Isu Lebanon dan sanksi Iran jadi ganjalan penuntasan perundingan AS-Iran. Isu nuklir akan dibahas di putaran terpisah.
25 Mei 2026 11:30 WIB · Internasional
Israel Military
WASHINGTON DC, MINGGU — Serangan Israel ke Lebanon terus mengganjal kesepakatan Amerika Serikat dan Iran. Sementara Presiden AS Donald Trump mengatakan telah meminta perwakilan untuk tidak terburu-buru mencapai kesepakatan dengan Iran.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, Senin (25/5/2025), mengatakan bahwa AS akan mengupayakan semua peluang diplomasi sebelum memutuskan hal lain. Pernyataan di New Delhi, India itu mengindikasikan kesiapan AS memilih opsi selain perundingan dengan Iran.
Sehari sebelumnya di Washington, Trump mengumumkan perundingan berlangsung tertib dan konstruktif. Ia menolak kritik dari beberapa rekan Republik yang menginginkan pendekatan yang lebih keras.
Aljazeera melaporkan, perundingan antara lain terkendala soal isu sanksi ke Iran dan perang Lebanon. Iran meminta jaminan penghentian perang di semua palagan, termasuk Lebanon. Sementara Israel meminta hak menyerang Lebanon kapan saja dengan alasan menanggapi ancaman.
Sejak menyepakati gencatan senjata pada November 2024 dan sejumlah kesepakatan lain, Israel terus menyerang Lebanon. Dari menyerang jarak jauh dan serangan udara, Israel kemudian mengerahkan ribuan personel pasukan darat ke Lebanon sejak awal Maret 2026.
Pencaplokan Israel telah menguasai hampir 10 persen daratan Lebanon. Selepas kesepakatan gencatan senjata terbaru pada 17 April 2026, Israel masih terus mengebom Lebanon.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/17/ed13844473677cf6e91c06d1d3a11384-Eyal_Zamir3.jpeg)
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengumumkan, Trump sepakat Israel berhak membela diri kapan dan di mana saja, termasuk di Lebanon. Ia juga menyatakan, setiap kesepakatan dengan Iran harus menghilangkan bahaya nuklir.
Tentang nuklir, menurut para pejabat Iran, AS, serta negara sekitar Iran, isu itu akan dirundingkan di kesempatan terpisah dalam periode 60 hari. Menurut AS, jika Iran tidak menyerahkan persediaan uraniumnya, tidak akan ada pencabutan sanksi. Iran memiliki 440,9 kilogram uranium yang diperkaya hingga kemurnian 60 persen.
Iran belum secara terbuka berkomitmen untuk menyerahkan uraniumnya. Presiden Masoud Pezeshkian mengatakan, Iran siap meyakinkan dunia untuk tidak memiliki senjata nuklir.
Trump mengatakan, kesepakatan apa pun dibuatnya akan menjadi kesepakatan yang baik dan tepat. Kesepakatan itu disebut akan lebih baik daripada kesepakatan nuklir yang dinegosiasikan oleh pemerintahan Barack Obama.
”Kesepakatan kita justru sebaliknya, tetapi belum ada yang melihatnya, atau tahu apa isinya. Bahkan belum sepenuhnya dinegosiasikan. Jadi, jangan dengarkan pihak yang kalah, yang mengkritik sesuatu yang tidak mereka ketahui. Tidak seperti mereka yang mendahului saya yang seharusnya menyelesaikan masalah ini bertahun-tahun yang lalu, saya tidak membuat kesepakatan yang buruk,” tulisnya di Truth Social.
Sebelumnya pada Sabtu, ia mengumumkan sebagian besar kesepakatan dengan Iran sudah dirundingkan. Sementara di India, Rubio menyebutkan akan ada kabar baik pada Minggu malam waktu Washington.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/20/aac4303b-363c-4151-bdad-dc4d0f1a3474.jpg)
Ternyata, Trump malah menyatakan tidak perlu buru-buru mencapai kesepakatan. Sumber di Washington menyebut, kesepakatan tidak akan ditandatangani pada Minggu. Ada sejumlah isu pokok belum selesai disepakati.
Soal pembukaan lagi Selat Hormuz termasuk belum jelas. AS telah memblokade pelabuhan Iran selama lebih dari sebulan. Trump mengatakan, blokade tersebut akan tetap berlaku sepenuhnya sampai kesepakatan tercapai, disahkan, dan ditandatangani.
Blokade AS menanggapi penutupan selat itu oleh Iran. Sejak AS-Israel menyerang Iran, Teheran akhirnya memblokade Selat Hormuz. Kapal berbagai negara, termasuk Indonesia, kesulitan lewat. Diperkirakan 20.000 pelaut ada di setidaknya 2.000 kapal yang tertahan di Teluk Persia.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/21/ae2dfefe26288d5a47d42216e8146266-20260421_NNN_Kapal_Pertamina_mumed.png)
Rubio mengatakan, tahap pertama yang akan datang adalah pembukaan kembali selat sepenuhnya. ”Yang kedua adalah Iran perlu memasuki negosiasi serius tentang tiga topik: janji mereka untuk tidak pernah memiliki senjata nuklir, pembatasan jangka panjang pada kemampuan pengayaan mereka, dan apa yang akan Anda lakukan dengan uranium yang sangat diperkaya,” katanya di New Delhi, India.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei mengatakan, perbedaan posisi AS-Iran semakin menyempit. Akan tetapi, Iran tetap waspada setelah dua kali diserang AS-Israel di tengah perundingan.
Oleh karena itu, Teheran tak mau segera menyepakati apa pun, termasuk soal Selat Hormuz. Jika Selat Hormuz kembali dibuka, sejumlah pertanyaan tidak bisa segera dijawab. Kepala ekonom High Frequency Economics, Carl Weinberg, menyebutkan tidak ada yang tahu kapan kondisi akan pulih setelah selat dibuka.
Masih banyak ketidakjelasan soal selat itu. Hal itu termasuk kendali Iran atas Selat Hormuz dan apakah akan ada biaya untuk melewatinya. Penasihat militer untuk pemimpin tertinggi Iran mengatakan, Iran memiliki hak hukum untuk mengelola selat tersebut.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/11/c02a33ea-9dca-419f-b104-7375133b6de9.jpg)
Bahkan, jika selat tersebut secara resmi dibuka kembali dalam waktu dekat, masih banyak variabel yang perlu dipertimbangkan untuk mengembalikan pelayaran ke jalur yang benar. Pertanyaan pertama, apakah para pengirim barang akan menyimpulkan bahwa perjanjian perdamaian itu tahan lama dan aman untuk mengirim tanker melalui jalur air yang sempit tersebut?
Kemudian, ada masalah berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membersihkan ranjau laut. Sejumlah negara telah menyatakan pembersihan ranjau akan butuh waktu.
Bahkan, ketika kapal berhasil melewati selat tersebut, akan butuh beberapa minggu bagi kapal-kapal untuk mencapai pelabuhan di Asia dan Eropa. Negara-negara itu telah beberapa waktu kekurangan energi.
Ekonomi global telah melambat sebagai respons terhadap kenaikan harga energi. Akan tetapi, efek jangka panjangnya tidak akan terlihat jelas selama beberapa bulan. Akan ada juga efek samping yang tidak terduga.
Krisis ini telah mengingatkan pemerintah, perusahaan, dan konsumen betapa rentannya mereka terhadap gangguan pasokan minyak. Hal itu dapat menyebabkan perubahan kebijakan, misalnya mendorong pemerintah untuk mempromosikan energi surya dan kendaraan listrik guna mengurangi ketergantungan mereka pada minyak.
Inggris telah mengirimkan kapal penyapu ranjau RAF Lyme Bay menuju Timur Tengah. Kapal itu dilaporkan melintas di Selat Gibraltar. London menegaskan, RAF Lyme Bay hanya akan bekerja di Selat Hormuz setelah ada kesepakatan perdamaian. (AP/AFP)
Penulis:
Iwan SantosaEditor:
Kris MadaPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar