebagai pemborosan dan inefisiensi.

Oleh karena itu, mereka mengurangi jumlah staf dan ilmuwan. Pemerintah juga mengurangi dana hibah di Yayasan Sains Nasional (NSF), Institut Kesehatan Nasional (NIH), Badan Penerbangan dan Antariksa (NASA), serta lembaga-lembaga lainnya. Dana penelitian untuk beberapa universitas swasta pun dipangkas. Gedung Putih mengusulkan pemotongan anggaran NIH sekitar 40 persen dan anggaran NSF sebesar 55 persen untuk tahun depan.

”Pemerintahan Trump meninjau kembali proyek-proyek pemerintahan sebelumnya, mengidentifikasi pemborosan, dan menyelaraskan kembali pengeluaran penelitian agar sesuai dengan prioritas rakyat dan melanjutkan dominasi inovatif,” kata juru bicara Gedung Putih, Kush Desai.

Beberapa universitas telah membekukan perekrutan, memberhentikan staf, atau berhenti menerima mahasiswa pascasarjana baru. Trump juga mencabut izin Universitas Harvard untuk menerima mahasiswa internasional, Kamis (22/5/2025). Berbagai lembaga penelitian di luar negeri mulai mengkhawatirkan nasib kolaborasi yang mereka jalin dengan para ilmuwan AS. Meski demikian, ini sebenarnya peluang bagi mereka untuk merekrut ilmuwan AS.

”Ada ancaman terhadap dunia sains di AS. Sayang sekali, banyak ilmuwan berbakat yang terdampak,” kata Brad Wouters dari University Health Network, rumah sakit dan pusat penelitian medis terkenal di Kanada yang meluncurkan program perekrutan ”Canada Leads”.

Kebebasan akademis

Tidak hanya universitas di seluruh dunia yang berusaha merekrut satu sama lain, tetapi juga perusahaan teknologi dan dunia usaha. Kali ini para perekrut yang mengincar ilmuwan AS menambahkan iming-iming baru, yakni kebebasan akademis.

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengatakan, Uni Eropa (UE) ingin mengabadikan kebebasan penelitian ilmiah menjadi hukum. UE menggagas program ”Pilih Eropa untuk Sains” jauh sebelum Trump memotong anggaran penelitian.

FILE - French President Emmanuel Macron and European Commission President Ursula Von der Leyen attend the "Choose Europe for Science" event at the Sorbonne University in Paris on Monday, May 5, 2025. (Gonzalo Fuentes/Pool via AP, File)

Presiden Universitas Aix-Marseille, Perancis, Eric Berton, yang meluncurkan program ”Tempat Aman untuk Sains”, mengatakan, para ilmuwan AS yang selama ini menjadi rekan peneliti mereka sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan uang. Bukan uang semata yang dikejar, melainkan kesempatan agar mereka bisa melakukan penelitian dan mendapatkan kebebasan akademis.

Dari laporan sementara, 139 dari 300 dari aplikasi yang masuk ke ”Tempat Aman untuk Sains” berasal dari para ilmuwan yang berbasis di AS, termasuk para peneliti kecerdasan buatan dan astrofisikawan. Jumlah pendaftar yang berbasis di AS dalam putaran rekrutmen tahun ini untuk Institut Genetika, Biologi Molekuler, dan Seluler Perancis meningkat dua kali lipat dari tahun lalu.

Di Max Planck Society Jerman, jumlah aplikasi dari para ilmuwan yang berbasis di AS untuk program ”Keunggulan Lise Meitner” naik tiga kali lipat dibandingkan dengan tahun lalu. Program ini ditujukan untuk para perempuan peneliti muda. Para perekrut yang bekerja sama dengan perusahaan dan lembaga nirlaba melihat tren yang sama.

Natalie Derry, mitra pengelola Global Emerging Sciences Practice Inggris di perekrut WittKieffer, mengatakan, timnya melihat ada peningkatan 25-35 persen dalam jumlah pelamar dari AS yang menelepon untuk mencari lowongan.

Meski sudah ada penawaran yang lebih menarik di luar AS, belum tentu para ilmuwan segera berbondong-bondong pindah dan meninggalkan AS. Dari sisi universitas saja, setidaknya butuh waktu berbulan-bulan untuk meninjau aplikasi dan menyalurkan dana penelitian. Para peneliti pun belum tentu bisa mudah mengubah hidup mereka.

”Ada kendala-kendala seperti bahasa, pengaturan pengasuhan anak atau pengasuhan orang tua, dan perbedaan dalam program pensiun nasional,” kata Derry.

(FILES) Demonstrators with signs stand around the John Harvard Statue in Harvard Yard following a rally against President Donald Trump’s attacks on Harvard University at Harvard University in Cambridge, Massachusetts on April 17, 2025. US President Donald Trump's administration on Thursday revoked Harvard's right to enroll foreign students -- more than a quarter of its annual enrollment -- in a major escalation of the president's fight with one of the world's most storied universities. Trump is furious at Harvard -- which has produced 162 Nobel prize winners -- for rejecting his demand that it submit to oversight on admissions and hiring over his claims that it is a hotbed of anti-Semitism and "woke" liberal ideology. (Photo by Joseph Prezioso / AFP)

Selain itu, AS masih bisa menjalankan program-program penelitian penting meski ada pemotongan anggaran. AS dikenal sebagai salah satu negara yang memiliki dana penelitian dan pengembangan yang sangat besar.

Selama puluhan tahun, AS telah menjadi penyandang dana penelitian dan pengembangan terkenal di dunia, termasuk pemerintah, universitas, dan investasi swasta. Menurut Asosiasi Amerika untuk Kemajuan Sains, pada tahun 2023, AS mendanai 29 persen dari penelitian dan pengembangan dunia.

Kepala Max Planck Society Patrick Cramer mengatakan, sains adalah usaha global karena kumpulan data dan penemuan sering dibagikan di antara kolaborator internasional. Para peneliti di seluruh dunia akan menderita jika kolaborasi ini ditutup dan basis data dimatikan. ”Salah satu tujuan dari perekrutan para ilmuwan adalah untuk membantu mencegah hilangnya bakat bagi komunitas ilmiah global,” ujarnya.

Presiden Institut Genetika, Biologi Molekuler, dan Seluler Perancis Patrick Schulz menilai, AS selalu menjadi contoh, baik dalam hal sains maupun pendidikan. Jadi, pemotongan dana untuk penelitian ilmiah menakutkan tak hanya bagi AS, tetapi bagi seluruh dunia yang akan ikut terdampak.

Brandon Coventry, peneliti pascadoktoral yang mempelajari implan saraf di University of Wisconsin-Madison, tidak pernah membayangkan harus mempertimbangkan bekerja di luar AS. Namun, pemotongan dana federal dan pertanyaan apakah hibah baru akan terwujud sudah membuatnya semakin tidak yakin dengan masa depannya.

Meski enggan meninggalkan keluarga dan teman-temannya, ia sudah melamar di beberapa universitas di Kanada dan Perancis. ”Saya tidak pernah ingin meninggalkan AS, tetapi ini masalah serius bagi saya,” ujarnya.

Hanya, memang tidak mudah untuk memulai dan melanjutkan karier ilmiah, apalagi memulai hidup baru. Marianna Zhang mempelajari bagaimana anak-anak mengembangkan stereotip ras dan jender sebagai peneliti pascadoktoral di Universitas New York.

Akan tetapi, penelitiannya terancam ketika hibah yang diperoleh dari NSF dibatalkan. Ia merasa AS tidak lagi tertarik mempelajari bidangnya. Namun, ia tidak tahu harus berbuat apa. ”Melarikan diri dan pindah ke negara lain itu bukan solusi yang mudah,” ujarnya. (AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Luki Aulia
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .