Di pemerintahan kedua ini, Donald Trump tampaknya akan mengguncang tatanan global sekali lagi.
20 Jan 2025 21:00 WIB · Internasional
WASHINGTON, SENIN — Donald Trump resmi dilantik menjadi Presiden AS untuk masa jabatan kedua pada Senin (20/1/2025) pukul 12.00 waktu setempat atau Selasa (21/1/2025) pukul 00.00 waktu Indonesia Barat.
Ia menjanjikan zaman keemasan baru bagi Amerika. Sementara itu, dunia bersiap untuk kembalinya kepemimpinan Trump yang tidak terduga dan guncangan ekonomi.
Cuaca dingin ekstrem yang melanda Washington membuat pelantikan terpaksa dipindahkan ke dalam ruangan di Gedung Capitol. Hari pelantikan itu merupakan hari pelantikan presiden terdingin dalam 40 tahun terakhir.
Di tengah cuaca dingin itu, jam-jam pertama pemerintahannya akan menjadi jam-jam paling panas bagi para pemimpin dunia. Trump (78) telah menyatakan akan meluncurkan serangkaian perintah eksekutif yang membatalkan kebijakan Presiden AS yang ia gantikan, Joe Biden.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/20/c29abfdba747c81ac9ac3c2574c01a8b-5aa24f4db5bd4432b4aa33338bd57c09_0_80446818083244d0a2d92f7ec24a62f0.jpg)
Kebijakan soal kenaikan tarif impor dan perang Rusia-Ukraina dikhawatirkan menimbulkan guncangan dan ketidakpastian baru. Kebijakan lain yang sudah ia sebutkan adalah segera memulai deportasi imigran ilegal. Total jumlah mereka diperkirakan 11 juta orang.
Sejumlah sumber menyebutkan, di tahap awal, petugas imigrasi federal AS diperkirakan akan menargetkan lebih dari 300 orang di wilayah Chicago dengan riwayat kejahatan kekerasan. Namun, Trump belum memberi konfirmasi.
Pada pelantikan masa jabatan pertamanya pada 2017, Trump membawakan pidato tentang gambaran suram bertema pembantaian Amerika. Kali ini, ia menawarkan janji yang lebih optimistis tentang hari yang benar-benar baru bagi AS.
”Saya akan bertindak dengan kecepatan dan kekuatan yang bersejarah dan memperbaiki setiap krisis yang dihadapi negara kita,” kata Trump pada rapat umum malam sebelum pelantikan.
Presiden AS ke-47 itu mengatakan akan menghentikan ”invasi” di perbatasan AS serta membatalkan kebijakan berkesadaran isu sosial. Salah satunya kebijakan soal transjender di sekolah-sekolah AS.
Trump akan menorehkan sejarah sebagai presiden AS tertua yang dilantik, menggantikan Biden. Dia juga presiden kedua dalam sejarah AS yang kembali berkuasa setelah lengser, setelah Grover Cleveland pada tahun 1893.
Menjelang pelantikan, Biden dan istrinya, Jill Biden, menjamu Trump dan istrinya, Melania Trump, untuk minum teh dan kopi di Gedung Putih. Setelah itu mereka semua pergi bersama ke Gedung Capitol untuk upacara pelantikan.
Alih-alih mengambil sumpah di depan kerumunan besar di National Mall, Trump dan Wakil Presiden AS JD Vance dilantik di dalam Rotunda Capitol yang berkubah, seperti yang dilakukan Ronald Reagan pada tahun 1985.
”Begitu Presiden Trump meletakkan tangannya di Alkitab dan mengucapkan Sumpah Konstitusi Amerika Serikat, Zaman Keemasan Amerika akan dimulai,” kata juru bicara Trump, Karoline Leavitt di X.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/27/552f02162862b9529393098054d33a88-9f8a1b2cb8e94050b871cb697d3d05c4_0_8b7cabc4d6be4eddac4e5a60a67c0710.jpg)
Kendati berlangsung di hari terdingin, suasana pelantikan tetap meriah. Para pendukungnya berkumpul di Washington dengan berbagai aksesori, riasan wajah, dan spanduk. Namun, banyak warga AS yang khawatir janji kampanye Trump justru membuat AS semakin suram.
Trump kembali ke Ruang Oval dengan dukungan lebih besar dari sebelumnya. Tiga orang terkaya di dunia sekaligus taipan teknologi CEO Tesla Elon Musk, CEO Meta Mark Zuckerberg, dan pendiri Amazon Jeff Bezos hadir bersama Trump dalam pelantikan.
Musk, pemimpin Tesla, SpaceX, dan X, akan memimpin upaya pemangkasan biaya dalam pemerintahan baru Trump. Ia berjanji membuat AS kuat selama berabad-abad.
Selama kampanye, Trump mengatakan ia hanya akan menjadi diktator pada hari pertama. Ia telah berjanji untuk menandatangani sekitar 100 perintah eksekutif dalam beberapa jam setelah menjabat.
Perintah tersebut termasuk mendeklarasikan keadaan darurat nasional di perbatasan selatan AS dengan Meksiko, membatalkan arahan pemerintahan Biden tentang keberagaman, dan memacu pengeboran minyak.
Trump juga berencana mengampuni para pendukungnya yang menyerbu Gedung Capitol pada 6 Januari 2021 karena tak terima dengan kekalahannya dalam pilpres.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/19/434de8c7289cd0863d1f74b458afb7f9-APTOPIX_Trump_Inauguration_126849979.jpg)
Namun, bagi seluruh dunia, kembalinya Trump menimbulkan ketidakpastian. Di pemerintahan kedua ini, Trump tampaknya akan mengguncang tatanan global sekali lagi.
Hal ini terlihat dari berbagai pernyataannya, mulai dari menjanjikan tarif ekspor yang besar hingga membuat ancaman teritorial terhadap Greenland dan Panama. Selain itu, pernyataannya yang membuat bantuan AS untuk Ukraina juga tak bisa dipastikan.
Trump telah berjanji untuk mengenakan tarif sebesar 25 persen pada barang-barang yang diimpor dari Meksiko dan Kanada, dua mitra dagang utama AS. Hal ini merupakan hukuman karena mereka tak membendung aliran narkoba dan imigran ilegal ke AS.
Saya akan bertindak dengan kecepatan dan kekuatan yang bersejarah dan memperbaiki setiap krisis yang dihadapi negara kita.
Trump juga telah mengancam akan mengenakan tarif tambahan sebesar 10 persen pada produk-produk China. Ia menambah tarif yang sudah ada sejak masa jabatan pertamanya. Trump menuduh China gagal mencegah produksi komponen kimia yang digunakan untuk membuat fentanil yang masuk ke AS.
Ancaman ini menimbulkan kekhawatiran akan perang dagang AS-China yang mengancam akan melemahkan negara-negara adikuasa ekonomi.
Sejumlah negara mulai menyiapkan diri, seperti Meksiko, Malaysia, dan Korea Selatan (Korsel), serta Uni Eropa (UE).
UE dan Malaysia, misalnya, mengumumkan akan memulai kembali negosiasi untuk kesepakatan perdagangan bebas. Blok itu berupaya untuk memperkuat hubungan perdagangan di seluruh dunia di luar AS saat Trump sudah resmi berkuasa.
Ancaman Trump soal tarif tinggi impor membuat para pemimpin UE khawatir akan dampak ekonomi. Sementara itu, mereka juga menghadapi persaingan sengit dengan China.
”Berita bagus ini datang pada saat yang kritis. Ketegangan geopolitik meningkat, dan risiko ketidakstabilan meningkat,” kata Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dalam sebuah pernyataan.
”Sementara beberapa pihak beralih ke dalam menuju isolasi dan fragmentasi, Eropa dan Malaysia memilih jalan yang berbeda,” katanya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/20/39fe412505363627b0df33463a954e6f-2194747280.jpg)
Brussels dan Kuala Lumpur memulai pembicaraan untuk kesepakatan perdagangan pada tahun 2010. Akan tetapi, negosiasi ditangguhkan pada tahun 2012.
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, yang mengakhiri kunjungan kerja dua hari ke Brussels pada Senin, menyebut keterlibatan baru tersebut sebagai tonggak penting dalam memperkuat hubungan ekonomi dengan UE.
Pejabat Uni Eropa mengatakan, mereka berusaha keras untuk memperkuat hubungan ekonomi di seluruh dunia. Hal ini untuk menghadapi ancaman Trump mengenakan tarif perdagangan sebagai bagian dari agendanya yang mengutamakan AS.
Sementara itu, Korsel meluncurkan paket dukungan senilai 250 miliar dollar AS untuk para eksportirnya pada Senin. Hal ini untuk mengantisipasi kemungkinan dampak tarif oleh Trump.
Pengumuman tersebut muncul beberapa jam setelah bank sentral Korsel memangkas perkiraan pertumbuhan ekonominya.
Kementerian Keuangan Korsel mengatakan, anggaran dukungan itu dialokasikan untuk para eksportir negara tersebut, termasuk raksasa teknologi Samsung dan perusahaan semikonduktor SK Hynix, karena meningkatnya risiko di luar negeri.
”Ketidakpastian eksternal, seperti pelantikan pemerintahan AS yang baru, menimbulkan kekhawatiran tentang potensi dampak buruk pada ekspor bagi para pelaku bisnis,” kata Kim Dong-joon, Wakil Direktur Divisi Dukungan Kementerian Keuangan Korsel.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/09/ef76390f-00b3-4636-8ff3-f8cea06d537a_jpg.jpg)
Adapun Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum berjanji untuk membela warga negaranya yang tinggal di AS. Hal ini terkait ancaman deportasi massal imigran ilegal.
Sheinbaum menyinggung, rencana presiden AS itu ditaksir akan mencakup jutaan orang Meksiko. Dia mengatakan, pemerintahnya telah menyewa pengacara untuk memberikan dukungan kepada imigran melalui sekitar 50 kantor konsulat Meksiko di AS.
”Dan jika mereka memutuskan untuk kembali ke Meksiko atau datang ke Meksiko, mereka diterima di sini, dengan tangan terbuka,” kata Sheinbaum.
Menanggapi pelantikan Trump, Paus Fransiskus mengatakan, operasi deportasi besar-besaran yang dijanjikan Trump terhadap migran tidak berdokumen akan menjadi bencana.
”Jika benar, itu akan menjadi bencana, karena membuat orang-orang malang yang tidak punya apa-apa harus membayar,” kata Paus dalam sebuah wawancara dengan saluran televisi Italia, Nove.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/25/cebc872996429190d8ca2e054c2e5243-1000000097.jpg)
Di tengah beragam kecemasan itu, pembicaraan antara Trump dan Presiden China Xi Jinping memberi sedikit embusan angin segar. Pembicaraan lewat telepon keduanya, Jumat pekan lalu itu, memicu terkereknya pasar sebagian besar pasar saham di Asia, Wall Street, dan Eropa.
Dalam pembicaraan itu, Trump dan Xi berjanji untuk meningkatkan hubungan antara Washington dan Beijing. Xi mengharapkan awal yang baik bagi hubungan kedua negara. ”Saya berharap kita akan memecahkan banyak masalah bersama,” katanya.
Di pelantar media sosial Truth Social miliknya, Trump menambahkan, mereka membahas keseimbangan perdagangan, fentanil, Tiktok, dan banyak topik lainnya. ”Presiden Xi dan saya akan melakukan segala yang mungkin untuk membuat dunia lebih damai dan aman!” kata Trump. (AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Irene SarwindaningrumEditor:
Fransisca Romana Ninik W