Langkah diplomatik Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Timur Tengah membawa kejutan. Langkahnya tidak terduga sekaligus mencengangkan.
16 Mei 2025 11:59 WIB · Opini
Presiden Amerika Serikat Donald Trump tidak hanya sekadar melakukan kunjungan ke Timur Tengah, yakni persisnya ke Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), dan Qatar, (13-16 Mei 2025). Dalam lawatan mancanegaranya kali ini, Trump sekaligus merancang wajah Timur Tengah baru.
Trump melakukan kunjungan ke Timur Tengah ketika terjadi perubahan cukup signifikan di kawasan tersebut. Dan yang menarik, Trump adalah arsitek dari perubahan itu.
Pemilihan tempat kunjungan Trump di Timur Tengah, yaitu ketiga negara Arab kaya tersebut, menunjukkan bahwa tiga negara Arab kaya itu adalah pemimpin dunia Arab saat ini. Tiga negara Arab kaya itu adalah wajah baru dunia Arab dan Timur Tengah yang modern. Mereka adalah mitra strategis AS.
Digelarnya Konferensi Tingkat Tinggi AS-Arab Teluk di Riyadh pada Rabu 14 Mei 2025 menunjukkan posisi strategis negara-negara Arab Teluk kaya itu di mata AS.
Menurut Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad Bin Salman, nilai perdagangan AS dan negara Arab Teluk kaya (Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Bahrain, Kesultanan Oman, dan Qatar) mencapai 120 miliar dollar AS pada tahun 2024.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/14/742fadac29049dd8a740a8d5ef79a934-TOPSHOT_SAUDI_US_SYRIA_DIPLOMACY_POLITICS_129726544.jpg)
Perubahan signifikan lain adalah pertemuan secara langsung antara Trump dan Presiden baru Suriah, Ahmed Sharaa, di Riyadh pada Rabu, 14 Mei 2025. Sebelumnya, pada Selasa malam, 13 Mei 2025, Trump juga mengumumkan pencabutan sanksi AS terhadap Suriah.
Kebijakan Trump bertemu Sharaa dan mencabut sanksi atas Suriah akan mengubah konstelasi politik di Timur Tengah cukup signifikan. Suriah baru di bawah kepemimpinan Sharaa akan mengarah berada di bawah lingkaran blok Arab moderat dan dunia Barat. Hal itu berbeda jauh ketika Suriah di bawah rezim Presiden Bashar al-Assad yang berada di bawah payung blok Rusia dan Iran.
Perubahan kiblat Suriah itu tentu akan sangat melemahkan pengaruh Rusia di Timur Tengah dan Iran beserta loyalisnya, khususnya Hizbullah di Lebanon. Posisi Hizbullah kini menjadi terjepit antara Israel di selatan dan Suriah di timur. Padahal, Suriah pada masa Presiden Assad menjadi kekuatan Hizbullah karena menjadi jalur pasokan logistiknya dari Iran menuju Lebanon Selatan. Iran pun kehilangan pijakan strategisnya dalam melawan Israel pascaambruknya rezim Assad di Damaskus.
Perubahan lain lagi adalah ketika Trump berkunjung ke Timur Tengah, AS sedang menggelar perundingan dengan Iran melalui mediator Oman soal isu nuklir Iran. Seperti diketahui, Trump yang membatalkan secara sepihak pada 8 Mei 2018 atas kesepakatan AS-Iran soal isu nuklir Iran yang dicapai tahun 2015.
Kesediaan AS berunding kembali dengan Iran soal isu nuklir merupakan perubahan sikap AS terhadap Iran yang mengorbankan kepentingan sekutunya di Timur Tengah, Israel. Adapun Israel menginginkan opsi militer untuk menghancurkan instalasi nuklir Iran.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/10/2493290b-3335-434b-a1f3-8d61d3fefa1c_jpg.jpg)
Jika perundingan AS-Iran soal isu nuklir berjalan mulus dan melahirkan kesepakatan baru AS-Iran terkait isu nuklir, hal itu akan merupakan perubahan luar biasa di Timur Tengah.
Perubahan lain lagi adalah Trump secara mengejutkan juga mencapai kesepakatan gencatan senjata dengan kelompok Houthi di Yaman pada 6 Mei 2025. Tercapainya kesepakatan gencatan senjata tersebut tanpa AS koordinasi dengan Israel. Padahal, AS memutuskan melakukan intervensi militer di Yaman mulai Maret 2025 sebagai solidaritas terhadap Israel yang sering mendapatkan serangan rudal balistik dari kelompok Houthi di Yaman.
Kebijakan baru AS terhadap Iran dan kelompok Houthi itu menunjukkan Trump dan PM Israel Benjamin Netanyahu tidak selamanya satu sikap. Bahkan, sebaliknya Trump dan Netanyahu terakhir ini sering terlibat perbedaan pendapat.
Trump juga menginginkan pembebasan tahanan warga AS-Israel, Edan Alexander, pada Senin, 12 Mei 2025, oleh Hamas, bisa menjadi momentum menuju pembebasan tawanan yang lain dan sekaligus terwujudnya gencatan senjata di Jalur Gaza. Tim perunding Israel pun tiba di Doha–Qatar pada Selasa, 13 Mei 2025, untuk melanjutkan perundingan dengan Hamas dalam upaya mencapai gencatan senjata baru setelah terjadi pembicaraan lewat telepon antara PM Netanyahu dengan Trump dan utusan khusus Trump untuk Timur Tengah, Steve Witkoff.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/15/13d93039f736ebce0c096bc83e3ffc97-APTOPIX_Israel_Palestinians.jpg)
Artinya, Trump menginginkan adanya gencatan senjata di Jalur Gaza dengan imbalan pembebasan semua tawanan, baik yang masih hidup maupun yang sudah tewas. Ini perubahan sikap Trump terkait isu perang Gaza. Berbeda dengan sikap Israel yang menginginkan terus melanjutkan perang di Jalur Gaza hingga bisa mengalahkan Hamas. Maka, kini terjadi tarik-menarik antara AS dan Israel di Jalur Gaza, yakni AS menghendaki gencatan senjata di Gaza, sedangkan Israel ingin terus berperang.
Perubahan lain lagi adalah Trump dalam lawatan ke Timur Tengah saat ini mengunjungi Qatar. Sebaliknya, Qatar memberi hadiah pesawat mewah Boeing 747-8 seharga 400 juta dollar AS (Rp 6,6 triliun) kepada Trump yang bisa dijadikan pesawat kepresidenan. Qatar sebagai singgahan Trump kedua setelah Arab Saudi menunjukkan pentingnya posisi Qatar dimata Trump dan AS saat ini.
Seperti diketahui, Qatar sebagai salah satu mediator penting dalam perundingan tidak langsung antara Israel dan Haman soal isu perang Gaza. Dalam konteks ekonomi, pada saat kunjungan Trump ke Doha, perusahaan Boieng mendapatkan permintaan terbesar dari Qatar sebanyak 160 pesawat komersial besutan Boieng senilai 200 miliar dollar AS
Padahal, Trump di balik aksi blokade kuartet Arab (Arab Saudi, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Mesir) terhadap Qatar pada tahun 2017. Aksi blokade tersebut terjadi setelah kunjungan Trump ke Arab Saudi pada Mei 2017. Maka, bisa disebut Trump pada periode pertama (2017-2021) sebagai presiden AS jauh berbeda dari Trump pada periode kedua sebagai presiden AS (2025-2029).
________
Musthafa Abd Rahman, wartawan Kompas 1991-2022
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/03/05/83f4c4d2-1830-4f50-9519-d163d4e0e786.jpg)
Penulis:
Musthafa Abd. RahmanEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari