Pemerintahan Donald Trump resmi memasukkan kartel narkotika dari Venezuela ke daftar teroris menurut Amerika Serikat. Sindikat yang dikenal sebagai ”Kartel Matahari” alias Cartel de los Soles itu disebut dipimpin aparat dari kepolisian, militer, sampai penjaga pantai.
Lembaran negara AS volume 90 nomor 224 edisi Senin (24/11/2025) memasukkan pendaftaran itu. ”Dengan ini, saya menetapkan organisasi tersebut di atas dan aliasnya masing-masing sebagai Organisasi Teroris Asing sesuai dengan Pasal 219 Undang-Undang Imigrasi dan Kewarganegaraan (INA),” demikian pernyataan tertulis Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio sebagaimana dicantumkan di lembaga negara AS tersebut.
Sebenarnya, pernyataan itu dikeluarkan Deplu AS pada 16 November lalu. Walakin, pencatan resmi di lembaran negara baru dilakukan pada Senin pekan ini.
Pemerintahan Nicolas Maduro telah bertahun-tahun menyangkal tudingan AS soal narkotika. Maduro menyebut, AS mencari alasan untuk secara ilegal menguasai sumber daya alam Venezuela. ”Kabar bohong untuk mengobarkan perang ke negara kami,” katanya.
Menlu Venezuela Yvan Gil menanggapi pengumuman Rubio dengan keras. "Venezuela dengan tegas, tegas, dan mutlak menolak rekayasa baru dan konyol yang dibuat oleh Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, yang menyebut Kartel Matahari yang tidak ada sebagai organisasi teroris," ujarnya.
Langkah ini menghidupkan kembali "kebohongan yang keji dan keji untuk membenarkan intervensi yang tidak sah dan ilegal terhadap Venezuela, di bawah format pergantian rezim klasik AS. Manuver baru ini akan bernasib sama seperti agresi sebelumnya dan yang berulang terhadap negara kami: kegagalan," tambahnya.
Menteri Perang AS Pete Hegseth mengatakan, penetapan itu akan membuat pilihan pendekatan baru AS di kawasan. Bagi AS, pasokan narkotika dari Venezuela adalah wujud terorisme dengan menggunakan narkotika.
Di Karibia, wilayah sekitar Venezuela, AS telah menempatkan setidaknya 16.000 tentara. Puluhan jet tempur hingga pesawat pengebom dan pesawat angkut juga disiagakan di kawasan itu. Aneka aset udara itu terlihat dilengkapi beragam rudal andalan AS dalam berbagai pertempuran.
Di laut, kapal induk USS Gerald Ford serta kapal perusak hingga kapal logistik militer juga sudah siap. Armada laut AS dilaporkan berjarak tidak sampai 15 kilometer dari pesisir terluar Venezuela.
Sementara itu, Panglima Angkatan Bersenjata AS Jenderal Dan Caine menemui prajurit AS di Puerto Rico pada Minggu. Akhir pekan lalu, AS menerbitkan pemberitahuan kepada awak pesawat untuk menghindari wilayah udara Venezuela dan sekitarnya. Pemberitahuan itu dikhawatirkan bagian dari persiapan serangan besar AS ke Venezuela.
Sejak September 2025, AS telah 22 kali menyerang kapal yang dituding mengangkut narkotika dari Venezuela. Serangan itu menewaskan 82 orang.
Sejak Trump kembali jadi Presiden AS, militer AS telah beberapa kali menyerang kapal dari Venezuela. Washington menuding, kapal-kapal itu mengangkut narkotika yang akan diselundupan ke AS.
Sejak lama, AS menuduh Venezuela salah satu pintu pengiriman narkotika ke AS. Pada 2004, Gedung Putih menuding Venezuela mengirimkan 50 ton kokain ke AS.
Endemi narkotika menjadi salah satu masalah serius AS. Kecanduan memicu kerugian miliaran dollar AS dalam wujud kehilangan produktivitas hingga biaya perawatan kesehatan. Belum lagi kerugian akibat kriminalitas hingga kecelakaan lalu lintas akibat pengemudi teler.
Jenderal terlibat
Istilah Cartel de los Soles pertama kali mengemuka pada 1993. Waktu itu, dua jenderal Venezuela di satuan tugas pemberantasan narkotika ternyata menjadi gembong narkotika.
Jenderal itu bekerja di garda nasional Venezuela, GNB, yang lambang kesatuannya ada unsur mirip matahari. Oleh karena itu, sindikat narkotika yang melibatkan jenderal itu disebut Kartel Matahari alias Cartel de los Soles.
Pada 2006, AS menyita 5,6 ton kokain yang diangkut dengan pesawat dari Venezuela ke Meksiko. Pesawat itu berangkat dari bandara Caracas, ibu kota Venezuela, atas restu pejabat negara yang bekerja sama dengan Walid Makled.
Pebinis Venezuela itu mengaku bekerja sama dengan militer dan polisi untuk mengawal pengiriman narkotika. Ia juga bersekongkol dengan GNB untuk membajak dan merampok truk barang. Hasil rampokan dijual di jaringan supermarket milik keluarga Makled. ”Semua bisnis saya terkait para jenderal,” katanya seraya menyebut setidaknya rutin membayar 40 jenderal.
Pada 2013, kepolisian Perancis menyita 1,3 ton kokain dalam bagasi pesawat Air France. Penyitaan berujung penangkapan seorang letnan kolonel dan sejumlah perwira di GNB.
Lalu, pada 2015, bekas Komandan Pasukan Pengamanan Presiden Venezuela Leamsy Salazar menuding Ketua Parlemen Diosdado Cabello sebagai petinggi Kartel Matahari. Setahun setelahnya, AS mendakwa bekas Kepala Badan Pemberantasan Narkotika Venezuela Nestor Reverol dan bekas wakilnya Edylberto Molina terlibat perdagangan narkotika.
Maduro menyikapi dakwaan itu dengan menunjuk Reverol sebagai Menteri Dalam Negeri. Jabatan itu membuat Reverol berwenang atas polisi dan urusan keamanan Venezuela, termasuk pemberantasan narkotika.
Pada Maret 2020, di era pemerintahan pertama Trump, AS menetapkan Maduro sebagai petinggi Kartel Matahari. Departemen Kehakiman AS menawarkan hadiah 15 juta dollar AS kepada siapa pun yang bisa membantu penangkapan Maduro selepas penetapan itu. Pada Agustus 2025, hadiahnya naik jadi 50 juta dollar AS.
Pada Juni 2025, Hugo Carvajal Barrios mengaku bersalah di pengadilan New York, AS. Eks kepala unit intelijen militer Venezuela itu membenarkan bekerja sama dengan FARC selama bertahun-tahun untuk menyelundupkan narkotika.
Ia menyediakan pengawalan militer untuk penyelundupan narkotika. Ia juga mengatur pasokan senjata kepada FARC, kelompok pemberontak di Kolombia.
Dalam berkas pengadilan, Barrios mengakui terlibat pembunuhan dan penculikan untuk melindungi perdagangan dan penyelundupan narkotika. ”Perdagangan narkotika dan korupsi sangat lazim. Dipimpin orang pentings seperti Nestor Reverol,” kata Barrios dalam wawancara dengan The New York Times pada 2019.
”Venezuela menyediakan pengalaman, logistik oleh NGB dan Angkatan Darat untuk mengirim kokain ke luar negeri,” kata mantan Direktur Kontraintelijen pada Direktorat Intelijen Nasional Venezuela Alberto Romero.
Keraguan
Banyak pihak meragukan Kartel Matahari benar-benar ada seperti kartel-kartel di Meksiko atau Kolombia. Lebih sulit lagi, membenarkan bahwa Kartel Matahari dipimpin Maduro.
Dalam pernyataan pada Agustus 2025, Phil Gunson dan Adam Isaacson adalah sebagian yang menyebutkan tak ada kartel itu. Gunson analis pada International Crisis Group, sedangkan Isaacson Direktur Pengawasan Pertahanan pada Lantin America Organization.
”Ini bukan kelompok yang orang-orangnya mengidentifikasi diri sebagai anggota. Mereka tidak bertemu rutin. Tidak punya struktur organisasi,” kata Isaacson dikutip Associated Press.
Gunson mengatakan, jenderal hingga prajurit rendahan memang bersekongkol dengan bandit. Walakin, tak berarti hal itu menjadi kartel. ”Ini cara paling mudah menyebut banyak sekali kelompok jenderal dan perwira di Venezuela yang dicengkeram korupsi,” katanya.
Maduro, kata John Polga-Hecimovich, terlibat dalam lingkaran itu dengan cara membiarkan para jenderal terus berkelindan dengan bandit. Peneliti Venezuela pada US Naval Academy itu mengatakan, Maduro melakukan itu untuk menjaga kesetiaan pada jenderal dan perwira. ”Rezim akan rugi kalau kehilangan kesetiaan para jenderal yang untuk besar dari perdagangan obat ilegal,” katanya.
Sementara laman Insight Crime menyebutkan, sebenarnya tidak ada hierarki di sesuatu yang disebut sebagai Cartel de los Soles. Di sisi lain, keterlibatan aparat dan pejabat tinggi di lingkaran kejahatan memang ada.
Mereka bersekongkol dengan sindikat bandit. Bukan cuma narkotika, sindikat juga mengendalikan pembalakan liar, penyelundupan bahan bakar, sampai korupsi.
CNN edisi bahasa Spanyol menyebut, aparat Venezuela begitu berkuasa. Mereka kerap mematikan atau memanipulasi pemantauan pesawat. Diduga, pesawat itu mengangkut narkotika dan komoditas ilegal lainya.
Di perbatasan, aparat mengirimkan arus barang ilegal. Sindikat harus membayar ke para perwira militer dan polisi agar bisa mendapat akses itu. (AP)
Pemerintahan Donald Trump resmi memasukkan kartel narkotika dari Venezuela ke daftar teroris menurut Amerika Serikat. Sindikat yang dikenal sebagai ”Kartel Matahari” alias Cartel de los Soles itu disebut dipimpin aparat dari kepolisian, militer, sampai penjaga pantai.
Lembaran negara AS volume 90 nomor 224 edisi Senin (24/11/2025) memasukkan pendaftaran itu. ”Dengan ini, saya menetapkan organisasi tersebut di atas dan aliasnya masing-masing sebagai Organisasi Teroris Asing sesuai dengan Pasal 219 Undang-Undang Imigrasi dan Kewarganegaraan (INA),” demikian pernyataan tertulis Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio sebagaimana dicantumkan di lembaga negara AS tersebut.
Sebenarnya, pernyataan itu dikeluarkan Deplu AS pada 16 November lalu. Walakin, pencatan resmi di lembaran negara baru dilakukan pada Senin pekan ini.
Serial Artikel
Venezuela Tangkap Dua Warga AS Dalang Rencana Kudeta Maduro
Otoritas Venezuela menangkap dua warga Amerika Serikat yang diduga menjadi dalang upaya kudeta atas Presiden Nicolas Maduro.
Pemerintahan Nicolas Maduro telah bertahun-tahun menyangkal tudingan AS soal narkotika. Maduro menyebut, AS mencari alasan untuk secara ilegal menguasai sumber daya alam Venezuela. ”Kabar bohong untuk mengobarkan perang ke negara kami,” katanya.
Menlu Venezuela Yvan Gil menanggapi pengumuman Rubio dengan keras. "Venezuela dengan tegas, tegas, dan mutlak menolak rekayasa baru dan konyol yang dibuat oleh Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, yang menyebut Kartel Matahari yang tidak ada sebagai organisasi teroris," ujarnya.
Langkah ini menghidupkan kembali "kebohongan yang keji dan keji untuk membenarkan intervensi yang tidak sah dan ilegal terhadap Venezuela, di bawah format pergantian rezim klasik AS. Manuver baru ini akan bernasib sama seperti agresi sebelumnya dan yang berulang terhadap negara kami: kegagalan," tambahnya.
Menteri Perang AS Pete Hegseth mengatakan, penetapan itu akan membuat pilihan pendekatan baru AS di kawasan. Bagi AS, pasokan narkotika dari Venezuela adalah wujud terorisme dengan menggunakan narkotika.
Di Karibia, wilayah sekitar Venezuela, AS telah menempatkan setidaknya 16.000 tentara. Puluhan jet tempur hingga pesawat pengebom dan pesawat angkut juga disiagakan di kawasan itu. Aneka aset udara itu terlihat dilengkapi beragam rudal andalan AS dalam berbagai pertempuran.
Di laut, kapal induk USS Gerald Ford serta kapal perusak hingga kapal logistik militer juga sudah siap. Armada laut AS dilaporkan berjarak tidak sampai 15 kilometer dari pesisir terluar Venezuela.
Sementara itu, Panglima Angkatan Bersenjata AS Jenderal Dan Caine menemui prajurit AS di Puerto Rico pada Minggu. Akhir pekan lalu, AS menerbitkan pemberitahuan kepada awak pesawat untuk menghindari wilayah udara Venezuela dan sekitarnya. Pemberitahuan itu dikhawatirkan bagian dari persiapan serangan besar AS ke Venezuela.
Sejak September 2025, AS telah 22 kali menyerang kapal yang dituding mengangkut narkotika dari Venezuela. Serangan itu menewaskan 82 orang.
Sejak Trump kembali jadi Presiden AS, militer AS telah beberapa kali menyerang kapal dari Venezuela. Washington menuding, kapal-kapal itu mengangkut narkotika yang akan diselundupan ke AS.
Sejak lama, AS menuduh Venezuela salah satu pintu pengiriman narkotika ke AS. Pada 2004, Gedung Putih menuding Venezuela mengirimkan 50 ton kokain ke AS.
Endemi narkotika menjadi salah satu masalah serius AS. Kecanduan memicu kerugian miliaran dollar AS dalam wujud kehilangan produktivitas hingga biaya perawatan kesehatan. Belum lagi kerugian akibat kriminalitas hingga kecelakaan lalu lintas akibat pengemudi teler.
Serial Artikel
CIA Jalankan Operasi Rahasia di Venezuela atas Izin Trump
Trump jujur mengakui beri izin CIA beroperasi rahasia di Venezuela. Alasannya, membongkar perdagangan narkoba. Venezuela marah karena AS tak tahu aturan.
Istilah Cartel de los Soles pertama kali mengemuka pada 1993. Waktu itu, dua jenderal Venezuela di satuan tugas pemberantasan narkotika ternyata menjadi gembong narkotika.
Jenderal itu bekerja di garda nasional Venezuela, GNB, yang lambang kesatuannya ada unsur mirip matahari. Oleh karena itu, sindikat narkotika yang melibatkan jenderal itu disebut Kartel Matahari alias Cartel de los Soles.
Pada 2006, AS menyita 5,6 ton kokain yang diangkut dengan pesawat dari Venezuela ke Meksiko. Pesawat itu berangkat dari bandara Caracas, ibu kota Venezuela, atas restu pejabat negara yang bekerja sama dengan Walid Makled.
Pebinis Venezuela itu mengaku bekerja sama dengan militer dan polisi untuk mengawal pengiriman narkotika. Ia juga bersekongkol dengan GNB untuk membajak dan merampok truk barang. Hasil rampokan dijual di jaringan supermarket milik keluarga Makled. ”Semua bisnis saya terkait para jenderal,” katanya seraya menyebut setidaknya rutin membayar 40 jenderal.
Pada 2013, kepolisian Perancis menyita 1,3 ton kokain dalam bagasi pesawat Air France. Penyitaan berujung penangkapan seorang letnan kolonel dan sejumlah perwira di GNB.
Lalu, pada 2015, bekas Komandan Pasukan Pengamanan Presiden Venezuela Leamsy Salazar menuding Ketua Parlemen Diosdado Cabello sebagai petinggi Kartel Matahari. Setahun setelahnya, AS mendakwa bekas Kepala Badan Pemberantasan Narkotika Venezuela Nestor Reverol dan bekas wakilnya Edylberto Molina terlibat perdagangan narkotika.
Maduro menyikapi dakwaan itu dengan menunjuk Reverol sebagai Menteri Dalam Negeri. Jabatan itu membuat Reverol berwenang atas polisi dan urusan keamanan Venezuela, termasuk pemberantasan narkotika.
Pada Maret 2020, di era pemerintahan pertama Trump, AS menetapkan Maduro sebagai petinggi Kartel Matahari. Departemen Kehakiman AS menawarkan hadiah 15 juta dollar AS kepada siapa pun yang bisa membantu penangkapan Maduro selepas penetapan itu. Pada Agustus 2025, hadiahnya naik jadi 50 juta dollar AS.
Serial Artikel
Maduro Akan Melenggang akibat Boikot Pemilu
Presiden Venezuela Nicolas Maduro diprakirakan akan kembali mempertahankan posisinya pascapemilu legistalif. Pemboikotan kelompok oposisi justru akan memperkuat partai pendukung Maduro di parlemen.
Pada Juni 2025, Hugo Carvajal Barrios mengaku bersalah di pengadilan New York, AS. Eks kepala unit intelijen militer Venezuela itu membenarkan bekerja sama dengan FARC selama bertahun-tahun untuk menyelundupkan narkotika.
Ia menyediakan pengawalan militer untuk penyelundupan narkotika. Ia juga mengatur pasokan senjata kepada FARC, kelompok pemberontak di Kolombia.
Dalam berkas pengadilan, Barrios mengakui terlibat pembunuhan dan penculikan untuk melindungi perdagangan dan penyelundupan narkotika. ”Perdagangan narkotika dan korupsi sangat lazim. Dipimpin orang pentings seperti Nestor Reverol,” kata Barrios dalam wawancara dengan The New York Times pada 2019.
”Venezuela menyediakan pengalaman, logistik oleh NGB dan Angkatan Darat untuk mengirim kokain ke luar negeri,” kata mantan Direktur Kontraintelijen pada Direktorat Intelijen Nasional Venezuela Alberto Romero.
Keraguan
Banyak pihak meragukan Kartel Matahari benar-benar ada seperti kartel-kartel di Meksiko atau Kolombia. Lebih sulit lagi, membenarkan bahwa Kartel Matahari dipimpin Maduro.
Dalam pernyataan pada Agustus 2025, Phil Gunson dan Adam Isaacson adalah sebagian yang menyebutkan tak ada kartel itu. Gunson analis pada International Crisis Group, sedangkan Isaacson Direktur Pengawasan Pertahanan pada Lantin America Organization.
”Ini bukan kelompok yang orang-orangnya mengidentifikasi diri sebagai anggota. Mereka tidak bertemu rutin. Tidak punya struktur organisasi,” kata Isaacson dikutip Associated Press.
Gunson mengatakan, jenderal hingga prajurit rendahan memang bersekongkol dengan bandit. Walakin, tak berarti hal itu menjadi kartel. ”Ini cara paling mudah menyebut banyak sekali kelompok jenderal dan perwira di Venezuela yang dicengkeram korupsi,” katanya.
Maduro, kata John Polga-Hecimovich, terlibat dalam lingkaran itu dengan cara membiarkan para jenderal terus berkelindan dengan bandit. Peneliti Venezuela pada US Naval Academy itu mengatakan, Maduro melakukan itu untuk menjaga kesetiaan pada jenderal dan perwira. ”Rezim akan rugi kalau kehilangan kesetiaan para jenderal yang untuk besar dari perdagangan obat ilegal,” katanya.
Serial Artikel
Mata-mata AS Gagal Bujuk Pilot Culik Presiden Venezuela
Segala cara dipakai AS untuk menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Upaya putus asa membujuk pilot pribadi Maduro pun dilakoni.
Sementara laman Insight Crime menyebutkan, sebenarnya tidak ada hierarki di sesuatu yang disebut sebagai Cartel de los Soles. Di sisi lain, keterlibatan aparat dan pejabat tinggi di lingkaran kejahatan memang ada.
Mereka bersekongkol dengan sindikat bandit. Bukan cuma narkotika, sindikat juga mengendalikan pembalakan liar, penyelundupan bahan bakar, sampai korupsi.
CNN edisi bahasa Spanyol menyebut, aparat Venezuela begitu berkuasa. Mereka kerap mematikan atau memanipulasi pemantauan pesawat. Diduga, pesawat itu mengangkut narkotika dan komoditas ilegal lainya.
Di perbatasan, aparat mengirimkan arus barang ilegal. Sindikat harus membayar ke para perwira militer dan polisi agar bisa mendapat akses itu. (AP)