Apakah Trump akan selamanya mendukung Netanyahu secara tak terbatas? Inilah yang tak bisa dipastikan.
08 Mei 2025 09:00 WIB · Opini
Apa yang terjadi di Gaza saat ini tak bisa hanya dipahami sebagai keberlanjutan dari perang antara Hamas dan Israel sebagai akibat dari serangan paling mematikan yang dilakukan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023 lalu. Apa yang terjadi di Gaza belakangan ini sudah menjadi peperangan tersendiri, yaitu Perang Gaza Jilid II, yang dalam beberapa hal memiliki perbedaan dengan Perang Gaza Jilid I yang ”berakhir” pada 1 Maret 2025.
Sebagaimana dimaklumi, perang Gaza sempat mengalami gencatan senjata dalam waktu yang cukup panjang, 42 hari (19 Januari-1 Maret 2025). Sejatinya, gencatan senjata yang diadopsi dari gagasan mantan Presiden Amerika Serikat Joe Biden ini bisa lebih lama lagi, mengingat gagasan gencatan senjata ini memiliki tiga tahap yang berarti 42 hari kali tiga atau 126 hari. Namun karena perkembangan yang terjadi pada tahap pertama gencatan senjata ini, akhirnya gencatan senjata ini berakhir lebih cepat pada 01 Maret dan tidak diperpanjang lagi.
Pelbagai macam upaya telah dilakukan oleh para pihak untuk menyelamatkan gencatan senjata yang ada, termasuk dengan mengusung ”jenis” gencatan senjata baru yang berbeda dari gencatan senjata lama. Namun, upaya-upaya yang ada selalu gagal dan kandas. Pada 18 Maret, Israel kembali menyerang Gaza secara membabi buta. Bahkan, serangan Israel kali ini bisa dikatakan lebih ganas dibandingkan sebelumnya, sejak perang ini meletus pada 8 Oktober 2023.
Ada dua hal yang bisa dijadikan sebagai faktor sekaligus pembeda dari Perang Gaza Jilid II yang terjadi sekarang dengan Perang Gaza Jilid I. Pertama, upaya mengusir paksa warga Gaza. Inilah tujuan khusus dari Perang Gaza Jilid II yang dilakukan oleh Israel. Walaupun mungkin memiliki tujuan yang berbeda, keinginan mengusir warga Gaza tidak bisa dilepaskan dari pernyataan Presiden AS Donald Trump ketika bertemu Netanyahu di Gedung Putih beberapa hari setelah Presiden Trump dilantik sebagai Presiden AS pada 20 Januari 2025 lalu. Dengan begitu jelas dan tegas, Presiden Trump saat itu menyatakan akan mengambil alih Gaza, mengungsikan warga Gaza ke luar, dan menjadikan Gaza sebagai Riviera Timur Tengah, semacam kota pantai yang indah.
Gagasan Trump untuk mengungsikan warga Gaza mendapatkan penolakan dari banyak pihak, mulai dari warga Gaza-Palestina sendiri hingga negara-negara yang selama ini menjadi sekutu AS, terutama negara-negara di sekitar Palestina, seperti Mesir dan Jordania. Presiden Trump tidak begitu jelas menerangkan maksud dari pernyataannya di atas. Bahkan dalam satu kesempatan, Presiden Trump menegaskan bahwa tidak ada yang bermaksud mengusir paksa warga Gaza (12/3/2025).
Tampaknya, Netanyahu tidak ingin kehilangan momentum bersejarah yang diberikan oleh Trump dalam bentuk kebijakan yang tak terbatas untuk Israel. Terlebih lagi, perang membabi buta yang dilakukan Netanyahu dalam dua tahun berjalan ini sempat berhasil ”mengusir paksa” warga Gaza yang akhirnya mereka kembali berduyun-duyun ke rumah mereka setelah gencatan senjata tercapai pada 19 Januari lalu. Dalam hemat penulis, inilah tujuan Perang Gaza Jilid II yang tak dimiliki oleh Perang Gaza Jilid I.
Sebagaimana pernah disampaikan oleh para pejabat tinggi Israel, Perang Gaza Jilid I memiliki tujuan untuk membebaskan warga Israel yang disandera oleh Hamas dalam serangan 7 Oktober 2023. Perang Gaza Jilid I juga bertujuan menghancurkan Hamas. Bahkan sebagian pejabat tinggi Israel juga menyebut tujuan perang yang dilakukan untuk membersihkan Gaza, dan Palestina secara umum, dari anasir kelompok radikal atau teroris versi Israel.
Selama peperangan berlangsung, Israel bisa dikatakan gagal mewujudkan tujuan perangnya di atas. Faktanya, hampir semua warga Israel yang disandera oleh Hamas gagal dibebaskan secara langsung oleh kebijakan perang Israel. Kebanyakan sandera dibebaskan dalam gencatan senjata. Israel juga gagal menghancurkan Hamas, alih-alih membebaskan Gaza atau Palestina dari kelompok perlawanan yang oleh Israel disebut sebagai teroris.
