Negara-negara yang berdagang dengan Rusia dijatuhi sanksi 100 persen jika gencatan senjata tak terwujud. Trump tidak ingin negara-negara berdagang dengan Rusia.
15 Jul 2025 09:35 WIB · Internasional
WASHINGTON DC, SELASA — Gerah dengan Rusia, Amerika Serikat akhirnya akan mengirim persenjataan untuk Ukraina melalui negara-negara Pakta Pertahanan Atlantik Utara atau NATO. AS juga menerapkan sanksi 100 persen kepada negara-negara yang berbisnis dengan Rusia.
Hal itu diumumkan Presiden AS Donald Trump di Washington DC, AS, Senin (14/7/2025) waktu setempat atau Selasa (15/7/2025) waktu Indonesia. Trump baru menyelesaikan pertemuan dengan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte.
Belum ada keterangan terperinci mengenai rencana tersebut. Akan tetapi, garis besarnya ialah negara-negara NATO akan mengirim stok rudal dan sistem pertahanan Patriot mereka ke Ukraina. AS lalu mengganti stok NATO itu.
Patriot adalah sistem pertahanan udara produksi AS. Semua proses jual-belinya, termasuk dari tangan ketiga, wajib atas izin Washington. Sistem pertahanan ini untuk jangka pendek dinilai bisa menanggulangi serangan rudal balistik Rusia ke Ukraina di malam hari.
”Kita akan membuat persenjataan level atas dan mengirimnya ke NATO. Negara-negara itu yang akan membayar,” kata Trump.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/15/53b42cde-ec64-48ff-a307-c050574ffd36_jpg.jpg)
Bahkan, ia mengatakan, ada satu negara anggota NATO yang memiliki 17 Patriot menganggur dan siap dikirim ke Ukraina. Menurut Trump, AS menjamin Ukraina bisa mempertahankan diri.
Sementara itu, Rutte menuturkan, hendaknya Presiden Rusia Vladimir Putin kini bersikap serius menghadapi perundingan gencatan senjata. Ada waktu 50 hari untuk mewujudkan perjanjian tersebut antara Ukraina dan Rusia. AS dan NATO mengharapkan kedua belah pihak tidak menambah kerepotan.
Menurut Rutte, anggota NATO yang siap untuk membayar rudal Patriot itu adalah Inggris, Kanada, Jerman, Denmark, Finlandia, Swedia, Norwegia, dan Belanda.
Tidak lama setelah pengumuman itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menelepon Trump untuk berterima kasih. ”Kita terus bekerja sama mewujudkan penghentian pembunuhan dan mencapai perdamaian berkeadilan yang langgeng,” cuitnya di X.
Zelenskyy sedang menjamu Keith Kellogg, Utusan Khusus Presiden AS Urusan Ukraina di Kyiv. Mereka mendiskusikan rencana pengiriman senjata itu lebih lanjut.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/14/c4722230-115b-41a1-8bcd-a10ee1426049_jpg.jpg)
Trump kehilangan kesabaran terhadap Putin. Selama kampanye pemilihan umum November 2024, Trump menggadang-gadang bahwa dirinya dekat dengan Putin. Ia bahkan sesumbar bisa menghentikan perang antara Rusia dan Ukraina dalam semalam.
Namun, kenyataannya jauh berbeda. Trump berkali-kali meminta Putin menghentikan serangan ke Ukraina, tetapi kemudian dilanggar oleh Rusia. Sejatinya, sudah ada empat kali pertemuan untuk membahas gencatan senjata. Baru tercapai kesepakatan sementara, Rusia lalu kembali mengebom Ukraina.
”Sudah cukup tipu-tipunya. Putin bisa mengelabui (Bill) Clinton, (George W) Bush, (Barack) Obama, dan (Joe) Biden. Ia tidak bisa menipu saya,” kata Trump.
Di hari yang sama, Trump juga mengumumkan ancaman sanksi sekunder terhadap Rusia. Sejak tahun 2022, Moskwa sudah dijatuhi sanksi ekonomi oleh AS ketika Rusia menginvasi Ukraina. Bank-bank Rusia dikeluarkan dari sistem pengiriman dana internasional, SWIFT.
