Saat negosiasi gencatan senjata tahap kedua antara Hamas dan Israel baru dimulai, Trump melontarkan rencana mengejutkan: AS ingin mengambil alih dan menguasai Gaza.
05 Feb 2025 13:11 WIB · Internasional
WASHINGTON DC, RABU — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan, AS ingin mengambil alih Jalur Gaza dan membangun kembali enklave itu setelah warga Palestina dipindahkan keluar. Wilayah itu akan dibangun menjadi kawasan mewah dan menarik, seperti pantai Riviera di Perancis tenggara.
Pernyataan tanpa penjelasan detail itu disampaikan Trump dalam jumpa pers bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu seusai pertemuan bilateral di Gedung Putih, Washington DC, AS, Selasa (4/2/2025) atau Rabu dini hari WIB.
”AS akan mengambil alih Jalur Gaza, dan kami akan menyelesaikan pekerjaan itu juga,” kata Trump kepada wartawan. ”Kami akan memilikinya (Jalur Gaza) dan bertanggung jawab melucuti seluruh bom berbahaya yang belum meledak dan senjata-senjata lain di tempat itu.”
”Jika diperlukan, kami akan melakukan hal tersebut, kami akan mengambil alih bagian (wilayah) itu, kami akan membangunnya, menciptakan beribu-ribu pekerjaan, dan akan jadi sesuatu yang bisa sangat dibanggakan oleh keseluruhan Timur Tengah,” ujar Trump menambahkan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/20/0cbbb2f9c45f6d366a06ee70532f25eb-Israel_Palestinians_126865015.jpg)
Trump mengatakan, dirinya tidak menolak kemungkinan pengerahan tentara AS guna mendukung rekonstruksi Jalur Gaza. Ketika ditanya siapa nanti yang akan tinggal di Jalur Gaza, ia menjawab, tempat itu bisa menjadi tempat tinggal ”warga dunia”.
Namun, dalam kutipan yang dilansir kantor berita AFP, Trump memberi kesan bahwa wilayah itu tidak dibangun untuk rakyat Palestina. ”(Langkah) ini seharusnya tidak dilakukan melalui proses pembangunan kembali dan ditempati oleh rakyat yang sama … yang pernah tinggal di sana dan meninggal di sana serta hidup dalam kondisi mengerikan di sana,” kata Trump, seperti dikutip AFP.
Trump tidak langsung menjawab pertanyaan tentang bagaimana dan atas otoritas apa AS bisa mengambil alih dan menduduki Gaza. Selama ini, pemerintahan AS di bawah presiden kubu mana pun, termasuk Trump sendiri pada periode pertama 2017-2021, menolak pengerahan tentara ke Gaza.
Pernyataan Trump yang mengejutkan tersebut disampaikan menyusul komentar dia sebelumnya, pada hari yang sama, bahwa ia mengusulkan pemindahan permanen warga Palestina dari Gaza ke negara-negara tetangga. Trump telah menyebut Mesir dan Jordania sebagai tujuan penempatan warga Gaza.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/27/c7c0288b47c324638940ebed54142b29-000_36W774Q.jpg)
Hamas melalui pernyataan tertulis mengecam keras pernyataan Trump. ”Kami menolak pernyataan Trump yang menyebutkan bahwa warga Jalur Gaza tidak mempunyai pilihan selain pergi, dan kami menganggap (pernyataan) itu resep untuk menciptakan kekacauan dan ketegangan di kawasan,” sebut Hamas.
Pemerintah Arab Saudi dalam pernyataan tertulis juga menolak segala upaya memindahkan rakyat Palestina dari tanah mereka. Riyadh juga menegaskan tidak akan menjalin hubungan dengan Israel tanpa ada upaya mendirikan negara Palestina.
Usulan Trump mengenai Gaza dilontarkan hanya dua pekan setelah ia menjabat kembali di Gedung Putih. Sebelumnya, Trump telah menyampaikan keinginan AS untuk mengambil alih Greenland dan Terusan Panama. Ia juga melontarkan pernyataan bahwa Kanada seharusnya menjadi negara bagian AS ke-51.
Sebagian pengkritik mengatakan, retorika-retorika ekspansionis dari Trump mendengungkan kembali imperialisme gaya lama. Retorika semacam itu bisa menjadi afirmasi invasi Rusia di Ukraina dan justifikasi bagi China untuk menginvasi Taiwan.
Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi dan Raja Jordania Abdullah II telah mengeluarkan pernyataan menolak usulan Trump tersebut. Awal pekan ini, lima menteri luar negeri negara-negara Arab (Jordania, Mesir, Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab), serta penasihat presiden Palestina menegaskan kembali penolakan itu dalam surat yang dikirimkan kepada Menlu AS Marco Rubio.