Apa yang diperlihatkan oleh Hamas pada masa gencatan senjata menjadi bukti kegagalan Israel dalam mewujudkan ambisi perang yang dilakukan. Melalui pelbagai macam ”perayaan” pertukaran sandera, Hamas memperlihatkan ke dunia bahwa Israel gagal total mewujudkan tujuan perangnya; sandera tidak bisa dibebaskan oleh pasukan Israel melalui kebijakan perang, Hamas tetap berjaya dengan senjata dan pakaian lengkapnya, dan kelompok perlawanan tetap memenuhi Palestina. Inilah yang penulis sebut di awal tulisan sebagai perkembangan yang terjadi pada tahap awal gencatan senjata dan membuat gencatan yang ada berakhir lebih cepat. Terlebih lagi, Netanyahu terikat janji dengan kelompok kanan untuk melanjutkan perang kembali setelah gencatan senjata tahap awal selesai.
Kedua, peran Trump dan dukungannya yang tak terbatas terhadap Israel. Inilah faktor kedua yang membuat perang Gaza kali ini tak hanya bisa dipahami sekadar keberlanjutan dari perang Gaza yang terjadi akibat serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 lalu. Trump sangat berbeda dengan mantan Presiden AS, Joe Biden, yang masih memberikan beberapa catatan dalam dukungan besarnya kepada Israel. Mulai dari catatan terkait penggunaan senjata hingga visi kemenangan Israel yang harus dalam kerangka solusi dua negara; Israel dan Palestina. Sementara Trump selama ini acap memberikan dukungan tanpa batas kepada Israel.
Inilah yang membuat Netanyahu lebih mendukung Trump untuk memenangi Pilpres AS 2024 ketimbang Kamala Harris. Sebagai bentuk dukungan nyata terkait upaya pemenangan Trump, Netanyahu menggunakan strategi yang penulis sebut sebagai ”jebakan pasir isap”; menjebak Biden-Harris antara keharusan mendukung Israel di satu sisi, dan menolak Genosida Israel yang juga bisa dipahami sebagai pro-Palestina di sisi yang lain.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/03/68425ae6c1dc0498c8e636b7afe0fafd-YEMEN_US_ISRAEL_PALESTINIAN_CONFLICT_129436646.jpg)
Strategi ini dijalankan oleh Netanyahu dengan langkah taktis maju mundur dalam pelbagai macam perundingan gencatan senjata yang didorong oleh Joe Biden. Hingga akhirnya pernyataan dan sikap politik Joe Biden-Harris terkait perang Gaza selalu menjadi blunder yang membuat popularitas dan elektabilitasnya mengalami penurunan dari waktu ke waktu. Hingga akhirnya Trump benar-benar menjadi pemenang Pilpres AS 2024.
Gencatan senjata yang berhasil dicapai dan diberlakukan pada 19 Januari 2025 juga tidak terlepas dari faktor Trump. Terlebih lagi, Trump sudah telanjur menyatakan secara terbuka bahwa gencatan senjata harus tercapai sebelum dilantik menjadi Presiden AS pada 20 Januari 2025. Bahkan tak jarang Trump menggunakan ancaman neraka manakala gencatan senjata tidak tercapai sebelum pelantikan dirinya sebagai Presiden AS.
Oleh karena itu, ketika sekarang terjadi Perang Gaza jilid II, maka sesungguhnya hal ini tidak bisa dilepaskan dari tanggung jawab Trump. Trump-lah yang menyampaikan gagasan terkait mengungsikan warga Gaza, sebagaimana Trump pula yang memberikan dukungan tak terbatas kepada Israel, termasuk menganulir kebijakan mantan Presiden Joe Biden yang melarang pengiriman senjata-senjata berat ke Israel.
Apakah Trump akan selamanya mendukung Netanyahu secara tak terbatas? Inilah yang tak bisa dipastikan. Terlebih lagi Trump memiliki karakter ”pebisnis” dengan semangat bertransaksi sebagai upaya mendapatkan keuntungan. Dalam perkembangan terbaru, Trump menyatakan bahwa perang Gaza akan segera berakhir. Pernyataan ini disampaikan setelah Trump kembali bertemu dengan Netanyahu awal bulan lalu (7/4/2025). Bulan depan Trump direncanakan akan berkunjung ke beberapa negara di Timur Tengah. Semua ini bisa menjadi faktor kuat bagi Trump untuk menekan Netanyahu agar kembali ke meja perundingan dan melakukan gencatan senjata sebagai cara membebaskan para sandera.
Semua perkembangan yang ada sangat mungkin membuat Perang Gaza Jilid II yang ditargetkan mengusir paksa warga Gaza berakhir secara lebih cepat. Terlebih lagi gagasan usir paksa warga Gaza terus mendapatkan penolakan dari masyarakat dunia. Bahkan belakangan Trump sendiri tampak tidak memaksakan gagasan tersebut.
Hasibullah Satrawi, Pengamat politik Timur Tengah dan dunia Islam
Penulis:
Hasibullah SatrawiEditor:
Johanes Waskita UtamaPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul