Trump Klaim Gencatan Senjata Berlanjut, Israel-Lebanon Tetap Baku Tembak
Sejak November 2024, Israel telah tiga kali menyepakati gencatan senjata dengan Lebanon. Walakin, serangan tetap berlanjut dan menewaskan ribuan warga Lebanon.
WASHINGTON DC, JUMAT — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan perpanjangan gencatan senjata di Lebanon. Meski demikian, Israel-Lebanon tetap terlibat baku tembak.
Trump mengungkap perpanjangan itu pada Kamis (23/4/2026) sore waktu Washington DC atau Jumat dini hari WIB. ”Gencatan senjata antara Israel dan Lebanon akan diperpanjang tiga pekan,” tulisnya di media sosial.
Ia juga menyebut, pertemuan delegasi Lebanon-Israel di AS berjalan baik. Selanjutnya, AS akan menjadi tuan rumah pertemuan Presiden Lebanon Joseph Aoun dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Kantor Kepresidenan Lebanon mengatakan, persiapan perundingan lanjutan sedang disusun. Tujuan perundingan itu adalah penghentian total serangan Israel, penarikan pasukan Israel dari Lebanon, dan pembebasan warga Lebanon dari penjara Israel.
Menjelang pengumuman Trump, Aoun juga meminta penghentian segera serangan Israel ke sejumlah wilayah Lebanon. Ia meminta Israel berhenti meledakkan rumah dan aneka bangunan milik Lebanon.
Dengan fasilitasi AS, Lebanon-Israel sebelumnya menyepakati gencatan senjata 10 hari mulai Jumat pekan lalu. Kini, gencatan senjata diperpanjang menjadi total hampir sebulan.
Kesepakatan terbaru merupakan yang ketiga antara Lebanon dan Israel. Pada November 2024, Lebanon-Israel juga menyepakati gencatan senjata.
Namun, Israel tetap rutin menyerang Lebanon. Bahkan, bersamaan dengan serangan ke Iran, Israel mengerahkan pasukan darat ke Lebanon. Israel menuntut Lebanon mengosongkan wilayah di antara perbatasan Israel-Lebanon sampai ke Sungai Litani.
Wilayah yang dirampas Israel setara 10 persen dari keseluruhan luas Lebanon. Pada Kamis, militer Israel mengumumkan larangan terbaru bagi warga Lebanon untuk tak bergerak di wilayah yang dirampas Israel itu.
Sampai sekarang, di tengah gencatan senjata, Israel masih mempertahankan pasukan di Lebanon. Media Pemerintah Lebanon, NNA, pada Kamis melaporkan setidaknya dua serangan Israel ke sejumlah lokasi di Lebanon.
Hari itu, sebagian warga Lebanon mengakhiri pemakaman Amal Khalil. Ia salah satu dari dua perempuan jurnalis Lebanon yang diserang Israel di Lebanon selatan pada 22 April 2026. Media tempat mereka bekerja, Al Akhbar, menyebut Khalil dan Zainab Faraj sedang melaporkan serangan Israel di Lebanon selatan.
Mobil mereka ditembaki pesawat nirawak Israel. Lalu, mereka bersembunyi di rumah warga sekitar. Dari persembunyian, Khalil menelepon kantornya dan berita serangan terhadap mereka tersiar.
Presiden Aoun meminta Komite Palang Merah Internasional (ICRC) dan pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon, UNIFIL, membantu mengevakuasi Khalil dan Faraj. Sebelum bantuan datang, Israel meledakkan tempat Khalil dan Feraj berlindung.
Militer Lebanon menuding militer Israel, Tzahal, sengaja merintangi evakuasi Khalil dan Faraj. Bahkan, kala tim ICRC tiba, Tzahal tetap menembaki lokasi perlindungan Khalil dan Faraj.
Tim ICRC hanya bisa mengevakuasi Faraj yang terluka parah. Sementara Khalil tak bisa dievakuasi. Setelah beberapa jam, tembakan Tzahal berhenti dan tim bisa melanjutkan mencari Khalil. Mereka menemukan Khalil telah tewas. ”Dia memeluk saya berjam-jam,” kata Faraj mengenang momen terakhir bersama Khalil.
PM Lebanon Nawaf Salam menyebut Israel telah melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan. Sejumlah pejabat Lebanon juga mengecam serangan itu.
Sejak kembali menyerbu Lebanon besar-besaran, Israel berulang kali menembaki para jurnalis dan pekerja tanggap darurat. Israel berulang kali menyangkal menyasar jurnalis dan pekerja medis atau tanggap darurat. Walakin, sejumlah kendaraan jurnalis dan ambulans terbukti jadi sasaran Israel.
Warga sipil Lebanon juga jadi sasaran serangan Israel. Sejak awal Maret 2026 saja, lebih dari 2.000 warga Lebanon tewas akibat serangan Israel. Selain itu, ribuan lain mengalami cedera akibat serangan Israel ke berbagai penjuru Lebanon.
Di tengah serangan Israel itu, AS memfasilitasi perundingan Pemerintah Israel-Lebanon. Hizbullah tidak terlibat dan malah jadi sasaran. Petinggi Hizbullah, Wafiq Safa, menegaskan bahwa Hizbullah tidak akan terikat pada perundingan yang tidak melibatkan mereka. (AP/AFP/REUTERS)
WASHINGTON DC, JUMAT — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan perpanjangan gencatan senjata di Lebanon. Meski demikian, Israel-Lebanon tetap terlibat baku tembak.
Trump mengungkap perpanjangan itu pada Kamis (23/4/2026) sore waktu Washington DC atau Jumat dini hari WIB. ”Gencatan senjata antara Israel dan Lebanon akan diperpanjang tiga pekan,” tulisnya di media sosial.
Serial Artikel
Gencatan Senjata 10 Hari Israel-Lebanon, Warga Kembali dari Pengungsian
Gencatan senjata ini langkah kunci dalam upaya AS untuk mencapai kesepakatan dengan Iran guna mengakhiri perang.
Ia juga menyebut, pertemuan delegasi Lebanon-Israel di AS berjalan baik. Selanjutnya, AS akan menjadi tuan rumah pertemuan Presiden Lebanon Joseph Aoun dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Kantor Kepresidenan Lebanon mengatakan, persiapan perundingan lanjutan sedang disusun. Tujuan perundingan itu adalah penghentian total serangan Israel, penarikan pasukan Israel dari Lebanon, dan pembebasan warga Lebanon dari penjara Israel.
Menjelang pengumuman Trump, Aoun juga meminta penghentian segera serangan Israel ke sejumlah wilayah Lebanon. Ia meminta Israel berhenti meledakkan rumah dan aneka bangunan milik Lebanon.
Dengan fasilitasi AS, Lebanon-Israel sebelumnya menyepakati gencatan senjata 10 hari mulai Jumat pekan lalu. Kini, gencatan senjata diperpanjang menjadi total hampir sebulan.
Kesepakatan terbaru merupakan yang ketiga antara Lebanon dan Israel. Pada November 2024, Lebanon-Israel juga menyepakati gencatan senjata.
Namun, Israel tetap rutin menyerang Lebanon. Bahkan, bersamaan dengan serangan ke Iran, Israel mengerahkan pasukan darat ke Lebanon. Israel menuntut Lebanon mengosongkan wilayah di antara perbatasan Israel-Lebanon sampai ke Sungai Litani.
Serial Artikel
Israel Serang Lebanon Setelah Sepakati Gencatan Senjata
Lebanon dan Israel telah saling tuduh adanya pelanggaran gencatan senjata hanya sehari setelah gencatan senjata berlaku.
Wilayah yang dirampas Israel setara 10 persen dari keseluruhan luas Lebanon. Pada Kamis, militer Israel mengumumkan larangan terbaru bagi warga Lebanon untuk tak bergerak di wilayah yang dirampas Israel itu.
Sampai sekarang, di tengah gencatan senjata, Israel masih mempertahankan pasukan di Lebanon. Media Pemerintah Lebanon, NNA, pada Kamis melaporkan setidaknya dua serangan Israel ke sejumlah lokasi di Lebanon.
Hari itu, sebagian warga Lebanon mengakhiri pemakaman Amal Khalil. Ia salah satu dari dua perempuan jurnalis Lebanon yang diserang Israel di Lebanon selatan pada 22 April 2026. Media tempat mereka bekerja, Al Akhbar, menyebut Khalil dan Zainab Faraj sedang melaporkan serangan Israel di Lebanon selatan.
Mobil mereka ditembaki pesawat nirawak Israel. Lalu, mereka bersembunyi di rumah warga sekitar. Dari persembunyian, Khalil menelepon kantornya dan berita serangan terhadap mereka tersiar.
Presiden Aoun meminta Komite Palang Merah Internasional (ICRC) dan pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon, UNIFIL, membantu mengevakuasi Khalil dan Faraj. Sebelum bantuan datang, Israel meledakkan tempat Khalil dan Feraj berlindung.
Militer Lebanon menuding militer Israel, Tzahal, sengaja merintangi evakuasi Khalil dan Faraj. Bahkan, kala tim ICRC tiba, Tzahal tetap menembaki lokasi perlindungan Khalil dan Faraj.
Serial Artikel
Israel Terus Sengaja Sasar Jurnalis
Israel sengaja menyerang jurnalis di Lebanon, Palestina, Suriah, dan kini Iran. Tidak satu pun orang Israel dihukum karena serangan itu.
Tim ICRC hanya bisa mengevakuasi Faraj yang terluka parah. Sementara Khalil tak bisa dievakuasi. Setelah beberapa jam, tembakan Tzahal berhenti dan tim bisa melanjutkan mencari Khalil. Mereka menemukan Khalil telah tewas. ”Dia memeluk saya berjam-jam,” kata Faraj mengenang momen terakhir bersama Khalil.
PM Lebanon Nawaf Salam menyebut Israel telah melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan. Sejumlah pejabat Lebanon juga mengecam serangan itu.
Sejak kembali menyerbu Lebanon besar-besaran, Israel berulang kali menembaki para jurnalis dan pekerja tanggap darurat. Israel berulang kali menyangkal menyasar jurnalis dan pekerja medis atau tanggap darurat. Walakin, sejumlah kendaraan jurnalis dan ambulans terbukti jadi sasaran Israel.
Warga sipil Lebanon juga jadi sasaran serangan Israel. Sejak awal Maret 2026 saja, lebih dari 2.000 warga Lebanon tewas akibat serangan Israel. Selain itu, ribuan lain mengalami cedera akibat serangan Israel ke berbagai penjuru Lebanon.
Di tengah serangan Israel itu, AS memfasilitasi perundingan Pemerintah Israel-Lebanon. Hizbullah tidak terlibat dan malah jadi sasaran. Petinggi Hizbullah, Wafiq Safa, menegaskan bahwa Hizbullah tidak akan terikat pada perundingan yang tidak melibatkan mereka. (AP/AFP/REUTERS)