Secara terpisah, Jubir Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei menyebut usulan Presiden Amerika Serikat Donald Trump merelokasi warga Palestina dari Gaza sebagai pembersihan etnis.
Mesir, Jordania, dan negara-negara mitra AS di Timur Tengah telah memperingatkan Trump bahwa relokasi warga Palestina dari Gaza akan mengancam stabilitas Timur Tengah dan bisa memperluas konflik di kawasan. Trump mengatakan, dia yakin Mesir dan Jordania—serta negara-negara lain yang tidak ia sebut—pada akhirnya kelak akan bersedia menerima warga Gaza.
Trump sepertinya berani bertaruh bahwa Mesir dan Jordania akan menuruti kemauannya karena kedua negara itu adalah penerima bantuan AS dalam jumlah sangat besar.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/12/30/56e1c19c-3380-4ec2-b09f-4041a350fa66.jpg)
Media AS, NBC, 19 Januari 2025, mengutip seorang pejabat pemerintahan transisi Trump, melaporkan bahwa Indonesia sempat disebut dan dibahas sebagai lokasi tujuan relokasi warga Gaza.
Dikutip dari media AS, NBC, 19 Januari 2025, seorang pejabat pemerintahan transisi Trump mengatakan, terdapat rencana relokasi sekitar 2 juta warga Palestina. Salah satu lokasi relokasi yang sudah dibahas adalah Indonesia.
Sembari menegaskan posisi Indonesia yang menolak tegas segala upaya pemindahan warga Gaza, Kementerian Luar Negeri RI pada 21 Januari 2025 memberikan pernyataan resmi bahwa Pemerintah RI tidak pernah memperoleh informasi apa pun, dari siapa pun, ataupun rencana apa pun terkait relokasi sebagian dari 2 juta penduduk Gaza ke Indonesia.
Usulan Trump tentang pengambilalihan Jalur Gaza hampir pasti bakal mendapat penolakan tegas dari para sekutu ataupun lawan-lawan AS. Usulan itu bertolak belakang dengan kebijakan Washington sejak lama dan posisi komunitas internasional yang memandang Gaza—seperti juga wilayah pendudukan Tepi Barat—sebagai bagian dari rancangan negara Palestina di masa depan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/05/aa892759ab970f5748e6752656e7ea18-1000000154.jpg)
Televisi CNN melaporkan, usulan Trump tersebut mirip gagasan menantunya, Jared Kushner, tahun 2024. Saat itu, ia menyebut pembangunan Gaza sebagai kawasan perumahan mewah di pantai Laut Tengah sangat menjanjikan dari segi bisnis.
”Perumahan tepi laut Gaza akan sangat mahal harganya. Sayang sekali dengan apa yang sedang terjadi di sana. Tetapi, dari sudut pandang Israel, saya akan melakukan yang terbaik untuk memindahkan penduduk dari sana dan kemudian membersihkan wilayah tersebut,” kata Kushner, Maret 2024, ketika serangan Israel masih berkecamuk di Jalur Gaza.
Pembangunan Gaza oleh Amerika Serikat, menurut Trump, akan menciptakan wilayah yang indah seperti Riviera atau Cote d’Azur (pantai selatan Perancis yang menjadi tempat tinggal wisatawan dan jutawan). Lokasi tersebut berada di sebelah barat Monako, salah satu tempat para jutawan dunia bermukim.
Sejumlah ahli mengamati, Trump kadang-kadang mengambil sikap ekstrem dalam isu-isu internasional dengan tujuan menjajaki parameter-parameter untuk negosiasi yang akan dilakukan. Pada periode pertama pemerintahannya dulu, ia berulang kali melontarkan pernyataan-pernyataan kebijakan luar negeri AS, tetapi banyak dari pernyataan-pernyataan itu tidak pernah diwujudkan.
Pernyataan Trump tentang Gaza tersebut dia kemukakan saat para negosiator Hamas dan Israel menggelar perundingan gencatan senjata di Gaza tahap kedua. Perundingan itu diselenggarakan secara tidak langsung dengan mediator Qatar, Mesir, dan AS.
Jonathan Panikoff, mantan Deputi Intelijen Nasional AS untuk Timur Dekat, menyebut rencana Trump meniscayakan komitmen militer AS dalam jangka panjang. Jika rencana itu jadi dilaksanakan, lanjut Panikoff, langkah itu akan dipandang oleh dunia Arab bahwa Washington ”tidak belajar dari (kegagalan mereka dalam) pembentukan negara di Irak dan Afghanistan”. (AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Muhammad Samsul Hadi, Iwan SantosaEditor:
Muhammad Samsul HadiPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari