Belum selesai perundingan tarif dengan sejumlah negara, Trump umumkan kenaikan tarif baru. Tujuannya agar industri pertambangan di luar negeri pindah ke AS.
10 Feb 2025 09:45 WIB · Internasional
AIR FORCE ONE, SENIN — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan renacananya menetapkan tarif impor untuk baja dan aluminium. Menurut dia, tujuannya agar industri pertambangan dan pengolahan logam yang selama ini berada di luar negeri memindahkan produksi ke AS.
Trump mengumumkannya di dalam jumpa pers di atas pesawat kepresidenan Air Force One, Minggu (9/2/2025) waktu setempat atau Senin (10/2/2025) waktu Indonesia. Ia dalam perjalanan menuju New Orleans di Negara Bagian Louisiana untuk melihat pertandingan liga nasional sepak bola Amerika, Super Bowl.
Menurut Trump, pengumuman yang lebih teperinci akan dipublikasikan pada Senin waktu setempat atau Selasa (11/2/2025) waktu Indonesia. Tarif baja dan aluminium sebesar 25 persen itu dijatuhkan pula untuk logam dari Kanada dan Meksiko walaupun kedua negara sedang dalam proses perundingan bilateral dengan AS.
”Pokoknya, semua baja dan aluminium yang masuk AS kena tarif 25 persen,” kata Trump.
Berdasarkan data Departemen Perdagangan AS 2019, ”Negeri Paman Sam” adalah importir baja terbesar di dunia. AS membeli baja dari 80 negara dan teritori di dunia.
Kanada dan Meksiko adalah dua sumber impor baja terbesar AS, diikuti Korea Selatan, Brasil, Jepang, Jerman, Italia, Vietnam, dan Rusia.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/10/b1bcec9a-97cd-461b-afec-99cf9afd2467_jpg.jpg)
Pada masa jabatan pertama Trump (2017-2021), ia juga menetapkan tarif 25 persen untuk baja dan 10 persen untuk aluminium. Trump kemudian memberi kuota bebas bea kepada beberapa negara setelah sejumlah perundingan.
Pekan lalu, Trump berusaha memukul Kanada dan Meksiko dengan tarif 25 persen. Akan tetapi, kedua negara memukul balik. Kanada melancarkan boikot produk AS, terutama yang dibuat di negara-negara bagian pendukung Trump pada pemilihan umum presiden November 2024.
Walhasil, gara-gara pukulan balik tersebut, Trump menangguhkan penerapan tarif selama 30 tahun ke depan. Ia membuka ruang berunding dengan Kanada dan Meksiko. Kemauan Trump adalah kedua negara tetangga mengetatkan pengawalan di perbatasan-perbatasan dengan AS guna mencegah penyelundupan imigran gelap dan narkoba jenis fentanil.
Trump juga menetapkan tarif impor 60 persen atas barang-barang dari China atau naik 10 persen dari tarif yang sudah ada. Akan tetapi, Trump tidak menjatuhkan tarif untuk barang impor murah yang dibeli warga AS dari lokapasar China, Shein dan Temu.
China yang dikenai total tarif impor 60 persen oleh Trump membalas dengan membatasi ekspor 25 jenis logam tanah jarang ke AS. Logam ini penting untuk membuat peralatan elektronik yang dibutuhkan oleh militer.
Tarif 15 persen diterapkan atas impor batubara dan gas alam cair dari AS. Tarif 10 persen diberlakukan untuk minyak mentah, mesin pertanian, dan mobil bermesin besar. China juga dalam proses menggugat AS ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).
Selain itu, Trump juga mengatakan hendak mengumumkan tarif balasan. Hal ini ditujukan kepada negara-negara yang menetapkan tarif tinggi untuk barang impor dari AS. Contohnya ialah Uni Eropa yang selama ini menerapkan tarif 10 persen atas mobil impor dari AS. Padahal, di AS, mobil Eropa hanya dikenai bea masuk 2,5 persen.
Belum ada survei mengenai pendapat rakyat AS soal penetapan tarif ini. Akan tetapi, Cato Institute dan YouGov pada Agustus 2024 mengadakan survei untuk melihat tanggapan rakyat atas janji kampanye Trump yang akan meningkatkan tarif impor.
Sebanyak 75 persen responden mengungkapkan khawatir kenaikan tarif mengakibatkan kenaikan harga barang. Di samping itu, 63 persen responden menginginkan AS meningkatkan perdagangan dengan negara-negara lain.
Para responden meyakini, perdagangan internasional membuat mereka memiliki banyak pilihan produk konsumsi. Perdagangan global juga mendorong inovasi, alih teknologi, dan pengembangan gagasan-gagasan baru.
Marc L Bush, pakar bisnis dari Universitas Georgetown, menulis pada kolom opini The Hill edisi 6 Februari 2025 mengenai niat Trump menjatuhkan tarif ke logam-logam strategis, antara lain baja, aluminium, dan tembaga.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/10/ebe5387f-f9b7-4f1f-ae18-8517a7b2242e_jpg.jpg)
Apabila niatnya untuk menggenjot produksi dalam negeri AS, pabrik-pabrik pengolaham logam sudah banyak yang tutup. Pabrik yang beroperasi pun kapasitasnya tidak memadai untuk memenuhi kebutuhan AS. Harus ada investasi untuk pemutakhiran pabrik.
Ada pula berbagai persoalan regulasi yang membuat investor enggan menanam modal di AS. Sistem pembagian kewenangan antara pemerintah federal dan negara bagian membuat birokrasi begitu rumit untuk mendirikan pabrik.
Firma S&P Global pada 2024 mengeluarkan data bahwa lead time pertambangan di AS tergolong lama. Lead time adalah waktu yang diperlukan dari gagasan mengenai suatu produk terinisiasi sampai produk itu mencapai pasaran. Di AS lead time-nya 29 tahun.
Artinya, AS adalah nomor dua dari bawah untuk lead time. Posisi buncit diduduki Gambia, yaitu 34 tahun. Australia, Turki, China, dan Chile memiliki lead time di bawah 25 tahun. Bahkan, Indonesia dari segi lead time berada di atas AS, meskipun kalah dari Australia. (AP/Reuters)
Penulis:
Laraswati Ariadne AnwarEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari