Ratusan Pekerja Ditahan, Pembangunan Pabrik Milik Hyundai dan LG di AS Terhenti

Pemerintah AS menahan setidaknya 450 orang di kawasan pabrik perusahaan Korsel di Georgia.

06 Sep 2025 07:00 WIB · Internasional

Oleh Elsa Emiria Leba

SAVANNAH, JUMAT — Presiden Amerika Serikat Donald Trump terus memperketat pengawasan terhadap imigran ilegal tanpa pandang bulu. Otoritas di Georgia, AS, menggerebek kawasan manufaktur di Georgia, khususnya proyek pembangunan pabrik baterai mobil milik Hyundai dan LG.

Terkait hal itu, Pemerintah Korea Selatan pun menyatakan keprihatinan atas penggerebekan tersebut, Jumat (5/9/2025).

Penggerebekan terjadi di kawasan pabrik di kota Ellabell, Kamis (4/9/2025) waktu setempat. Menurut Kantor Departemen Kehakiman AS (ATF) di Atlanta, sekitar 450 orang telah ditahan. Pengerjaan pabrik baterai itu, yakni HL-GA Battery Company, berhenti sementara. 

Namun, data versi koran Korea Economic Daily melaporkan penahanan sekitar 560 pekerja. Media-media Korea Selatan menyebutkan, sekitar 300 orang dari jumlah itu adalah warga Korsel.

”Penangkapan sedang dilakukan,” ujar Steven Schrank, agen khusus yang bertanggung jawab atas Investigasi Keamanan Dalam Negeri (HSI) untuk Georgia, dalam jumpa pers.

Juru bicara Badan Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE), Lindsay Williams, mengonfirmasi, otoritas federal sedang melakukan operasi penegakan hukum di lokasi seluas 1.214 hektar tersebut. Petugas fokus pada lokasi konstruksi pabrik baterai.

Tampak perusahaan Hyundai Motor Group Metaplant America (HMGMA) pada tanggal 26 Maret 2025, di Kota Ellabell, Georgia, Amerika Serikat.

Dalam sebuah pernyataan, Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) yang menaungi HSI dan ICE menyampaikan, para agen telah mengeksekusi surat perintah penggeledahan sebagai bagian dari investigasi kriminal yang sedang berlangsung. Ada dugaan praktik ketenagakerjaan ilegal dan kejahatan federal serius lainnya.

HL-GA Battery merupakan pabrik baterai mobil usaha patungan antara Hyundai Motor Group dan LG Energy Solution (LGES). HL-GA menyatakan, perusahaan bekerja sama sepenuhnya dengan pihak berwenang. Untuk membantu mereka, perusahaan telah menghentikan konstruksi untuk sementara.

Sementara itu, operasionalisasi pabrik mobil listrik (electric vehicles) di kawasan tersebut tidak terdampak. Hyundai Motor mengatakan, produksi kendaraan listriknya di kawasan pabrik tersebut tidak terdampak. ”Kami bekerja sama sepenuhnya dengan otoritas terkait aktivitas di lokasi konstruksi kami,” bunyi pernyataan juru bicara Hyundai.

”Kegiatan tersebut tidak memengaruhi orang-orang yang pergi bekerja. Produksi dan jam kerja normal telah dimulai untuk hari itu ketika pihak berwenang menutup akses,” ujar juru bicara pabrik Hyundai, Bianca Johnson.

Namun, saham LGES anjlok 2,3 persen. ”Kami bekerja sama erat dengan Pemerintah Korea Selatan dan otoritas terkait untuk memastikan keselamatan pekerja dan staf kontraktor, dan untuk memastikan pembebasan segera mereka dari tahanan,” bunyi pernyataan LGES.

Investasi besar

Hyundai sudah berkomitmen untuk berinvestasi senilai 12,6 miliar dollar AS di Georgia. Ini merupakan bagian dari investasi ekonomi terbesar dalam sejarah negara bagian tersebut. Sejak 2024, Hyundai sudah membuka pabrik mobil listrik senilai 7,6 miliar dollar AS yang mempekerjakan sekitar 1.200 orang.

Adapun HL-GA Battery Company adalah usaha patungan dengan nilai investasi 4,3 miliar dollar AS. Setelah selesai, pabrik ini akan memasok baterai untuk mobil listrik (electronic vehicle/EV) dari Hyundai, Kia, dan Genesis. Pabrik dijadwalkan mulai beroperasi pada akhir 2025.

”Penggerebekan ini sepertinya bukan investigasi acak. Pihak berwenang pasti sudah menerima informasi terkait dugaan praktik ’pekerjaan ilegal’ di lokasi itu. Mengingat pabrik ini merupakan salah satu investasi utama Korea Selatan di AS, Pemerintah Korea juga harus berperan aktif dalam memberikan dukungan,” kata Kim Pil-su, profesor teknik otomotif, kepada Korea Herald.

Seorang pria menggendong seorang anak berjalan memasuki ruang tunggu pengadilan imigrasi sementara agen federal berpatroli di lorong-lorong Gedung Federal Jacob K Javitz, New York, Amerika Serikat, Jumat (8/8/2025). Menurut data Proyek Data Deportasi, telah terjadi lebih dari 100.000 penangkapan imigran oleh agen Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) dalam lima bulan pertama masa jabatan kedua Presiden AS Donald Trump.

Penggerebekan tersebut menunjukkan kebijakan tanpa pandang bulu Trump terkait imigrasi. Akan tetapi, ia juga tengah mengampanyekan kebijakan America First agar industri manufaktur AS kembali hidup.

Penggerebekan di Georgia merupakan kasus terbaru pada tahun ini. Di bawah Trump, ICE menangkap imigran gelap di berbagai penjuru negara. Alhasil, protes berlangsung sampai ricuh, termasuk di Los Angeles.

Mengutip data Biro Sensus, Pew Research Center menyatakan, angkatan kerja AS kehilangan lebih dari 1,2 juta imigran selama Januari-Juli 2025. Jumlah tersebut mencakup imigran ilegal ataupun penduduk legal.

Korea khawatir

Pemerintah Korea Selatan, Jumat, menyatakan keprihatinan dan penyesalan atas penggerebekan di Georgia. Kementerian Luar Negeri Korsel menegaskan, hak-hak individu tidak boleh dilanggar.

”Aktivitas ekonomi perusahaan-perusahaan kami yang berinvestasi di AS serta hak dan kepentingan warga negara kami tidak boleh dilanggar secara tidak adil dalam proses penegakan hukum AS,” kata Juru Bicara Kemenlu Lee Jae-woong dalam konferensi pers, menurut kantor berita Yonhap.

Lee tidak merinci berapa jumlah pasti warga negara Korsel yang ditangkap. Akan tetapi, ia menyebutkan bahwa jumlahnya ”besar”.

Seorang pejabat Pemerintah Korsel mengatakan, warga Korsel ditahan di fasilitas penahanan ICE.

Petugas Departemen Kepolisian Los Angeles mengusir wartawan saat terjadi protes serangkaian penggerebekan Imigrasi dan Bea Cukai Amerika Serikat (ICE), di Los Angeles, pada hari Senin, 9 Juni 2025.

Seoul sudah mengambil langkah aktif untuk menangani kasus tersebut, termasuk mengirim pejabat kedutaan dan konsuler di Washington dan Atlanta ke lokasi kejadian. Satuan tugas juga telah dibentuk.

Kasus penggerebekan itu menambah tekanan pada negosiasi kesepakatan perdagangan Korsel-AS. Saat ini, Washington dan Seoul masih berselisih mengenai detail kesepakatan, termasuk investasi senilai 350 miliar dollar AS.

Janji investasi itu merupakan imbalan atas turunnya tarif impor AS kepada produk-produk Korsel menjadi 15 persen. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Amin Iskandar