Donald Trump mempertegas dukungan AS untuk Israel dengan menunjuk politisi Partai Republik yang sangat pro-Israel, Elise Stefanik, sebagai duta besar di PBB.
12 Nov 2024 09:27 WIB · Internasional
Oleh Luki Aulia - [email protected]
WASHINGTON, SELASA — Presiden terpilih Amerika Serikat, Donald Trump, menunjuk politisi Partai Republik yang sangat pro-Israel, Elise Stefanik, sebagai duta besar AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa. Israel menyambut baik penunjukan Stefanik dan menyebut penunjukannya akan bisa ”menegakkan kebenaran dan keadilan”.
Tanpa banyak bekal pengalaman dalam kebijakan luar negeri, Stefanik akan berurusan dengan beragam masalah pelik di PBB, mulai dari perang di Timur Tengah dan Ukraina hingga program nuklir di Korea Utara dan Iran. Stefanik juga akan berhadapan langsung dengan duta besar Rusia dan China di Dewan Keamanan PBB.
”Saya merasa terhormat untuk mencalonkan Elise Stefanik untuk bertugas di kabinet saya sebagai Duta Besar AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa. Elise adalah pejuang America First yang sangat kuat, tangguh, dan cerdas,” kata Trump, Senin (11/11/2024) atau Selasa (12/11/2024) dini hari WIB.
Untuk mengesahkan penunjukan Stefanik (40), dibutuhkan persetujuan Senat terlebih dahulu.
Stefanik adalah anggota DPR dari Negara Bagian New York dan Ketua Konferensi Partai Republik di DPR. Lulusan Universitas Harvard itu telah menjadi pendukung Trump yang setia dan tangguh.
Stefanik menilai tugasnya tidak mudah. Ia menyebut soal antisemitisme yang meroket. Politisi berusia 40 tahun itu menilai empat tahun kepemimpinan AS sebelumnya sangat lemah sehingga membuat keamanan nasional AS lemah. Posisi AS pun dipandang lemah di mata sekutu dan musuh.
”Saya siap untuk memajukan pemulihan perdamaian America First oleh Presiden Donald J Trump melalui kepemimpinan yang kuat di panggung dunia pada hari pertama di Perserikatan Bangsa-Bangsa,” kata Stefanik.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/12/3fcd2ebdebdcb8ccbf9efe5e1dbbaf31-000_36M62XV.jpg)
Selama berkarier sebagai anggota Komite Keamanan Nasional di DPR, Stefanik sering membicarakan isu Israel. Sejak perang Hamas-Israel dimulai, Stefanik memfokuskan banyak perhatian ke PBB.
Dia menuduh PBB bersikap antisemitisme atas kritik PBB terhadap pengeboman Israel di Gaza. Pada bulan lalu, Stefanik juga menyerukan untuk mengkaji ulang pendanaan AS untuk PBB dan mendorong pemblokiran dukungan AS untuk UNRWA, badan PBB yang memberikan bantuan kemanusiaan bagi warga Palestina di Gaza.
Duta Besar Israel untuk PBB Danny Danon mengucapkan selamat kepada Stefanik. ”Pada saat kebencian dan kebohongan memenuhi aula PBB, kejelasan moral Anda yang tak tergoyahkan lebih dibutuhkan dari sebelumnya. Semoga Anda sukses dalam menegakkan kebenaran dan keadilan,” tulis Danon di media sosial X.
Dengan terpilihnya kembali Trump, keterlibatan AS di PBB kemungkinan akan berkurang seperti yang terjadi semasa jabatan Trump yang pertama. Dana untuk badan-badan PBB pun dikhawatirkan akan dikurangi.
PBB juga khawatir AS akan menarik diri dari lembaga-lembaga dan perjanjian-perjanjian multinasional utama, termasuk Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan perjanjian iklim Paris.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/12/386ee5775f4ec75445aa9a5e04dfa8e8-000_36LU64C.jpg)
Selama masa jabatan pertama Trump, AS menarik diri dari perjanjian iklim dan mengumumkan rencana untuk meninggalkan WHO. Trump juga mempertanyakan manfaat aliansi internasional, termasuk Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Trump juga mengancam tidak akan melindungi sekutu-sekutunya kecuali mereka berkontribusi lebih banyak untuk biaya pertahanan mereka sendiri.
Mundurnya AS dari PBB akan membuka pintu bagi China yang selama ini aktif membangun pengaruhnya dalam diplomasi global. China, seperti AS, merupakan salah satu dari lima negara anggota tetap DK PBB.
Selama kampanye, Trump berjanji untuk menyelesaikan perang di Ukraina dan diperkirakan akan semakin kuat mendukung Israel dalam konflik dengan Hamas di Gaza dan Hizbullah di Lebanon. Kedua isu ini yang akan dihadapi Stefanik.
Stefanik memimpin Republikan di DPR sejak 2021 ketika terpilih untuk menggantikan Liz Cheney yang digulingkan karena mengkritik klaim palsu Trump soal kecurangan pemilu. Stefanik menjadi sorotan ketika bersemangat membela Trump dalam sidang pemakzulan pertamanya pada tahun 2019.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/05/08/77fe5450-b116-45e4-abce-a24a2a043d70_jpg.jpg)
Popularitas Stefanik meningkat setelah mengeluarkan pertanyaan agresif kepada tiga rektor universitas mengenai antisemitisme di kampus-kampus. Trump berulang kali memuji Stefanik atas hal itu.
Harian The New York Times, Senin (11/11/2024), menyebutkan momen paling berkesan terjadi selama sidang Komite Pendidikan dan Tenaga Kerja pada Desember 2023. Kala itu, Stefanik bertanya kepada para rektor beberapa universitas elite, termasuk almamaternya, Universitas Harvard.
Pertanyaannya kedengaran lugas. ”Apakah Anda menyerukan genosida terhadap orang Yahudi melanggar peraturan Harvard tentang perundungan dan pelecehan?” kata Stefanik.
Kesaksian di sidang-sidang komite itu kemudian menyebabkan tiga rektor dari sekolah paling bergengsi di AS mengundurkan diri, yakni rektor Universitas Harvard, Universitas Pennsylvania, dan Columbia. Stefanik kemudian dinobatkan sebagai salah satu dari 100 orang yang paling berpengaruh tahun 2024 versi majalah Time.
Setelah peristiwa tersebut, Stefanik semakin sering membahas dukungan AS terhadap Israel.
Stefanik pernah berkunjung ke Jerusalem, Mei 2024, untuk berpidato di Parlemen Israel. Dia sering memanfaatkan panggung global untuk menyerang Demokrat yang dianggapnya tidak cukup mendukung perang Israel di Gaza.
Setelah lulus dari Harvard, Stefanik bekerja di Gedung Putih semasa Presiden George W Bush. Dia bekerja di dewan kebijakan dalam negeri dan di kantor kepala staf.
Stefanik menjadi perempuan termuda yang pernah terpilih menjadi anggota kongres. Di usia 30 tahun, pada 2014, dia pertama kali memenangkan Distrik New York. Dia juga menjadi perempuan termuda yang menjabat sebagai pimpinan DPR.
Namanya pernah dimunculkan sebagai calon wakil presiden untuk Trump sebelum akhirnya Trump memilih JD Vance.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/12/8de4aaa0-2bfa-4810-8587-7e90ba17b38f_jpg.jpg)
Di awal masa jabatannya, Stefanik dikenal sebagai sosok konservatif yang lebih moderat. Namun, dia kemudian mendekat ke Trump dan diam-diam mengubah citranya menjadi sekutu setia MAGA.
Keputusan Stefanik untuk beralih ke kanan membuat geram Demokrat. Dia kemudian menjadi Ketua Konferensi Partai Republik DPR pada 2021.
Stefanik akan menggantikan posisi Dubes AS untuk PBB Linda Thomas-Greenfield, diplomat karier selama 35 tahun dan mantan asisten menteri luar negeri untuk Afrika. Selama masa jabatan pertama Trump, mantan Gubernur California Nikki Haley dan Kelly Craft menjabat sebagai Dubes AS untuk PBB.
Sama seperti Stefanik, Haley juga tak punya banyak pengalaman menangani isu-isu kebijakan luar negeri. Haley mengundurkan diri setelah dua tahun lalu digantikan Kelly Craft, istri seorang raja batubara Kentucky.
John Bolton, mantan penasihat keamanan nasional AS semasa Trump dan dubes untuk PBB semasa pemerintahan Bush, mengatakan bahwa dia melihat Stefanik sebagai Haley versi 2024.
”Dia ingin mencalonkan diri sebagai presiden pada tahun 2028. Dia menyadari tidak punya pengalaman dalam kebijakan luar negeri. Jadi, tidak ada cara yang lebih baik selain menjadi duta besar PBB,” kata Bolton. (REUTERS/AFP/AP)
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Muhammad Samsul HadiPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan