Trump Ubah Pola Perang Melawan Houthi di Yaman

Jika perang terus berlanjut di Gaza dan melebar ke Iran, perang terbuka yang lebih besar akan berkobar di Timur Tengah.

28 Mar 2025 21:23 WIB · Opini

Oleh Musthafa Abd Rahman

Amerika Serikat kembali melancarkan serangan udara secara masif dan rutin ke berbagai sasaran kelompok Houthi di Yaman sejak hari Sabtu (15/3/2025). Serangan masif AS atas sasaran kelompok Al Houthi yang pro Iran itu, menyusul diumumkannya operasi militer AS atas Houthi oleh Presiden AS Donald Trump melalui Truth Social.

Dalih yang diungkapkan oleh Trump adalah kelompok pro-Iran itu mengancam keamanan dan kepentingan AS, sekutu, dan internasional di Laut Merah. Sekitar 12 persen perdagangan internasional diangkut lewat laut melalui Laut Merah.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubion, Minggu (16/3/2025), mengungkapkan, kelompok Houthi telah melakukan 174 serangan ke  kapal AS  dan 164 serangan ke kapal kargo milik sejumlah negara di laut Merah. Menanggapi serangan itu, Trump mengambil langkah militer.

Sejak pengumuman Trump itu, pesawat tempur AS setiap hari melancarkan serangan atas sasaran kelompok Houthi. Kelompok Houthi melaporkan, AS melancarkan 17 serangan udara ke wilayah Saada dan Amran. Kantor berita Yaman, Saba’, juga melaporkan, pesawat tempur AS menggempur ibu kota Sana’a pada Rabu (26/3/2025) malam. Kementerian kesehatan Yaman melaporkan, sedikitnya 55 tewas dan 119 lainnya luka-luka sejak AS mulai serangkaian serangan udara itu.    

Jet tempur F/A-18 Super Hornet AS lepas landas dari kapal induk USS Harry S. Truman di laut pada 16 Maret 2025. Serangan udara ini menghantam ibu kota Yaman yang dikuasai Houthi, Sanaa, pada 15 Maret

Perubahan       

Pengumuman Trump tersebut menunjukkan adanya perubahan pola perang AS melawan kelompok Houthi. Perubahan pola itu dalam bentuk AS kini mengambil inisiatif menyerang dahulu secara masif terhadap sasaran kelompok Al Houthi.   

AS kini lebih agresif menyerang kelompok Houthi. Hal itu sangat berbeda dengan pola perang terhadap kelompok Houthi pada era Presiden Joe Biden. Kala itu, AS lebih defensif. Pada era Biden, AS hanya melakukan serangan balasan terhadap Houthi jika kelompok pro-Iran tersebut melakukan serangan atas kapal-kapal yang tengah melintas di Laut Merah.

Pada era Biden, AS menyerang kelompok Houthi melalui koordinasi dengan Inggris dan Perancis. AS menggunakan payung koalisi internasional melawan kelompok Houthi. Namun, pada era Trump, AS tidak melakukan koordinasi lagi dengan Inggris dan Perancis ketika akan menyerang Houthi.

Trump secara de facto  membubarkan koalisi internasional melawan Houthi yang sebelumnya dibentuk oleh Biden pada Desember 2023. Saat ini, Trump lebih memilih untuk berkoordinasi dengan Israel terkait rencana serangan terhadap Houthi.

infografik Rute Laut Merah Terancam Pemberontak Houthi

Hal itu bisa dilihat lewat serangan AS ke Yaman yang dimulai pada 15 Maret itu. Serangan itu bersamaan dengan serangan terbaru Israel ke Jalur Gaza yang juga dimulai pada 15 Maret.

Ada upaya membagi peran antara Israel-AS dalam perang di Timur Tengah. Israel kini lebih fokus pada perang Gaza setelah buyarnya gencatan senjata di Jalur Gaza. Adapun AS fokus menyerang kelompok Houthi di Yaman. Dengan demikian, AS kini secara resmi terlibat perang terbuka dengan kelompok Houthi.

Meski kelompok Houthi mengklaim telah menembakkan rudal hipersonik ke arah Tel Aviv, Israel tidak menyerang balik Houthi. Serangan balasan justru dilakukan oleh AS yang menyasar basis-basis militer Houthi di Yaman.

Seperti diketahui, pada Rabu (26/3/2025), Houthi mengklaim telah mengerahkan pesawat tanpa awak ke Tel Aviv. Empat hari sebelumnya, tepatnya pada Sabtu (22/3/2025), Houthi juga mengklaim telah menembakkan rudal hipersonik ke arah bandara internasional Ben Gurion, tak jauh dari Tel Aviv.

Sampai saat ini, Israel tidak membalas dua serangan taktis itu. Namun, AS melakukannya. Sebagaimana telah disebutkan, Washington pun menerapkan pola baru saat menyerang Houthi.

Pendukung Houthi meneriakkan slogan-slogan saat unjuk rasa anti-AS dan anti-Israel di Sanaa, Yaman, Senin, 17 Maret 2025.

Hanya saja, hampir dapat dipastikan, AS tidak akan mudah mewujudkan  tujuan dari serangan itu.

Apakah tujuan serangan AS itu untuk menumbangkan kekuasaan Houthi di Yaman? Atau memaksa Houthi bersedia berunding dengan AS, terutama untuk mewujudkan keamanan di Laut Merah? Atau ada motif lain, yaitu serangan AS tersebut merupakan tujuan antara, sementara tujuan akhirnya adalah menyerang Iran?

Namun, dari beragam tujuan itu, sejatinya tidak ada yang mudah bagi AS untuk mewujudkannya. Sejauh ini belum ada tanda-tanda, AS akan berhasil mewujudkan salah satu dari tiga opsi itu.

Laut Merah-Gaza

Jika tujuannya untuk memaksa Houthi mau berunding dengan AS terkait isu keamanan Laut Merah, tujuan itu tidak akan terwujud tanpa ada gencatan senjata di Jalur Gaza. Houthi sudah sering menegaskan, serangan atas kapal-kapal di laut Merah adalah wujud solidaritas Houthi untuk warga Palestina di Jalur Gaza. Pihak Houthi mengaitkan keamanan di Laut Merah dengan keamanan di Jalur Gaza.

Jika tujuannya untuk menumbangkan kekuasaan Houthi di Yaman, akan lebih sulit. Washington bisa saja menguasai ibu kota Sana’a dengan menerjunkan pasukan darat ke kota itu. Namun, AS bakal menghadapi tantangan sulit, yaitu menghadapi taktik perang gerilya yang menjadi pilihan Houthi.

Pendukung Houthi mengangkat senjata sambil meneriakkan slogan-slogan saat unjuk rasa anti-AS dan Israel di Sanaa, Yaman, Jumat, 14 Februari 2025.

Houthi disebut-sebut akan melancarkan perang gerilya, seperti yang dilakukan Taliban di Afghanistan. Skenario Afghanistan bisa terulang di Yaman dengan akhirnya memaksa pasukan AS mundur dari negeri itu. Dengan belajar dari pengalaman di Afghanistan, AS tentu berpikir seribu kali untuk menduduki Yaman secara langsung.

Apabila serangan ke Yaman hanya tujuan antara dengan target terakhir adalah menyerang Iran, maka juga tidak mudah karena akan menyulut perang regional secara luas.

Meskipun poros Iran cukup terpukul dengan ambruknya rezim Presiden Bashar al-Assad di Suriah, loyalis Iran yang fanatik masih tersebar di Irak, Lebanon, dan Yaman. Para loyalis Iran itu tidak akan diam jika Iran menjadi sasaran serangan besar-besaran AS. Kepentingan-kepentingan  AS di Timur Tengah, khususnya yang berada dikawasan Arab Teluk,  juga bisa terancam.

Dinamika di Laut Merah dan Yaman—ditandai dengan berkobarnya perang terbuka AS versus Houthi—masih akan terus menggeliat hingga beberapa pekan atau bulan mendatang.

Apakah perang semakin besar atau malah surut? 

Semua tergantung situasi di Jalur Gaza dan Iran. Apabila dicapai lagi gencatan senjata di Gaza, perang Yaman akan surut. Namun jika perang terus berlanjut di Gaza dan bahkan melebar ke Iran, perang terbuka yang lebih besar akan berkobar di Timur Tengah.

__________

Musthafa Abd Rahman, wartawan Kompas 1991-2022

Musthafa Abd Rahman (MUS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Musthafa Abd Rahman
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H