Dalam inisiatif ini, Washington akan membantu kapal-kapal yang terjebak di Teluk Persia dan sekitar untuk melewati Selat Hormuz.
04 Mei 2026 09:21 WIB · Internasional
AFP/FRED TANNEAU
DUBAI, SENIN — Presiden Amerika Serikat Donald Trump meluncurkan Project Freedom atau Proyek Kebebasan di Selat Hormuz. Dalam inisiatif ini, Washington akan membantu kapal-kapal yang terjebak di Teluk Persia dan sekitar untuk melewati selat itu.
Melalui sebuah unggahan di Truth Social, Minggu (3/5/2026) waktu setempat atau Senin (4/5/2026) WIB, Trump mengatakan, Proyek Kebebasan akan mulai pada Senin pagi waktu Timur Tengah. Proyek ini adalah upaya untuk membantu perusahaan dan negara ”netral dan tak bersalah” yang meminta AS untuk membebaskan kapal mereka dari Selat Hormuz.
”Kami telah memberi tahu negara-negara tersebut bahwa kami akan memandu kapal-kapal mereka dengan aman keluar dari perairan itu sehingga mereka dapat melanjutkan bisnis. Dalam semua kasus, mereka mengatakan tidak akan kembali sampai area tersebut aman untuk navigasi dan hal-hal lainnya,” tulis Trump.
Menurut Trump, AS dan Iran sedang melakukan diskusi yang ”sangat positif” agar menghasilkan sesuatu yang baik untuk semua. ”Jika, dengan cara apa pun, proses kemanusiaan ini diganggu, gangguan tersebut harus ditangani dengan tegas,” ujarnya.
Saat ini ratusan kapal dan 20.000 pelaut terdampar di Teluk Persia setelah perang AS-Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari 2026. Teheran menutup Selat Hormuz, jalur perdagangan minyak global, guna menekan AS. Menurut perusahaan intelijen maritim, AXSMarine, lebih dari 900 kapal komersial terlacak di Teluk Persia per tanggal 29 April 2026.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/05/04/d3516bd1-0ff0-4cb1-9646-afcf0c8137c7_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/05/04/0208b32c-e5c9-4cc2-8ad5-073690fc2c36_jpg.jpg)
Meski AS-Iran sedang gencatan senjata, kapal-kapal itu, kebanyakan tanker minyak dan gas serta kargo masih terjebak. Sementara persediaan makanan, minuman, dan kebutuhan lainnya terus menipis. Banyak pelaut berasal dari India dan negara-negara lain di Asia Selatan dan Asia Tenggara.
Komando Tengah AS (Centcom) mengatakan, inisiatif tersebut akan melibatkan kapal perusak rudal berpemandu, 100-an pesawat, dan 15.000 personel militer. Pentagon tidak segera menjawab pertanyaan tentang bagaimana pengerahan akan berlangsung.
”Dukungan kami untuk misi pertahanan ini sangat penting bagi keamanan regional dan ekonomi global karena kami juga mempertahankan blokade angkatan laut,” kata Komandan Centcom Laksamana Brad Cooper dalam pernyataan resmi.
Pernyataan Trump dengan cepat dibagikan oleh beberapa media Iran. Namun, mereka menggambarkan pengumumannya sebagai sebuah klaim. Sebelumnya, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengatakan, Trump harus memilih antara ”operasi yang mustahil atau kesepakatan buruk dengan Iran”.
Sejak 8 April 2026, gencatan senjata AS-Iran sudah berjalan selama tiga minggu sementara negosiasi masih berjalan. Pernyataan Trump keluar beberapa jam setelah Iran mengatakan sedang meninjau tanggapan AS tentang proposal terbaru Teheran, Minggu.
”Teheran sedang meninjau tanggapan AS terhadap proposal terbarunya untuk mengakhiri perang. Namun, pada tahap ini, kami tidak melakukan negosiasi nuklir,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, yang dikutip oleh kantor berita Mizan.
Program nuklir Iran telah menjadi isu utama dalam ketegangan di antara kedua negara. Namun, Teheran lebih memilih untuk membahasnya nanti. Menurut seorang pejabat Iran secara anonim, penundaan pembahasan senjata nuklir sudah menciptakan suasana yang lebih kondusif.
Proposal Iran berisi 14 poin yang menginginkan sejumlah isu diselesaikan dengan tujuan mengakhiri perang secara keseluruhan. Poin-poin itu mencakup, kesepakatan agar AS mencabut sanksi, mengakhiri blokade Angkatan Laut AS terhadap pelabuhan Iran, menarik pasukan AS dari kawasan, dan menghentikan semua permusuhan, termasuk operasi Israel di Lebanon, menurut Nour News dan Tasnim.
Iran juga ingin agar adanya mekanisme kontrol baru untuk Selat Hormuz. Media Axios, mengutip dua sumber yang diberi informasi tentang proposal tersebut, melaporkan bahwa Iran menetapkan ”batas waktu satu bulan untuk negosiasi kesepakatan”.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/05/04/d86eb7b2-6c67-46b5-9842-5116e8ee75b7_jpg.jpg)
Dalam proposal AS, Washington menuntut agar Iran menyerahkan uranium yang sudah diperkaya sekitar 400 kilogram. Iran sudah berulang kali menyatakan program nuklirnya bersifat damai.
Sementara blokade AS terus berjalan sejak 13 April 2026. Blokade itu membuat arus ekspor minyak Iran macet dan ”merampas” pendapatan minyak Teheran. Pada Minggu, Centcom menyatakan, 49 kapal komersial telah diperintahkan untuk berbalik. AS juga telah mengancam sanksi kepada perusahaan pelayaran jika membayar Iran dalam bentuk apa pun, termasuk aset digital, untuk melewati selat dengan aman.
Kementerian Keuangan AS memperkirakan, Iran hanya mendapatkan kurang dari 1,3 juta dolar AS dalam bentuk pungutan tol. Jumlah ini sangat kecil dibandingkan pendapatan minyak harian mereka sebelum blokade.
”Blokade AS hanyalah bagian dari embargo ekonomi yang lebih luas. Kami mencekik rezim dan mereka tidak mampu membayar tentara mereka. Ini adalah blokade ekonomi nyata,” ujar Menteri Keuangan AS Scott Bessent kepada Fox News, Minggu.
Sebagai mediator, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif beserta Kementerian Luar Negeri dan Angkatan Darat Pakistan terus mendorong AS-Iran untuk berbicara langsung. Islamabad menjadi tuan rumah pembicaraan tatap muka perdana AS-Iran pada bulan lalu dan telah menyampaikan pesan di antara kedua belah pihak.
Adapun situasi di Selat Hormuz belum kunjung stabil. Iran sempat membuka selat sebagai kesepakatan gencatan senjata, tetapi menutup lagi gara-gara AL AS memberlakukan blokade terhadap semua kapal Iran di pelabuhan-pelabuhan di sana.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/21/ae2dfefe26288d5a47d42216e8146266-20260421_NNN_Kapal_Pertamina_mumed.png)
Alhasil, keselamatan kapal-kapal yang berada di perairan itu masih terancam. Pada Minggu, sebuah kapal kargo dekat Selat Hormuz telah diserang oleh beberapa kapal kecil, menurut Operasi Perdagangan Maritim Inggris Raya (UKMTO). Serangan ini menjadi serangan terbaru dari setidaknya puluhan serangan yang terjadi di dalam dan sekitar selat sejak gencatan senjata.
Lembaga pemantau militer Inggris juga mengatakan, Minggu, kapal-kapal di dekat Ras al-Khaimah, emirat paling utara di Uni Emirat Arab yang berada di dekat selat, menerima peringatan radio untuk pindah dari tempat berlabuh. Tidak jelas siapa yang mengirim pesan tersebut.
Iran membantah adanya serangan, seperti yang dilaporkan oleh media Fars dan Tabnak. Menurut media-media itu, sebuah kapal yang lewat telah dihentikan untuk pemeriksaan dokumen sebagai bagian dari pemantauan.
”Teheran tidak akan mundur dari posisi kami di Selat Hormuz dan tidak akan kembali ke kondisi sebelum perang,” kata Wakil Ketua Parlemen Iran Ali Nikzad, Minggu pagi, saat mengunjungi fasilitas pelabuhan di Pulau Larak yang strategis.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/24/3356d2d115392eeddf82207ed4005ebe-cropped_image.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/05/04/f94fd78e-d3d6-4236-a594-77d1cd5aedf9_jpg.jpg)
Beberapa kapal patroli Iran bergerak lincah dengan dua mesin berukuran kecil sehingga sulit terdeteksi. Bulan lalu, Trump memerintahkan militer AS untuk ”menembak” kapal-kapal kecil yang memasang ranjau di selat tersebut.
Uni Eropa sudah menyampaikan kekhawatiran atas penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan. Sebab, aksi itu terus berdampak pada pertumbuhan ekonomi. Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul telah berbincang melalui telepon dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengenai masalah ini.
”Jerman mendukung solusi yang dinegosiasikan, tetapi Iran harus sepenuhnya dan secara terverifikasi melepaskan senjata nuklir serta segera membuka Selat Hormuz,” ujar Wadephul. (AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Elsa Emiria LebaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan