PERANG

Trump Mau Buka Hormuz dengan Harga Berapa Pun

Kesepakatan yang diinginkan Trump adalah pembukaan Selat Hormuz. Sementara isu lain, termasuk program nuklir Iran, bisa dirundingkan belakangan.

09 Mei 2026 08:49 WIB · Internasional

USS Tripoli (LHA 7)

Oleh Kris Mada

WASHINGTON DC, SABTU — Di bulan ketiga serangan Amerika Serikat ke Iran, fokusnya mengarah pada pembukaan ulang Selat Hormuz. Presiden Donald Trump berpeluang memprioritaskan pembukaan selat itu dibandingkan mencapai kesepakatan dengan Iran. Washington siap membayar berapa pun harga pembukaan selat yang ditutup selepas AS-Israel menyerang Iran itu.

Penilaian itu disampaikan David Tannenbaum, direktur pada Blackstone Compliance. Perusahaan AS itu fokus pada kajian sanksi dan pencucian uang.

”Pemerintahan Trump sangat ingin keluar dari perang ini dan fokus tunggal mereka sekarang adalah panduan di selat. Saya mulai bertanya-tanya apakah program nuklir Iran kini ada dalam proses tawar-menawar,” ujarnya, sebagaimana disiarkan Bloomberg pada Jumat (8/5/2026) malam waktu Washington DC atau Sabtu pagi WIB.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut bahwa Trump memang ingin kesepakatan. Fokus utama kesepakatan yang diinginkan Trump adalah pembukaan Selat Hormuz. Sementara isu lain, termasuk program nuklir Iran, bisa dirundingkan belakangan.

Adapun pada Jumat, Trump menyatakan akan menjalankan lagi ”Proyek Kebebasan” kalau kesepakatan dengan Iran tak segera tercapai. ”Akan jadi Proyek Kebebasan plus, berarti Proyek Kebebasan ditambah hal-hal lain,” katanya.

Ia merujuk pada rencana AS untuk mengawal kapal-kapal melewati Selat Hormuz. Dimulai pada Senin pagi, proyek itu diumumkan berhenti pada Selasa. Belakangan, sejumlah media AS melaporkan bahwa ada faktor Arab Saudi-Kuwait pada pemberhentian itu.

Arleigh Burke-class guided-missile destroyer USS Rafael Peralta (DDG 115) enforces a maritime blockade against an Iranian-flagged ship attempting to sail toward an Iranian port, April 24, 2026. (U.S. Navy photo)

Kuwait-Riyadh menolak wilayah udara mereka diakses pesawat militer AS. Penolakan berlaku bila pesawat dipakai dalam pertempuran dengan Iran. Tanpa akses wilayah udara kedua negara itu, operasi udara di Selat Hormuz nyaris mustahil dilakukan.

Arab Saudi-Kuwait bukan cuma pangkalan penting AS di kawasan. Kedua negara itu mengendalikan lebih dari separuh wilayah udara di kawasan.

Arab Saudi-Kuwait menolak pesawat AS melintasi atau beroperasi dari wilayah udara mereka. Sebab, mereka tak mendapat jaminan AS akan melindungi Arab Saudi-Kuwait kalau Iran menyerang dengan alasan ada pesawat AS menyasar Iran dari kedua negara itu. Padahal, akses pada wilayah udara Kuwait dan Arab Saudi amat penting untuk kelancaran operasi ke Iran.

Penyebab fokus

Konteks domestik AS menjadi salah satu alasan fokus pembukaan selat. Kurang dari enam bulan menjelang pemilu AS, aneka harga kebutuhan melonjak.

Warga AS akan memilih seluruh 435 anggota DPR, 35 dari 100 senator, dan 39 dari 55 gubernur. Sejumlah politisi Republikan, partai Trump, khawatir kondisi perekonomian akan membuat pemilih meninggalkan mereka di pemilu November 2026.

”Iran mencekik perekonomian global. AS kini berusaha memulihkan keadaan dengan membuka lagi selat,” kata Michael Carpenter, mantan diplomat dan penasihat khusus mantan Presiden Joe Biden.

Infografik Dua Kapal Pertamina di Teluk Persia Selat Hormuz

Sebelum AS-Israel menyerang, Iran telah berulang kali mengancam akan menutup Selat Hormuz sebagai wujud pembalasan. Selepas serangan diwujudkan, Iran praktis menutup selat itu untuk hampir seluruh kapal.

Menurut Organisasi Maritim Internasional (IMO), kini setidaknya 1.500 kapal yang diawaki 22.000 orang tertahan di sekitar Selat Hormuz. Blokade Iran, ditambah blokade AS terhadap Iran sejak 13 April 2026, penyebab kondisi itu.

Komando Tengah (Centcom) AS menyatakan, setidaknya 70 tanker dicegah masuk atau keluar pelabuhan Iran. Seluruhnya berkapasitas sekitar 166 juta barel minyak yang, dengan harga terbaru, bernilai sekitar 13 miliar dolar AS.

AS mengerahkan USS Truxtun, USS Rafael Peralta, dan USS Mason sebagai perangkat utama blokade terhadap Iran. Sejak 13 April 2026, Centcom menghalau 57 kapal dan melumpuhkan empat kapal tujuan atau asal Iran.

Sebuah pesawat F/A-18E Super Hornet, bersiap mengangkasa dari dek penerbangan kapal induk terbesar di dunia, USS Gerald R. Ford  saat beroperasi untuk mendukung Operasi Epic Fury, pada Minggu (1/3/2026).

Pada Jumat (8/5/2026), Centcom menembak MT Sea Star III dan MT Sevda. Tanker-tanker itu disebut AS menuju Iran dan ditembak di Teluk Oman.

Centcom mengerahkan jet tempur F/A-18 dari kapal induk USS George HW Bush untuk melumpuhkan kedua tanker itu. Dilaporkan CNN, suara tembak dan ledakan terdengar di sekitar Hormuz sepanjang Jumat.

Sebelumnya, pada Selasa (5/5/2026), jet F/A-18 dari kapal induk USS Abraham Lincoln menyerang MT Hasna. Perangkat kemudi tanker ditembak sehingga tak bisa melanjutkan pelayaran. Centcom menyatakan, perangkat kemudi ditembak dengan senapan mesin kaliber 20 milimeter.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyebut blokade AS sebagai tindakan militer. Anggota Komite Keamanan di parlemen Iran, Ali Khezrian, menyebut bahwa reaksi logis atas tindakan militer adalah tindakan militer juga.

Sementara kepada CNN, Trump menyebut proposal terbaru Iran mungkin akan diterima AS pada Jumat malam waktu Washington atau Sabtu siang WIB. Rabu lalu, AS telah mengirimkan proposal terbaru ke Iran. ”Kami akan menuju arah baru kalau tak ada tanda tangan,” ujarnya pada Jumat.

AS mengemas usulan dalam selembar proposal. Fokusnya menghentikan perang yang dipicu serangan AS-Israel ke Iran sejak 28 Februari 2026 tersebut. Sementara soal nuklir Iran akan dibahas di kesempatan lain.

Juru Bicara Kemenlu Iran Esmail Baghei menyebut usulan itu sedang ditinjau. Ia tak mengatakan sampai kapan tinjauan dilakukan.

Wakil Presiden AS JD Vance bertandang ke Qatar, antara lain, untuk membahas perundingan dengan Iran. Bersama Oman, Qatar menjadi mediator Iran dengan AS-Israel.

Sementara dari Islamabad dilaporkan, AS-Iran akan berunding lagi pekan depan. Putaran terakhir tak terwujud karena AS tak mengirim delegasi ke Pakistan.

(AP/AFP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kris Mada
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Amin Iskandar