”Sanksi sekunder ini berupa tarif 100 persen terhadap negara-negara mitra dagang Rusia apabila kesepakatan damai tidak tercapai dalam 50 hari,” ujar Trump.
Cara kerja sanksi sekunder ialah tidak memukul langsung Rusia. Contohnya, China, India, Brasil, dan Turki adalah pembeli minyak Rusia terbesar. Jika terus melakukannya, AS menjatuhkan sanksi 100 persen terhadap keempatnya.
Perusahaan-perusahaan AS yang mengimpor barang dari China, Turki, Brasil, dan India nanti yang harus membayar tarif 100 persen itu. Akibatnya, harga barang akan melejit. Apabila itu terjadi, perusahaan AS tidak mau membeli barang dari keempat negara itu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/01/18/10659d49-2158-40a3-84fd-b7ebdbeae25d.jpg)
Keinginan Trump ialah, jika negara-negara itu tetap ingin berdagang dengan AS, mereka harus berhenti berdagang dengan Rusia. Senat AS sedang menggodok rancangan undang-undang yang isinya siap menjatuhkan sanksi sekunder lebih besar.
RUU itu dibuat secara bipartisan oleh Partai Republik dan Partai Demokrat. AS akan menjatuhkan sanksi 500 persen kepada setiap negara yang membeli dan menjual minyak serta gas Rusia selama Moskwa belum mau berdamai dengan Kyiv.
”Aturan ini bisa diterapkan secara fleksibel oleh presiden bila telah disahkan. Ini adalah landasan yang solid secara legal maupun politis,” kata Senator Partai Republik Lindsay Graham dan Senator Partai Demokrat Richard Blumenthal dalam pernyataan bersama.
Meskipun demikian, dampaknya ternyata tidak terlalu heboh di Rusia. Tabloid Moskovsky Komsomolets melaporkan, bursa saham ”hanya” turun 2,7 persen. Angka ini dinilai tidak terlalu signifikan. Alasannya, Rusia sudah bersiap untuk semua kemungkinan terburuk.
Belum ada tanggapan dari Moskwa. Melansir BBC, Senator Konstantin Kosachev dari majelis tinggi Duma (parlemen Rusia) berpendapat bahwa langkah Trump ini adalah langkah putus asa. ”Namanya juga Trump. Banyak omong, tapi minim tindakan,” katanya.
Sementara Uni Eropa telah menyusun target pembalasan atas tarif AS. Pekan lalu, Trump mengumumkan ekspor UE ke AS akan dikenai bea masuk 30 persen mulai 1 Agustus 2025.
Menanggapi itu, Brussels menarget komoditas bernilai 110 miliar dollar AS yang dikirim AS ke pasar UE. Produk Boeing, General Motors, sampai minuman beralkohol masuk dalam target UE.
Komisioner Perdagangan UE Maros Sefcovic membahas daftar itu dengan Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick. Brussels akan memprioritaskan solusi menguntungkan bagi semua pihak. Jika tidak, maka UE akan mengenakan bea masuk impor bagi produk AS.
Dilaporkan Bloomberg, Sefcovic membawa pesan dari para Mendag anggota UE ke Lutnick. Para mendag itu bertemu di Brussels pada Senin siang.
Hasilnya, mereka akan mengenakan bea masuk ke mesin, bahan kimia dan plastik, alat kesehatan, alat kelistrikan, holtikultura, sampai minuman beralkohol. Daftar komoditas sasaran dimasukkan dalam dokumen 206 halaman.
Untuk mobil dan suku cadangnya, dikenai tarif 25 persen. Sementara untuk komoditas lain, tarifnya 20 persen. Tarif pembalasan UE lebih rendah dari yang dikenakan AS ke UE.
Dari daftar UE, Boeing paling disasar karena nilainya mencapai 12,8 miliar dollar AS. Setelah itu, mobil (10,9 miliar dollar AS) dan mesin (9,3 miliar dollar AS). Sementara produk holtikultura bernilai 7 miliar dollar AS.
UE menyusun sasaran dengan pertimbangan ada alternatif pasokan. Oleh karena itu, impor senjata tidak masuk dalam daftar sasaran UE. Brussels masih mengandalkan pasokan AS untuk sektor pertahanannya. (AFP/Reuters)
Penulis:
Laraswati Ariadne AnwarEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto