Silang pendapat itu memperdalam keretakan antara dua tokoh AS paling berpengaruh di dunia. Keretakan berakar pada penolakan Paus Leo terhadap perang AS dengan Iran.
14 Apr 2026 11:00 WIB · Internasional
AP Photo/Alex Brandon
WASHINGTON, SELASA — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak berdamai dengan Paus Leo XIV meskipun banyak pendukungnya kecewa. Ia menyatakan tidak akan meminta maaf atas serangannya kepada pemimpin Gereja Katolik itu.
Trump juga membela diri dengan unggahan di Truth Social yang menampilkannya seperti sosok suci Kristen. Menurut Trump, gambar itu ia maksudkan untuk menunjukkan dirinya sebagai dokter. Unggahan yang banyak dikecam itu akhirnya dihapus pada Senin (13/4/2026) waktu Washington atau Selasa waktu Jakarta.
Trump mengatakan, Paus Leo menentang kebijakannya terkait Iran dan karena itu ia tidak merasa perlu meminta maaf. ”Ia sangat menentang apa yang saya lakukan terkait Iran dan Iran tidak boleh dibiarkan memiliki senjata nuklir. Paus Leo tidak akan senang dengan hasil akhirnya,” kata Trump dalam sesi wawancara mendadak di Gedung Putih.
Namun, faktanya, Paus Leo XIV tak pernah memberi pernyataan soal Iran terkait senjata nuklir. Trump juga kembali menyebut Paus Leo lemah terhadap kejahatan dan berbagai persoalan lain. Atas alasan itu, ia menegaskan tidak akan meminta maaf. Ia juga menuduh Paus Leo yang memulai perselisihan. ”Dia yang lebih dulu bicara. Saya hanya menanggapi,” imbuhnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/14/22399ff27e74f4e8f1118793d624beee-APTOPIX_Trump.jpeg)
Sehari sebelumnya, Paus Leo, paus pertama kelahiran AS itu, membalas kata-kata hinaan Trump. Ia menyatakan tidak takut pada pemerintahan AS dan akan terus menyuarakan perdamaian dan menentang perang.
Dalam wawancara dengan kantor berita Associated Press di pesawat kepausan menuju Aljazair, Leo mengatakan, seruan Vatikan untuk perdamaian dan rekonsiliasi berakar pada Injil. Ia menilai Trump tidak memahami pesan itu.
”Menyamakan pesan saya dengan apa yang telah dicoba dilakukan Presiden di sini menunjukkan ketidakpahaman atas pesan Injil,” ujar pemimpin sekitar 1,4 miliar umat Katolik sedunia itu.
Paus Leo XIV, yang saat ini tengah dalam lawatan 11 hari ke Benua Afrika, belum memberi pernyataan lanjutan. Ia menyatakan tak mau terseret dalam perdebatan.
Menyamakan pesan saya dengan apa yang telah dicoba dilakukan Presiden di sini menunjukkan ketidakpahaman atas pesan Injil.
Silang pendapat itu memperdalam keretakan antara dua tokoh AS paling berpengaruh di dunia. Keretakan berakar pada penolakan Paus Leo terhadap perang AS dengan Iran yang saat ini telah memasuki pekan ketujuh. Selama beberapa pekan terakhir, Paus Leo XIV terus menyuarakan kritik terhadap perang dan mendorong perdamaian.
Sebelumnya, pada Sabtu, dalam ibadat malam di Basilika Santo Petrus, misalnya, Leo menyebut adanya ”delusi kemahakuasaan” yang menurut dia mendorong perang di Iran. ”Cukup pamer kekuatan. Cukup perang,” ucapnya di Basilika Santo Petrus.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/14/2311823ae7f241765116d074ef23668f-wires_photo.jpg)
Kritik Paus Leo itu dilontarkan pada hari yang sama ketika AS dan Iran memulai perundingan tatap muka di Pakistan. Di pihak AS, perundingan itu dipimpin Wakil Presiden JD Vance, seorang Katolik yang baru-baru ini merilis buku tentang iman Katolik-nya.
Paus juga pernah mengatakan, Tuhan tidak mendengarkan doa mereka yang berperang, tetapi menolaknya karena tangan mereka penuh darah.
Kontroversi membesar setelah Trump mengunggah ilustrasi dirinya mengenakan jubah bergaya sosok suci Kristen dan meletakkan tangan pada seorang pria yang terbaring di tempat tidur. Banyak pihak menilai unggahan yang telah dihapus itu menyerupai penggambaran Trump sebagai figur mirip Kristus.
Trump membantah tafsir itu. ”Saya memang mengunggahnya, dan saya pikir itu saya sebagai dokter dan ada kaitannya dengan Palang Merah,” kata Trump. ”Itu seharusnya saya sebagai dokter, membuat orang lebih baik. Dan saya memang membuat orang lebih baik. Jauh lebih baik,” ujarnya menambahkan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/13/e12794adf4b8423f551f0059e9b1c777-1000012956.jpg)
Ia menyalahkan pemberitaan palsu atas salah paham yang terjadi terkait unggahan itu. Namun, Trump tidak menjelaskan soal penghapusan unggahan itu.
Dalam pembelaan kepada Trump, Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan, unggahan itu hanya lelucon. Ia menyebut Trump suka mengaduk-aduk media sosial serta tidak menyaringnya. Unggahan itu dihapus karena orang salah paham terhadap leluconnya.
”Tentu saja dia menghapusnya karena dia sadar banyak orang tidak memahami humornya,” kata Vance dalam wawancara dengan media AS, Fox News.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/14/d5009019f44e86aba126e6ab52c29e54-wires_photo_1_.jpg)
Vance juga meminta Vatikan tidak terlalu jauh mencampuri kebijakan Washington. Menurut dia, akan lebih baik jika Vatikan tetap pada urusan moralitas dan membiarkan Presiden AS menentukan kebijakan publik AS.
Dari Teheran, Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam unggahan di X mengecam unggahan Trump itu. Ia menilainya sebagai penodaan terhadap Yesus. Pada unggahan yang sama, Pezeshkian juga membela Paus Leo XIV.
”Atas nama bangsa besar Iran, saya mengecam keras penghinaan terhadap Yang Mulia (Paus Leo XIV). Penodaan terhadap Yesus, nabi perdamaian dan persaudaraan, tidak dapat diterima oleh siapa pun yang merdeka,” tulisnya di X.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/27/93b3a791-7bd6-4fce-85f6-d2afdb9c9f14_jpg.jpg)
Di dalam negeri, Trump menuai kritik dan kecaman terkait penggambarannya sebagai sosok Yesus dalam adegan penyembuhan di Injil itu. Sejumlah pendukung menyebutnya sebagai hujatan. Kalangan Kristen konservatif yang selama ini menjadi basis kuat Trump pun memberikan kecaman.
Komentator dari kanal penyiaran agama Kristen, Christian Broadcasting Network, David Brody, meminta unggahan itu dihapus. ”Turunkan unggahan ini, Pak Presiden. Anda bukan Tuhan. Tak satu pun dari kita adalah Tuhan. Ini keterlaluan. Ini melewati batas,” tuturnya.
Willy Rice, tokoh Gereja Baptis AS, kandidat presiden Southern Baptist Convention dan pendeta Calvary Church di Clearwater, Florida, juga mengecam unggahan itu. ”Banyak orang Kristen menghargai pemerintahan Presiden dan telah mendukungnya dengan cara bermakna, tetapi ini salah,” tulis Rice di X.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/09/ba41b559aa741c6713fa94bac015247f-Iran_US_Israel_War_Protest_137387090.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/06/f6ff9d2f286007d3ce95ee0c7c04ef25-20260306_ARS_Senator_AS_Trump_Perang_Iran_mumed.png)
Doug Wilson, pendiri bersama Communion of Reformed Evangelical Churches, juga menyatakan lega melihat banyak orang Kristen konservatif segera mengecam gambar mirip Yesus dan Trump. Sementara itu, komentator penginjil konservatif Megan Basham mengatakan, ia setuju dengan kritik Trump terhadap Paus Leo soal kejahatan dan kebijakan luar negeri. Namun, ia menyebut meme Trump sebagai sosok mirip Yesus merupakan penghujatan yang keterlaluan. Ia mendesak Trump meminta ampun kepada rakyat AS, lalu kepada Tuhan.
Serangan Trump terhadap Paus Leo XIV juga memicu kekecewaan di kalangan Katolik AS. Dua uskup agung konservatif AS melontarkan kritik. Kritik disuarakan Presiden Konferensi Uskup Katolik AS Uskup Agung Paul S Coakley dan Uskup Robert Barron, yang beberapa hari sebelumnya masih memuji Trump sebagai tamu Paskah di Gedung Putih. Uskup Baron menyebut komentar Trump sama sekali tidak pantas dan tidak terhormat serta mendesaknya meminta maaf.
Pada pemilihan presiden AS 2024, mayoritas pemilih Katolik mendukung kemenangan Trump. Hingga sekarang, kelompok religius kanan juga menjadi salah satu basis pemilih paling setia dan paling penting bagi keberhasilan politik Trump.
Dukungan terhadap Trump di basis gerakan Make America Great Again sudah turun di tengah keresahan mereka terkait perang Iran. Sementara itu, pemilu sela AS berlangsung dalam enam bulan mendatang.
Bagi sejumlah pengamat, perselisihan Paus dan Presiden AS yang sevulgar ini belum pernah terjadi sebelumnya. Direktur Center on Religion and Culture Universitas Fordham David Gibson melihat benturan ini bisa menjadi momen penentu apakah umat Katolik AS akan tetap memilih presiden yang menyerang Paus.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/10/9c66dee391b9a8f91ef0466f2ba798fb-wires_photo_2026_01_10T091732.594.jpg)
Profesor kajian Amerika dan sejarah Universitas Notre Dame, Kathleen Sprows Cummings, menilai upaya Trump menekan Paus Leo bukan hal baru dalam sejarah dunia. Sepanjang sejarah, kaisar, raja, dan penguasa lalim kerap mengancam paus agar tunduk pada kehendak mereka.
Namun, dalam konteks AS, ia menyebut serangan Trump sebagai pembalikan historis. Dulu, banyak orang AS memandang paus sebagai sosok pendukung perang. Kini, sosok jahat itu justru berada di Gedung Putih. Sementara paus menjadi pihak yang membela kebebasan dan martabat manusia.
Profesor etika Universitas Katolik, William Barbieri, menilai komentar Trump tampak lebih diarahkan kepada basis politiknya. Menurut dia, tanggapan Paus Leo tenang dan terukur menciptakan kontras yang tidak menguntungkan bagi Trump.
Dampak politiknya memang belum pasti. Dalam jajak pendapat AP-NORC pada Februari 2026, hanya 25 persen umat Katolik AS yang menyetujui kinerja Trump sebagai presiden. (AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Irene SarwindaningrumEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti