Baru rukun sebentar, AS-China tegang lagi. Ini gara-gara Trump dapat laporan China tak segera menurunkan tarif dan masih menahan material tanah jarang.
31 Mei 2025 13:00 WIB · Internasional
WASHINGTON, SABTU — Baru saja sepakat, ada gelagat hubungan Amerika Serikat dan China akan tegang lagi. Kali ini gara-gara Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menuding China melanggar perjanjian dengan AS untuk menurunkan tarif dan pembatasan perdagangan untuk mineral tanah jarang secara bersama-sama. Bahkan Trump mengancam akan bersikap lebih keras kepada China dan tidak mau berbaik-baik lagi dengan China.
Trump lalu mengumumkan akan melipatgandakan tarif baja dan aluminium di seluruh dunia dari 25 persen menjadi 50 persen. Alasannya, lagi-lagi, demi mengamankan industri baja di AS. Kebijakan Trump ini kembali mengguncang perdagangan internasional.
China adalah produsen dan eksportir baja terbesar di dunia, tetapi sangat sedikit mengirim ke AS. Pasalnya, China kena tarif 25 persen yang diberlakukan pada 2018 dan ini menutup sebagian besar baja China dari pasar. China juga berada di peringkat ketiga di antara para pemasok aluminium.
”China, mungkin tidak mengejutkan bagi sebagian orang, TELAH BENAR-BENAR MELANGGAR PERJANJIANNYA DENGAN KAMI,” tulis Trump di akunnya di Truth Social, Jumat (30/5/2025).
Trump tidak memberikan rincian lebih lanjut, tetapi ia berharap akan bisa berbicara dengan Presiden China Xi Jinping. Dalam pertemuan di Geneva, Swiss, AS dan China sepakat untuk sementara menurunkan tarif dalam jeda selama 90 hari. Kesepakatannya, AS menurunkan tarifnya pada China dari 145 persen menjadi 30 persen, sementara China juga mengurangi tarif atas barang-barang AS dari 125 persen menjadi 10 persen.
Kekesalan Trump berawal dari pernyataan Menteri Keuangan AS Scott Bessent yang mengatakan, perundingan perdagangan dengan China menemui jalan buntu. Harian The Wall Street Journal menyebutkan, kebuntuan itu terjadi karena lambannya China dalam persetujuan lisensi ekspor untuk mineral tanah jarang dan elemen lain yang dibutuhkan AS untuk membuat mobil dan cip. Ini membuat AS frustrasi. Kunci dari pakta deeskalasi tarif adalah tuntutan agar China melanjutkan ekspor tanah jarang.
Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer, kepada CNBC, mengkritik China yang dinilainya terus memperlambat bahkan menahan poin-poin krusial seperti mineral tanah jarang. Sesuai kesepakatan kedua pihak, China diharuskan untuk mencabut tarif balasannya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/15/4d7c88d3-f9f8-4d97-8ef2-6b21cb9e92a5_png.png)
China menetapkan tarif tinggi untuk AS dan membatasi ekspor logam penting yang dibutuhkan untuk produksi semikonduktor, elektronik, dan pertahanan AS. ”China memperlambat kepatuhan mereka dan ini sama sekali tidak dapat diterima,” ujar Greer.
Juru bicara Kedutaan Besar China di Washington, Liu Pengyu, mengatakan, China sudah menjaga komunikasi tentang masalah perdagangan dengan AS sejak pembicaraan di Geneva. Namun, China tetap khawatir dengan kontrol ekspor AS.
”China sekali lagi mendesak AS untuk segera mengoreksi tindakannya yang keliru, menghentikan pembatasan diskriminatif terhadap China, dan bersama-sama menegakkan konsensus yang dicapai pada pembicaraan tingkat tinggi di Geneva,” kata Liu.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menuduh AS melebih-lebihkan konsep keamanan nasional dengan memolitisasi masalah perdagangan. Ia menuding AS hendak memblokir dan menekan China. ”Kami sudah tegas menentang itu dan akan dengan tegas membela hak dan kepentingan kami yang sah,” ujarnya.
Kantor berita Reuters melaporkan, AS sudah memerintahkan sejumlah besar perusahaan untuk menghentikan pengiriman barang ke China tanpa lisensi dan mencabut beberapa lisensi ekspor yang ada.
Produk yang terkena dampak termasuk perangkat lunak desain dan bahan kimia untuk semikonduktor, butana dan etana, peralatan mesin, dan peralatan penerbangan. Juru bicara Gedung Putih, Departemen Keuangan AS, dan Kantor Perwakilan Dagang AS tidak menanggapi permintaan komentar dari Reuters.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/17/913095b4-dc1a-4c0c-bf78-6e0893cce8bd_png.png)
Strategi tarif Trump ini mengalami kemunduran besar, Rabu, ketika Pengadilan Perdagangan Internasional AS memutuskan bahwa tarif, termasuk yang dikenakan kepada China, tidak sah. Alasannya, Trump melampaui kewenangannya berdasarkan undang-undang kekuasaan darurat yang digunakan untuk mendukungnya. Pengadilan banding telah mengeluarkan penangguhan sementara untuk keputusan tersebut. Ini memungkinkan tarif tinggi tetap berlaku untuk saat ini.
Gaya negosiasi Trump sering kali beralih antara ancaman ekstrem dan klaim kemajuan yang muluk-muluk. Pendekatannya yang berubah-ubah telah membawa pasar keuangan pada aksi jual dan reli yang liar yang menghasilkan rasa ketidakpastian secara umum. Direktur Program China di lembaga kajian Stimson Center di Washington, Sun Yun, menjelaskan, China mengambil posisi bermain keras dalam pembicaraan perdagangan dengan AS.
Menambah gelagat ketegangan, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, Sabtu (31/5/2025), memperingatkan, China sedang bersiap untuk menggunakan kekuatan militer guna mengubah keseimbangan kekuatan di Asia. Ia memperingatkan, militer China tengah membangun kemampuan untuk menyerang Taiwan dan berlatih untuk menghadapi situasi yang sebenarnya.
Untuk mengantisipasi itu, Hegseth menegaskan, AS akan tetap berada di kawasan Indo-Pasifik. Ancaman dari China itu nyata dan berpotensi dapat segera terjadi. Ia mendorong sekutu-sekutu AS di Indo-Pasifik untuk mengalokasikan lebih banyak dana untuk memperkuat pertahanan masing-masing.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/09/26/2ec7c2cf-2f2f-4c01-8744-ca1f47aabadd_jpg.jpg)
AS telah meningkatkan kerja sama dengan Filipina dan Jepang sambil meminta mereka meningkatkan pengeluaran untuk militer. Hegseth mengatakan, sekutu-sekutu AS harus mencontoh negara-negara di Eropa. Ia mencontohkan janji anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), termasuk Jerman, yang meningkatkan pengeluaran untuk militernya.
NATO berjanji untuk bergerak menuju target pengeluaran militer Trump sebesar 5 persen dari pendapatan domestik bruto (PDB). ”Upaya pencegahan memang mahal,” kata Hegseth ketika berbicara dalam pertemuan Dialog Shangri-La di Singapura. Forum ini merupakan forum utama Asia bagi para pemimpin pertahanan, militer, dan diplomat.
Menurut studi Institut Internasional untuk Studi Strategis di Inggris, beberapa negara di Asia sudah meningkatkan pengeluaran untuk persenjataan dan penelitian. Ini untuk menanggapi prospek keamanan yang suram.
Mereka juga memperluas kemitraan industri luar negerinya sambil mencoba meningkatkan industri pertahanan mereka sendiri. Lonjakan itu terjadi bahkan ketika negara-negara Asia menghabiskan rata-rata 1,5 persen dari PDB untuk pertahanan pada 2024. Angka ini relatif konstan selama 10 tahun terakhir.
”Tidak masuk akal bagi negara-negara di Eropa untuk menaikkan anggaran pertahanan, sementara negara-negara di Asia tidak melakukannya. Padahal, ancamannya besar, belum lagi dari Korea Utara,” kata Hegseth.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/05/29/5dfbaa57-73fd-4bf9-874d-a8ba1d471f56_jpg.jpg)
Janji AS akan terus mendampingi di Indo-Pasifik juga diragukan oleh banyak pihak. Pasalnya, AS secara teratur sudah menarik sumber daya militernya dari Indo-Pasifik untuk mendukung kebutuhan militer di Timur Tengah dan Eropa, terutama sejak perang di Ukraina dan Gaza.
Dalam beberapa bulan terakhir, AS menarik satu batalion pertahanan rudal Patriot dari Indo-Pasifik untuk dikirim ke Timur Tengah. Ini bagian dari operasi logistik besar-besaran yang membutuhkan lebih dari 73 penerbangan pesawat kargo militer. AS juga menarik kapal Penjaga Pantai kembali ke AS untuk membantu mempertahankan perbatasan AS-Meksiko.
Ketika ditanya tentang hal itu, Hegseth tidak menjawab secara langsung. Ia hanya mengatakan, pengalihan sumber daya itu diperlukan untuk mempertahankan diri dari serangan rudal Houthi yang diluncurkan dari Yaman. Hal itu juga dilakukan untuk memperkuat pelindungan terhadap imigrasi ilegal ke AS.
Selama ini negara-negara di Indo-Pasifik terjebak di antara China dan AS. Selama bertahun-tahun, mereka mencoba menyeimbangkan hubungan dengan AS dan China. China merupakan mitra dagang utama bagi banyak negara di Indo-Pasifik. Hegseth memperingatkan, bermain di kedua sisi dengan mencari dukungan militer AS dan dukungan ekonomi China mengandung risiko besar. ”Hati-hati dengan pengaruh yang dicari Partai Komunis China,” ujarnya. (REUTERS/AFP/AP)
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Nur Adji