Ilmuwan AS Pun Ikut ”Kabur Aja Dulu”

Dana penelitian dipangkas, pegawai dipecat, pemerintahan dianggap semakin otoriter. Para ilmuwan di AS pun pindah ke luar negeri.

08 Apr 2025 14:33 WIB · Internasional

Oleh Laraswati Ariadne Anwar

Fenomena ”kabur aja dulu” karena gerah dengan keadaan negara tidak hanya terjadi di Indonesia. Di Amerika Serikat, para ilmuwan melakukan hal serupa. Mereka kabur karena menganggap situasi di AS semakin tidak nyaman serta tidak mendukung penelitian dan pengembangan.

Cobaan bertubi-tubi menimpa dunia pendidikan tinggi dan litbang AS. Pekan lalu, pemerintah menghentikan sumbangan senilai 510 juta dollar AS untuk Universitas Brown. Pemotongan dana menimpa perguruan-perguruan tinggi paling elite di AS. Selain Brown, Universitas Pennsylvania, Harvard, dan Columbia mengalaminya.

Dalih pemerintah antara lain demi efisiensi. Ada tuduhan universitas-universitas menerapkan pluralisme berlebihan. Ada pula tuduhan bahwa perguruan tinggi mempromosikan pemikiran antisemit karena berunjuk rasa menentang serangan Israel ke Palestina.

Selain itu, pemerintahan Presiden Donald Trump juga mengurangi jumlah pegawai federal. Melalui Departemen Efisiensi Pemerintah (DOGE) yang dipimpin miliarder Elon Musk, mereka memecat puluhan ribu pegawai. Alasannya mengurangi biaya operasional. Berbagai pusat litbang juga dipangkas.

Walhasil, biaya operasional laboratorium dan hibah litbang turun drastis. Banyak program penelitian yang tidak bisa dilanjutkan. Para ilmuwan, baik warga AS maupun ilmuwan asing yang berkarier di Negara Paman Sam, berpikir untuk ”kabur aja dulu”.

”Saya langsung memantapkan niat pergi begitu hibah Universitas Columbia distop,” kata Jason Stanley, dosen filsafat di Universitas Yale kepada media CBS, Senin (7/4/2025) waktu setempat atau Selasa (8/4/2025) waktu Indonesia.

FILE - The Multiprogram Research Facility is seen at Oak Ridge National Laboratory June 10, 2019 in Oak Ridge, Tenn. (C.B. Schmelter/Chattanooga Times Free Press via AP, FIle)

Menurut Stanley, ketika Columbia dananya disunat, ia tahu nasib serupa akan menimpa Yale tidak lama kemudian. Stanley pun mengumumkan akan pindah ke Kanada. Ia mengatakan, AS berubah menjadi negara otoriter.

Ilmu-ilmu akan disensor dan ilmuwannya ditekan. Sebagai bentuk pemberontakan, Stanley pindah ke luar negeri dan mempraktikkan keilmuannya sekritis mungkin.

Pada 13 Maret 2025, jurnal ilmiah Nature menerbitkan hasil jajak pendapat terhadap 1.608 ilmuwan yang berkarier di AS. Terungkap, tiga dari empat responden mengatakan berniat pindah negara. Para ilmuwan ini terdiri atas peneliti di program pascadoktoral dan mahasiswa S-3.

Dari sisi negara tujuan yang paling populer, umumnya mereka memilih Kanada. Eropa berada di peringkat kedua, disusul dengan China dan negara-negara lain. Harian Inggris, The Guardian, melaporkan, berbagai lembaga litbang di Inggris kebanjiran surat lamaran kerja dari para ilmuwan yang berada di AS.

”Saya sebenarnya ingin terus tinggal di AS, tapi lembaga tempat saya meneliti dipotong dananya. Saya tidak punya pilihan selain pindah,” kata seorang responden di Nature.

Beberapa mahasiswa pascasarjana mengatakan kepada majalah Newsweek, dosen-dosen merekalah yang justru mendorong agar ke luar negeri. ”Dosen-dosen kami mengatakan ilmu tidak akan berkembang di AS. Segera cari kesempatan di negara lain,” katanya.

Memudar?

AS sejak berakhirnya Perang Dunia II menjadi pusat litbang dunia. Mereka bersaing ketat dengan Soviet, tetapi gejolak politik internal yang berakhir dengan runtuhnya negara itu menghalangi Soviet mencapai prestasi segemilang AS.

Litbang di AS juga terkenal menjaring orang-orang berbakat dari seluruh dunia. Pertemuan para ilmuwan dari berbagai latar belakang budaya, agama, etnis, dan pengetahuan ini menghasilkan ide-ide ilmiah yang inovatif. Budaya litbang di AS mendorong kreativitas dan tidak takut kegagalan karena itu modal untuk berpikir lebih jauh.

FILE - A sign welcomes visitors to a lab 4,850 feet beneath the earth, Wednesday, May 30, 2012, where the Sanford Underground Research Facility inside the now-shuttered Homestake Gold Mine in Lead, S.D., will house the world's most sensitive dark-matter detector. (AP Photo/Amber Hunt, File)

Contohnya vaksin mRNA, salah satu tumpuan peningkatan kekebalan tubuh ketika pandemi Covid-19, yang dikembangkan selama bertahun-tahun. Para ilmuwan saat menciptakan vaksin itu tidak menyangka beberapa dekade kemudian ada wabah penyakit yang menyapu dunia.

Kekuatan litbang AS tecermin dari prestasi. Sebanyak 400 orang pemenang Hadiah Nobel berasal dari negara ini. Menurut data Pusat Statistik Ilmiah dan Keinsinyuran Nasional (NCSES), di dunia ada 1,2 juta orang dengan gelar doktor di bidang teknik, kesehatan, dan ilmu alam yang lulus dari perguruan tinggi di AS.

NCSES turut mendata, 27 persen kegiatan litbang global berada di AS. China menempati posisi kedua dengan 22 persen. Akan tetapi, dari segi jenis dan mutu litbang yang dilakukan, China belum secanggih AS. Sebagai perbandingan, Jepang hanya melakukan 7 persen riset global, Jerman 6 persen, dan Korea Selatan 4 persen.

Khusus di AS, laporan Universitas Harvard menerangkan, Institut Kesehatan Nasional (NIH) saja menyediakan 408.000 pekerjaan. Kegiatan ekonomi yang dihasilkan oleh NIH bernilai 2,56 juta dollar AS. Artinya, litbang memang menggerakkan perekonomian.

Majalah bidang teknik kimia, C&En, melaporkan, sejak Februari 2025 Universitas Aix-Marseille di Perancis membuka program Tempat Aman untuk Ilmu. Mereka menginvestasikan 10-16 juta dollar AS untuk menyokong 15 peneliti.

Komisioner Litbang Parlemen Eropa, Ekaterina Zaharieva, mengatakan, Uni Eropa mempertimbangkan membuat visa khusus ilmuwan. Tujuannya agar kian banyak pemikir cerdas dari seluruh dunia datang dan bekerja mengembangkan keilmuannya di benua tersebut.

”Sukar dipercaya AS yang selama ini pusat ilmu pengetahuan berhenti berinvestasi di litbang. Akan tetapi, ini kesempatan baik bagi kita mendulang bakat-bakat global,” kata Zach Stamp, Direktur Bidang Perekrutan untuk Lembaga EPM Scientific di Inggris kepada C&En.

Health Secretary Robert F. Kennedy Jr. assists in a demonstration as he visits the Osher Center for Integrative Health at the University of Utah, Monday, April 7, 2025, in Salt Lake City. (AP Photo/Melissa Majchrzak)

Universitas Oslo di Norwegia berburu ilmuwan di bidang iklim dan transisi energi. Universitas Teknologi Eindhoven di Belanda mengincar matematikawan, insinyur mesin, dan pakar komputer. Pusat litbang independen, antara lain Max Planck di Jerman dan Institut Karolinska di Swedia, ikut berburu.

Atticus Cummings (24), mahasiswa pascasarjana AS di Barcelona, Spanyol, memutuskan tidak mau pulang apabila ia sudah lulus. Pemuda asal Negara Bagian Montana itu meneliti mengenai bahan-bahan bangunan rendah karbon dan teknik pembangunan minim emisi.

”Ilmu saya terinspirasi dari alam sekitar kampung di Montana, tapi dengan situasi begini saya tidak bisa pulang membangun kampung. Tidak ada kesempatan di AS,” keluhnya kepada New York Times.

Sejatinya, sejak 2022, para ilmuwan telah memperingatkan Washington DC tentang risiko brain drain. Ketika itu, China mengejar AS sebagai negara dengan litbang nomor dua terbanyak. Para ilmuwan mengatakan, Pemerintah AS terlena dengan status nomor satu. Padahal, di dalam litbang, lalai sedikit langsung bisa disalip.

China, Eropa, dan negara-negara lain, termasuk Qatar dan Singapura, kerap membajak ilmuwan dari AS. Mereka ditawari posisi, gaji, dan sarana penelitian lebih mentereng. Dewan Ilmiah Nasional AS (NSB) mengeluarkan beberapa rekomendasi melalui buku putih.

Selain menguatkan berbagai penelitian dasar, NSB mengungkapkan sangat penting memiliki deretan ilmuwan dari berbagai latar belakang ras, agama, dan budaya. Kemajemukan membuat suatu masalah bisa dipandang sekaligus dari berbagai sisi. Inovasi menjadi kaya dan lintas ilmu.

”Universitas dan pusat litbang harus menguatkan kerja sama dengan industri. Kita tidak bisa menghasilkan produk bernilai tambah tanpa campur tangan ilmiah,” kata anggota NSB, Julia Phillips, kepada majalah Science. (AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Laraswati Ariadne Anwar
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari